Secangkir Kopi Hitam

Secangkir Kopi Hitam
Bab 63


__ADS_3

Di kediaman keluarga Afdhal dan Huma, tengah terjadi sebuah prahara besar.


Hulya sudah melahirkan anaknya dan sesuai dengan prediksi Dokter jika anaknya mengalami kelainan.


Selain Down Sindrome, anak yang di lahirkan Hulya juga mengalami penyakit jantung.


Belum selesai sampai di Hulya, pernikahan kedua Zhafran juga harus terbongkar karena ada salah satu fans memposting kebersamaan Zhafran dengan Aryani istri keduanya yang seorang selebragram di media sosial.


Sayangnya postingan itu justru membuat bencana bagi keduanya di mana banyak yang tahu kalau Zhafran adalah anak seorang pemilik yayasan pendidikan ternama dan telah memiliki seorang istri.


Aryani yang dulunya di elu-elukan karena ceramahnya yang mengaku menemukan Tuhan serta quotes-quotes yang menyejukkan hati kini berganti dengan cacian dan hinaan sebagai pelakor.


Meski tak semuanya menghina, ada juga yang memilih netral dengan mengatakan kalau mereka tak perlu menghujat sampai segitunya karena tak tau apa yang sebenarnya terjadi, tapi tetap saja hinaan-hinaan pedas itu memenuhi kolom komentar di akun sosial medianya.


Apalagi dia kini sedang hamil lima bulan. Perasaan Aryani benar-benar terguncang, dia tidak siap dengan segala konsekuensi pilihannya.


"Mau ke mana kamu Mas?" tanya Zahra ketus, saat melihat suaminya bangkit berdiri.


Selama ini dia sudah cukup bersabar menghadapi kelakuan suaminya dan sang madu.


Namun ia tak akan diam lagi. Dia merasa berhak bahagia. Bahkan tanpa sepengetahuan suami dan orang tuanya, Zahra selalu memeriksakan diri ke dokter kejiwaan.


Psikologinya tak pernah baik-baik saja, usai pernikahan kedua suaminya. Wanita lembut itu tertekan bahkan nyaris hampir depresi kalau saja dia tak ingat anak-anaknya.


Zhafran yang merasa sikap Zahra berubah padanya lantas memilih memasukkan kembali gawainya.


Sejak tadi ia memang sibuk membalas pesan istri keduanya yang mengadu banyak hal padanya.


"Diam di sini! Kamu lihat adikmu sedang terguncang, Umi pingsan dan kamu mau pergi? Lalu menyerahkan mereka padaku sedangkan kamu akan menenangkan istrimu itu?" sindir Zahra telak.


Suaranya rendah tapi penuh dengan penekanan. Zhafran bahkan tak bisa berkutik dengan sikap istrinya sekarang.


Zahra kembali menatap ke arah depan di mana sang adik ipar masih terdiam dengan tatapan kosong.


Lagi-lagi ponsel Zhafran bergetar. Karena sudah muak, akhirnya Zahra meminta ponsel itu pada suaminya.


"Mau apa Bun?" tanya Zhafran gugup.


"Dia mengganggu, maka akan aku buat dia diam. Kamu tau bukan perjanjian kita dulu, jangan mengusikku," balasnya datar.

__ADS_1


Dengan berat hati Zhafran memberikan ponselnya pada sang istri. Bisa di bilang dia juga sedang stres saat ini.


Dirinya juga tak luput dari kecaman-kecaman para netizen yang berbondong-bondong menghinanya.


Nama baik diri dan keluarganya hancur seketika kala berita ini mencuat.


Namun dia tak sadar dan merasa mereka yang terlalu ikut campur urusannya. Memang kenapa kalau dirinya menikah lagi dan memiliki dua orang istri?


Bukankah tidak di larang di dalam agamanya? Lagi pula selama ini kehidupan mereka baik-baik saja.


Zhafran lupa kalau postingan-postingan keduanya dulu seolah menunjukkan kalau mereka adalah manusia yang takut sekali akan menyakiti pasangan.


Aryani yang berasal dari keluarga broken home dulu selalu berkata kalau kesetiaan adalah harga yang begitu mahal.


Namun kini mereka seolah melupakan ucapan mereka sendiri dengan mendua di belakang Zahra.


Apa pun niat keduanya, jelas sekali nafsu adalah alasan utamanya, bagi orang-orang yang kenal dekat dengan keduanya.


Nafsu ingin saling memiliki tanpa memikirkan perasaan Zahra dengan dalih membimbing agama.


