
Sarah sudah merasakan jika ada sesuatu yang tidak beres dengan tubuhnya.
Bagian kewanitaannya mengeluarkan keputihan yang sangat banyak dan juga berbau tidak sedap.
Tubuhnya juga menjadi lemah, sebab sering sekali demam dan terserang flu. Bahkan saat buang air kecil **** ************* akan terasa sakit dan perih.
**** ************* juga meradang dan gatal, padahal Sarah termasuk wanita yang sangat menjaga area pribadinya.
"Kamu kenapa sayang?" sapa Azam yang sudah akan bersiap pergi bekerja.
"Kamu mau ke mana Mas?" tanya Sarah.
"Kan aku udah bilang, aku mau ke CV. Delima, mau bantu menghitung pajak mereka," jawab Azam kesal.
"Aku sakit mas, bisa enggak kamu anter aku ke rumah sakit dulu?" pinta Sarah lemah.
"Maaf sayang, kamu ke Dokternya naik taxi aja ya, aku beneran sibuk hari ini," elak Azam lalu mengecup puncak kepala sang istri.
Sarah menatap nanar punggung suaminya yang menjauh. Dia merasa kecewa, sebab dirinya benar-benar sangat membutuhkan Azam saat ini.
Pada akhirnya Sarah tak mau hanya berdiam dan menunggu perhatian sang suami lantas segera bangkit berdiri.
Dia harus memeriksakan kondisinya, sebab dia juga sudah sangat penasaran dengan sakit yang dia alami.
Sarah merasa heran, jika hanya terkena flu, obat yang biasa dia konsumsi biasanya akan membuatnya segera sembuh.
Namun ini sudah lebih dari dua minggu dirinya masih saja sakit.
"Aduh!" keluh Sarah saat dia membuang air kecil. Kini bahkan ada bercak darah di sana membuat Sarah semakin bingung.
Dirinya kini sudah sampai di rumah sakit. Dia memutuskan memeriksakan diri ke Dokter umum terlebih dahulu.
Dokter mendengarkan segala keluhan yang Sarah kemukakan. Dia memeriksa keadaan Sarah dengan teliti. Hatinya menebak ada yang tidak beres dengan Sarah dengan gejala yang di tunjukan pasiennya.
Namun Dokter laki-laki itu enggan memberi kesimpulan sebelum pemeriksaan secara menyeluruh.
"Baiklah Bu Sarah. Saya baru bisa menerka penyakit ibu. Semoga saja bukan seperti dugaan saya, oleh sebab itu sebaiknya kita memeriksakan diri ibu ke Dokter penyakit dalam dan penyakit kulit. Serta melakukan serangakaian tes darah secara keseluruhan," jelas sang Dokter.
Sarah tercengang, dia merasa Dokter di depannya terlalu berlebihan. Memang dia merasa tidak nyaman dengan **** *************.
Masalah demam dia merasa hanya karena flunya saja.
"kenapa harus pemeriksaan secara keseluruhan. Memang Dokter mendiagnosis saya sakit apa?"
Dokter menarik napas panjang, dia yakin pasien di depannya ini akan sangat terkejut bukan main.
Terlebih lagi Sarah yang berhijab membuat Dokter memperkirakan jika wanita itu mungkin tertular dari suaminya.
__ADS_1
"Dari semua gejala yang ada, saya menebak jika ibu terkena virus HIV—"
"APA!" potong Sarah yang terkejut dengan apa yang di sampaikan oleh Dokter di hadapannya.
"Enggak mungkin Dok! Dokter jangan mengada-ngada!" Pekiknya tak terima.
"Ibu tenang dulu, duduklah dulu," pinta sang Dokter lembut.
Sarah sudah tak bisa tenang. Pikirannya kalut, bagaimana bisa dia memiliki penyakit terkutuk itu.
Tidak! Tidak mungkin batinnya menjerit. Bahkan dia tak begitu mendengarkan penjelasan dokter di hadapannya.
"Bagaimana Bu Sarah? Siap untuk melakukan pemeriksaan selanjutnya?" ulang sang Dokter saat melihat Sarah hanya bisa diam dengan air mata terus meleleh di pipinya.
"Bagaimana bisa saya memiliki penyakit menjijikkan itu Dok? Saya tidak pernah memakai narkoba. Saya juga bukan wanita penjajah diri," lirihnya.
Dokter menghela napas, beginilah salah satu akibat dari mungkin pasangan yang gemar gonta ganti pasangan.
Salah satunya bisa menyebarkan virus itu pada pasangannya yang tak bersalah.
"Maaf, apa ibu jarang bertemu dengan suami?" tanya Dokter hati-hati.
