Secangkir Kopi Hitam

Secangkir Kopi Hitam
Bab 85


__ADS_3

Di rumah Zhafran, keributan tengah melanda pasangan suami istri itu.


Bahkan tangisan anak mereka tak mampu meredakan amarah keduanya.


Zhafran frustrasi dengan kelakuan istri mudanya yang selalu saja gemar berbelanja.


"Itu semua pakaian syar'i dan hijab, Papah! Paling juga sepatu dan tas sisanya. Itu kan emang kewajiban papah memenuhi kebutuhan istri, jadi kenapa sekarang papah protes? Ingatkan nafkah istri?" tandas Aryani.


Zhafran meraup wajahnya kesal. Dia sama sekali tak bisa berbicara dengan istri keduanya. Selalu saja Aryani membantah ucapannya, berbeda dengan Zahra yang selalu bisa berbicara lembut padanya meski dalam keadaan marah sekali pun.


Ucapan Aryani dulu yang ingin di bimbing hijrah pun nyatanya hanya ucapan jempol semata. Wanita itu memang merubah tampilannya.


Namun hanya tampilannya saja, Aryani tetap haus akan pujian, sedangkan kewajiban lainnya seperti Shalat dan puasa bahkan masih di lakukannya secara terpaksa, jika Zhafran tengah berada di rumahnya saja.


"Aku mendapatkan uang untuk menebus rumah ini dengan sangat sulit Aryani! Bahkan aku rela menceraikan Zahra agar bisa mendapatkan uang ini. Namun apa? Bukannya kamu bayarkan uang pinjaman kamu, justru malah kamu belanjakan! Aku benar-benar enggak habis pikir di mana otak kamu," maki Zhafran kesal.


"Mas bentak aku? Memang siapa mas berani berkata kasar sama aku? orang tuaku saja enggak pernah berkata kasar sama aku? Apa hak mas melakukan hal ini!" balas Aryani tak kala keras.


Zhafran yang sudah tak tahan mengangkat tangannya hendak menampar istrinya itu.


Namun dia berhasil mengendalikan emosinya dan menurunkan kembali tangannya.


Aryani terkejut dengan apa yang hendak di lakukan oleh suaminya.


Dulu Zhafran memperlakukannya dengan lembut, bahkan akan menuruti segala keinginannya.


Dia di perlakukan sebagai seorang ratu, tapi kini, semenjak bercerai dengan istri tuanya dan keadaan yayasan sedang mengalami masalah, Aryani merasa perangai sang suami berubah.


Menurutnya Zhafran menjadi perhitungan dan juga sering memarahnya.


Aryani menangis, dia tak tahan dengan kehidupan rumah tangganya.


Dulu dia berpikir jika menikah dengan Zhafran maka kehidupannya akan sempurna, meski harus jadi istri ke dua.


Aryani memang merasa iri dengan Zahra yang terlihat sekali di cinta suaminya. Bahkan Zhafran tak segan memuji sang istri di depan khalayak ramai.


Pertemuan mereka juga saat Aryani menghadiri kajian yang di selenggarakan yayasan milik Afdhal. Dia yang saat itu jenuh dengan kehidupannya mendadak merasa tersentuh dengan ceramah seorang pemuka agama yang di hadirkan oleh yayasan milik Afdhal.


Namun sayang, tujuannya berubah kala melihat kebahagiaan Zhafran dan Zahra. Dia merasa iri dan ingin memiliki kehidupan seperti Zahra, meski kala itu tak terlintas di pikirannya untuk menjadi orang ketiga dalam rumah tangga Zhafran dan Zahra.


Kesempatan itu datang kala Aryani justru semakin dekat dengan Zahra karena permintaan sahabat Zahra yang menjual gamis agar Aryani mau mengiklankan produk pakaian syar'i di sosial media miliknya.

__ADS_1


Aryani senang, karena bisa tetap menghasilkan uang setelah berhenti dari dunia modeling yang membesarkan namanya.


Semua tak berangsur lama. Aryani kembali merasa sombong dan melupakan kewajibannya sebagai seorang Muslimah.


Dia kembali tergiur degan pundi-pudi uang yang dia dapatkan kala menjadi selebgram yang mendadak hijrah.


Pertemuannya dengan Zhafran pun semakin intensif, terlebih kala Zhafran terlihat tertarik padanya.


Aryani yang muda dan energik tentu membuat perasaan Zhafran goyah. Namun karena lelaki itu memiliki iman yang masih kuat untuk tidak melakukan hal terlarang, seperti selingkuh di belakang Zahra.


Dia lantas memberanikan diri melamar Aryani. Terkejut tentu saja, karena tak pernah terlintas di pikiran Aryani akan di sukai oleh pembimbingnya itu.


Namun ada satu hal yang Aryani takutkan, yaitu tentang statusnya yang gadis tapi tak perawan.


Saat itu Aryani pasrah, dia tak mau membohongi Zhafran tentang dirinya. Dia menceritakan bagaimana kehidupannya sebelum ini.


