
Sarah kembali masuk ke dalam ruangan Dokter yang tadi memeriksanya.
"Bu Sarah?" sapa sang Dokter sambil menyalami pasangan suami istri itu.
"Mari silakan duduk Pak Azam," ucapnya pada Azam, setelah membaca berkas milik Azam.
Meski bingung, tapi Azam tetap menuruti ucapan Dokter di depannya.
"Apa yang bapak rasakan?" tanya Dokter sambil membuka buku untuk mencatat keluhan sang pasien.
"Tenggorokan saya sakit Dok, akhir-akhir ini juga saya sering mual, mungkin magh saya kambuh," jawab Azam.
"Baik, ada keluhan lainnya pak? Silakan berbaring saya akan memeriksa keadaan bapak," pinta sang Dokter.
Azam menurut lalu merebahkan diri di ranjang rumah sakit.
Setelah memeriksa tenggorokan Azam, Dokter pun meminta Azam membuka pakaiannya. Terpampanglah sesuatu yang membuat Dokter yakin penyebab penyakit keduanya.
Ruam yang cukup besar berada di punggung Azam. Mungkin Sarah tak pernah memperhatikannya sebab se-tak peduli itu memang dia pada suaminya.
Saat melihat sang Dokter menghela napas Sarah tahu kalau sesuatu yang buruk telah terjadi dengan mereka berdua.
Azam yang bingung hanya bisa segera mengenakan pakaiannya, sebab dia merasa risi juga tidak mengenakan pakaian.
"Seperti Bu Sarah, saya juga akan menyarankan Pak Azam untuk melakukan pengecekan secara keseluruhan," putus Dokter sambil menuliskan sesuatu pada kertas.
"Memang saya sakit apa Dok?" tanya Azam akhirnya.
"Dugaan sementara, menilik segala gejala yang bapak derita, saya berasumsi bapak terkena HIV. Namun untuk lebih jelasnya, kita akan melakukan tes darah dan juga pemeriksaan lebih lanjut pada Dokter spesialis penyakit dalam serta Spesialis kulit dan kelamin,” jelas Dokter.
Azam terkesiap tak percaya, pikirannya kosong, bagaimana bisa dia terkena penyakit menjijikkan itu? Dia merasa selalu menggunakan pengaman dalam bekerja.
Bisa di katakan hanya pada satu wanita saja dia tak mengenakan pengaman. Namun dia sangsi jika pelanggannya itu yang menularinya.
Langganannya juga bukan wanita sembarangan. Mereka semua rata-rata ibu sosialita yang kesepian.
"Enggak mungkin, saya yakin Dokter pasti salah diagnosa!" elak Azam yakin.
"Maka dari itu saya minta agar bapak dan ibu mengecek secara keseluruhan," jawab Dokter dengan sabar.
"Enggak, saya menolak!" tolak Azam lalu bangkit meninggalkan ruangan Dokter.
Sarah mengucapkan terima kasih lalu ikut segera menyusul suaminya. Dia berkata pada Dokter, buatkan saja surat pemeriksaan untuk suaminya. Dirinya akan kembali membujuk Azam.
Napas Azam naik turun karena marah. Dia merasa tak mungkin memiliki penyakit seperti itu mengingat para pelanggannya bukanlah dari kalangan wanita biasa.
"Mas!" ucap Sarah sambil mencekal tangan suami.
"Kamu mau mengelak, setelah semua gejala penyakit yang kamu alami?" cecar Sarah frustrasi.
"Apaan sih kamu Sar, enggak mungkin aku punya penyakit seperti itu!" bentak Azam.
__ADS_1
"Makanya ayo kita buktikan, kalau kita menuruti Dokter tadi dan ternyata hasilnya negatif, bukannya kita tenang? Tapi kalau kita menolak, tanya hati kamu, apa mungkin kamu enggak di liputi perasaan waswas?" cecar Sarah.
"Aku minta kamu periksa mas, kalau perlu nanti kita ke rumah sakit lainnya, agar lebih yakin," pinta Sarah sambil kembali menyeret sang suami.
Terpaksa Azam menuruti permintaan istrinya meski dalam hati terus mengelak jika dia memiliki penyakit itu.
Setelah semuanya selesai, mereka memutuskan untuk mendatangi rumah sakit lain.
Di sana pun sama, Dokter mendiagnosis keduanya terjangkit virus HIV dan meminta mereka melakukan cek keseluruhan.
Mau tak mau Sarah dan Azam kembali melakukan tes di rumah sakit berbeda. Hati kecil mereka sudah merasa bahwa memang mereka mengidap penyakit laknat tersebut.
Keduanya tak banyak berbicara saat di dalam mobil. Pikiran mereka menjadi kalut.
Bagaimana kehidupan mereka nanti?
Mengapa bisa mereka memiliki penyakit itu?
Begitulah pikiran mereka. Tak percaya pastinya.
"Sebenarnya apa pekerjaanmu Mas?" tanya Sarah akhirnya.
Azam menepikan mobilnya. Sarah sendiri sudah tak bisa membendung rasa kecewa dan sakit hatinya.
