
Farah mencari keberadaan Ragil. Hingga akhirnya dia menemukan sang kekasih berada di lantai atas dan sedang menikmati indahnya suasana senja.
Ragil menyanggah tubuhnya di pagar pembatas menggunakan kedua lengannya.
Tanpa banyak kata Farah mendekat dan memeluk Ragil dari belakang. Dia butuh bahu untuk bersandar saat ini.
Ragil yang tersentak hanya bisa diam sambil mengusap tangan sang kekasih yang berada di perutnya.
Dia tak berkata banyak, biarlah Farah yang menceritakannya sendiri. Andai pun Farah memilih untuk kembali pada Alan, dia akan menerimanya dengan ikhlas.
Terdengar isakan lirih Farah. Bahkan kemeja biru langit miliknya sudah sedikit basah akibat air mata Farah di punggungnya.
Ragil terpaksa mengurai pelukan Farah demi bisa menghadap gadisnya.
Namun Farah masih menolak bicara, kini justru dia memeluk semakin erat tubuh Ragil dan Ragil hanya bisa membalas pelukan sang kekasih.
"Apa sesakit itu tau akan kebenaran?" tanya Ragil lembut.
Di usapnya kepala sang kekasih yang masih betah memeluknya.
"Maafin aku yang egois karena keinginanku," jawab Farah.
Gadis itu menyadari permintaannya pada Ragil pasti sedikit menyakiti hati kekasihnya.
Ya, secara tidak langsung Farah memang berharap bisa bertemu dengan Alan suatu saat nanti.
Hari ini takdir seolah mengabulkan keinginannya dan mempertemukan mereka. Jangan tanya bagaimana keputusan Farah.
Gadis yang selalu teguh dengan pendiriannya tak pernah menyesal menerima Ragil.
Justru berkat lelaki itu dia bisa bangkit dari ke terpurukkannya.
Dan seperti prediksinya, apa pun penjelasan Alan, baginya mantan tunangannya itu tetaplah seorang pecundang di matanya.
"Kita lanjut?" tanya Ragil sambil merenggangkan pelukannya. Dia ingin menatap wajah sang kekasih, untuk mencari jawaban.
Bagaimana keputusan gadis itu, mau meneruskan rencana mereka atau berhenti sampai di sini, pikirnya.
"Hei apa maksud kamu?!" keluh Farah kesal.
"Aku udah pernah bilang, aku cuma mau tau kebenarannya aja, ngga akan terbesit sekali pun pikiran untuk kembali sama dia," gerutu Farah.
Ragil tersenyum bahagia, dia kembali menarik Farah dalam pelukannya. Rasa lega dan senang bercampur menjadi satu. Kini tak ada yang perlu dia khawatirkan lagi.
Nyatanya kehadiran Alan di detik-detik menjelang pernikahan mereka sama sekali tak menggoyahkan perasaan Farah padanya.
Semua pemandangan itu tak luput dari sorot mata Alan yang melihatnya dari jauh.
Alan memang mengikuti Farah dan ingin tau apa yang akan di katakan mantan tunangannya itu pada kekasih barunya.
__ADS_1
Namun semuanya seakan telah berakhir, kedua sejoli itu seperti tak terpengaruh dengan kedatangannya.
"Semoga kamu bahagia Rah. Maaf karena telah melukaimu terlalu dalam. Semoga kamu mau ikhlas memaafkan aku di kemudian hari," monolognya.
Setelah itu Alan memutuskan pergi dari sana. Ragil sebenarnya melihat keberadaan Alan yang sejak tadi menatap mereka.
Namun sengaja Ragil abaikan karena melihat rasa lega dalam diri Farah membuatnya sungkan membahas masa lalu mereka saat ini.
.
.
Hari pertunangan telah tiba. Farah dan Tania bahkan harus pergi dua hari sebelumnya demi bisa mengecoh Sarah.
Kini keduanya harus menjaga jarak dengan Sarah karena cerita dari Alan.
Farah sudah menceritakan semuanya dengan Ragil dan Tania. Meski keduanya tetap merasa sangsi dengan penjelasan Alan, tapi mereka tetap waspada pada Sarah karena sifatnya.
Sarah selalu meneleponnya, membuat Farah semakin yakin jika apa yang di katakan Alan kemungkinan besar adalah kebenaran.
Sebab dia merasa heran, dirinya yang sudah menjelaskan tentang kepergiannya dan juga Tania seperti tak di percayai oleh Sarah.
"Kamu sebenarnya ke mana sih Rah? Aku mau kasih kejutan ke kamu dengan datang ke vila yang katanya kamu kunjungi, tapi kalian enggak ada loh? Kamu bohongin aku?" keluh Sarah.
Farah dan Tania memang berbohong dengan Sarah tentang kepergian mereka. Sebab mereka tidak ingin Sarah tau tentang apa yang akan di lakukan olehnya.
