
Sarah belum menyerah, tiga bulan setelah mendatangkan Hulya ke kediaman Farah dan Ragil, perempuan itu kini datang ke kantor Farah dengan membawa serta Alan.
Dia memang mencari keberadaan Alan untuk dia hadirkan dalam kehidupan Farah.
Sarah belum mau menyerah, usai Tania menyerang ibunya. Bukannya mencari tahu kebenarannya, dia malah semakin membenci Tania dan Farah karena telah mempermalukan sang ibu.
Doktrin Eriska pada Sarah memang sudah mendarah daging, hingga membuat pikiran Sarah hanya tertuju pada keinginan balas dendam karena menurutnya, hidupnya dan keluarganya tak bahagia karena ulah Tania dan juga Farah.
Dia seakan tutup mata atas semua kebaikan yang dulu Tania dan Farah berikan.
Farah dan Ragil yang memang selalu mengantar istrinya kerja merasa heran dengan keberadaan dua orang yang sudah menunggu mereka di depan parkiran kantor Farah.
"Mau apa lagi dia sekarang? Belum puas ngajak Hulya kini dia ajak Alan juga," keluh Farah.
Ragil terkekeh mendengar gerutuan istri tercintanya.
"Ayo kita lihat pertunjukan yang akan sepupu kamu berikan!" ajak Ragil sambil menggandeng mesara sang istri mendekati Alan dan Farah.
Sarah yang melihat sikap romantis pasangan pengantin baru itu melengos kesal, dia menggerutu dalam hati mengatakan jika Ragil dan Farah tak punya malu karena mempertontonkan kemesraan mereka.
"Ada apa lagi ini Sar?" tanya Farah begitu mereka berhenti di hadapan keduanya. Farah bahkan tak menyapa Alan, sebab dirinya sudah terlanjur kesal.
"Aku ajak Alan, lama aku baru menemukan dia agar kalian bisa berjumpa, kenapa kamu enggak nyapa dia?" jawab Sarah sengaja mengabaikan keberadaan Ragil.
Alan menunduk dengan perasaan campur aduk. Antara malu dan juga merasa miris karena melihat mantan tunangannya telah menemukan kebahagiaannya sendiri.
"Terus apa tujuanmu membawa dia? Bukannya dulu kamu yang usir dia agar menjauh dariku?" cibir Farah.
"A-apa maksud kamu Far?" jawab Sarah gugup. Dia tidak tahu kalau Farah sudah mengetahui ulahnya.
Farah tersenyum sinis, "Kamu pura-pura pikun nanti pikun beneran loh! Bukannya kamu yang kasih uang pengobatan mamahnya Alan agar dia menjauhiku?" jelasnya.
Sarah terkejut ternyata sang sepupu sudah tahu rahasianya. Dia tidak bertanya apa-apa pada Alan tentang masa lalu mereka dulu.
Dia menatap Alan dengan sengit, dalam hati berpikir apa lelaki ini telah mengatakan segalanya pada Farah? Kapan mereka bertemu? Pikirnya.
"Sudahlah, sebaiknya kamu kembali kerja. Kamu enggak mau kehilangan pekerjaan ini kan Sar?" kecam Farah.
"Apa maksud kamu? Kamu ngancam mau pecat aku?" tanya Sarah tak percaya.
"Aku bisa saja pecat kamu kalau kamu berlaku seperti ini terus. Hormati aku sebagai atasanmu juga sebagai seorang istri."
"Aku bingung apa tujuanmu mendatangkan mantan-mantan kami? Kamu punya niat mau menghancurkan rumah tanggaku kah? Jahat sekali niatmu itu!" keluh Farah.
__ADS_1
Banyak para karyawan yang melihat perdebatan keduanya. Mereka mulai berbisik-bisik membicarakan keduanya yang sekarang terlihat tak pernah akur.
Tentu saja semua karyawan merasakan perubahan keduanya. Farah yang dulu dekat dengan Sarah bahkan seperti anak kembar, kini terlihat saling menghindar.
Dan puncaknya mereka tahu kalau Sarah berusaha merusak rumah tangga atasan mereka.
Sarah melihat sekitar, dia merasa gugup karena banyak orang menatap ke arahnya.
"Kamu keterlaluan!" bentaknya lalu mendorong tubuh Farah hingga jatuh terjengkang.
Farah yang memang saat itu melepaskan pegangannya pada Ragil agar bisa mendekati Sarah tentu tak siap dengan serangan Sarah yang tiba-tiba.
"Farah!" pekik Ragil terkejut lalu membantu sang istri.
