
Kutinggalkan dua wanita yang kucintai itu di rumah. Aku harus ke kantor polisi demi mencari tahu apa yang terjadi dengan Ayah.
"Siang Pak," sapaku pada petugas polisi yang berjaga.
"Siang, ada yang bisa kami bantu?" tanya beliau ramah.
"Saya ingin menanyakan kasusnya Pak Ibnu yang tadi di tangkap Pak," jawabku.
Aku tak ingin menemui ayah terlebih dahulu. Sebaiknya aku menemui petugas demi mengetahui apa masalah apa yang sebenarnya terjadi.
"Pak Ibnu yang alamatnya di Desa Suka Raya, bukan?" tanya beliau sambil melihat ke arah komputer di hadapannya.
"Iya Pak, betul," jawabku.
"Silakan Masnya ke bagian penyidik. Ruangnya ada di ujung lorong itu, ikuti saja, nanti ada papan namanya," jelas beliau.
Setelah mengucapkan terima kasih aku lantas berlalu menuju ruang penyidik seperti arahannya.
Sampai di sana, aku mengetuk pintu. Setelah di izinkan masuk, aku pun melanjutkan langkah menemui petugas yang tampak lebih tegas dengan sorot mata yang tajam. Beliau seperti sedang sibuk dengan beberapa berkas di atas meja.
"Silakan duduk Mas, ada yang bisa saya bantu?" tanya beliau datar.
Petugas yang memakai tanda pengenal Tanu itu menatapku dengan tajam.
"Saya ingin tau kasusnya Pak Ibnu, kebetulan saya adalah putra sulung beliau," jawabku tenang.
"Pak Ibnu ya, sebentar saya carikan berkasnya. Orang yang baru hari ini di tangkap bukan?" tanyanya sambil sibuk mencari berkas di laci mejanya.
"Benar Pak," jawabku singkat.
Setelah menemukan apa yang dia cari, dia lalu menjelaskan padaku.
"Pak Ibnu pernah di laporkan atas kasus penipuan, dulu kasus ini pernah di cabut, tapi orang tersebut ternyata kembali melaporkan kejadian ini," jelasnya.
"Penipuan apa ya Pak?" tanyaku tak mengerti.
"Penipuan investasi, si pelapor merasa di tipu oleh Pak Ibnu dengan penggelapan dananya. Dulu sempat di cabut dan berakhir damai, tapi sekarang kasusnya di lanjutkan lagi, karena katanya, Pak Ibnu tak melakukan kesepakatan damai mereka," jelas Pak Tanu.
"Boleh saya tau orang itu Pak?" tanyaku ingin tau.
"Namanya Pak Heru," jawab Pak Tanu singkat.
"Apa saya boleh tau alamat beliau Pak? Saya ingin tau masalah ayah saya dengan beliau, jika masih bisa di selesaikan secara kekeluargaan, maka saya akan menempuh cara itu," jelasku.
Pak Tanu tanpa banyak kata lalu menuliskan alamat beliau pada secarik kertas.
__ADS_1
Aku harus menemui Pak Heru ini, untuk mencari tahu masalah ayah. Siapa tau beliau mau kembali menyelesaikan masalah mereka secara kekeluargaan lagi.
Setelah menemui kepala penyidik, kini tujuanku adalah menjenguk ayah dilapas.
Aku menunggu di sebuah kursi yang di tata hanya untuk seorang berhadap-hadapan.
Ayah tiba dengan di iring petugas dan dengan tangan di borgol.
Wajahnya kuyu sekali. Saat dia melihatku, sorot matanya memancarkan amarah yang tak di sembunyikan.
"Dasar anak kurang ajar!" makinya setelah kami duduk berhadapan.
"Jangan ribut, kalau enggak kami akan melarang kamu menemui tamu lagi!" bentak salah satu petugas.
Ada empat orang petugas yang berjaga di ruang temu tahanan. Di sini juga ada beberapa pengunjung yang sedang mengunjungi tahanan lainnya.
Ayah sudah mengenakan pakaian jingga khas tahanan.
"Sebenarnya ini ada apa Yah?" tanyaku penasaran, mengabaikan kemarahan Ayah.
"Kalau kamu ngga bertingkah, kita ngga akan berakhir seperti ini Ragil!" bentaknya.
"Bisa kah kamu diam dan menuruti mereka? Mereka orang berkuasa dan kita tak akan mampu melawan mereka!" makinya.
