Secangkir Kopi Hitam

Secangkir Kopi Hitam
Bab 64


__ADS_3

Afdhal tengah pusing di ruangannya, bukan hanya pernikahan kedua sang putra yang membuat gempar yayasan miliknya.


Namun sedikit demi sedikit segala keburukan keluarganya mulai terkuak.


Ponselnya bahkan sejak tadi berdering, silih berganti dari para donatur yang minta kejelasan berita, sampai pada keluarga sang istri.


Untuk keluarga besar Huma, Afdhal belum siap sama sekali memberi mereka penjelasan, dia takut akan di cabut izin sekolah oleh yayasan utama milik keluarga besar istrinya.


Afdhal memang membangun sekolah dengan menumpang nama besar yayasan milik keluarga Huma.


Banyak peraturan yang harus dia patuhi dan yang paling utama adalah menjaga nama baik, sedangkan kini nama baiknya sedang bermasalah, sudah pasti masalah besar tengah menantinya.


Ruangannya di ketuk, tanpa bertanya siapa yang hendak menemuinya dia meminta orang tersebut untuk masuk.


"Abi," panggil suara yang sangat asing bagi Afdhal.


Mata Afdhal membelalak sempurna kala Azam melenggang masuk ke dalam ruangannya.


"Jangan lancang, panggil saya Pak!" pekik Afdhal tak terima.


Azam hanya terkekeh tak memedulikan kekesalan sang ayah kandung.


"Kenapa? Toh sudah banyak yang tau kalau aku anakmu? Mau mengelak? Aku bisa menuntutmu," kecam Azam balik.


Dia tak mau mengalah, hidupnya sejak kecil sudah menderita akibat keegoisan orang tua kandungnya.


Di buang dan tak diinginkan bukankah sangat menyedihkan? Oleh sebab itu dia bertekat akan merebut kembali apa yang seharusnya menjadi haknya.


"Anakmu yang satu itu sudah mulai tercoreng namanya. Kenapa kamu masih memaksakan yayasan ini di pimpin olehnya? Coba kamu berikan kepercayaan itu padaku," ucapnya santai


Afdhal menatap tak percaya dengan permintaan anaknya dari Rukayah.


"Kamu bicara apa? Kamu ingin memimpin yayasan ini?" Afdhal tergelak menertawakan kepercayaan diri Azam.


"Kamu tau, dulu kamu bisa masuk ke sini juga karena rengek kan Hulya. Kamu pikir kemampuanmu itu layak untuk mengajar di sini? Dan sekarang kamu ingin memimpin?" ejek Afdhal.


Azam mengepalkan tangannya di paha. Ayah kandungnya benar-benar tak punya hati. Hingga kini dia tetap saja di perlakukan asing oleh orang itu, hingga kebencian membuat Azam ingin menghancurkan kehidupan keluarga Afdhal.


"Kenapa? Kamu terlihat tak terima?" sambung Afdhal yang melihat kilat kemarahan dari putra kandungnya itu.


"Kamu terlalu angkuh, aku yakin sebentar lagi hidupmu juga akan hancur. Jangan mencari anakmu yang lain, karena aku yakin kau juga pasti akan di buang oleh mereka nantinya,” balas Azam lalu pergi meninggalkan ruangan ayahnya.

__ADS_1


Azam tentu sudah mencari tahu silsilah keluarganya dan kekayaan mereka. Mengapa dia berani berkata seperti itu sebab dia yakin sang ayah akan di buang oleh keluarganya jika kelak dia membuat masalah dan inilah waktunya.


Afdhal hanya bisa termenung mendengar ucapan anak simpanannya itu. Dia tau apa yang di ucapkan Azam ada benarnya.


Oleh sebab itu dia sedang berusaha keras memperbaiki kesalahannya agar keluarga besar istrinya tak menyudutkannya nanti.


Seperti saat, ini dia tengah berpikir untuk menemui pemimpin Nugraha Group, sebab hanya dari perusahaan itu yang sama sekali tak mengajukan teguran.


Afdhal bergegas merapikan meja kerjanya. Dia harus segera mendatangi Nugraha Group agar mau menyokong yayasannya lebih besar.


Atau paling tidak, Afdhal berharap kalau perusahaan itu bisa membuat perusahaan lain menjadi donatur di yayasan miliknya.


Yayasan milik keluarga besar Huma sebenarnya di peruntukan untuk para keluarga kurang mampu. Oleh sebab itu dulunya banyak para donatur yang merasa tersentuh dengan niat kakek Huma.


Sayangnya, yayasan milik Afdhal sudah di rubah, hingga kebanyakan muridnya berasal dari kalangan orang-orang mampu yang memang mengakui keunggulan sistem pendidikan di sana.


