
Baru saja aku menekan tombol hijau di layar, sudah di sambut oleh suara tajam dari seberang sana.
"Ragil? Di mana Hulya? Kenapa dia ngga masuk kerja? Ponselnya pun tidak aktif," cecar Mas Zhafran bahkan tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu.
"Hulya ada di rumah sakit Mas," jawabku datar. Menyebut nama Hulya membuat ingatan menyakitkan itu kembali.
Aku bahkan harus memegang dadaku untuk menenangkan debaran jantung yang terasa semakin keras.
"Apa? Rumah sakit? Kenapa dengan Hulya Ragil? Jangan bilang kamu melakukan sesuatu padanya? Kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk padanya, maka aku sendiri yang akan menghabisimu!" makinya tanpa mau bertanya lebih dulu padaku.
"Sabar Mas," ucap Mbak Zahra, yang bisa kudengar, mungkin saat ini Mas Zhafran sedang berada di rumah, makanya ada mbak Zahra di sana.
"Jawab Ragil! Kenapa kamu diam saja?" makinya lagi.
Mungkin memang watak semua keluarga istriku seperti itu, tak mau bertanya lebih dulu dan selalu menyalahkan orang lain.
Aku mendengus karena baru tahu sifat bar-bar Hulya memang turunan dari keluarganya.
Jadi mungkin selama ini sikap lembut Hulya hannyalah sekedar topeng untuk pencitraan dirinya.
Aku jadi berpikir mungkin sikap mereka yang terlihat tenang dan terhormat pun hanya sekedar pencitraan diri.
"Mas bisa datang ke rumah sakit Medika Sejahtera, nanti Mas akan tau bagaimana keadaan Hulya," jawabku malas.
"Kenapa ngga kamu jelaskan saja di telepon? Apa sesulit itu? Jangan kamu tutup-tutupi Ragil!" pekiknya semakin murka.
"Saya ngga bisa jelaskan lewat telepon Mas, kemarilah, nanti Mas akan tau," ucapku teguh.
"Sialan!" makinya.
"Baiklah aku ke sana sekarang!" panggilan telepon kami di tutup begitu saja olehnya.
Aku akhirnya berbalik, setidaknya aku harus kembali ke rumah sakit tempat Hulya di rawat meski tak ingin.
Untungnya setelah menjauh dari tanah lapang itu ada sebuah pangkalan ojek.
"Bang, antar ke rumah sakit Medika Sejahtera," pintaku.
"Siap Bang, Abang kenapa siang-siang gini lari-lari? Panas Bang, ngga takut gosong emang kulitnya?" kelakar tukang ojek padaku.
Mungkin dari kejauhan mereka melihatku, panas matahari tak sepanas hatiku saat ini, andai saja aku bisa berkata seperti itu pada tukang ojek ini.
"Bisa aja Abang," elakku.
Ternyata aku cukup jauh juga berlari, setelah sadar baru terasa kakiku sakit semua. Setelah ini aku harus menyiapkan hati dan mental bertemu dengan keluarga Hulya.
Mungkin perceraian menjadi penutup akhir cerita ini dan memang harus seperti ini.
"RAGIL!!" seruan itu terdengar dari arah parkiran rumah sakit.
Aku memang masih di pelataran rumah sakit, masih menyiapkan diri untuk menemui Hulya lagi.
Aku menoleh dan menatap datar Mas Zhafran dan Mbak Zahra. Tak ada Abi dan Umi seperti bayanganku tadi.
"Ada apa ini Ragil?" Mas Zhafran mencengkeram bahuku keras.
"Masuk lah Mas," pintaku enggan menjelaskan.
__ADS_1
Kulihat Mbak Zahra memegang lengan suaminya dan menggeleng, mungkin mencegah niat suaminya untuk menghajarku.
Kami masuk berdampingan, aku lalu berhenti di tempat resepsionis, karena lupa dengan ruangan Hulya.
"Kenapa?" sambar Mas Zhafran kesal.
"Aku lupa kamar Hulya," jawabku jujur.
"Suami macam apa kamu yang tega meninggalkan istrinya yang sedang sakit HAH!" makinya lagi.
"Mas, sabar," sela Mbak Zahra lagi.
"Aku benar-benar ngga habis pikir dengan rumah tangga kalian, apa kalian ini ngga bisa berpikir hingga membuat kami harus selalu ke pikiran dengan kalian!" rutuknya entah ditujukan pada siapa.
Jika dia bermaksud menyindirku maka aku tak akan pernah merasa tersindir, karena semua ini adalah ulah adiknya sendiri.
Aku bahkan sudah berbaik hati menutupi aibnya, sayangnya Tuhan mungkin ingin menunjukkan sifat buruk Hulya sendiri.
Setelah mengetahui kamar Hulya, kami kembali melanjutkan langkah menuju lift karena ruangannya berada di lantai tiga rumah sakit ini.
Langkah kakiku terasa semakin berat, rasanya enggan sekali bertemu dengan Hulya.
Mas Zhafran dan Mbak Zahra lebih dulu masuk ke sana meninggalkan aku seorang diri yang masih terpaku di depan sini.
