Secangkir Kopi Hitam

Secangkir Kopi Hitam
bab 80


__ADS_3

Ragil dan Tania segera membuat laporan terkait tindak kekerasan yang di lakukan oleh Sarah.


Tania tak habis pikir, mengapa keponakannya itu bisa berani menantangnya padahal jelas-jelas dia yang salah.


Berbekal rekaman kamera pengawas dan juga hasil visum dari rumah sakit yang menyatakan kalau Farah mengalami benturan, membuat mereka yakin akan mudah memenangkan kasus ini.


Sedangkan di tempat lain, Sarah meringkuk ketakutan di kamarnya. Semua tirai dia tutup hingga membuat kamar itu gelap gulita.


Namun itu tak jadi masalah bagi Sarah, dia ingin bersembunyi. Bersembunyi dari ketakutan pikirannya sendiri.


Dia mencoba berani saat melawan Tania kemarin. Nyatanya saat pagi tadi dirinya benar-benar di tolak masuk ke dalam kantor oleh para penjaga keamanan.


Para penjaga itu memberitahu Sarah untuk kembali ke rumah sebab akan ada panggilan dari kepolisian terkait kasus kekerasan yang di layangkan oleh atasan mereka.


Sejak saat itulah dunia Sarah seakan berhenti, terlebih ketika dia kembali ke rumah sang suami tidak ada, entah pergi ke mana suaminya.


Sarah makin mengeratkan pelukannya, setega itukah sang tante ingin memenjarakannya. Mungkin dia kemarin berani melawan karena apa yang dia katakan adalah kebenaran begitu menurutnya.


Tiba-tiba dia ingat jika mungkin saja orang tuanya mau membantu dirinya dari kemurkaan sang tante.


Sarah meraih ponselnya di nakas, ada sebuah pesan dari nomor baru yang mengirimkan sebuah gambar sang suami tengah menggandeng seorang wanita cantik.


Hatinya semakin remuk, apa seperti ini kelakuan suaminya kala dia sibuk bekerja untuk memenuhi kebutuhan mereka? Yaitu berselingkuh.


Dirinya yang sudah berdamai dan menerima keadaan sang suami yang pengangguran harus merasa sakit akibat di khianati seperti ini.


"Breng*sek kamu Azam!!" teriaknya.


Dia mencoba menghubungi nomor asing tersebut. Namun tak tersambung, nomornya langsung tidak aktif begitu dirinya menanyakan siapa gerangan orang asing tersebut.


"Sialan! Apa ini ulah Farah? Apa kamu ingin merusak hubungan rumah tanggaku? Jangan harap Farah!" monolognya sambil meremas ponsel.


Dia lantas mengirim gambar tersebut pada Farah. Farah yang tengah beristirahat di halaman belakang rumahnya, merasa heran saat mendapatkan pesan dari Sarah berupa gambar Azam dengan seorang wanita.


Saat akan membalas pesan tersebut, Sarah justru segera meneleponnya. Malas berdebat dengan sang sepupu, Farah memilih mengabaikan panggilan telepon Sarah.


Namun Sarah tak berhenti sampai di sana. Dia lantas mengirim pesan cacian pada Farah.


[Apa maksud kamu ngirim foto seperti ini? Sengaja ingin merusak keharmonisan rumah tanggaku? Jangan harap!]


Farah yang membaca pesan Sarah mengernyit heran, saat akan membalas pesan Sarah, Ragil mendatanginya.


"Lagi ngapain?" tanya lelaki tampan itu.


"Santai aja, gimana? Udah buat laporannya?"


"Udah, mau di proses hari ini juga, mungkin sore Sarah udah dapat surat panggilan," jawab Ragil.


Ponsel Farah kembali berdering, pesan kembali masuk dari sepupunya.


[Rencana kamu enggak akan berhasil Far, justru aku yakin rumah tanggamu lah yang akan berakhir. Setelah itu kamu akan menangis, karena telah membuangku dan tak memercayaiku] tulisnya.


"Ada apa?" tanya Ragil heran.

__ADS_1


"Entah, aku juga heran, tau-tau dia kirim gambar suaminya lagi sama perempuan lain. Dia nuduh aku yang ngirim gambar itu, kan gila!" gerutu Farah.


Ragil justru terkekeh mendengar ucapan sang istri.


"Kok kamu ketawa? Kamu yang kirim gambar itu ke Sarah?" tuduhnya.


"Astaga, buat apaan sayang. Walaupun aku tau sepak terjang Azam di luaran sana, tapi aku bukan anak kecil yang mau buang-buang waktu buat ngurusin rumah tangga mereka," jawab Ragil santai.


"Maksudnya?"


Farah yang tadi duduk setengah tiduran lantas menegakkan punggung demi mendengarkan cerita sang suami.


"Jadi beneran si Azam itu main gila di luaran sana?" cecarnya.


Ragil hanya mengangguk menanggapi.


"Gila! Udahlah mokondo, pake acara selingkuh segala," cibir Farah.


Ragil kembali tertawa melihat muka masam sang istri.


