Secangkir Kopi Hitam

Secangkir Kopi Hitam
Bab 83


__ADS_3

Farah sedang bersantai di halaman belakang rumahnya.


Berkali-kali dia menghela napas saat membaca pesan yang di kirim Sarah padanya.


Terlebih kata-katanya sangat pedas menusuk. Niat hati ingin mengabaikan tapi mendadak dia selalu penasaran dengan apa yang ingin di ungkapkan oleh sepupunya itu.


Tarikan napas panjang Farah lakukan untuk menghilangkan rasa sesak di dada saat membaca pesan terakhir Sarah yang mengatakan jika dirinya sangat tak berperasaan.


"kenapa sayang?" sapa Ragil yang memperhatikan sang istri saat hendak mendekat tadi.


"Biasalah," jawab Farah malas.


Ragil terkekeh lantas menyerahkan segelas jus untuk sang istri.


Dia menyapa sang jabang bayi dengan mengusap perut istrinya.


"Dede pusing ya ngadepin bunda yang manyun aja dari tadi?" ucap Ragil yang di balas tepukan Farah di bahunya.


"Apaan sih Mas! Kok malah ngadu gitu," gerutu Farah.


"Lagian kamu ini kenapa sih? Sarah lagi? Kan udah Mas bilang, blokir aja nomornya, kamu ngeyel," cibir Ragil.


Farah menghela napas, percuma dia memblokir Sarah, nyatanya sepupunya itu bisa mengirim pesan padanya melalui nomor baru.


"Lagian siapa sih yang iseng kasih nomor aku!" keluh Farah.


Farah memang mempunyai nomor baru selain nomor lamanya. Namun tampaknya Sarah kembali mengetahui nomor barunya, entah dari siapa.


"Apa mau Mas selidiki siapa yang udah bocorin nomor kamu ke Sarah?" tawar Ragil.


"Enggak usahlah Mas, lagian aku tau bagaimana Sarah. Mungkin bukan orang yang tau nomorku yang kasih tau ke dia. Bisa aja dia juga mencuri nomorku sama salah satu dari mereka," jelasnya.


"Ya udah, abaikan aja pesan dia. Kalau kamu terus terpengaruh sama pesan-pesan dari Sarah, maka terpaksa Mas akan menjauhkan ponsel kamu," ancam Ragil.


"Ih kok gitu! Hiburan aku apa dong, janganlah Mas," rengek Farah manja.


"Ya abis mau gimana lagi. Kamu selalu kepo bacain pesan Sarah, padahal udah jelas kalau baca pasti kamu sedih dan sakit hati. Kamu enggak mau dengerin aku, padahal semua demi kebaikan anak kita. Apa kamu enggak sayang sama dedek?" cecar Ragil.


Farah menunduk, dia tahu ucapan sang suami demi kebaikan dirinya yang tengah hamil muda.


Usia kehamilannya yang masih rentang membuat sang suami khawatir karena perkembangan bayi mereka di rasa masih kurang, meski hanya sedikit.


"Maafin aku mas," jawab Farah lirih.


Ragil yang tak tega lantas memeluk sang istri. Bukan maksud ingin menyakiti atau memberikan beban lagi pada istrinya.

__ADS_1


Namun dia kehabisan akal untuk menjauhkan Farah dari jangkauan Sarah.


Upaya pelaporan polisi waktu itu juga tak semulus niat mereka.


Karena kecelakaan itu termasuk ringan dan bukan di rencanakan maka Sarah bisa melenggang bebas dengan uang jaminan.


Lalu hal apa lagi yang bisa dia lakukan untuk menjauhkan Sarah pada istrinya.


Di pecat oleh sang mertua juga sudah mereka lakukan. Namun ada saja celah bagi Sarah untuk menyakiti Farah, meski hanya lewat kata-kata.


"Mas tau, kamu ingin mengabaikan dia, berusahalah. Jangan terpengaruh abaikan saja sebisa kamu. Bisa?" pinta Ragil tegas.


Farah mengangguk dalam pelukan suaminya. Dia tahu sang suami ingin melindunginya.


Namun hormon kehamilan membuatnya selalu ingin mencari tahu apa keinginan Sarah.


.


.


Di sebuah restoran, terdapat Hulya yang sedang menemui sepasang suami istri kaya raya yang hendak meminangnya menjadi istri ketiga.