"Maksudnya? Saya sama suami selalu bersama Dok," jawab Sarah lemah.
"Maaf, biasanya penyakit seperti ini tertular karena pasangan sering bergonta-ganti pasangan. Jika bukan dari ibu, bisa jadi dari suami ibu."
Dulu dia mengabaikan segalanya karena sang suami bisa menjelaskan pekerjaannya. Terlebih lagi kini Azam mampu menyenangkan dirinya dengan mencukupi segala kebutuhannya.
Bahkan bisa di katakan sang suami benar-benar memanjakannya dengan segala permintaannya.
"Tapi suami saya sehat-sehat aja Dok," jawab Sarah mengelak.
"Mungkin hanya belum merasakannya saja Bu. Sebaiknya ibu ajak suami ibu memeriksakan diri juga. Saya juga minta untuk ibu tak melakukan hubungan suami istri terlebih dahulu," saran Dokter.
"Jadi bagaimana, kita lanjutkan pemeriksaannya?" ajak Dokter.
"Baiklah Dok," pasrah Sarah.
Setelah melakukan serangkaian tes, Sarah duduk termenung di dalam mobilnya. Hasil tes akan keluar dalam waktu tiga hari. Hatinya gelisah, bagaimana kalau apa yang Dokter itu ucapkan benar? Kalau dia mengidap penyakit menjijikkan itu?
Sarah menangis, dia butuh bahu untuk bersandar saat ini. Dia yang sudah terlalu pongah merasa bisa hidup sendiri nyatanya kini merasa kesepian.
Dulu selalu ada Farah dan tante Tania yang menjadi tempatnya mencurahkan keluh kesahnya.
Namun kini? Dia hanya sendiri, orang tuanya lebih memedulikan diri mereka sendiri dari pada dirinya. Teman-temannya? Mereka hanya bertemu kala ada kabar bahagia yang ingin di bagikan.
Mana mungkin mereka mau berteman dengannya kalau tahu dirinya mengidap penyakit mematikan itu.
__ADS_1
Meski tidak menular secara langsung, tapi Sarah yakin teman-temannya pasti akan menjauhinya.
"Kenapa jadi begini?"
Tak lama ponselnya berdering, tertera nama sang suami di sana.
"Halo sayang, bagaimana hasil pemeriksaannya?" tanya Azam dengan suara seraknya.
"Kamu kenapa mas?" tanya Sarah balik. Sebenarnya dia ingin segera mencecar sang suami.
Namun saat melihat keadaan suaminya yang terlihat baik-baik saja selama ini membuatnya gamang.
"Enggak tau sayang, tiba-tiba tenggorokanku enggak enak banget," jawab Azam yang memang terlihat sekali sedang bermasalah dengan tenggorokannya.
"Mas mau ke rumah sakit? Memeriksakan diri juga?" tawar Sarah yang merasa inilah kesempatannya mengajak sang suami memeriksakan diri.
"Boleh deh, dari pada ganggu gini!" Sarah tersenyum senang. Setidaknya dia tak perlu bertengkar terlebih dahulu dengan sang suami untuk mengecek keadaannya.
"Ya udah aku ambilkan nomor antrian," jawab Sarah semangat.
Tak lama Azam datang dengan wajah pucatnya. Sebenarnya dia juga merasakan sakit tapi tidak separah Sarah.
Dia juga sering demam tapi cepat sembuh setelah minum obat. Azam juga sering merasa mual dan sering berkeringat dingin di malam hari. Namun semuanya bisa sembuh sendiri menurut Azam.
Sayangnya kali ini penyakitnya tiba-tiba kambuh saat dia akan melayani pelanggan. Membuat wanita yang ingin memakai jasanya segera menolaknya.
Azam tak bisa mengabaikan semuanya. Dia takut karena sakitnya itu dia akan kehilangan pekerjaan yang menghasilkan uang besar dengan cepat.
"Sayang? Maaf nunggu lama," ucap Azam lembut.
"Enggak papa, kamu baik-baik aja mas? Kok bisa tiba-tiba sakit gini?" tanya Sarah sambil memegang kening Azam.
"Sebenarnya mas udah sering demam, mungkin karena cuaca, tapi biasanya langsung sembuh, tapi mas ngerasa percuma kalau kambuh-kambuhan begini terus, makanya mas mau periksa aja," jelas Azam.
Sarah terperangah mendengar ucapan sang suami. Dia yang memang tak terlalu memperhatikan kondisi suami, jadi merasa kecolongan jika suaminya juga tengah mengalami sakit.
"Kamu sendiri sakit apa?" tanya Azam.
"Nanti kamu sendiri juga tau!" jawab Sarah ketus.
.
.
.
Tbc
__ADS_1