"Aw, sakit perut aku sakit Gil," keluhnya. Wajahnya sudah pucat menahan sakit yang teramat sangat di bagian perutnya.
Ragil segera membopong tubuh istrinya untuk segera menuju rumah sakit.
Alan menghentikan Sarah saat wanita itu terlihat panik dan hendak mengikuti Ragil.
"Hentikan Sar! Aku menyesal mengikuti kamu. Kamu enggak bilang kalau Farah udah menikah! Kamu menipuku!" sergah Alan lalu meninggalkan Sarah yang diam membisu.
Alan merasa bodoh karena mau mengikuti keinginan Sarah untuk menemui Farah.
Alan yang masih menyimpan rasa pada Farah tentu berharap bisa kembali pada mantan tunangannya.
Namun apa yang terjadi, kini harapannya sudah pupus karena Farah telah menikah. Harusnya dia sadar sudah tak ada lagi cinta untuknya.
Dia sudah melukai hati Farah sedemikian dalam, hanya demi uang dia rela meninggalkan Farah di waktu hari pernikahan mereka sudah dekat.
Alan merutuki kebodohannya saat itu, dia yang tidak berani berkata jujur pada Farah tentang kesusahannya mengenai biaya pengobatan sang ibu, menerima begitu saja bantuan Sarah dengan sarat meninggalkan kekasihnya itu.
Kini dia hanya bisa menyesali keputusannya yang tanpa pikir panjang, kehilangan sang ibu, juga kehilangan kekasih yang tulus menerimanya.
.
.
Ragil membawa tubuh sang istri menuju ranjang di ruang unit gawat darurat. Farah yang masih mengerang kesakitan, membuatnya semakin panik.
"Tolong istri saya Dok!" pintanya pada Dokter jaga yang berada di ruangan itu.
"Baik pak, saya periksa dulu."
__ADS_1
"Bisa ceritakan ini ibunya kenapa?" tanya sang Dokter sambil memeriksa perut Farah.
"Dia di dorong hingga jatuh, tau-tau istri saya mengerang kesakitan," jawab Ragil.
Dalam hati dia tak akan membiarkan Sarah tenang setelah melukai istrinya. Dia akan membuat perhitungan pada sepupu istrinya itu nanti.
Persetan kalau mereka keluarga. Nyatanya dia berani melukai Farahku!
"Baiklah ibu yang tenang, tarik napas, hembuskan, apa yang ibu rasakan?" tanya sang Dokter pada Farah.
"Perut saya tiba-tiba sakit Dok, kaya keram gitu," lirihnya.
"Ibunya lagi hamil?" tanya Dokter tiba-tiba.
Ragil dan Farah saling berpandangan. Farah sendiri memang sudah telat datang bulan, tapi semenjak menikah dia memang merasa siklus tamu bulanannya menjadi kacau, sering telat beberapa hari.
Kali ini pun sama, dia sudah telat lima hari dari siklus bulanannya.
"Saya enggak tau Dok, tapi emang saya telat datang bulan," jawab Farah.
Sang Dokter tersenyum lalu memanggil perawat untuk mengambil sampel darah Farah karena tak memungkinkan Farah berjalan menuju kamar mandi untuk di ambil urinya.
Tiga puluh menit menunggu, Farah dan Ragil harap-harap cemas di ruangan mereka.
Dokter belum berani memberikan pereda nyeri sebab belum tahu kondisi pasien. Farah memang masih merasakan keram pada perutnya meski tak sekuat tadi.
"Ibu Farah?" tanya seorang perawat begitu masuk ke ruangan mereka. Ruangan yang hanya di beri sekat tirai-tirai hijau membuat mereka bisa mendengar kegaduhan di luar sana.
"Iya Sus, istri saya," jawab Ragil.
"Hasil dari tes darah menunjukkan kalau ibu Farah tengah mengandung—"
Keduanya terkesiap, Ragil lalu memeluk tubuh sang istri haru.
Perawat hanya tersenyum memperhatikan keduanya. Kemudian melanjutkan kembali penjelasannya.
"Berhubung ibu Farah habis terjatuh maka kita akan langsung memeriksanya di poly kandungan ya Pak," sambung sang perawat.
"Anak kami enggak apa-apa kan Sus?" tanya Farah khawatir.
Di tengah kabar bahagianya dia tahu apa yang akan terjadi kalau dia sampai terjatuh. Farah tentu merasa cemas terlebih lagi sakit di perutnya masih terasa.
Sedangkan di luar ruangan mereka ada seorang wanita yang mengepalkan tangannya mendengar kabar baik itu.
__ADS_1