Setelah menenangkan diri, akhirnya aku berani bergabung dengan mereka.
"Ada apa ini Ragil?" tanya Mas Zhafran menuntut.
Hulya hanya bisa terisak di ranjangnya. Untungnya aku memesankan kamar inap kelas satu, hingga tak ada seorang pun yang terganggu oleh kelakuan kami.
"Kenapa Mas Zhafran ngga menanyakan langsung pada Hulya?" jawabku dingin.
"Jawab pertanyaanku sialan!" makinya.
"Mau kamu yang jelaskan atau aku Ya?" tanyaku pada Hulya, mengabaikan Mas Zhafran.
Kami berdua menatap Hulya yang hanya bisa menunduk. Mbak Zahra lalu menghampirinya dan mengusap lengannya.
"Kamu kenapa Ya?" tanyanya lembut.
"A-aku hamil Mbak," jawabnya lemah.
"Alhamdulillah," ucap kedua kakak iparku.
Mereka senang saat ini mendengar kabar kehamilan Hulya. Namun mereka belum tahu benih siapa yang bersemayam di rahimnya.
Mas Zhafran melepaskan cengkeramannya. Senyumnya semakin lebar dan refleks dia memelukku sekilas.
"Maafkan Mas ya Gil! Kalian ini kalau buat kejutan ngga tanggung-tanggung ya!" sindirnya.
Seringai bahagia itu tak kunjung enyah dari raut wajah kedua kakak iparku. Hanya aku dan Hulya yang masih menunjukkan mimik wajah yang sama
"Tapi kenapa kalian kelihatan sedih? Apa ada sesuatu?" tanya Mbak Zahra yang memperhatikan mimik wajah kami lebih teliti.
Setelah mengatakan itu, barulah Mas Zhafran melihat kami dengan saksama.
"Kalian kenapa? Hulya, jangan bilang kalau kamu ngga mau nerima kehamilan ini?" ucap Mas Zhafran pada adiknya.
__ADS_1
"Ayolah bicara? Ada apa? Kami ngga akan ikut campur urusan kalian, respons kalian yang akan menjadi orang tua seperti tak mengharapkan kehadiran anak itu!" sungutnya.
"Kau atau aku yang harus menjelaskan ini Ya?" tanyaku menatap tajam ke arahnya.
"Bicaralah Gil," sela Mas Zhafran menuntut.
Kutarik napas panjang sebelum menghembuskannya secara perlahan.
"Hulya hamil sekitar lima minggu," jawabku.
Kedua kakak iparku masih menyimak ucapanku. Aku dan Mas Zhafran masih berdiri tak jauh dari ranjang Hulya.
Hanya Mbak Zahra yang menemani Hulya duduk di sisi ranjang.
"Kami sudah pisah ranjang selama dua bulan dan aku tak tau dia mengandung anak siapa," jelasku datar.
"Apa? Apa maksud kamu Ragil? Jangan sembarangan kamu bicara!" bentak Mas Zhafran.
Aku menoleh ke arahnya, menatap tajam lelaki yang kukira dapat menjadi penengah, nyatanya dia sama saja, tetap akan membela Hulya meskipun kesalahan ada di pihak adiknya.
"Mas tanya aja sama Hulya, tanyakan padanya benih siapa yang ada di rahimnya," jawabku tenang.
Mas Zhafran mendekati ranjang Hulya, jika aku yang menyakiti adiknya, sikapnya akan berubah seperti seorang singa, siap menyerang siapa pun.
Namun lihatlah, dia masih bisa bersikap lembut meski kenyataannya sang adiklah yang telah melakukan dosa yang sangat besar.
"Benarkah yang Ragil katakan Ya?" tanyanya lembut.
Hulya hanya menangis tanpa bisa menjawab, lalu tak lama dia mengangguk.
"Ya Allah Hulya!" pekikan keras keluar dari suara kedua kakak iparku.
Mereka bahkan beristigfar untuk menenangkan diri.
Aku memilih berbalik, tak mau mendengar hal yang lebih menyakitkan lagi tentang siapa ayah dari bayi yang di kandung oleh Hulya.
"Kamu mau ke mana Gil?" suara Mas Zhafran mencegah langkahku.
Aku hanya menoleh, tanpa berniat membalik badan.
"Aku serahkan Hulya pada kalian," jawabku.
"Kamu harus tetap tanggung jawab Ragil, dia masih istrimu!" ucap Mas Zhafran sedikit memekik.
Aku tersenyum sinis, keluarga aneh!
"Tidak, aku akan mengajukan perceraian saat ini juga," ucapku lalu memegang kenop pintu.
"Jangan sampai berita ini di dengar Abi dan Umi Ragil! Bahkan yang lainnya, cukup kita saja yang tau!" kecam Mas Zhafran.
Beginilah ternyata kehidupan keluarga Hulya, kesalahan sebesar apa pun yang di lakukan olehnya akan di maklumi, tapi jika aku, belum saja berbuat salah, mereka selaku memojokkanku.
"Aku tak peduli!" balasku.
.
.
__ADS_1
.
Tbc