
Batin kedua bayi itu mungkin terasa tidak nyaman dengan ibu mereka yang tertukar. Azam dan Ragil sama-sama rewel di gendongan ibu mereka.
Jika Maya memperlakukan Azam dengan sabar karena tidak tau tentang siapa bayi yang tengah di gendongnya, berbeda dengan Rukayah yang justru meneriaki bayi Ragil karena tak tahan dengan tangisannya.
Dia merasa frustrasi merawat bayi Ragil yang tidak membiarkannya istirahat sama sekali.
Ibnu juga merasa heran dengan sikap istrinya yang berubah menjadi garang.
Dulu Rukayah selalu melakukan berbagai cara agar bisa segera hamil, tapi setelah memiliki bayi justru istrinya itu terlihat tidak bahagia dengan putranya.
Ibnu sendiri tak mau di repotkan dengan urusan merawat anak mereka. Dia memiliki prinsip jika urusan anak adalah tugas istrinya.
Sedangkan dia tugasnya hanya mencari nafkah untuk menghidupi keluarga kecilnya.
Dulu hubungan Hamidah dan Rukayah masih terjalin cukup intens. Hingga tiba-tiba, Rukayah harus pergi dari rumah kontrakannya sebab sang suami yang selalu di cari oleh depkolektor.
Rukayah merasa kesal karena sifat sang suami yang tak mau berubah, lelaki itu senang memulai bisnis tapi tak pernah bisa mempertahankannya.
Dulu dia masih bisa membantunya, tapi semenjak punya bayi, Rukayah merasa tidak sanggup lagi.
Ibnu sendiri terlalu gegabah ingin memiliki dua penghasilan yang menyita waktu dan tenaganya. Dia bekerja sambil ingin membuka bisnis sendiri membuat keduanya justru hancur berantakan.
Ibnu di pecat dan juga usahanya tutup akibat tak terurus dengan baik.
Kondisi keuangan mereka semakin terpuruk, di tambah lagi Rukayah tak bisa meminta bantuan Hamidah.
Dulu Hamidah tetap memberinya uang agar tetap bisa merawat Ragil dengan baik.
Kedua bayi itu tumbuh dari dua kehidupan yang berbeda.
Ragil sudah merasakan kerasnya hidup di tengah keluarga yang kacau balau, sedangkan Azam hidup dalam gelimangan kasih sayang yang berlimpah dari orang tuanya.
Hingga kehidupan Ragil semakin miris sejak kehadiran Saeba ke dunia ini.
Rukayah lebih menyayangi anak perempuannya ketimbang dirinya.
Namun Ragil selalu di cekoki dengan alasan jika dia adalah seorang lelaki dan harus selalu mengalah dengan Saeba.
.
.
Tak lama sebuah insiden menggoyahkan keharmonisan keluarga Tyo dan Maya.
__ADS_1
Azam yang kala itu berusia sembilan tahun terserempet mobil saat sedang mengendarai sepeda miliknya.
Dia di larikan ke rumah sakit sebab mengeluarkan banyak darah dari kepalanya.
Saat itulah semua keluarga terkejut karena darah mereka tak ada yang sama dengan Azam, saat Dokter meminta donor darah dari mereka untuk menyelamatkan Azam.
"Dia anak siapa Mah!" maki Tyo.
Lelaki itu menaruh curiga jika Azam bukanlah darah dagingnya dan menuduh sang istri hamil benih laki-laki lain.
Maya hanya bisa menangis sebab dia sendiri tak tau siapa Azam. Hatinya semakin sakit saat mendengar tuduhan sang suami padanya.
"Kamu jangan gila Pah, kamu nuduh aku selingkuh? Jelas darah kita sama anak itu ngga sama!" balas Maya kesal.
Keduanya memilih tenang dan mengalah demi menyelamatkan anak yang mereka kira adalah putra mereka.
Setelah Azam melewati masa kritisnya, barulah Maya dan Tyo mencari kebenaran tentang putra mereka melalui Hamidah, sebab wanita itu pernah bekerja di rumah sakit tempat Maya melahirkan dulu.
Hamidah yang baru akan bekerja terkejut dengan kedatangan kakak iparnya di rumah.
Saat itu Hamidah dan suaminya, Amar memutuskan untuk pindah dari rumah mewah orang tuanya.
Amar merasa kasihan pada Hamidah yang selalu mendapat tekanan dari orang tuanya.
"Mbak, Mas, ada apa? Ayo masuk!" ajak Hamidah pada kakak iparnya.
