Secangkir Kopi Hitam

Secangkir Kopi Hitam
Bab 36


__ADS_3

"Ibu salah, aku tetap tak bisa kembali pada Hulya. Maafkan aku kalau saat ini aku menolak permintaan ibu," jelasku.


"Kamu melawan ibu Gil?" pekiknya lagi.


"Maafkan Ragil Bu, jika nanti mereka menuntut kita membayar hutang, ya memang harus membayar, bukankah kewajiban kita membayar hutang?" jawabku apa adanya.


"Kamu pikir hutang kita kecil Ragil?" sinisnya.


"Kalau memang ibu ngga sanggup membayar, mengapa dulu ibu mengajukan pinjaman? Dan sekarang ibu ingin menggadaikan aku sebagai balasan? Engga Bu, aku tak mau melakukan hal yang justru menginjak harga diriku!" balasku telak.


Ibu melotot, dia tak menyangka dengan penolakanku.


"Sebaiknya aku pulang sekarang," putusku enggan berdebat lebih lagi dengan ibu.


Baru saja aku berbalik hendak keluar tiba-tiba ibu ambruk dan menangis.


"Ibu! Ibu, tolong jangan begini Bu," ucapku panik.


Ibu memukul-mukul bahuku, "kamu ngga tau banyaknya hutang kita. Dari mana kita harus membayarnya Ragil. Tak bisakah kamu mengalah kali ini saja? Ibu mohon," pintanya terus merengek.


"Ibu, Ragil, ada apa ini?" gelegar suara ayah seketika menghentikan tangisan ibu.


"Ayah, Ragil ingin bercerai dengan Hulya," ujar ibu lirih.


"APA?!" bentak ayah.


"Kamu gila Ragil? Memangnya ada masalah apa hingga kamu ingin menceraikan Hulya Hah?" sambarnya dengan wajah yang sudah merah padam.


Aku menghela napas lalu bangkit berdiri, membiarkan ibu yang masih terduduk di sana.


"Hulya hamil anak orang lain ayah," jelasku datar.


Lelah sekali harus mengulang-ulang kalimat memuakkan itu.


Raut wajah ayah sudah kembali tenang. Entah kenapa aku merasa bahwa ayah tak terkejut sama sekali.


Beliau lalu duduk di sofa dan meminta ibu untuk duduk bersamanya dengan tenang.


"Bersabarlah, maafkan dia Gil, pasti ada pemicunya kenapa dia ... Selingkuh darimu?" ucap Ayah.


"Ya, pemicunya adalah dia benci dengan perjodohan kami, karena dia tak bisa bersama dengan lelaki yang di cintainya," terangku.


"Berarti itu salahmu yang tidak bisa menaklukkan hati Hulya," sambar ayah.


Astaga, kenapa semua orang memojokkanku! Tak ada rasa ibakah mereka terhadapku yang terkhianati seperti ini?


"Harusnya kamu senang memiliki istri seperti Hulya. Dia dari keluarga terpandang, tak banyak menuntut, mau menerima kamu apa adanya. Maafkanlah satu kesalahannya. Jangan buru-buru mengambil keputusan saat kamu lagi marah," ujarnya panjang lebar.


Aku mendengus mendengar wejangan ayah. Tentu saja aku mengambil keputusan itu setelah memikirkan dengan matang. Andai mereka tau, kalau saja aku hendak menceraikan Hulya jauh sebelum masalah ini muncul, entah bagaimana tanggapan mereka.


Kesalahan fatal Hulya saja, mereka memintaku untuk memakluminya, apa lagi dulu.


"Apa ini mengenai hutang budi kalian lagi? Maaf Yah, kalian yang memiliki urusan dengan Abi, bukan Ragil, jadi Ragil ngga mau terlibat lagi."

__ADS_1


"Kalau masalah uang, andai mereka mau bersabar dan mengerti, Ragil pasti akan membantu Ayah mencicil hutang kalian," sambungku.


Ayah mengepalkan kedua tangannya, dia sepertinya tak terima dengan ucapanku.


"Ini bukan sekedar uang Ragil! Ini tentang balas budi. Setidaknya kamu harus tau balas budi!" sergah Ayah tak terima.


"Meski harus menggadaikan harga diri? Ayah tau, lambat laun anak itu pasti akan tau statusnya. Jika yang di kandung Hulya anak perempuan, jelas dia membutuhkan restu ayah kandungnya!" jelasku.


"Anak yang lahir di luar nikah itu nasabnya ada pada ibunya, kalau kamu lupa," cibir ibu.


Tentu saja aku tau itu, tapi tetap saja aku tak akan bisa menerima anak itu, bukan menyalahkan nasibnya, tapi anak itu akan membuatku selalu ingat bahwa Hulya sudah membagi tubuhnya dengan lelaki lain.


Masalah lainnya, aku juga tak akan mau lagi menyentuh Hulya, tapi rasanya percuma menjelaskan hal itu pada ayah dan ibu.