Dialah Fathur dengan sang istri pertamanya, Mala. Hulya sebenarnya enggan menemui kedua orang itu karena tahu apa yang ingin mereka bahas.


Namun permintaan sang ayah yang memohon padanya membuatnya luluh dan kembali mau mengikuti keinginan Afdhal.


Wanita yang mengenakan pakaian yang sama dengannya berbicara dengan lembut.


Hulya sedikit kaget dengan pembawaan wanita itu, sebab tak ada sedikit pun raut kebencian darinya.


Aneh, begitu pikir Hulya. Sebab di mana-mana istri akan menolak jika suaminya hendak berpoligami tapi tidak dengan Mala.


Wanita yang bisa di panggilnya tante itu justru meminta sang suami untuk menikahinya.


Entah apa tujuan mereka, tapi Hulya benar-benar merasa khawatir.


Hidupnya sudah sedikit lebih tenang saat ini. Dia berhasil berdamai dengan dirinya.


Tak lagi menyalahi takdir karena memang semua adalah kesalahannya. Dia hanya sedang berusaha berbenah diri dan merawat anaknya yang spesial dengan baik.


Meski dia masih bergantung pada pemberian orang tuanya. Namun sedikit demi sedikit Hulya bisa kembali menghasilkan uang dengan cara berjualan baju muslim di media sosial miliknya.


"Saya baik Bu," jawab Hulya enggan berbasa-basi menanyakan balik kabar mereka.


Mala tersenyum, dia tahu raut keengganan Hulya menemui mereka. Namun dirinya senang, setidaknya Hulya mau memanuhi undangan mereka.

__ADS_1


"Maaf kalau ibu sudah memesan makanan terlebih dahulu, semoga Hulya senang dengan hidangannya," tawar Mala agar mereka bisa bersantap siang terlebih dahulu.


Sejujurnya Hulya sejak tadi menelan ludahnya karena memang sudah lama dia tak bisa makan di restoran mewah seperti ini.


Dan tentunya restoran ini juga adalah restoran favoritnya. Terlebih lagi Mala memesankan makanan kesukaannya. Entah kebetulan atau tidak Hulya tak peduli.


Baginya saat ini dia ingin segera mengisi perutnya dengan makanan lezat itu.


"Ayo makan dulu! Nanti keburu adem kan enggak enak," ucap Mala sambil menyiapkan makanan untuk suaminya.


Mereka makan dalam hening, hanya sesekali Mala menanyakan rasa makanan di sana pada Hulya.


Usai acara makan siang, Mala kemudian mengajak Hulya duduk di halaman belakang restoran agar bisa santai saat berbincang.


"Bagaimana Hulya, apa lamaran kami sudah Hulya pikirkan?" tanya Mala langsung.


Hulya menunduk dalam. Dia sudah menolak pada sang ayah, apa mungkin pasangan suami istri itu ingin jawaban langsung darinya? Pikir Hulya.


"Maafkan saya Bu, tapi saya enggak bisa," lirih Hulya masih belum berani menatap wanita di hadapannya itu.


Pembawaan Mala yang tenang dan berkarisma membuat Hulya merasa kerdil. Mala seperti keturunan bangsawan, menurut Hulya.


"Boleh kami tau kenapa?" tanya Mala lembut.


Fathur memilih diam sejak tadi karena dia memang ingin sang istri yang berbicara dengan Hulya.


Hulya menggigit bibir dalamnya bingung apa yang harus dia jawab.


Mengatakan jika Fathur terlalu tua baginya hanya akan menyakiti hati mereka dan mungkin menganggap Hulya menghina Fathur.


Meski masih terlihat gagah di usia senjanya, bisa di katakan Fathur adalah sosok seorang sugar dady tampan yang pasti masih di incar oleh wanita-wanita muda yang membutuhkan uangnya saja.


Namun bukan dirinya. Dia tak menginginkan harta Fathur, tapi mungkin ayah dan kakaknya.


"Saya enggak mau jadi istri ketiga," jawab Hulya akhirnya.


Dia tak tahu lagi harus menjawab apa, jadilah jawaban seperti itu yang keluar dari mulutnya.


"Jadi ... Hulya ingin jadi istri Mas Fathur satu-satunya?" tanya Mala yang membuat Hulya menengadah seketika.


.


.


.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2