
Aku memilih diam mendengarkan apa yang akan mbak Zahra ucapkan selanjutnya.
"Kalau kamu pikir selama ini kehidupan Mbak baik-baik saja, kamu salah Ragil," lirih Mbak Zahra tiba-tiba terisak.
"Kamu tau, kalau Mas Zhafran memiliki wanita lain selain Mbak Zahra, Gil," sambungnya.
Aku terkejut, kulihat kehidupan rumah tangga Mbak Zahra dan Mas Zhafran tampak harmonis, tapi ternyata mereka menutupi masalah pelik di dalamnya.
Entah benar atau tidak hanya mereka yang tau, di sini aku hanya mendengarkan ceritanya saja.
Harusnya aku yang mencurahkan isi hatiku, yang terjadi sekarang justru aku yang harus mendengarkan curahan hati Mbak Zahra.
"Mas Zhafran punya istri lain, istri kedua. Mbak terpaksa menerimanya karena tak ada pilihan lain," sambungnya.
"Kalau Mbak ngga rela, harusnya menolak, kenapa mau di madu Mbak!" sergahku tak mengerti.
Aku tau dia dari keluarga dengan ilmu agama yang cukup tinggi. Mungkin poligami di kalangan pemuka agama seperti keluarga Mbak Zahra adalah hal biasa.
"Kamu tau, ini yang mbak ingin jelaskan sama kamu, betapa kejamnya keluarga mertua kita," ujarnya.
"Mbak di paksa menerima meski hati sedih dan sakit. Mbak ngga punya pilihan karena mereka mengancam keluarga Mbak dengan kekuasaan mereka," jelasnya.
Aku tau mbak Zahra lahir dari keluarga yang cukup berada. Bahkan ayahnya memiliki sebuah pondok pesantren yang cukup terkenal.
Tak menyangka jika ternyata keluarga mertuaku bahkan bisa menekannya juga.
"Kamu tau, pondok Abi Mbak pernah terkena skandal karena seorang pengajar kedapatan melecehkan muridnya. Yang terjadi sebenarnya mereka hanya saling suka dan berlaku di luar batas. Namun kamu tau sendiri media justru membesar-besarkan masalah dengan memberitakan jika guru itu melakukan pelecehan, membuat keadaan pondok jadi terpuruk," jelasnya.
"Saat itu rumah tangga Mbak juga sedang di uji oleh kehadiran orang ketiga yang tak lain adalah selingkuhan Mas Zhafran yang seorang selebgram," sambungnya.
"Mbak menuntut cerai dari kakak iparmu itu, tapi apa yang terjadi? Pondok milik orang tua Mbak membutuhkan biaya yang besar demi membersihkan nama baik sekolah kami dan ayah mertua kita menawarkan bantuan, dengan syarat Mbak tidak boleh berpisah dengan Mas Zhafran."
Astaga ternyata keluarga mertuaku tak sebaik yang kukira, dulu aku berpikir merasa rendah diri sebab harus menikahi wanita dari kalangan keluarga terhormat, ternyata mereka memiliki skandalnya sendiri.
"Kita mungkin beda kasus Mbak," elakku. Dia mungkin di paksa menerima keadaan karena mungkin Mas Zhafran egois tak mau melepas salah satunya.
Namun masalahnya berbeda denganku. Sudah pasti aku tak bisa menerima, bahkan mengakui anak Hulya sebagai anakku, meski anak itu hadir di dalam status pernikahan kami.
"Kamu tau, bukan kamu yang akan mereka tekan, tapi orang-orang terdekatmu!" jelas Mbak Zahra.
"Maksud Mbak, mereka akan mengusik keluargaku?" cibirku.
Dia mengangguk, aku tau itu, bahkan Hulya dan Mas Zhafran sudah mengatakan hal itu padaku dengan jelas.
Apa aku peduli? Tidak akan!
"Mereka tak memiliki celah untuk menekan keluargaku Mbak," jawabku percaya diri.
Mbak Zahra tersenyum sambil bangkit berdiri, tapi entah kenapa senyumnya itu seperti sebuah ejekan menurutku.
"Kamu terlalu percaya diri Gil? Niat Mbak ke sini hanya ingin memberitahumu, tapi kalau kamu sudah yakin akan keputusanmu, silakan saja lanjutkan," ucapnya sambil bangkit berdiri.
"Ini pakaian Hulya? Sebaiknya mbak bawa aja, kamu siapkan diri aja akan kemungkinan yang terjadi nanti," sambungnya lalu pergi meninggalkan rumah.
__ADS_1
Ada ketakutan dalam diri ini membayangkan ancaman keluarga Hulya pada keluargaku. Kucoba berpikir keras kemungkinan-kemungkinan yang di katakan Mbak Zahra tapi nihil.
Aku merasa, keluargaku pasti tak akan tunduk begitu saja bila di tekan, terlebih lagi jika aku memberitahu masalah kami yang sebenarnya.
Pasti keluargaku akan memihakku, aku yakin mereka tak akan mau mengakui anak yang bukan darah dagingku itu.