"Maafkan Ragil. Ragil tetap pada keputusan Ragil Yah-Bu," elakku.


Enggan kembali ribut dengan mereka aku memutuskan untuk segera meninggalkan kediaman orang tuaku.


Ibu kembali berteriak memanggil namaku, dia berusaha mencegah kepergianku, tapi aku tak peduli.


Tak mengerti lagi dengan pikiran orang tuaku, apa mereka lebih mementingkan balas budi meski tau anaknya di sakiti?


.


.


Tiga hari kemudian surat panggilan sidang datang padaku dan waktu sidangnya tiga hari mendatang.


Selama itu pula aku mengabaikan pesan dan panggilan dari keluarga Hulya dan keluargaku.


"Mas?" panggilnya lembut.


Di tangannya dia memegang map cokelat yang aku tau apa itu. Surat panggilan yang sama seperti milikku.


Wajahnya sangat pucat, tak ada riasan tipis yang biasanya menghiasi wajah cantiknya.


Bahkan baru beberapa hari tak bertemu, dia terlihat sangat kurus. Kini dia kembali mengenakan pakaian longgar lagi.


"Temui dan bersikaplah dengan tenang Gil," pinta Hendi saat melihat Hulya.


Hulya menyapanya sekilas dan Hendi hanya mengangguk sebagai balasan.


"Ada apa Ya?" tanyaku datar.


"Bisa kita bicara Mas?" pintanya.


Tanpa banyak kata, aku berjalan lebih dulu menuju kafe di seberang jalan.


Hulya mengikutiku tanpa banyak bertanya, gerak langkahnya terasa agak jauh dariku.


Sesampainya kami di kafe, aku segera memesan minuman untuk kami.


Kulihat dia terengah-engah, mungkin karena tak bisa mengimbangi langkah lebarku.

__ADS_1


"Duduklah dan katakan ada apa?" ulangku.


Dia menunduk dan kembali terisak, sungguh aku muak dengan sikapnya ini.


"Apa mas benar-benar akan menceraikan aku? Maafkan aku mas, aku tau aku salah, aku khilaf mas, tolong selamatkan aku mas," pintanya.


Tangisnya semakin kencang, membuat beberapa pasang mata melirik ke arah kami, meski setelahnya mereka kembali acuh lagi.


"Apa kamu tak malu menjadi tontonan orang Ya?" ejekku.


Dia mendongak dan menatapku tak percaya, "maaf mas," dia berusaha menghentikan tangisannya.


"Mintalah pertanggung jawaban pada lelaki yang sudah menghamilimu Ya!" pintaku tenang.


Dia menggeleng, "enggak mas, aku ... Sebenarnya aku menyesal, dia bukan lelaki baik Mas, aku tak mau menikah dengan dia," jawabnya gugup.


"Tak mau menikah tapi mau di tiduri?" cibirku.


"Siapa lelaki itu Hulya? Azamkah?" tanyaku tajam.


Dia diam bergeming, membuatku semakin mencurigai lelaki itu.


"Kalau bukan dia, begitu murahnyakah dirimu yang rela mengumbar tubuhmu? Kamu bahkan tak menolak kita pisah ranjang, tapi rela menghangatkan ranjang lelaki lain," ucapku memojokkannya.


"Kamu tak berhak menghakimiku mas. Aku hanya minta tolong bersabarlah, kali ini saja aku mohon, sampai anak ini lahir bagaimana?" tawarnya.


Benarkan, dia hanya ingin menyelamatkan harga dirinya. Dia adalah seorang pengajar dan keluarganya memiliki sekolah yang cukup terkenal.


Bisa hancur nama baik keluarga dan juga sekolah milik mereka jika skandal ini mencuat ke media.


"Muncul juga sifat aslimu Hulya, harusnya kamu tak perlu bersusah payah menangis dari tadi," cibirku.


Dia mengusap air matanya, kini tatapannya berubah datar.


"Aku memberikan penawaran padamu Mas, bertahanlah sebentar, setelah itu kita akan berpisah seperti keinginanmu," tawarnya lagi.


"Tidak!" tolakku.


Dia lalu tersenyum sinis, "aku meminta ini baik-baik mas, jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari. Tentu kamu tau besarnya hutang keluargamu bukan? Kami bisa menuntut itu," ancamnya lagi.


"Kamu tenang aja, aku akan membayar meski harus mencicilnya," jawabku tenang.


Pembicaraan kami terhenti kala pelayan datang memberikan pesanan kami. Hulya segera meminum minumannya hingga sisa setengah.


Sepertinya dia lelah setelah melakukan drama murahan.


"Maka bersiaplah menerima berita yang sangat menyakitkan nanti," kecamnya lalu bangkit berdiri.


Ah aku tak gentar dengan ancamannya lagi, hanya itu yang mereka bisa mengancam dan mengancam saja.


.


.

__ADS_1


.


Tbc


__ADS_2