"Itu buka yang paling gila. Kamu tahu, dia bukan selingkuh, tapi ..." ucap Ragil menggantung.


"Tapi apa? Ih mas jangan bikin penasaran apa!" seru Farah gemas.


"Cup ... Cup ... Cup, sabar dong, kok jadi gibahin rumah tangga orang sih, enggak baik loh," elak Ragil mengerjai istrinya.


"Apaan sih Mas, lagian kamu yang bikin aku penasaran, ayo cepat jelaskan, ada apa dengannya?" cecar Farah.


Ragil menarik napas panjang dan menghembuskannya secara perlahan, "yang mas tahu dari orang suruhan mas, dia sekarang melakoni pekerjaan sebagai gigolo," jawab Ragil.


Ragil mengusap dadanya karena terkejut mendengar teriakan sang istri. "Ya ampun sayang, pelan-pelan, nanti dedeknya kaget denger mamahnya teriak-teriak begitu," tegur Ragil.


Farah refleks mengusap perutnya sambil meminta maaf dalam hati pada sang buah hati.


"Ya ampun, sebenarnya ada apa dengan rumah tangga mereka. Kenapa jadi kacau begini," lirih Farah yang memikirkan nasib sepupunya.


"Masih kasihan sama sepupu kamu itu?"


Farah menghela napas, bagaimana pun dia tumbuh besar bersama Sarah, dalam hati tetap ada rasa tak tega dengan keadaan rumah tangga sang sepupu.


Apa lagi sepupunya itu tak memiliki teman lain selain dirinya, entah sekacau apa saat ini Sarah yang harus tertimpa masalah bertubi-tubi.


Ragil mengusap kepala sang istri, " jangan dipikirin, mereka bukan urusan kamu."


Farah tersenyum kaku, lalu mengangguk. Namun dalam hati dia masih penasaran siapa gerangan yang mengirim foto Azam itu.


"Apa mungkin mamah yang kirim?" ucapnya tiba-tiba.


"Kamu mengenal mamah, apa mungkin mamah kamu melakukan hal seperti itu?" elak Ragil.


"Lalu siapa?" monolog Farah.


"Kita enggak tau bagaimana kehidupan mereka sayang, siapa tau memang ada yang enggak suka dengan mereka?"

__ADS_1


Farah menggeleng heran, "yang aku tau Sarah tak banyak bergaul, dia juga enggak punya teman dekat. Apa mungkin orang yang pernah bersinggungan dengannya? Tapi siapa?"


"Sudahlah, kita enggak perlu mencari tau, yang penting bukan kita. Walau pun bisa aja aku melakukan hal itu tapi ternyata Tuhan punya rencana lain. Dia tak ingin kita mengotori hati dengan membalas perbuatan jahat Sarah sama kita bukan?" terang Ragil.


"Kamu benar, kita enggak tau, mungkin juga Sarah pernah bermasalah dengan orang, atau mungkin juga Azam, kita enggak pernah tau. Mungkin itu balasan dia," ucap Farah tenang.


.


.


Di tempat lain, Sarah kembali uring-uringan paska pesan-pesan yang dia kirim kepada Farah tak mendapatkan balasan.


Dia merasa geram karena di abaikan. Lagi-lagi Sarah kembali tantrum seperti anak kecil dengan mengamuk dan mengacak-ngacak kamarnya.


Dia juga sudah beberapa kali menghubungi sang suami pun sama tak ada jawaban.


Sarah penasaran di mana sebenarnya sang suami berada saat ini.


Karena sudah merasa kesal dan tak tahan lagi dengan berbagai pertanyaan di dalam otaknya dia lantas mencari kontak Hulya di dalam ponselnya.


"Halo Ya?" sapa Sarah langsung.


[Waalaikumsalam,] sindir Hulya saat Sarah tak mengucapkan salam padanya.


Sarah tak peduli, dia ada keperluan yang harus dia cari tahu saat ini juga dan dia ingin bertanya pada mantan selingkuhan suaminya.


Meski tidak mungkin, tapi hati Sarah masih merancu terhadap hubungan saudara beda ibu itu.


Pikirannya masih di liputi rasa curiga atas kedekatan keduanya.


[Ada apa Mbak Sarah?] tanya Hulya datar.


"Kamu tau di mana biasanya Azam nongkrong? Atau mungkin kamu tau teman terdekatnya?" cecar Sarah.


Di seberang sana Hulya tertawa mendengar pertanyaan Sarah.


[Kamu istrinya, kenapa justru bertanya sama aku? Maaf aku enggak tau]


"Beritahu aku Hulya!" sentak Sarah tak sabar.


[Kenapa? Apa kamu menemukan keanehan pada suamimu? Layak sih, lelaki tukang selingkuh pasti akan kembali berselingkuh bukan?] jawab Hulya sambil terkekeh.


"Jangan sembarangan kamu!" bentak Sarah yang segera mematikan kembali ponselnya sepihak.


Tak lama ponselnya kembali di kirimi pesan berupa foto Azam bersama seorang wanita memasuki sebuah hotel.


"Kurang ajar!!" makinya lagi.


.


.


.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2