Intinya Aryani terpesona dengan paras Zhafran yang rupawan, pembawaan lelaki itu yang terlihat tenang dan berwibawa, Zhafran pun tak mengungkiri kalau dia berhasrat karena kecantikan Aryani.


"Ada apa?" jawab Zahra dingin setelah dia mengangkat panggilan madunya.


"Aku mohon kamu sabar, bukan hanya kamu yang membutuhkan Mas Zhafran, di sini ada adik dan ibu mertuamu juga yang tengah terbaring sakit. Bukankah dulu kamu sudah siap menghadapi apa pun ke depannya? Jangan lemah dan jangan menjadi beban!" balas Zahra telak.


Zhafran terkejut dengan nada suara istrinya yang berubah ketus. Dia sedikit kehilangan sosok Zahra yang lembut dan pengertian.


Dia tau dan sadar perubahan sikap Zahra juga karena dirinya. Namun dia berharap kalau sang istri tetap pada sikapnya yang dulu, andai saja semudah itu.


"Bun," panggil Zhafran pelan setelah Zahra memutuskan panggilan dengan istri keduanya.


Zahra menoleh dan tatapan mata itu sangat dingin bagi Zhafran.


"Apa?" jawab Zahra datar.


"Jangan mengeluh atau protes, pikirkan adik dan ibumu. Istri keduamu banyak yang berada di sisinya. Mereka tanggung jawabmu bukan aku!" ucap Zahra.


Wanita berhijab lebar itu bangkit karena dia ke pikiran anak-anaknya yang sudah terlalu lama dia tinggalkan.

__ADS_1


"Kamu mau ke mana Bun?" tanya Zhafran kelimpungan saat melihat Zahra hendak pergi dari ruangan adik dan ibunya.


"Pulang. Anak-anak udah lama aku tinggalin, mereka pasti udah nyariin aku," jelas Zahra masih dengan nada datar yang sama.


"Bun, ngga bisa kah kamu di sini? Anak-anak ada eyang dan susternya, Ayah mohon," pinta Zhafran memelas.


Sayangnya Zahra tak menggubris permintaan sang suami. Dia sudah paham kelakuan sang suami yang akan terus mengibanya sampai keinginannya terpenuhi.


Saat dirinya sibuk bisa saja nanti Zhafran kabur menemui istri keduanya. Begitulah pikiran Zahra saat ini.


Bukan tanpa alasan, dulu bahkan sang suami tega meninggalkan anak mereka yang sedang sakit hanya karena telepon istri keduanya yang mengeluh ngidam makanan.


Zahra sudah tak ingin mengalah lagi. Bahkan dia akan menuntut cerai jika Zhafran kembali tak berlaku adil padanya.


"Ayah mau minta aku nunggu Hulya sama Umi di sini terus nanti diam-diam kabur nemuin dia? Jangan harap Yah! Ingat, mereka tanggung jawabmu, kalau kamu ngga mau merawat mereka, suruh orang lain, bukan aku!"


"ZAHRA!!" pekik Zhafran kesal.


"Dia adik dan ibumu juga, kamu wajib menuruti ucapanku sebagai suami!" sungguh Zhafran mulai hilang kesabaran menghadapi perubahan sikap istrinya.


"Dan melalaikan kewajibanku pada anak-anakku sendiri?" balas Zahra sinis.


"Dengar ya Mas? Aku akan rela merawat mereka seperti dulu saat rumah tangga kita baik-baik aja. Tapi enggak sekarang, saat aku bersusah payah merawat adik dan ibumu, lalu kamu sendiri sibuk menghibur istri keduamu? Engga akan mas."


"Zahra dengar, dia juga istri Mas, dia juga wajib mas jaga, mas harus apa sekarang?" jawabnya lemah, Zhafran merasa sedang di titik terpuruknya saat ini.


Sang abi juga tengah sibuk menenangkan para donatur di yayasan.


Dia tak menyangka jika pernikahan keduanya akan menjadi badai yang memorak-porandakan kehidupan mereka semua.


Kenapa hanya dia? Begitu pikirnya. Ada beberapa teman-temannya yang juga memiliki istri lebih dari satu dan dia melihat kehidupan mereka baik-baik saja.


Lagi-lagi Zhafran lupa kalau kehidupannya berbeda dengan teman-temannya.


Mereka orang biasa jadi mungkin kehidupan mereka hanya jadi bahan gosip di belakang, berbeda dengan dirinya dan istri keduanya yang cukup terkenal di sosial media.


.


.

__ADS_1


.


Tbc


__ADS_2