Secangkir Kopi Hitam

Secangkir Kopi Hitam
Bab 21


__ADS_3

Akhirnya dua keluarga sudah memutuskan untuk menyelenggarakan pesta pernikahan kami.


Aku menangis sejadi-jadinya, bahkan dari pertemuan terakhir dengan Abi waktu itu aku tak menemukan kesepakatan apa pun selain menerima pernikahan ini.


Namun satu ha yang pasti, aku berhasil meminta Abi untuk menerima Mas Azam mengajar di sana.


Abi sempat bingung dengan permintaanku, dia bahkan mendesakku memberitahu siapa lelaki yang aku pinta ia terima.


Dengan tegas aku menjawab jika dia lelaki yang kucintai, awalnya Abi menolak, karena beliau takut rumah tanggaku akan berantakan dengan hadirnya orang ketiga dari pihakku.


Lalu kuceritakan semuanya, jika kami tak memiliki hubungan apa pun, hanya aku yang mencintainya, bagaimana perasaan dia padaku aku tak tau.


Abi menekanku, jika aku berani menyelingkuhi Ragil kelak maka Abi akan memecat Azam secara tidak hormat.


Aku pun berjanji dengan terpaksa. Dengan tekad akan kubuat rumah tanggaku seperti di neraka agar suamiku sendirilah yang memilih mundur.


Pernikahan itu pun di gelar, tak begitu mewah, aku bahkan tak mengundang teman-temanku. Terus terang aku malas mengenalkan Mas Ragil pada mereka meski dia rupawan.


Bukan apa, kalau nanti mereka tanya apa pekerjaan suamiku lalu latar belakang keluarganya aku mau jawab apa?


Suamiku seorang pengusaha yang membuka percetakan kecil begitu? Lalu keluarga mertuaku hanya pekerja serabutan? Ah bisa jatuh harga diriku.


Lebih baik aku tak mengundang mereka, kecuali yang memang berada di sekitar perumahanku.


Mau bagaimana lagi, sudah pasti mereka tau aku akan menikah.


Abi dan Umi sempat heran dengan permintaanku, bahkan mereka berkata sanggup untuk menghelat pesta pernikahan mewah di hotel bintang lima. Namun aku tetap menolak.


"Harusnya semua biaya pihak lelaki yang memberikan, ini malah kita yang pihak perempuan yang keluar modal!" cibirku.


Abi menghela napas mendengar gerutuanku. "Kalau Abi maksa bikin pesta mewah juga aku yakin keluarga Mas Ragil tambah merasa minder," lanjutku.


Itu pun jika mereka punya malu. Bahkan paman Ibnu kemarin justru meminta uang untuk membeli rumah kami nanti.


Meski kesal, aku bersyukur dengan rencana itu, paling tidak aku tak harus tinggal dengan mertua. Lagi pula aku hendak bekerja di sekolah, jadi tak mungkin aku harus tinggal di sana.


Mas Ragil sebenarnya orang yang baik, hanya nasibnya saja yang buruk harus lahir dari keluarga parasit seperti paman Ibnu.


Saat kedua kalinya bertemu, dia bahkan tak menghakimiku karena pertemuan kami yang tak kuhadiri.


Dia bertanya mas kawin apa yang kuminta, aku menjawab semampunya saja, toh aku yakin kalau pun aku minta apa dia sanggup?


Dua hari menjelang pernikahan Mas Ragil datang menyerahkan mas kawin sesuai yang dia katakan di surat numpang nikahnya.


Seperangkat emas yang cukup cantik, ternyata seleranya bagus juga.


"Seperti ini ngga papa Dek Hulya?" ujarnya sambil memberikan kotak berbentuk hati padaku.


"Bagus mas, cantik," balasku tersenyum tipis.


.

__ADS_1


.


Pernikahan pun di gelar, setelah ijab kabul, semua menangis haru, bahkan Abi dan Ayah Ibnu berpelukan saking bahagianya.


Kulihat Mas Azam pun tersenyum bahagia ke arahku.


Terpaksa kusambut senyumannya. Setelahnya, aku melihat ke sekeliling berharap mas Azam datang ke sini.


Aku ingin tahu bagaimana ekspresinya melihat gadis yang selalu memberikan perhatian padanya kini sudah sah menjadi milik orang lain.


Jujur aku ingin membuat dia cemburu, teringat akan raut wajahnya yang justru bahagia saat aku memberikan undangan waktu itu.


"Selamat ya Hulya, wah Mas ke duluan kamu ini!" kekehnya yang justru membuatku kesal.


Sayangnya dia tidak datang. Dia harus mengurus administrasi agar bisa di terima di yayasan milik keluargaku.


Malam pertama kulewati dengan takut-takut. Jujur karena ini pengalaman pertama dan harus kuhabiskan dengan lelaki yang tak kucintai.


Aku takut, tanpa sadar aku menangis, saat kudengar langkah kaki Mas Ragil mendekat, kucengkram erat kedua ujung hijabku.


Saat dia duduk di sebelahku, jantungku sudah berdebar tak karuan, bukan debaran bahagia, debaran rasa takut karena saat inilah aku akan kehilangan mahkotaku yang paling berharga.


Tidak! Aku belum siap! Ingin aku berteriak seperti itu.


"Kamu takut?" tanya Mas Ragil lembut. Dia mengangkat daguku agar aku menatapnya.


"Maaf kan aku, kalau belum siap, aku ngga akan maksa. Bersihkanlah dirimu, kamu pasti udah ngga nyaman," ujarnya lembut.