Lebih baik aku segera berkemas dan pergi dari rumah ini. Mungkin aku akan mencari kontrakan setelah ini.
Namun hari ini kuputuskan untuk tinggal sementara di ruko dulu.
.
.
Paginya, Hendi terkejut karena mendapati diriku yang sudah berada di toko.
"Mimpi apa aku, kalau bos di sini udah menyambut karyawannya?" ejeknya.
"Berisik! Udah sarapan? Sarapan yuk!" ajakku.
"Lah, belum makan Bro? Aku mah udah makan lah, maklum anak ke sayangan mamah ini," ucapnya pongah sambil mengangkat kerah bajunya.
"Cih! Manja, ayo mau ngga?!" ketusku.
Aku tak membeli apa pun untuk persiapan menginap di kantor. Bahkan lupa jika kopi dan teh di dapur toko pun sudah habis.
"Sekalian belanja buat toko deh," ucapku.
"Bentar lah, tunggu karyawan dulu pada dateng," elaknya.
Setelah para karyawan sudah tiba semua, aku dan Hendi langsung pergi untuk mencari sarapan.
Kami memutuskan untuk berhenti di sebuah minimarket yang juga menyediakan kopi sedu dan makanan instan, sambil membeli keperluan dapur toko.
Dua cangkir kopi dan satu bungkus roti menemani obrolan kami di teras mini market ini.
Rencananya hari ini aku akan ke pengadilan agama untuk melayangkan gugatan perceraian terhadap Hulya.
Sejujurnya aku sama sekali tak tau apa yang harus aku persiapkan, oleh sebab itu aku harus ke sana terlebih dahulu untuk menanyakan prosedurnya.
"Hei! Ngelamun mulu, kesambet baru tau rasa!" sungut Hendi.
"Ada apa?" tanyaku bingung.
Dia berdecap kesal, "sejak kapan kamu minum kopi hitam? Aku kira kamu suka Mocalatte," cibirnya.
Dulu aku memang sering meminum minuman itu, kopi bercampur krim meski bukan jenis yang Hendi katakan. Aku meminum kopi jenis itu juga sebab Hulya selalu membuatkan aku kopi itu jadi sedikit menjadi kebiasaan.
Lalu saat tau ternyata dia melakukan semua itu seakan aku adalah Azam, aku mulai menghindari segala jenis kopi dengan krim atau susu.
Sekarang aku beralih dengan kopi hitam saja, seperti kehidupanku yang pahit mungkin.
"Enek aku sekarang minum kopi itu," balasku cuek.
__ADS_1
Tak ada obrolan serius di antara kami dan aku tau Hendi sengaja tak menyebut nama Hulya karena sepertinya dia tau aku menghindari obrolan tentang dia.
Ponselku kembali berdering, tertera nama Abi Hulya di sana.
Kuremas ponselku, masalah apa lagi yang akan muncul sekarang.
Mau tak mau aku tetap harus menjawab panggilan itu, meski sedikit tau apa yang akan di katakan mertuaku.
"Iya Bi?" sapaku tenang.
"Kamu di mana Ragil?" ucapnya dengan nada kesal.
"Ada di ruko," balasku datar.
"Cepat datang ke rumah sakit!" pintanya setengah memekik.
Kupejamkan mata untuk menenangkan debaran jantungku. Seharusnya aku yang marah, tapi justru terbalik, ayah mertuaku yang malah terlihat kesal.
"Ngga bisa sekarang Bi, nanti siang aku ke sana," tolakku.
Mereka harus tau tak semua harus di turuti, tak semuanya harus mereka paksakan. Harusnya mereka menanyakan baik-baik padaku dan menghargaiku maka aku akan melakukan yang sama pada mereka.
Mengetahui sikap arogan keluarga mertuaku, membuatku yakin jika ucapan Mbak Zahra ada benarnya.
"Kamu menolak permintaan Abi?" tanyanya tak percaya.
Dia yang selalu kuhormati dan kuturuti segalanya, seakan terkejut dengan penolakanku saat ini.
"Maaf Bi, Ragil sibuk sekarang," jelasku.
"Kamu mengabaikan istrimu yang sedang sakit demi pekerjaan sialanmu itu?!" makinya tak terima.
"Maaf Bi," balasku tetap pada pendirian.
"Datang sekarang juga, atau aku akan musnahkan tokomu?" ancamnya.
Astaga, mertuaku sudah menunjukkan taringnya. Sebaiknya aku menurutinya saat ini, bukan karena takut tapi aku muak.
Tak tau di mana pikirannya. Dengan mudah dia mengatakan ingin menghancurkan tokoku, memang dia lupa jika negara ini negara hukum?
Sebaiknya aku selesaikan masalahku dengan Hulya sekarang juga. Mumpung ada orang tuanya maka akan kukembalikan dia saat ini juga.
"Hendi, kita ke rumah sakit sekarang!" ajakku.
"What? Ke rumah sakit? Siapa yang sakit Gil?" tanyanya ikut bangkit bersamaku.
"Hulya," jawabku datar.
.
.
.
__ADS_1
Tbc