
Mereka justru memutuskan untuk pergi ke sebuah danau.
Ragil dan Farah merasa mereka harus mulai terbuka. Entah akan ke mana nantinya hubungan mereka akan berakhir, setidaknya, keduanya ingin memulai sesuatu tanpa ada yang di tutup-tutupi.
Dua cangkir kopi menemani obrolan mereka di kafe itu.
"Kamu suka kopi hitam?" tanya Farah heran.
Ragil terkekeh, "kamu tau dulu aku suka kopi susu atau krimer gitu, apa pun yang Hulya buat aku akan menghabiskannya tanpa keluhan, hingga suatu saat aku tau kalau semua itu adalah favoritnya Azam."
Farah menggeleng tak percaya. Dia tak habis pikir dengan pikiran Hulya.
"Jadi karena itu kamu trauma sama kopi susu?" sambungnya.
"Enggak juga sih, kadang-kadang masih minum juga tapi dalam bentuk es."
"Kamu tau, menikmati kopi hitam, aku jadi tau maknanya," lanjut Ragil.
Farah mengernyitkan dahi bingung, "memangnya apa?"
"Awal minum memang terasa pahit, tapi kamu tahu lama kelamaan rasanya akan berubah sedikit manis di lidahku," jelasnya.
"Ah kamu ada-ada aja," sambar Farah.
"Mungkin kaya kehidupan pahit aku yang berubah jadi manis, meski aku masih bingung dan tak percaya dengan semua ini," ucap Ragil sambil menerawang.
"Dari tadi ceritain tentang aku mulu, coba kamu ceritakan tentang dirimu?" pinta Ragil.
Farah menarik napas panjang dan menghembuskannya secara perlahan.
Ragil yang melihat itu merasa jika sepertinya Farah belum siap terbuka dengannya.
"Kalau kamu ngga mau ngga papa Far. Cuma aku harap—"
"Sebenarnya ngga ada yang menarik dari kehidupanku selain aku di tinggal pergi sama calon suamiku," potong Farah.
"Maaf, aku boleh tanya sesuatu?"
"Bukannya dari tadi kamu nanya ya?" keduanya terkekeh atas jawaban Farah.
"Kamu masih mencintai lelaki itu?" tanya Ragil waswas. Entah kenapa hatinya berdebar tak karuan menunggu jawaban Farah.
"Kalau cinta, aku rasa enggak, mungkin sudah hilang karena rasa kecewa," jawab Farah tenang.
"Ini misal, seandainya ternyata dia pergi karena suatu hal dan kita udah bersama, apa mungkin kamu akan kembali padanya?"
"Kamu tau Gil, hal yang membuatku penasaran dan ingin bertemu dengannya adalah kenapa dia pergi tanpa kabar apa pun. Bahkan keluarganya juga ikut pindah entah ke mana," jelas Farah.
"Kalau kamu ketemu dia lagi, apa kamu akan kembali?" tanya Ragil tajam.
__ADS_1
Farah tersenyum sekilas, dia tau Ragil mungkin merasa tidak yakin dengan perasaannya.
"Aku ngga tau kamu percaya apa enggak, aku cuma mau tau alasannya aja dan tak akan kembali padanya," jawab Farah serius.
"Apa pun alasannya nanti, bagiku pergi tanpa kejelasan adalah pecundang!" sambungnya.
Ragil tersenyum, mungkin begitulah pikiran wanita, mereka hanya butuh kejelasan. Mungkin rasa kecewa tak membuat Farah ingin kembali, semoga saja, harap Ragil.
Setelah itu keduanya terlibat pembicaraan santai. Baik Ragil maupun Farah sepakat untuk menjalin hubungan.
Mereka ingin saling mengenal, tak mau tergesa-gesa untuk ke jenjang yang lebih serius.
Seperti janji Ragil pada Tania, dia mengantar Farah sampai ke rumahnya. Waktu menunjukkan masih jam tujuh malam. Oleh sebab itu Farah menawari Ragil untuk mampir ke rumahnya.
Saat hendak masuk ke halaman rumah mewah milik Tania, di sana sudah terparkir mobil milik Sarah.
Farah mendesah, membuat Ragil menoleh padanya.
"Ada apa?" tanya Ragil bingung.
Farah tersenyum kaku pada kekasihnya, "bisa aku minta tolong?" pintanya penuh harap.
Ragil mengernyitkan dahinya tapi tetap mengangguk.
"Tolong rahasiain hubungan kita dulu ya dari Sarah!"