Lelaki itu sangat tampan dan menawan, bahkan teman-teman yang hadir mengucapnya berulang-ulang bahwa aku beruntung bisa bersanding dengan Mas Ragil yang rupawan itu.


Keesokannya aku di boyong pindah ke rumah baru, rumah yang cukup sederhana, sangat jauh dengan rumahku yang mewah, tapi aku senang, setidaknya aku bisa melancarkan aksiku.


Membuat rumah tanggaku hambar, agar dia bosan padaku. Kalau aku tinggal bersama Abi dan Umi aku yakin mereka akan terus mengomentari semua kelakuanku nanti.


Hingga pindah ke rumah itu pun, aku belum memberikan haknya dan anehnya aku tak bisa bersikap kejam padanya karena dia begitu lembut dan perhatian padaku.


Hingga ...


Saat aku ke rumah Umi, Mbak Zahra dan Umi memarahiku yang belum melaksanakan kewajiban kami sebagai suami istri.


Sial sekali mulutku ini kenapa harus kelepasan juga.


"Astaga Hulya! Hampir seminggu kamu menikah, kamu belum malam pertama!" sentak Mbak Zahra.


Aku mendengus mendengar cibiran kakak iparku itu.


"Aku takut! Lagian kalian tau sendiri aku belum memiliki rasa pada Mas Ragil," elakku membela diri.


Umi duduk di sebelahku di meja makan, dia mengusap kepala hingga ke punggungku, "Nak, itu adalah ibadah. Umi yakin setelah kalian melakukan itu, kamu akan perlahan membuka diri pada suamimu. Umi yakin nanti kamu pasti akan mencintainya," nasihatnya.


"Iya Ya, Mbak buktikan sendiri. Kamu tau kan Mbak dan Masmu juga di jodohkan? Alhamdulillah kini kita udah punya dua anak," sela Mbak Zahra dengan senyum bahagia.

__ADS_1


Mereka tak tau bagaimana perasaanku. Mungkin dulu Mbak Zahra tidak punya seseorang yang dia cintai, hingga akhirnya bisa membuka hati untuk Mas Zhafran.


Sedangkan aku, dalam hatiku sudah ada nama Mas Azam, apa mungkin aku bisa sepertinya.


"Umi ngga mau tau, malam ini kamu harus melaksanakan kewajibanmu!" cerca Umi.


Aku menghela napas lalu mengangguk. Semoga saja aku bisa mencintainya dan melupakan Azam.


"Tapi aku punya syarat Mi ..." tawarku.


Umi dan Mbak Zahra menatapku bingung, karena semenjak di jodohkan dengan Mas Ragil banyak sekali keinginan mereka yang aku lakukan dan harus ada imbalannya.


"Kamu ini Ya ... Ya, minta apa lagi?" sambar Umi.


"Bilang sama Abi, agar mengizinkan Hulya mengajar ya? Percuma dong Ijazah Hulya kalau di anggurin," rengekku.


"Kamu nyindir Mbak Ya!" sela Mbak Zahra dengan raut wajah di buat kesal.


"Dih, mbak kan udah punya buntut dua! Makanya udah jadi ibu rumah tangga aja!" elakku.


Kami bertiga tertawa, melihat kelakuan ibu dua anak itu yang terlihat masih menggerutu.


.


.


Malam ini aku harus merelakan apa yang kumiliki padanya, pada suamiku yang memang adalah haknya.


Dia terkejut kala melihat aku yang masih terjaga menunggunya. Biasanya demi menghindarinya aku selalu tidur lebih dulu.


"Kamu belum tidur Dek?" tanyanya lembut.


Kutatap manik mata cokelat bening itu, dalam sedetik aku sempat terpesona olehnya, 'tampan' batinku mengakui, entah kenapa malam ini dia terlihat begitu tampan bagiku.


Kugigit bibir bawahku gugup, tak tau harus berkata apa.


"Mas, lakukanlah, sempurnakan aku menjadi seorang istri," ujarku gugup sambil menunduk. Aku yakin wajahku semerah tomat saat ini.


Dia duduk di sebelahku dan memegang kedua bahuku. Aku mendongak menatapnya, dia tersenyum manis sekali.


"Kamu jangan khawatir, aku tetap ngga akan maksa kalau kamu belum siap. Aku tau kamu belum siap Hulya," jawaban yang sama seperti malam pertama kami.


Lucunya ada sebagian diriku yang merasa sakit saat dia menolakku. Entah kenapa terbesit pikiran buruk, jika sebagai wanita aku kurang menarik di matanya.


"Apa aku ngga menarik Mas?" tanyaku sendu.


Kulihat dia terkesiap, "enggak Hulya. Engga, kamu ..." dia tercekat, kulihat jakunnya naik turun, mungkin bingung merangkai kata.


"Sungguh, kalau aja aku ngga takut menyakitimu, dari pertama menikah, ingin sekali aku menerkammu, tapi aku tau, kita menikah karena perjodohan dan aku ngga mau kamu menilaiku sebagai seorang pemaksa," jelasnya.


Aku tersenyum kecut, ternyata dia menahan hasratnya selama ini. Syukurlah dia tidak memaksakan kehendaknya. Bisa makin benci aku padanya.

__ADS_1


Akhirnya dengan keikhlasan, kami melakukannya malam ini. Malam yang syahdu sebenarnya. Herannya aku menikmatinya, tak seperti bayanganku yang pasti sangat menyakitkan.



__ADS_2