
Pernikahan Hulya dan Fathur berlangsung setelah tujuh hari kepergian Azam.
Tak ada perayaan besar dan istimewa. Hanya ada penghulu, keluarga dan juga para tetangga di sekitaran mereka yang di undang.
Bisik-bisik tetangga pun tak urung terdengar kala mereka mengetahui jika Hulya di jadikan istri ke tiga.
"Astaga, mau-maunya ya si Hulya jadi istri ke tiga. Iya sih suaminya kaya, kelihatan matrenya banget," bisik tetangga mereka.
Huma masih bisa mendengar obrolan mereka, tapi memilih menulikan pendengarannya. Andaikan menikah boleh diam-diam, ingin sekali dia tak mengundang para tetangganya.
Namun dia tahu, sebuah pernikahan harus di sebarkan beritanya agar tak menjadi fitnah.
"Di jual sama pak Afdhal kali, tau sendirikan yayasan mereka kan di ambang kebangkrutan," jawab yang lain.
Untungnya pemuka agama yang di undang Afdhal mengeraskan suaranya dalam memimpin doa, membuat para penggosip di belakang diam seketika.
Ada Mala dan Juga Zahwa yang hadir menyaksikan pernikahan ketiga suami mereka.
Zahwa memicing menatap kakak madunya yang justru terlihat tenang.
"Aku heran sama kamu Mbak! Kenapa kamu biarin mas Fathur menikah lagi? Apa kamu yakin suami kita mampu bersikap adil?" bisik Zahwa sengit.
Dia terkejut bukan main saat di kabari kakak madunya untuk menghadiri acara pernikahan ketiga suaminya.
Marah tentu saja, dia tak terima di madu, meski dia sendiri juga madu bagi Mala.
Namun alih-alih sebagai istri kedua yang biasanya akan mendapatkan perhatian yang berlebih, sang suami justru tetap memperlakukan Mala sebagai Ratu dan dia sebagai selirnya saja.
Padahal dirinya sudah memberikan satu orang anak pada suaminya yang tak dapat di berikan oleh Mala istri pertamanya, meski harus bersusah payah dalam mendapatkannya dulu.
Dia tak habis pikir apa fungsi Hulya sebagai istri ketiga suaminya? Dia benar-benar tak mengerti dengan jalan pikiran suami dan kakak madunya.
Huma hanya bisa menghela napas berkali-kali. Hatinya merancu saat harus menyetujui pernikahan kedua putrinya.
Menjadi istri ketiga bukanlah sebuah kebanggaan baginya, tentu saja akan banyak suara sumbang yang harus putrinya terima dengan statusnya itu.
Ya Allah, mungkin inilah hukuman bagi keluarga hamba karena telah menyakiti mantan-mantan menantu hamba.
Ampunilah kami ya Allah, semoga jalan yang di tempuh oleh Hulya engkau Ridoi.
Usai memanjatkan doa dalam hati, Huma kembali mengaminkan penghulu yang memanjatkan doa setelah Fathur mengucapkan ijab kabul.
"Selamat nak, kini kamu sudah kembali menjadi seorang istri. Patuhi ucapan suamimu, akurlah dengan kakak madumu. Umi harap, ini pernikahan terakhirmu," ucap Huma kala sang putri tengah meminta restu padanya.
"Maafkan segala sikap Hulya selama ini ya Umi, doakan selalu keberkahan dalam kehidupan rumah tangga Hulya ke depannya," pinta Hulya sendu.
__ADS_1
Kini giliran Fathur yang bersimpuh di depan Huma. Mertua yang lebih muda darinya membuat keduanya agak kikuk.
"Saya minta doanya Umi, semoga bisa menjadi pemimpin yang baik bagi Hulya," ucap Fathur.
"Saya titip putri saya Pak Fathur. Tolong sayangi dan hargai dia meski hanya sebagai istri ketigamu," pinta Huma.
Fathur mengangguk lalu tersenyum. Pesan yang sama seperti yang ayah mertuanya ucapkan.
Sedang di sudut lain ada Aryani yang mendengus kesal melihat keberadaan mantan istri suaminya yang juga turut hadir di sana.
"Pah, mau apa sih mbak Zahra datang ke sini? Dia kan cuma mantan menantu di sini!" gerutu Aryani.
Zhafran sendiri tak mendengar ucapan sang istri. Tatapannya hanya tertuju pada mantan istrinya yang terlihat lebih bahagia.
Jika di bilang cantik dan berubah, tentu saja tidak. Zahra seperti biasa, sejak gadis dan menjadi istrinya memang seperti itulah penampilan sang mantan istri.
Busana syar'i dengan riasan natural adalah ciri khasnya. Hanya yang membedakan saat ini adalah, Zhafran tahu senyum dan tawa yang keluar dari wajah Zahra adalah alami yang tengah dia rasakan dalam hatinya.
Bukan sesuatu yang di buat-buat untuk menutupi segala kegundahan dan sakit hatinya.
