
Hari ini adalah panggilan sidang kedua Ragil dan Hulya.
Maya menatap anaknya yang sudah rapi pagi ini. Mereka masih bergantian menjaga Tyo di rumah sakit karena lelaki paruh baya itu tak mau jauh-jauh dari anak dan istrinya.
Biasanya Ragil akan beristirahat dan bergantian dengannya. Namun hari ini berbeda, putranya itu sudah rapi meski baru pulang dari rumah sakit.
"Kamu mau ke mana? Ke toko percetakan kamu itu?"
Ragil sudah menceritakan seluruh kehidupannya kepada Maya dan Tyo, oleh sebab itu Maya tau jika putranya adalah lelaki mandiri dan juga pekerja keras.
Ragil menggeleng dan duduk di hadapan ibunya sambil menyendok makanan ke piringnya.
"Aku mau ke pengadilan agama Mah, mau menghadiri sidang perceraianku."
Maya mengangguk paham, dia juga sudah memerintahkan orang untuk menyelidiki segala masa lalu putranya dan dia tak terkejut dengan ucapan Ragil.
"Mamah udah nyiapin pengacara untuk kamu. Masalah kamu akan segera selesai sayang, selepas ini kamu harus hidup bahagia."
Mata Maya berembun, dia menggenggam tangan putranya dengan sendu.
Sungguh perjalanan hidup Ragil tak seindah apa yang putranya itu ceritakan.
Sejak belia putranya itu sudah di paksa mencari rezeki untuk menghidupi keluarga Rukayah.
Dia hanya bisa bernapas lega karena pasangan itu tak pernah menggunakan kekerasan fisik pada putranya.
"Apa ngga merepotkan Mah?" Balas Ragil menatap sang ibu.
Maya menggeleng, "kamu harus lepas dari mereka. Mamah yakin ini ngga mudah karena mereka itu keluarga licik, tapi kamu tenang aja keluarga kita bukan keluarga yang bisa mereka remehkan."
Ragil hanya tersenyum menanggapi ucapan ibunya.
Tak lama seseorang datang ke rumah mereka. Maya yang tahu siapa tamunya lantas mengajak sang putra untuk menemuinya bersama.
"Pagi Pak Baskoro, maaf sudah merepotkan Anda pagi-pagi begini."
Maya menyalami tamunya dan meminta Ragil untuk mengenalkan dirinya.
"Ini Ragil, putra saya yang akan menjadi klien Bapak. Semoga Bapak bisa membantu masalah putra saya agar segera selesai," ucapnya begitu mereka duduk berhadap-hadapan.
"Baik Bu, dengan senang hati, apa lagi kita memiliki banyak bukti untuk segera mengakhiri pernikahan Mas Ragil," sahut Baskoro yakin.
Ragil sendiri bingung sebab baru pertama kali dia bertemu dengan lelaki di depannya ini. Namun dia terkejut karena justru Baskoro sudah memegang bukti kuat katanya.
__ADS_1
"Ayo Mas Ragil, kita berangkat sekarang?!" ajaknya.
Ragil pun mengangguk dan berpamitan pada ibunya.
Mereka menaiki mobil milik Baskoro, bahkan Ragil harus melepaskan mobil tuanya untuk Hendi nanti sebab sang ibu telah memberikannya mobil yang sangat mewah.
Risi sebenarnya karena dirinya tak biasa di perhatikan seperti itu, tapi dia tak bisa menolak karena sang ibu kandung ingin sekali menebus segala kebahagiaan yang harusnya dia rasakan sejak dulu.
"Hari ini agendanya mengajukan bukti dan saksi, Mas Ragil tenang aja, minggu depan pasti hanya tinggal menerima akta cerai aja."
Ragil hanya mengangguk mendengarkan ucapan pengacaranya.
Mereka turun di depan bangunan pengadilan agama berbarengan dengan Hulya dan juga keluarga serta pengacaranya datang.
Hulya diam terpaku kala melihat penampilan Ragil. Suaminya itu memang sejak dulu selalu berpenampilan rapi.
Namun kali ini berbeda, baju mahal yang melekat di tubuh suaminya membuat aura Ragil terlihat sangat berkarisma di matanya.
Ragil tetap menyapa istri dan keluarga mertuanya dengan sopan. Dia tak ingin menyimpan dendam karena bagaimana pun mereka akan berpisah dan entah apa akan bertemu lagi atau tidak.
