
Di kediaman Afdhal, mereka masih membahas masalah tadi di ruang tamu. Zahra juga ikut diam mematung.
Keluarga mertuanya sangat berantakan dan kacau, dalam hati wanita lembut itu merasa salah telah menerima perjodohan ini.
Namun ia bisa apa, pernikahan yang dulu dia anggap bahagia nyatanya dia lalui dengan jalan yang sangat berliku dan menyakitkan.
Ponsel Zhafran berdering, seketika senyum di wajah lelaki itu terbit, berbanding terbalik dengan Zahra yang mendengus, karena dia tau siapa yang menelepon suaminya itu, siapa lagi kalau bukan istri keduanya.
"Maaf sayang, iya Abi tau, sabar ya, di sini lagi ada masalah," ucap Zhafran lembut membuat hati Zahra bak di iris sembilu.
Dia tau meski sebagian waktu suaminya di habiskan untuknya dan anak-anak mereka, tapi tetap saja masih ada rasa tak terima kala hati sang suami telah terbagi.
Awalnya mereka menikah karena ingin mencari ridho-Nya, begitu ucap sang suami kala meminta izin poligami pada Zahra.
Zahra yang mendengar penjelasan suaminya yang berkata jika dia ingin membimbing istri keduanya untuk mengenal Allah lebih baik dengan cara menikahinya, membuat hati Zahra tak terima.
Sempat terjadi perdebatan panjang di antara keduanya, karena Zahra benar-benar tak siap di poligami.
Sayangnya, semua orang seperti mendukung keputusan suaminya. Dia yang hanya seorang ibu rumah tangga dan bergantung pada penghasilan suaminya saja, seperti di paksa menerima keadaan.
Seperti janji mereka, tak ada pesta mewah tak ada woro-woro apa pun, kedua pasangan itu masih menyembunyikan pernikahan mereka hingga sekarang, karena mendadak akun sosial istri keduanya itu melejit hingga membuatnya terkenal.
Seseorang yang baru mengenal agama memang sering di elu-elukan oleh masyarakat negeri ini, hingga membuat Zahra muak saat mendengar ucapannya di media sosial milik istri kedua suaminya.
Zhafran yang tahu wajah istri pertamanya berubah masam, lantas mendekat dan mengusap puncak kepalanya.
"Mas titip Ibu dan Hulya ya. Besok Mas janji akan balik ke sini," ucapnya pamit undur diri.
Tak ada yang mencegah kepergian lelaki itu. Hanya Zahra yang berusaha kuat untuk menenangkan dua orang wanita di sampingnya.
Satunya menjadi korban selingkuhan suaminya, satunya lagi seorang peselingkuh, yang sialnya dia justru mencintai saudaranya sendiri.
"Umi tenanglah, apa ngga sebaiknya kita menjenguk Abi? Memangnya kalian ngga khawatir?" cecar Zahra mengingatkan mereka akan kepala keluarga yang saat ini sedang terbaring lemah di rumah sakit.
Umi Hulya yang bernama asli Huma menatap menantunya sengit, "Hati Umi sakit menerima kenyataan ini Zahra! Tak bisakah kamu mengerti?" sentaknya.
Zahra tersenyum sinis, "tentu saja tau Mi, sangat-sangat tau, bukankah aku sudah mengalaminya sendiri? Harus berbagi suami dengan wanita lain?" balas Zahra frontal.
Umi Hulya diam seketika, dia merasa menyesal telah berkata seperti itu. Dulu dia juga menjadi orang yang mendukung keputusan putranya, jadi seakan ucapan itu di balikan padanya oleh sang menantu dengan mudah.
"Sudahlah, umi mau istirahat, kisah kita berbeda Zahra. Kalau Zhafran izin padamu dan memintanya secara baik-baik, sedangkan Umi?" lirih Umi Hulya menjelaskan kegundahan hatinya.
Zahra membuang mukanya, baginya percuma menjelaskan pada ibu mertuanya yang dia tau sama saja keras kepalanya.
Huma memilih pergi ke kamarnya untuk mengistirahatkan diri.
__ADS_1
Hulya sendiri masih mengusap-usap perut buncitnya dengan pandangan kosong.
Akan bercerai dengan Ragil dan tak bisa bersatu dengan Azam, membuatnya bingung akan masa depannya kelak.
Terlebih lagi, aib yang telah di torehkannya. Mungkin kah suatu saat ada lelaki yang mau menerimanya?
"Kamu juga istirahat Ya, ngga baik banyak melamun. Hadapi, semua ini mungkin takdir yang kuasa," nasehat Zahra.
Perempuan itu lantas meninggalkan adik iparnya seorang diri untuk melihat keadaan putra putrinya.
Ia sebenarnya ingin lari dari kemelut keluarga suaminya. Namun dia bingung bagaimana jika orang tuanya bertanya mengapa dia kembali seorang diri.
