
Afdhal merasa geram dengan pertanyaan mantan menantunya.
"Bukannya tadi kamu bilang kalau kamu itu hanya pekerja? Jadi tolong sampaikan saja pada pak Tyo Nugroho!" bantah Afdhal kesal.
Ragil tertawa kecil saat mendengar jawaban mantan mertuanya.
"Maaf pak Afdhal saya harus menjelaskan dengan jelas pada atasan sekaligus ayah saya."
"Anda tau, bahkan beliau dulunya ingin mengakhiri donasinya pada yayasan milik Anda saat tau kalau aku di perlakukan semena-mena oleh Anda dan putri Anda," jelas Ragil penuh penekanan.
Afdhal tercengang akan kenyataan yang baru saja di ucapkan Ragil.
Dia lupa akan satu hal yang mungkin akan di lakukan oleh Tyo Nugroho sebagai orang tua kandung Ragil.
Harusnya dia tak terlalu pongah saat ini, sebab posisinya memang sedang terdesak.
Dia jadi berandai-andai. Kalau saja dia dulu mencari tahu orang tua anak yang di tukar oleh Rukayah, dirinya pasti tak akan berakhir seperti ini.
Menyesal sekarang juga terasa percuma, karena dia mengakui kalau dia tak memedulikan Rukayah dan anaknya. Dirinya hanya ingin menuntaskan nafsu yang menggebu-gebu karena penasaran dengan tubuh istri sahabatnya.
Kini dia menyesali keputusannya. Namun tetap saja Afdhal tak pernah merasa bersalah dan tetap menyombongkan diri sendiri.
Afdhal justru menyalahkan sang putri yang telah merusak segalanya. Kalau saja saat ini putrinya masih menjadi istri Ragil, tentu dia tak akan di posisi sekarang.
Walaupun anak kandungnya akan kehilangan kekayaan orang tua angkatnya, setidaknya dia masih bisa memiliki kesempatan meraup kesuksesan melalui putrinya— Hulya.
Lagi-lagi semua hanya andai-andainya saja.
"Kamu mengadu pada orang tuamu?" ejek Afdhal menutupi rasa kalutnya.
"Pak Afdhal tentu tau bagaimana saya dan orang tua saya. Bukan masalah besar bagi mereka untuk mencari tahu tentang kehidupan masa lalu saya bukan?" balas Ragil telak.
Afdhal hanya bisa mengalah saat ini, sebab dia tak mau lagi di sudutkan. Baginya, sokongan dana dari Nugraha Group adalah hal utama yang harus dia prioritaskan di samping urusan pribadinya.
"Baiklah, saya harap Anda bisa memberitahu pak Tyo tentang tujuan saya kemari pak Ragil," ucap Afdhal dengan panggilan yang sama dengan mantan menantunya.
"Saya sudah katakan sejak tadi, bisa bapak jelaskan pada saya mengapa kami harus membantu Anda? Bagaimana bisa saya jelaskan kepada Pak Tyo kalau Anda sendiri tak mau menjelaskan?"
Afdhal menggeram kesal, bahkan buku-buku jarinya menonjol hingga menyembulkan urat-urat tangannya.
"Yayasan tengah tertimpa masalah karena pemberitaan yang tidak penting. Banyak donatur yang memilih menghentikan donasi mereka sampai kami bisa menyelesaikan berita itu," jelas Afdhal datar.
Dia sangat yakin kalau Ragil sudah mengetahui tentang berita yang sedang hangat di media sosial dan dia juga sangat yakin jika mantan menantunya itu tengah mengejek dirinya, begitulah Afdhal selalu berpikiran buruk tentang seseorang.
"Seharusnya tak masalah kalau para donatur pergi. Toh nyatanya sekolah Anda menariki iuran pada wali murid bukan?" jawaban Ragil membuat Afdhal sedikit tercengang karena mantan menantunya tau akan rahasianya.
__ADS_1
Namun Afdhal tetaplah Afdhal, lelaki itu Masilah orang yang juga jago dalam bersilat lidah.
"Menariki? Sebaiknya kamu menyelidiki dengan benar, para wali murid yang mampu di sekolah kami sama saja dengan para donatur, mereka rela menggelontorkan dana demi kemajuan sekolah seperti yang lainnya. Hati-hati dengan lisanmu," balas Afdhal.
Ragil bergeming, memojokkan Afdhal memang tak mudah, lelaki paruh baya itu pasti memiliki berbagai cara untuk mengelak.
"Baiklah Pak Ragil, saya permisi dulu, tolong amanahkan permintaan saya pada pak Tyo," ujarnya sambil bangkit undur diri.