Jika benar apa yang di katakan oleh Sarah kalau gadis itu hendak memberikan kejutan padanya, sudah pasti dia akan datang dengan Azam.
Namun jika kedatangan Sarah hanya untuk memata-matainya, maka wanita itu akan datang seorang diri.
Farah baru sadar jika selama ini Sarah terlalu ikut campur urusan pribadinya. Entah kesalahan apa yang telah di perbuatnya hingga sepupunya itu melakukan hal kejam kepadanya.
"Aku sendiri," lirihnya. Farah yang mendengarnya tersenyum sinis di seberang sana.
"Aku lagi pusing sama mas Azam, dia justru enggak mau kerja gegara ngambek," jelasnya.
"Farah udah siap? Yuk!" suara Tania yang tiba-tiba datang membuatnya gugup.
Farah sampai memberi kode kepada sang ibu agar diam dengan meletakan telunjuknya di mulut.
"Siap? Kalian mau ke mana Rah? Aku ikut ya, kirim sharelocknya!" pinta Sarah yang mulai tak tenang. Wanita itu merasa curiga dengan sikap tante dan sepupunya yang sedikit berubah akhir-akhir ini.
"Ya ampun Sar, kami mau makan malam bareng keluarga besar papahku. Kamu ini ada-ada aja, udah dulu ya, see you!" balas Farah dan mematikan ponselnya seketika.
Sarah tak tenang, dia tak mau begitu saja menerima penjelasan Farah. Dia kembali menghubungi nomor Farah berulang-ulang. Sayangnya Farah tak mau menjawabnya.
Untungnya Farah sengaja meninggalkan ponselnya di hotel sebab Ragil curiga jika Sarah sudah menyadap telepon milik Farah.
Farah sendiri menang sengaja memilih hotel yang cukup jauh kalau saja Sarah sengaja mendatanginya di sana.
__ADS_1
Ia ingin tau sejauh mana Sarah akan mengikutinya. Jika sampai Sarah datang ke hotel itu maka sudah di pastikan apa yang di ucapkan Ragil adalah benar.
Farah bahkan harus menyuruh mata-mata untuk menunggunya di hotel. Siapa tau kalau Sarah betulan akan datang ke sana.
Beruntungnya Farah memiliki nomor baru yang hanya dia berikan pada orang-orang tertentu terutama kekasihnya.
"Ada apa? Dia ngikutin kita lagi?" tanya Tania saat keduanya sedang berada di dalam mobil menuju hotel tempat mereka mengadakan acara lamaran.
Farah hanya mengangguk, dalam benaknya sangat penasaran dengan sikap Sarah. Sebenarnya apa yang di inginkan Sarah darinya dan sang ibu?
"Sebenarnya ada apa ya Mah? Kenapa Sarah ngelakuim semua ini?" tanya Farah tak mengerti.
"Sudahlah, kamu ngga perlu memikirkan dia. Setelah urusan kita selesai, baru kamu cari tau mengapa dia berbuat seperti ini."
Benar apa yang di curigakan oleh Ragil, Sarah benar-benar mendatangi hotel tempat mereka kembali mengecoh wanita itu.
Sarah datang dengan gugup, dia tak memikirkan alasan apa yang akan dia berikan pada Farah karena dirinya berada di sana.
Wanita itu menuju meja resepsionis untuk mencari tahu keberadaan Farah.
Resepsionis memberitahukan jika benar kalau Farah dan Tania adalah tamu di hotel mereka. Semua atas permintaan Farah yang membolehkan orang bertanya tentang keberadaannya di sana.
"Boleh saya tau kamarnya?" pinta Sarah yang tak lagi bisa menyembunyikan kegugupannya.
Bahkan tangannya gemetar saking rasa gugup dan penasarannya. Dia tak boleh penasaran, jika itu terjadi maka dirinya akan terserang kepanikan seperti sekarang ini.
"Maaf Ka, Ka Farah dan Bu Tania sudah pergi sekitar dua jam yang lalu," jelas sang resepsionis.
Sarah membelalak tak percaya, di ponselnya memberitahukan keberadaan Farah yang masih berada di sana.
"Jangan bohong Mbak! Saya yakin Farah ada si sini! Cepat tunjukin kamarnya!" pinta Sarah setengah memekik.
Mata-mata yang di bayar oleh Farah lantas mengirimkan video tentang keberadaan Sarah yang berada tak jauh darinya.
Farah dan Ragil yang kini sedang duduk bersama menunggu acara di mulai terkejut dengan kiriman video dari orang suruhan mereka.
"Kini kita udah tau, sekarang lupakan Sarah dulu. Udah di pastikan acara ini akan berlangsung aman. Aku harap kamu fokus sama acara kita," pinta Ragil.
Farah mengangguk mantap, benar kata sang kekasih, dia tak boleh larut akan rasa penasaran atas sikap Sarah.
Baginya saat ini adalah acara lamaran ini yang akan segera berlangsung.
.
.
.
Tbc
__ADS_1