
Hendi tak bertanya apa pun selama perjalanan. Dia sepertinya sadar jika aku tengah menghadapi masalah serius.
Aku melangkah dengan tenang, sambil berdoa dalam hati memohon ampun pada yang kuasa.
Karena hari ini aku akan melakukan sesuatu yang sangat di benci oleh sang pencipta, yaitu perceraian.
Aku dan Hendi tiba di ruangan Hulya. Namun kosong. Aku mengernyit heran, lalu aku mendatangi meja jaga perawat yang berada tak jauh dari ruangan Hulya.
"Maaf Sus, mau tanya, pasien atas nama Hulya Maulida ada di mana ya?" tanyaku.
"Oh Ibu Hulya sudah di pindahkan di ruang VVIP pak, naik satu lantai lagi ya," jawabnya.
Aku berterima kasih dan kembali mengajak Hendi menaiki lift untuk naik ke lantai empat. Tempat di mana kelas eksekutif rawat inap berada.
Mereka mungkin sengaja memindahkan Hulya ke sana tanpa memberitahuku. Jelas sekali bukan, jika keberadaanku pun tak di anggap.
Harusnya mereka tetap memberitahuku karena bagaimana pun aku adalah suami Hulya. Meski aku tak peduli hanya saja penilaianku pada mereka makin buruk saja.
Aku berhenti sejenak di depan pintu, menyiapkan diri dengan masalah yang akan kuhadapi setelah ini.
"Assalamualaikum," sapaku.
Benar saja, di sana semua keluarga mertuaku sedang menunggu. Ruangan ini lebih besar dari ruangan Hulya yang pertama.
Bahkan ada ranjang tambahan untuk keluarga pasien yang ikut berjaga. Tentu aku tau benar berapa biaya yang harus di keluarkan tiap harinya untuk ruangan ini.
Abi langsung mendekatiku dan tanpa bertanya, dia langsung melayangkan tamparannya padaku.
"Laki-laki kurang ajar! Kami angkat derajatmu malah kau menyia-nyiakan anakku!" makinya.
Tak lama Mas Zhafran mendekati kami, mungkin dia menyadari aku tak datang sendiri.
"Abi tenang," pintanya.
"Maaf, bisa tinggalkan kami?" pinta Mas Zhafran pada Hendi yang masih berada di belakangku.
Aku tak mendengar jawaban Hendi, mungkin dia hanya sekedar mengangguk lalu pergi, sebab hanya suara pintu terbuka dan tertutup yang kudengar.
"Kenapa kamu meninggalkan anakku Hah!" maki Abi melanjutkan kemarahannya.
Aku masih diam bergeming, lalu menoleh ke arah Hulya yang menunduk.
Ranjang yang di tempatinya di angkat sedikit di bagian atas, membuat dia bisa menyandarkan tubuhnya.
"Apa Hulya atau Mas Zhafran belum menjelaskannya pada Abi?" tanyaku menatap ke arah Mas Zhafran yang wajahnya sudah berubah merah.
Dia mendelik seakan memintaku untuk diam tak mengatakannya pada orang tua mereka.
Namun aku tak peduli, aku tak mau menyimpan kebohongan. Kediaman mereka justru kesialan bagiku, karena belum apa-apa saja aku sudah kena tampar ayah mertuaku.
"Ada apa ini?" sambar Umi yang akhirnya bangkit mendekati putra sulungnya.
__ADS_1
"Katakan Zhafran ada apa sebenarnya?" tuntutnya.
Kulihat Mas Zhafran membuang muka, mungkin dia bingung bagaimana harus menjelaskan.
"Kau, katakan ada apa?" tanya Abi padaku.
"Aku atau kalian saja yang menjelaskan, mungkin akan lebih baik jika salah satu dari Hulya atau Mas Zhafran memberitahukan kebenarannya pada Abi dan Umi," tawarku.
Abi memicing mendengar ucapanku, lalu dia menatap putra sulungnya.
"Katakan Zhaf ada apa!" bentak Abi dengan raut wajah yang sudah menahan amarah yang begitu besar.
Mereka semua bungkam, aku yakin mereka tak berani berkata jujur pada orang tuanya.
"Hulya hamil ... Anak orang lain," putusku membuka suara.
Abi dan Umi menoleh ke arahku, wajah mereka pias, Abi bahkan memegang dadanya.
"ABI!" pekik Umi dan Mas Zhafran bersamaan.
Mereka lalu memapah Abi untuk duduk di sofa. Umi memberikan segelas air pada suaminya, sedangkan Mas Zhafran menatap nyalang padaku.
Dia lalu mendekatiku dan hendak melayangkan tinjunya padaku. Tentu saja aku tak akan tinggal diam, aku begitu mudah mengelak dari serangannya hingga dia jatuh tersungkur karena tak mengenaiku.
"Hentikan kelakuanmu Mas!" ucapku dingin.
"Kenapa? Kau marah? Karena apa? Abi sakit? Bukankah tadi aku sudah mengatakan jika kalian saja yang memberitahunya? Kenapa diam saja? Lalu sekarang kamu marah dan menyalahkanku? Kamu masih waras kan?" cibirku.