"Apa maksud kamu?" elak Azam tak terima.
Sarah memalingkan wajahnya dan menatap sang suami sendu. Sudah seperti ini pun sang suami masih saja mengelak dari kesalahannya.
"Jangan bohong lagi Mas. Apa kamu enggak lelah? Penyakit ini tentu kamu yang bawa. Dari mana kamu mendapatkan uang yang begitu banyak dalam waktu singkat?"
Tak ada emosi yang meledak-ledak seperti kebiasaan Sarah, dia lelah jika harus menyalahkan takdir. Dia pasrah dan menerima segala hukuman semesta yang kini harus di laluinya.
Semua kesalahan dan dosa yang pernah dia lakukan terlintas jelas dalam benaknya. Mungkin ini adalah hukuman yang pantas untuknya, begitu pikir Sarah.
"Antar aku ke rumah Tante Tania. Setidaknya di sisa umurku ini aku ingin minta maaf sama mereka yang sudah tulus menyayangiku," pinta Sarah lemah.
"Kamu enggak akan kenapa-napa. Belum tentu kita sakit seperti perkiraan Dokter! Ayolah Sar, kita ini hanya sakit biasa," ucap Azam yang masih menolak semua yang di katakan Dokter.
"Terserah mas, tolong antar aku, aku mohon," pintanya sekali lagi.
Azam memukul setir kemudi, tapi tetap melakukan apa yang di minta istrinya.
Dia merutuki dalam hati wanita yang selama ini memakai jasanya. Dia yakin wanita itulah yang menularkan penyakit berbahaya itu padanya, sebab hanya wanita itu yang selalu meminta pelayanannya tanpa pelindung apa pun.
.
.
Di kediaman Afdhal, Zhafran duduk terdiam mendengarkan ucapan dari tujuan Fathur dan Mala bertamu ke rumah orang tuanya.
Dia sedikit terkejut kala dua orang yang menjadi harapan baginya dan sang ayah dalam membantu yayasan milik mereka memiliki syarat tersendiri.
__ADS_1
Memang tak salah, tapi jika mereka meminta Hulya menangani yayasan ke depannya. Itu berarti dia harus menyerahkan kepemimpinannya pada sang adik.
Lalu dirinya akan bekerja sebagai apa? Staf biasakah? pikir Zhafran.
Melihat putra sulungnya terdiam dengan wajah sendu, membuat Afdhal tak tega.
Menyetujui permintaan Fathur dan Mala sama saja menjatuhkan harga diri putranya, pikir Afdhal.
Lelaki paruh baya itu sudah memutuskan lebih baik menjual saja yayasan miliknya dari pada harus menyerahkan tongkat kepemimpinan pada anak perempuannya.
Lagi pula dia tak terlalu yakin Hulya mampu memimpin yayasan miliknya.
"Bagaimana Pak Afdhal dan Mas Zhafran?" tanya Mala yang sudah tak sabar.
"Saya setuju," jawab Zhafran yakin.
Semua terkejut mendengar ucapan dari lelaki yang terkenal tegas itu.
Hulya bahkan mengedipkan matanya beberapa kali, karena tak percaya.
"Bang, kamu yakin?" tanya Afdhal pada putranya.
"Zhafran yakin Bi, lagi pula sebenarnya Hulyalah yang lebih banyak memberikan masukan yang bermanfaat untuk yayasan. Hanya saja kita sering menyepelekannya hanya karena dia wanita."
"Sudah seharusnya Abi mempercayakan kepimpinan yayasan pada Hulya. Zhafran yakin Hulya sanggup, berilah putri abi dukungan, jangan pandang sebelah mata kemampuan putri abi ini," pinta Zhafran lembut.
Tak ada lagi ke keras kepalaan Zhafran seperti biasanya. Tak ada lagi sikap arogan yang biasanya lelaki itu tunjukkan.
Zhafran seperti orang baru bagi keluarganya. Namun hati kecil mereka senang melihat perubahan besar pada lelaki kebanggaan mereka.
Dalam benak orang tua Zhafran dan juga Hulya, mungkin perpisahan dengan Zahralah yang menjadikan Zhafran sosok yang berbeda.
Lelaki itu mungkin sudah belajar banyak dari rasa kehilangannya kemarin.
"Abang yakin?" tanya Hulya dengan mata berkaca-kaca.
"Abang yakin, tolong jaga yayasan dengan baik. Jadilah pemimpin yang bijaksana Hulya," pinta Zhafran lembut.
Kedua kakak beradik itu saling berpelukan, sesuatu yang sudah lama tak mereka lakukan. Kehangatan yang hilang karena banyaknya masalah yang menerpa keluarga mereka karena ulah mereka sendiri, kini seolah kembali.
Mereka kini menyadari segala kesalahan diri dan ingin berbenah memperbaiki hidup untuk ke depannya.
"Jadi semua sudah sepakat? Baiklah, bapak dan ibu silakan mempersiapkan pernikahan ini," pinta Mala tenang.
"Apa harus secepatnya?" tanya Huma khawatir.
"Lebih cepat lebih baik," jawab Mala yakin.
.
.
__ADS_1
.
Tbc