Pergaulan bebas, alkohol dan rokok sudah biasa dia lakukan. Zhafran sempat terkejut tapi tak menghakimi Aryani, karena dia memang sedikit tahu masa lalu gadis itu.


Dengan kemantapan hati dan keinginan ingin membimbing Aryani berhijrah, di tambah sedikit nafsu melihat wajah cantik Aryani, maka terjadilah pernikahan kedua itu.


Tak ada yang di tutupi. Bahkan Zahra juga mengetahuinya. Dia di paksa oleh semua orang untuk menerimanya.


Aryani dan keluarganya juga tak keberatan kalau pernikahan kedua itu tak di ketahui banyak orang.


Zhafran menatap tajam sang istri yang masih saja menjawab pertanyaannya. Dalam hati dia merindukan mantan istrinya yang selalu membuatnya tenang kala dia tengah di timpa masalah seperti ini.


Zahra sangat berbeda dengan Aryani. Meski sama-sama dari keluarga terpandang, tapi Aryani selalu seperti haus akan pujian.


Dia masih ingat perdebatannya dengan Zahra sebelum perceraian itu terjadi. Sesuatu yang sangat ia sesali hingga kini.


Flasback.


"Bun, ayah mau bicara," ucap Zhafran saat baru saja menginjakkan kaki di rumahnya dan Zahra.


Zahra yang saat itu tengah menyiram bunga di halaman belakang rumahnya, menghentikan kegiatannya.


"Sebentar Yah, Bunda cuci tangan dulu. Ayah mau di buatkan teh, susu atau kopi?" tanya Zahra lembut.


Hati Zhafran sedikit tercubit kala tak ada protes sedikit pun dari istri tuanya mengenai sikapnya.


Zhafran tahu jika sang istri pasti menyimpan rasa sakit hati dan kecewa atas sikapnya yang tidak adil selama ini.

__ADS_1


Dirinya seperti melupakan keberadaan Zahra dan anak mereka. Bahkan nafkah yang harusnya di terima Zahra pun tak pernah dia berikan karena kesulitan ekonomi yang tengah dia hadapi.


Setelah meletakan secangkir kopi untuk suaminya, Zahra duduk di sebelah Zhafran dengan tenang.


Sedikit banyak dia tahu masalah yang tengah di hadapi suaminya. Dia hanya tengah menyiapkan mental jika sang suami akan memberikannya kabar buruk.


Zhafran mendadak gugup, dia bingung bagaimana mengutarakan maksudnya pada sang istri.


Pertama-tama dirinya menanyakan kabar sang istri dan anak-anak mereka.


Mengejutkannya Zahra menjawab pertanyaan Zhafran dengan nada tenang tapi sedikit menyindirnya.


"Kami baik, anak-anak baik dan tak kekurangan makan. Alhamdulillah kami masih di berikan rezeki oleh Allah," jawab Zahra tenang sambil tersenyum.


"Maafkan Ayah Bun. Bunda pasti tahu kondisi keuangan ayah sekarang bukan. Makanya Bunda boleh menggunakan uang tabungan kita, untuk saat ini," balas Zhafran yang merasa bisa menyelamatkan harga dirinya.


"Tabungan? Apa ayah lupa? Bukannya ayah sudah ambil semua itu untuk keperluan melahirkan Aryani?" jawab Zahra datar.


Tubuh Zhafran menegang, dia bahkan lupa telah mengambil semua uang tabungan mereka untuk memenuhi permintaan Aryani yang ingin melahirkan di rumah sakit terkenal dengan fasilitas yang mewah.


"Ma-maafkan ayah Bun," lirih Zhafran yang tak lagi bisa mengelak.


Dia yakin kesempatannya untuk menaklukkan hati Zahra agar tidak bercerai akan semakin sulit. Janjinya untuk merubah sikap, justru malah semakin membuatnya semakin jauh dari anak dan istri pertamanya.


"Entah sudah maaf yang ke berapa kali Bunda berikan yah. Mungkin ini sudah sampai pada batasan perjuangan ayah. Sekarang katakan apa mau ayah?" tanya Zahra yang lagi-lagi tak terlihat menunjukkan emosi apa pun, membuat Zhafran kehilangan arah.


"Ayah, mau meminta bantuan Bunda kali ini aja Bun," lirihnya.


Zahra masih diam menunggu kelanjutan ucapan suaminya.


"Aryani sudah di tagih depkolektor, bolehkah ayah meminjam sertifikat rumah ini untuk di gadaikan?" permintaan Zhafran yang sangat keterlaluan sontak membuat Zahra menatap tajam sang suami.


"Menggadaikan? Memang ayah sanggup membayarnya? Nyatanya rumah Aryani juga hampir tersita bukan?!" balas Zahra telak.


"Apa memang ini tujuan kalian? Membiarkan kami terusir dari rumah kami sendiri?" kecam Zahra.


.


.


.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2