"Aku sudah menemui penyidik Yah dan mereka menjelaskan jika Ayah terlibat kasus penipuan, lalu kenapa ayah menyalahkan Ragil? Jelas ini salah Ayah!" jawabku tak terima.
"Memang siapa yang ayah maksud? Pak Heru?" tanyaku tak mengerti.
Awalnya aku kira ayah di penjara atas laporan ayah mertuaku. Namun ternyata oleh lelaki yang bernama Heru yang sama sekali aku tak mengenalnya.
"Bukan, dia ayah mertuamu!" balasnya sengit.
"Apa hubungannya pak Heru dengan mertua Ragil Yah?" tanyaku masih tak paham ke mana arah pembicaraan ini.
Ayah menghela napas kasar sebelum menjawab pertanyaanku, "mertua kamu yang sudah menengahi kasus ayah, karena kesal dengan kelakuan kamu terhadap Hulya. Mertua kamu itu lepas tangan, membuat Heru kembali melanjutkan kasusnya," jelas ayah.
Barulah sekarang aku paham apa hubungan masalah ini dengan seseorang yang bernama Heru itu.
"Itukah orang yang ayah anggap sahabat? Setelah apa yang dia inginkan tak dapat ia dapatkan lalu dia mengkhianati ayah begitu aja?" cibirku.
Ayah menatapku tajam, "kamu menyakiti putrinya, jelas saja dia melakukan balasan atas perlakuan yang Hulya dapatkan karena ulahmu!" maki ayah.
Aku menghela napas, "dia hamil anak orang lain Yah, siapa di sini yang di sakiti coba?" tanyaku lemah.
Lagi ayah membuang muka, "sabarlah sebentar, mereka hanya minta waktu sampai anak itu lahir, setelah itu mereka akan membebaskanmu," lirih ayah.
__ADS_1
Lagi-lagi aku di minta mengalah demi bisa menyelamatkan harga diri mereka.
"Ayah tenang aja, aku akan bantu ayah sebisa mungkin. Ragil akan menemui Pak Heru siapa tau kita bisa mencari jalan lain," ucapku memberitahu.
Dua orang petugas mendekati kami dan memberitahu jika waktu berkunjung sudah habis.
Saat ayah bangkit berdiri dia menatapku tajam, "kita hanya orang-orang kecil Gil kamu tak akan bisa melawan mereka," ucapnya sendu dan berlalu meninggalkanku.
Aku tak habis pikir, bukankah ayah dan mertuaku itu sahabat baik? Lalu kenapa mertuaku itu bisa berbuat seperti ini pada ayah yang notabenenya adalah sahabatnya.
Apa sebegitu frustrasinya mereka tak bisa memaksaku hingga akhirnya menekan keluargaku.
Benar-benar tak habis pikir. Kini semua kebobrokan keluarga mereka sudah kuketahui, tentu sebuah kesialan aku bisa masuk di lingkaran mereka.
Aku tak patah semangat, kulanjutkan mobil menuju kediaman lelaki bernama Heru ini.
Rumah dua lantai yang cukup asri, rumah itu terlihat sepi, hingga sebuah sepeda motor yang di kendarai oleh dua orang lelaki turun dan membuka pintu pagar.
Aku lalu bergegas menemui mereka. Keduanya terkejut saat melihatku.
"Maaf, apa benar ini rumah Pak Heru?" tanyaku pada dua orang lelaki beda usia ini.
"Saya Heru, ada apa ya? Kamu siapa?" tanya beliau ramah.
Seorang lelaki paruh baya seusia ayah ini tampak bersahaja. Namun aku tak mau tertipu lagi hanya menilai seseorang dari rupanya.
Nyatanya, keluarga mertuaku yang terlihat bijak dan terhormat pun memiliki sifat yang sangat mengerikan.
"Saya Ragil, anaknya Pak Ibnu," jelasku mengenalkan diri sambil mengulurkan tangan.
Mata Pak Heru tampak membola saat mengetahui siapa tamunya.
Namun dia tetap menyambut uluran tanganku dan mengajakku masuk ke dalam rumahnya.
Rumah ini tampak sepi dan sedikit berdebu. Lelaki muda yang aku kira anaknya tadi tak banyak bicara.
"Silakan duduk, saya tau tujuan kamu datang ke sini. Saya buatkan minuman dulu ya," ucapnya.
Ingin mencegah tapi beliau sudah sigap meninggalkanku seorang diri di ruang tamu ini.
Tak ada tatapan sinis, atau pun kesal, saat pak Heru menyambutku. Justru beliau seperti terlihat lelah entah karena apa.
.
.
__ADS_1
.
Tbc