.


.


Ruangan Ragil di ketuk oleh sang sekretaris. Meilia memberitahu Ragil jika ada tamu dari yayasan yang biasa perusahaan mereka memberikan donasi.


"Pak ada tamu dari yayasan At-tausiah," ucap Meilia begitu di minta masuk oleh Ragil.


Hubungannya dengan keluarga Hulya memang telah berakhir di pengadilan, tapi dia tak mempermasalahkan atas kesepakatan sang ayah dan yayasan milik mertuanya.


Toh Ragil merasa itu perbuatan mulia, jadi dia memilih tetap melanjutkan kebiasaan itu meski dia sadar yayasan milik mertuanya tengah tertimpa berita besar yang cukup mengguncang di kota mereka.


"Ragil?" Panggil Afdhal terkejut saat melihat mantan menantunya menduduki kursi kebesaran milik Tyo Nugroho.


"Selamat datang Pak Afdhal, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Ragil dengan panggilan yang begitu formal.


Afdhal merasa gugup sendiri dengan panggilan Ragil yang di rasanya terlalu asing.


Bahkan Afdhal menyadari kalau Ragil seperti menjaga jarak dengannya.


"Bagaimana kabarmu Gil? Sudah sukses rupanya. Apa kamu tak mau menjenguk Hulya? Dia sudah melahirkan anaknya."


Bukannya segera menceritakan tujuan kedatangannya ke sana, Afdhal justru membicarakan masalah pribadi pada mantan menantunya.


"Maaf pak Afdhal, saya sedang bekerja dan kita tidak sedang beramah-tamah membahas masalah pribadi. Katakan ada apa Bapak ingin menemui saya?" elak Ragil.

__ADS_1


Dia berusaha sesopan dan seprofesional mungkin menghadapi Afdhal. Namun terlihat sekali jika Afdhal justru terlihat kesal dengan perubahan sikap mantan menantunya ini.


"Karena sekarang kamu seorang pemimpin, apa membuat kamu lupa diri dan merasa paling hebat?" tantang Afdhal yang merasa kesal dengan balasan-balasan Ragil sejak tadi.


Tadinya saat bertemu dengan Ragil, terbesit rasa percaya diri yang tinggi sebab dia sangat mengetahui sifat mantan menantunya yang baik dan bersahaja.


Sayangnya, semua di luar ekspektasinya. Ragil seperti orang asing yang enggan sekali berbincang-bincang santai dengannya.


"Saya hanya bekerja di sini Pak Afdhal, perusahaan ini masih milik pak Tyo Nugroho. Lagi pula ini di kantor dan saya yakin Anda memiliki keperluan makanya datang ke sini, jadi mengapa Anda terlihat kesal?"


"Kerjaan saya masih banyak, kalau memang hanya ingin sekedar berbincang, harusnya Anda membuat janji temu pada sekretaris saya, begitulah SOP nya," jelas Ragil.


Afdhal merasa semakin geram mendengarkan penjelasan Ragil.


Namun dia harus menahan diri sebab dia sedang terpuruk dan membutuhkan bantuan dari perusahaan ini.


"Baiklah, kembali pada pembahasan semula saja kalau begitu," putus Afdhal.


Bahkan kata maaf pun enggan lelaki itu keluarkan untuk sekedar menarik simpati Ragil.


Ragil tak mempermasalahkannya, asal Afdhal segera mengutarakan maksudnya dan dia segera pergi dari sana.


"Yayasan sedang terkena kendala. Biasanya Pak Tyo akan senang hati membantu yayasan kami. Apa kamu bisa menyampaikannya pada Pak Tyo?"


Kini Ragil mengerti dengan tujuan mantan mertuanya ke sana.


Dia sungguh tak habis pikir. Apa mertuanya itu tak punya malu meminta sumbangan lagi di saat yayasan itu tengah jadi bahan perbincangan di luaran sana?


Terlebih lagi Ragil telah menyelidiki yayasan itu yang banyak sekali menyalah gunakan dana donasi dari para donatur.


Ragil ingin menghentikan aliran dana perusahaan orang tuanya ke sana. Namun dia masih ada rasa tak tega, sebab perusahaan keluarganyalah yang ternyata menjadi penyumbang terbesar di sana.


Dia memikirkan nasib para siswa yang memang benar-benar butuh bantuannya kalau dia menarik sumbangannya.


"Kendala apa yang Pak Afdhal maksud? Bisa jelaskan secara terperinci?" pancing Ragil.


Dia akan menguak kebusukan sang mertua. Lebih baik lelaki paruh baya itu tau kalau dia tak akan tinggal diam dan mau di bodohi begitu saja.


.


.

__ADS_1


.


Tbc


__ADS_2