Terlebih lagi sang ayah yang sangat mengagumi menantunya.
Zahra dilema, belum lama ini ayahnya membicarakan masalah pengurusan pondok pesantren yang hendak di berikan padanya.
Lebih tepatnya sang ayah ingin agar suaminyalah yang melanjutkan memegang yayasan milik mereka.
Sungguh hati Zahra sangat risau, dia memang ingin menjadi pewaris pondok pesantren itu, tapi mempercayakan suaminya untuk mengelolanya yang dia khawatirkan.
Dia tak ingin suaminya menafkahi istri keduanya dengan hasil dari yayasan milik keluarganya, sungguh dia tidak rela. Biar lah orang mengatakan buruk tentangnya, toh dia merasa manusia biasa yang bisa kecewa dan sakit hati.
.
.
Rukayah sempat menanyakan keberadaan Afdhal pada Rizal yang mengantarnya.
"Mau apa kamu ke sini?" tanya Afdhal sinis.
Rukayah hanya bisa menghela napas mendengar ucapan ketus lelaki yang telah memberikannya dua orang anak itu.
"Ingin tau langkah apa yang akan kau ambil setelah ini," jawab Rukayah tenang.
"Anakmu hamil dari kakaknya dan kau dengan teganya mengorbankan Saeba demi ambisimu untuk membahagiakan putrimu yang lain," sambung Rukayah kesal.
Sungguh melihat ke tidakadilan yang dia terima anak-anaknya membuat hatinya sakit.
"Bisakah kau diam? Kamu ngga tau kan nasib buruk apa lagi yang akan menimpa kita?" jelas Afdhal.
Dia memang merasa tak mau tau saat Rukayah menukar putranya dulu. Harusnya dia membantu Rukayah saat wanita itu kehilangan jejak Hamidah.
Dia tak menyangka ke abaiannya pada jejak putranya membuatnya menerima nasib buruk seperti ini.
Bagi Afdhal, Rukayah hannyalah pemuasnya jadi dia memang tak begitu memedulikan perasaan wanita itu dan anak-anaknya.
__ADS_1
"Sudahlah, sebaiknya kamu pergi dari sini, aku tak ingin membuat Huma semakin membenciku," usir Afdhal.
Rukayah bangkit berdiri, hatinya merasa sakit karena di campakkan begitu saja oleh Afdhal.
"Baiklah, berhubung kini istrimu sudah tau tentang kebenaran anak-anakku. Maka jangan salahkan aku kalau aku pun akan menuntut hak yang sama dengan mereka," ujarnya.
Afdhal tak memedulikan ucapan Rukayah, dia memilih memikirkan alasan apa yang akan dia gunakan untuk membujuk Huma istrinya.
Lelaki paruh baya itu menyesal atas semua yang terjadi pada keluarganya.
Yang dia pikirkan saat ini adalah, jangan sampai sang istri mengadu pada keluarga besarnya dan membuat dia kehilangan sekolah miliknya.
.
.
Setelah menemani ayahnya kembali berobat, Ragil pamit pada ibu kandungnya untuk bisa kembali ke rumahnya Rukayah.
Dia harus membereskan barang-barangnya yang berada di sana. Dia juga harus menemui wanita yang dulu sudah merawatnya.
Tak mungkin Ragil akan begitu saja membenci wanita itu meski pada kenyataannya Rukayah juga memiliki andil dengan perbuatan buruk Hamidah.
Kebetulan malam itu Rukayah juga sudah pulang ke rumahnya. Dia merasa lelah hingga tidak bisa menjenguk Saeba di rumah sakit.
Saat mendengar suara mobil masuk ke halaman rumahnya, dia bergegas keluar untuk menyambut Ragil.
"Ka-kamu pulang Gil?" tanya Rukayah gugup.
Ragil melempar senyum pada ibunya lalu mengecup punggung tangan Rukayah seperti biasa.
"Ragil mau ambil barang-barang Ragil Bu. Mamah Maya minta Ragil pindah ke rumahnya," jelas Ragil.
Rukayah menangis karena tak seperti harapannya, di mana Ragil akan tetap bertahan di sisinya.
"Kamu akan meninggalkan kami Gil? Setelah ibu bersusah payah merawatmu?" lirihnya.
Ragil mengajak Rukayah untuk duduk menangkan diri. Dia sedang memilah kata agar tak menyakiti wanita paruh baya itu.
"Terima kasih atas dua puluh lima tahunnya Bu. Bagaimana pun Mamah Maya ibu kandungku. Hanya aku anak yang dimilikinya, sedangkan ibu ada Azam dan juga Saeba," jawab Ragil lembut.
Rukayah menggeleng keras kepala. Anak-anaknya tak ada yang sebaik dan seperhatian Ragil. Padahal Ragil tidak lahir dari rahimnya, tapi entah kenapa justru lelaki itulah yang selama ini selalu berbuat baik padanya.
.
.
__ADS_1
.
Tbc