.
.
Ragil menceritakan pertemuannya dengan Afdhal beserta pembahasan mereka tanpa ada yang di tutup-tutupi pada kedua orang tuanya.
"Ya ampun, emang dia buat apa? Engga pada kabur juga kan anak muridnya? Aneh banget," gerutu Maya.
"Memang dia minta berapa Gil?" sambar Tyo.
"Beliau ngga ngomong Pah. Cuma minta di sampaikan ke papah aja. Papah mau nyumbang lagi?"
"Menurut kamu?" Tyo justru balik bertanya.
Dia yang merasa sudah tak sekuat dulu berharap sang putra segera mau menggantikan posisinya.
Ragil bahagia mendengar keinginan orang tuanya. Meski dia masih merasa sangsi karena harus mengemban tugas yang cukup berat dari orang tuanya.
Sedangkan Maya dan Tyo sangat yakin dengan kemampuan Ragil walau dia masih harus banyak belajar.
"Papah terserah kamu aja. Semua kan udah papah dan mamah serahkan sama kamu. Kami cuma mau minta jaga perusahaan itu baik-baik."
"Bukan soal uang, tapi perusahaan itu adalah tumpuan para karyawan kita dalam mencari nafkah. Ingat pesan papah, muliakan karyawanmu ya," pinta Tyo tegas.
Tentu saja Ragil menyanggupi permintaan sang ayah, baginya percuma menjadi besar kalau tidak ingat dengan para karyawan yang secara tidak langsung juga turut andil dalam kesuksesan mereka.
"Jangan lupa juga segera beri kami cucu," celetuk Maya.
Mereka semua tertawa. Tentu saja itu juga menjadi harapan Ragil. Dia dan Farah memang sudah memutuskan untuk segera meresmikan hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius.
Bahkan mereka sudah dalam tahap lamaran yang sebentar lagi akan di laksanakan.
.
.
Ragil dan Farah sedang berada di sebuah butik untuk memesan pakaian lamaran serta pakaian pernikahan mereka.
__ADS_1
Kekompakan mereka bahkan bisa membuat Sarah tidak tau sama sekali dengan rencana keduanya.
Farah dan Ragil memang memutuskan untuk tidak sering bertemu untuk menghindari kecurigaan Sarah.
Bahkan Tania harus turut serta mengecoh Sarah, jika keduanya harus bertemu karena urusan dengan wedding organizer atau apa pun untuk persiapan pernikahan mereka.
"Jadi gimana nanti kita undang Sarah?" tanya Ragil saat menunggu calon istrinya di balik ruang ganti.
Tania dan Maya sendiri tengah sibuk berbincang untuk pakaian keluarga besar mereka.
"Enggak tau, menurut kamu baiknya gimana?" jawab Farah dari dalam bilik kamar ganti.
Belum sempat Ragil menjawab, Farah sudah di giring keluar untuk memperlihatkan gaun indahnya.
Ragil terdiam saat melihat penampilan calon istrinya. Ini adalah pengalaman pertamanya meski bukan pernikahan pertamanya. Dulu dia tak tahu apa-pun karena persiapan di lakukan sendiri oleh keluarga Hulya.
Meski tidak mengenakan riasan pengantin, Farah terlihat cantik dan sangat anggun dengan gaun putihnya.
Potongan gaun yang simpel membuat gadis itu terlihat semakin manis dan memesona.
"Cantik," puji Ragil.
Kedua calon besan lantas mendekat dan menertawakan reaksi Ragil yang mematung tadi.
"Sabar Gil," ledek Maya pada putranya.
Ragil hanya bisa tersenyum menyembunyikan rasa bahagianya. Dia berharap kali ini adalah pernikahannya yang terakhir dan Farah adalah teman hidupnya sampai akhir hayat nanti.
Usai melakukan fiting baju, mereka berpisah. Maya dan Tania sengaja membiarkan keduanya bersama untuk terakhir kali sebelum mereka di larang bertemu sampai hari pernikahannya kelak.
"Aku masih ngga nyangka kalau kita bisa berakhir sampai sejauh ini," ucap Farah saat keduanya sampai di sebuah kafe untuk menghabiskan waktu berdua.
Ragil juga merasakan hal yang sama, kehidupannya yang dulu jungkir balik kini menemukan kembali tujuannya.
Saat akan memasuki kafe, langkah kaki Farah terhenti kala melihat seseorang di hadapannya.
"Farah?" sapa orang tersebut dengan suara bergetar.
.
.
.
Tbc
__ADS_1