"Aku enggak bisa cerita sekarang, kapan-kapan aku ceritain lagi ya," pintanya.
Meski bingung Ragil tetap mengangguk, sekali lagi dia berusaha percaya pada pasangannya.
Keduanya jalan beriringan sampai ke depan pintu.
Mereka sudah di tunggu oleh Tania dan juga Sarah yang sedang berbincang di ruang keluarga.
"Mas Ragil?" panggil Sarah bingung dengan kehadiran mereka berdua secara bersamaan.
"Kalian dari mana?" sambung Sarah penasaran.
"Kami bahas pekerjaan aja," sela Farah lalu duduk di sebelah ibunya.
Tania hanya mengusap punggung Farah sebagai dukungan, sebab dia sangat tahu apa yang di cemaskan oleh putrinya.
Sarah tak terima dengan penjelasan sepupunya. "Di hari libur ini? Terus kamu ngga ajak aku?" jawabnya sengit.
"Kami ngga sengaja bertemu, lalu membahas pekerjaan, sekalian aja aku antar Farah pulang," sela Ragil berusaha mencairkan suasana.
Sarah tetap memicing curiga, karena merasa ada yang di sembunyikan keduanya.
"Apa kalian punya hubungan?"
__ADS_1
"Astaga Sar, bisa ngga kamu ngga usah berlebihan? Maaf ya Gil, sebaiknya kamu pulang aja, aku mau istirahat," usir Farah yang bermaksud menyudahi segala keingintahuan Sarah.
"Maaf Far, bukan maksud aku gimana-gimana, aku kan khawatir sama kamu, apa lagi masa lalu kamu itu kan—" entah apa maksud ucapan Sarah.
"CUKUP SAR!" bentak Farah kesal.
"Ya sudah sebaiknya saya pulang dulu ya Tante, Farah dan Sarah, permisi," Ragil memilih pergi dari sana karena merasa tak nyaman dengan kedua saudara sepupu itu yang mendadak panas entah karena apa.
"Makasih ya Gil, maaf kalau kamu ngga nyaman," ucap Tania saat Ragil menyalaminya.
"Aku antar Ragil ke depan dulu ya Mah," ucap Farah.
Sarah hanya menatap tajam keduanya. Dia merasa di abaikan.
"Kamu ngga papa?" tanya Ragil begitu tinggal mereka berdua.
Farah mengangguk dengan senyum terpaksa, begitulah Sarah, entah kenapa sepupunya itu selalu ikut campur urusan pribadinya.
"Aku pulang ya jaga diri baik-baik," ucap Ragil sambil mengusap kepala Farah.
Sepeninggal Ragil, Farah kembali ke dalam dengan memasang wajah dingin. Dia sungguh muak dengan kelakuan Sarah yang menurutnya selalu ikut campur.
"Far, jujur sama aku kalian ada hubungan apa?" sergah Sarah begitu melihat Farah masuk.
"Bukannya udah aku jelasin? Kalau kami tadi ngga sengaja ketemu lalu bahas masalah bisnis. Kamu ini kenapa sih Sar?" Elak Farah sengit.
Sarah memutar bola matanya malas, wanita itu sama sekali tak merasa bersalah.
"Aku cuma khawatir, kamu tau kan banyak laki-laki yang deketin kamu karena ada maunya?"
Farah tersenyum sinis, "apa Ragil terlihat begitu? Justru mungkin aku lah yang keliatan ada maunya kalau dekat dengannya!"
"Tolong Sar, bisa ngga kamu kasih dukungan aku kaya aku ke kamu. Apa pun yang kamu lakukan, apa pun pilihanmu, aku selalu mendukungmu. Tapi selama ini yang kulihat, kamu selalu berpikiran buruk jika ada lelaki yang mendekatiku!"
Ucapan Farah membuat diri Sarah tersentak kaget. Dulu sepupunya itu selalu mendengarkannya tapi kini seakan Farah tak ingin mau lagi berbagi dengannya.
"Kamu marah sama aku Far?" ucap Sarah dengan mata berkaca-kaca.
"Enggak, aku cuma mohon sama kamu, tolong hargai aku. Aku bukan anak kecil yang akan mengambil keputusan secara asal. Dan terima kasih atas perhatianmu, kurasa kamu sudah harus memikirkan nasib rumah tanggamu sendiri," balas Farah datar.
Sarah menunduk, "makanya aku datang ke sini Far. Aku ... Lelah dengan mas Azam," keluhnya.
.
.
.
Tbc
__ADS_1