Tak ada lagi panggilan Mas yang biasanya kusematkan padanya. Terus terang aku muak sekarang dengan sikap mereka.
"Hentikan Zhafran!" sergah Umi.
"Kekerasan tak akan menyelesaikan masalah, duduklah yang tenang!" pinta Umi yang terlihat sudah bisa bersikap tenang.
Mas Zhafran kembali duduk di sebelah Abi. Aku sendiri memilih duduk di kursi dekat ranjang Hulya dan menatap ke arah mereka.
"Benarkah yang Ragil katakan Hulya?" tanya Umi menatap anak bungsunya.
Air matanya sudah tergenang, jika dia mengedip aku yakin air mata itu akan luruh.
Abi masih berusaha bernapas dengan pelan. Ingin memberi masukan agar Abi di tangani terlebih dahulu, tapi aku segan, itu urusan mereka.
Di sini aku hanya sebagai korban yang justru menuntut penjelasan.
Tak ada jawaban apa pun dari mulut Hulya, wanita itu masih saja bungkam, lalu Umi beralih menatapku.
"Kenapa kamu tiba-tiba bilang kalau Hulya hamil anak orang lain Ragil! Apa kamu ada buktinya?" tanya Umi tajam.
Ya ampun dengan Hulya diam saja harusnya itu sudah bisa menjawab pertanyaan Umi.
"Kenap tidak tanyakan saja sama Hulya Mi?" tanyaku balik.
__ADS_1
Beliau mendengus, "lalu siapa ayah dari bayi yang di kandung Hulya?" tanyanya.
"Aku pun penasaran siapa laki-laki yang sudah berhasil menghamili istriku," cibirku.
"Bisa saja itu anakmu Ragil!" elaknya tetap memojokkanku.
"Sejak kepulangan kalian dari rumahku, kami kembali pisah ranjang, bahkan sebelum kalian datang pun kami tak pernah berhubungan suami istri, sudah jelas bayi yang di kandung Hulya bukan anakku! Lagi pun dia tak mengelak saat di tanya Mas Zhafran," jelasku meski dalam hati ada rasa malu menceritakan masalah ranjang kami.
Umi lantas bangkit berdiri dan mendekati Hulya yang masih menunduk.
"Benarkah yang suamimu katakan Hulya?" tanyanya dengan suara bergetar.
Hulya hanya diam dan terisak, lalu tiba-tiba Umi memeluknya, mencoba menenangkan putrinya yang menangis semakin kencang.
Aku terlalu berharap mereka akan menindak tegas kelakuan Hulya. Namun seperti yang pernah kupikirkan, apa pun kesalahan Hulya mereka akan tetap memaafkannya dan mendukungnya.
"Sudah tenang, kami tak akan meninggalkanmu sayang," bujuknya.
"Karena ini sudah terjadi, maafkan lah kekhilafan Hulya Ragil. Ampuni dia, bimbing dia kembali ke jalan yang benar, bukan kah itu tugasmu sebagai suami?" ucap Umi padaku.
Aku terkekeh mendengar ucapan Umi yang justru menyudutkanku lagi dan lagi.
"Bagaimana kalau di balik Umi? Bagaimana kalau Mbak Zahra hamil anak orang lain, apa kalian mau menerima anaknya dan mengampuni mbak Zahra?" tanyaku balik.
Kulihat Mas Zhafran mengepalkan tangan, dia seperti tak terima dengan ucapanku.
"Belajarlah menerima kesalahan, kalian orang yang berpendidikan tinggi, jangan selalu memanjakan dan memaklumi kesalahan anak-anak kalian!" ucapku sinis.
"Mulai hari ini, kamu, Hulya Maulida binti Afdhal Basri saya talak kamu, sekarang tak ada lagi kewajibanmu sebagai seorang istri padaku," ucapku akhirnya.
Mereka semua terbelalak tak percaya mendengar aku menalak Hulya.
"Apa-apaan kamu Mas! Aku ngga mau pisah! Aku ngga mau bercerai!" ucap Hulya tiba-tiba memberontak.
Apa maksud dia? Tak mau bercerai? Sudah pasti itu tidak mungkin, harusnya dia sadar, aku tak mungkin menerima kesalahannya kali ini.
Mas Zhafran bangkit dan kembali mencengkeram kerah bajuku.
"Apa maksudmu? Jangan main-main dengan kami! Kami bisa menghancurkan kamu yang hanya seorang sampah!" hinanya.
Aku terkekeh dan melepaskan cengkeramannya pada kerahku.
"Santai saja Mas, lakukan lah yang kalian mau, ingat, ada Allah yang mendengar," cibirku lantas meninggalkan mereka.
Kulihat Hulya memberontak hendak turun dari ranjangnya.
Dia memanggil namaku sambil mengucapkan kata maaf berulang-ulang, tapi aku tak peduli, setidaknya kini aku bisa bebas dari keluarga toxic seperti mereka.
.
.
__ADS_1
.
Tbc.