"Pah!" sentak Aryani kesal karena terlihat sekali sang suami menatap sendu pada mantan istrinya.
"Papah kenapa sih! Ada aku di sini pah, hargai aku dong!" gerutu Aryani.
"Zahra memang mantan menantu orang tuaku. Tapi ada hal yang harus kamu tahu, bagi Umi dan Abi Zahra adalah putri mereka," jelas Zhafran yang justru membuat Aryani kesal setengah mati.
Zhafran mendengus kesal. Ucapan sang istri sangat lancang membuat dirinya kesal bukan main. Namun lagi-lagi dia hanya bisa diam, sebab tak ingin membuat keributan di acara istimewa adiknya.
Setelah acara syukuran selesai, semua keluarga masih berkumpul di ruang keluarga.
Mala dan Zahwa juga hendak pamit undur diri ke rumah mereka masing-masing. Mala tahu jika suaminya akan menghabiskan malam pertamanya di rumah istri barunya.
"Terima kasih ya sayang atas pengertiannya. Tunggu kami pulang besok," ucap Fathur saat istri pertamanya pamit undur diri.
"Terima kasih sudah menerima saya menjadi istri Pak Fathur Bu Mala, tolong bimbing saya," ujar Hulya.
"Selamat datang di keluarga besar kami Hulya. Apa kamu masih mau memanggil kami pak dan ibu?" kekeh Mala melihat sikap kikuk adik madunya.
Hulya hanya tersenyum tipis, entahlah dia merasa belum siap harus mengganti panggilan terhadap keduanya.
Kini giliran Zahwa yang masih saja merajuk di depan suaminya.
"Mas, jangan sampai lupakan aku ya!" keluh wanita berusia tiga puluh lima tahun itu pada suaminya.
"Ya Allah Zahwa, tentu saja mas enggak akan melupakan kamu," jawab Fathur sambil mengusap kepala istrinya.
__ADS_1
Saat akan mendekati Hulya dia tak mau menyalami adik madunya itu.
"Jangan sampai kamu serakah ingin memiliki mas Fathur seutuhnya. Ingat meski ada aku dan mbak Mala,. Lagi pula bagi mas Fathur tetap mbak Mala-lah yang paling utama," jelas Zahwa pada Hulya sekaligus sindiran bagi suaminya.
Begitu pun dengan Zahra. Dia pamit undur diri karena dia tahu bukan lagi bagian dari keluarga Afdhal dan Huma meski ada anak-anaknya yang tetap menjadi bagian keluarga mereka.
"Saya pamit undur diri juga ya Umi-Abi. Buat Hulya dan Pak Fathur, semoga sakinah mawadah Warohmah. Selamat menempuh hidup baru. Kamu udah enggak bisa sering-sering main ke tempat kakak lagi deh Ya," keluh Zahra yang membuat seluruh orang di sana tertawa.
Hanya Aryani yang kesal dengan tingkah sok akrab mantan madunya.
"Enggaklah Ka, aku janji kalau ada waktu senggang aku pasti akan jenguk keponakan aku yang ganteng dan cantik ini," jawab Hulya sambil mencubit gemas pipi kedua keponakannya.
Hulya merasa sedih karena nasib pernikahan kakaknya yang berakhir dengan perpisahan. Lihatlah bagaimana kedua ponakannya itu kehilangan figur seorang ayah.
"Maafkan kami ya Ka," ucap Hulya melepaskan kepergian mantan kakak iparnya.
Setelah semua pergi, tinggallah Zhafran yang memang hendak berbicara sesuatu pada orang tuanya.
"Kamu mau menginap Bang?" tanya Huma melihat putra sulungnya masih berdiam diri di kediamannya.
Zhafran menarik napas panjang. Lalu menatap seluruh anggota keluarganya.
Sebenarnya dia agak tidak nyaman dengan keberadaan Fathur meski lelaki itu sudah resmi menjadi adik iparnya.
Dia masih merasa sungkan, karena umur yang memang jauh di atasnya di tambah lagi status sosial mereka yang memang berbeda.
Melihat sang kakak ipar seperti ragu-ragu hendak berbicara. Fathur memutuskan menyingkir sejenak dari obrolan keluarga istri barunya.
Dia sadar bahwa mereka masih memiliki privasi yang mungkin belum ingin dirinya ikut campur.
"Hulya, bisa antar Mas ke kamar? Mas lelah," ujar Fathur memilih undur diri.
"Abi, Umi, Bang, Ka, Hulya antar Pak Fathur istirahat dulu ya," Hulya dan Fathur melangkah pergi meninggalkan keluarga mereka.
"Abi, Umi ada yang mau Zhafran bicarakan," ucapnya lemah.
"Ada apa Bang?" jawab Afdhal.
"Bolehkah sementara ini kami tinggal di sini?" pintanya tiba-tiba.
.
.
.
__ADS_1
Tbc