"Tolong bantu kami mencari tahu kebenaran tentang Azam," pinta Maya tiba-tiba.
Wajah Hamidah berubah pias mendengar permintaan Maya, dia tau lambat laun entah karena apa nantinya mereka akan tau tentang bayi mereka yang tertukar.
Hamidah berusaha tenang menghadapi kakak iparnya. Dia pura-pura tidak tau apa yang terjadi dengan kondisi rumah tangga mereka.
"Maksud mbak Maya apa? Saya ngga paham ini!" jawab Hamidah tenang.
Maya lalu menangis dan menceritakan kejadian hari ini, dia dan sang suami sudah menjalani tes DNA untuk membuktikan kecurigaan mereka.
Memang belum keluar hasil tesnya, tapi Maya dan Tyo yakin jika bayi mereka dulu tertukar.
Yang di risaukan oleh Tyo dan Maya adalah, rumah sakit tempat mereka dulu pernah melahirkan terbakar, meski di bangun kembali mereka tak yakin harus bertanya kepada siapa selain pada Hamidah.
Hamidah menghela napas, menenangkan detak jantungnya yang berdebar sangat kencang karena tiba-tiba dia merasa sangat ketakutan.
"Setau saya semua berkas-berkas ngga ada yang selamat Mbak, lagi pula saya ngga tau harus bertanya sama siapa," jelas Hamidah.
__ADS_1
Mereka juga tak bisa mendesak Hamidah karena tau Hamidah hanya sekedar perawat di sana.
Maya dan Tyo mencari orang-orang yang mungkin menyimpan data para pasien di sana, sayangnya semuanya nihil. Tak ada yang bisa memberitahu mereka tentang berkas rumah sakit, karena memang tak ada yang menyimpannya.
Setelah hasil tes DNA keluar, Maya dan Tyo tengah berdiskusi dengan orang tua mereka tentang nasib anak itu.
Hamidah yang tau kalau mereka memilih menyerahkan Azam ke panti asuhan mengajukan diri untuk merawat Azam.
Setidaknya dulu dia pernah berjanji pada Rukayah bahwa dia akan senantiasa menjaga Azam dan berharap kalau Rukayah pun melakukan hal yang sama dengannya.
Oleh sebab itu Azam di rawat oleh Hamidah tanpa penjelasan apa pun.
Azam yang saat itu masih kecil dan tak tau apa yang terjadi dengan keluarganya, pasrah saat dirinya di tinggal di rumah sang bibi.
Maya dan Tyo memutuskan pindah keluar negeri karena mereka ingin melupakan kejadian menyakitkan itu dan juga mengobati kakak Ragil yang mengidap penyakit leukimia.
Hamidah sendiri seperti menuai apa yang dulu dia perbuat. Beberapa kali dia berhasil hamil, tapi sayang janinnya tak bisa bertahan lama, dia selalu mengalami keguguran hingga menyebabkan dirinya harus menerima kenyataan bahwa rahimnya harus di angkat demi menyelamatkan nyawanya.
Dia merawat Azam dengan penuh kasih, sang kakak ipar pun tak lepas tanggung jawab begitu saja, mereka tetap memberikan tunjangan untuk Azam.
Bahkan mereka tetap menyembunyikan fakta itu dari Azam.
Kini semuanya harus terbongkar kala Hamidah sudah mengetahui keberadaan keponakan yang selama ini di carinya.
Sejak kebenaran tentang Azam mencuat, sebenarnya Hamidah sudah berusaha mencari keberadaan Rukayah dan juga Ragil.
Namun nasib baik itu baru datang saat pernikahan Azam dengan kekasihnya.
Dia yang datang ke kota itu untuk mempersiapkan pernikahan Azam tak sengaja bertemu dengan Ragil dan Rukayah. Saat ingin mendekati mereka, dia kehilangan jejaknya.
Beruntungnya dia bertemu dengan Ragil di pesta pernikahan Azam.
Sayangnya saat itu juga dia harus mengabaikan masalahnya dengan Ragil dan Rukayah, sebab mertuanya, yang notabenenya nenek dan kakek Ragil meninggal dunia.
Tak lama di susul suaminya juga jatuh sakit. Hingga mereka harus berada di dalam permasalahan pelik ini dulu baru dirinya bisa buka suara.
Sungguh Hamidah sangat menyesal tentang keputusannya dulu. Dia tau Ragil dan Maya tak berhak menerima kemalangan dirinya.
Sekarang dia ingin meluruskan segalanya, sebelum ajal menjemputnya suatu saat nanti.
.
.
__ADS_1
.
Tbc