"Bisa kita bicara dulu Ragil?" pinta Zhafran.
Kakak iparnya itu sedikit berubah, tak ada lagi nada tajam yang biasanya di ucapkan padanya.
Mereka duduk di depan ruang persidangan. Karena tak mungkin kedua pasangan itu meninggalkan kantor pengadilan agama saat ini.
"Apa kamu enggak bisa memikirkan ulang keputusanmu? Tak bisakah kamu memberi Hulya satu kali kesempatan? Dia sudah ngga mungkin akan kembali pada Azam, kamu tahu itu kan?"
Ragil menatap Hulya yang lebih memilih menunduk dan mendengarkan.
"Maafkan saya Mas, Umi. Keputusan saya sudah bulat. Saya bisa memaklumi segala kekurangan Hulya sebagai istri tapi tidak dengan pengkhianatan," jawab Ragil datar.
Mendengar jawaban Ragil, Hulya menengadahkan kepalanya, lalu bangkit dan bersimpuh di kaki Ragil.
Tentu saja perbuatan wanita hamil itu membuat Ragil dan Baskoro terkejut.
"Maafkan aku Mas, ampuni aku, sungguh aku tau, aku tak tau diri, tapi aku udah menyadari kesalahanku, tolong jangan tinggalkan aku di saat seperti ini," rengeknya.
Ragil memegang kedua bahu Hulya, "bangunlah jangan seperti ini," pinta Ragil lembut.
"Mas, mau memaafkan aku kan?" bujuknya.
Ragil meminta Hulya agar duduk di sebelahnya.
__ADS_1
"Kalau saja Azam bukan kakak kamu, Mas yakin kamu pasti tak akan mengatakan hal ini sama Mas."
Hulya terbelalak karena Ragil dengan mudah menebak isi hatinya. Tentu saja dia masih mencintai Azam, meski cinta itu tak akan pernah bisa di terbalaskan.
Saat ini pun dia sedang berusaha keras melupakan cintanya pada Azam.
"Belajarlah untuk menerima apa pun yang sudah kamu putuskan. Maafkan Mas kalau selama menikah, Mas ngga bisa membuatmu bahagia."
Kalimat putusan yang di ucapan kan Ragil adalah akhir dari harapan Hulya.
"Kamu jangan sombong dulu Gil hanya karena kini kamu tau kalau kamu berasal dari keluarga konglomerat," gerutu Zhafran.
Ragil tak tersinggung dengan ucapan kakak iparnya. Dia tau mereka hanya bisa seperti itu mengiba lalu mengejek jika keinginannya tak terpenuhi.
"Aku ngga tau dari kalimat mana yang bisa mas sebut menyombongkan diri," balas Ragil telak.
Perbincangan mereka terputus karena panggilan sidang mereka akan segera di lakukan.
Di sana Baskoro memberikan bukti perselingkuhan Hulya, serta kedatangan saksi yang merupakan Rizal selaku ketua Rt dan Abu selaku pegawai kelurahan.
Ragil cukup terkejut karena Baskoro sama sekali tak membahas masalah saksi.
Namun dia merasa senang, karena Rizal dan Abu memang sudah mengetahui permasalahan mereka.
Pengacara Hulya terlihat frustrasi karena kliennya berada di titik yang tak mungkin bisa mengelak lagi.
Tak lama hakim ketua membacakan putusannya saat itu.
"Menimbang segala bukti dan saksi yang di bawa oleh saudara Ragil. Kami memutuskan mengabulkan gugatan cerai saudara Ragil Saputra kepada Saudari Hulya Maulida."
Ketukan tiga kali sudah mengukuhkan putusan itu. Ragil mengucap syukur dalam hati, sedangkan Hulya hanya bisa menangis dan berusaha di tenangkan oleh ibunya.
"Akta perceraian bisa di ambil minggu depan ya Mas Ragil," ujar Baskoro memberi tahu.
"Terima kasih Pak," Ragil menyalami pengacaranya dan tak lupa juga dia mengucapkan terima kasih pada Rizal dan Abu yang mau repot-repot datang untuk menjadi saksi.
Tak ada bahasan mengenai harta gono gini sebab, Ragil menyerahkan satu-satunya harta berupa rumah yang dia miliki untuk Hulya.
.
.
.
__ADS_1
Tbc