
Ragil tahu mungkin keputusannya akan menyakiti Rukayah dan akan di anggap tidak tau balas budi. Namun apa yang bisa dia lakukan, dia sendiri tidak tahu kalau kejadian hidupnya akan serumit ini.
"Maafkan Ragil Bu, Ragil enggak akan melupakan Ibu, kalau ada waktu Ragil pasti akan jenguk Ibu," ujar Ragil menenangkan Rukayah.
Tak ada ucapan maaf dari Rukayah untuk Ragil atas kesalahannya. Ragil sebenarnya menunggu sang ibu mengatakan hal itu, tapi sayangnya itu hanya akan menjadi angannya saja.
Rukayah tetaplah Rukayah, tak akan mau mengalah padanya.
Ragil kembali pun hanya sebagai alasan dirinya ingin bertemu dengan Rukayah, ingin tahu apa yang akan di katakan wanita yang biasa di panggil ibu padanya.
Sayangnya semua tak seperti yang dia bayangkan, Rukayah justru lebih membahas bagaimana kehidupannya kalau Ragil pergi dari keluarga mereka.
.
.
Di tempat lain, Azam mendatangi kediaman Farah untuk mencari keberadaan istrinya.
Meski akan di ejek tak tau diri, tapi Azam tak peduli. Dia akan mempertahankan rumah tangganya, bagaimana pun caranya.
Dia sangat yakin jika Sarah akan kembali luluh dengannya seperti dulu.
Waktu pertama mengenal Sarah itu karena dirinya yang sedang berusaha mendekati Fatah.
Saat itu pun dirinya tau kalau justru Sarahlah yang terpikat dengannya. Kala itu Azam memilih mengabaikannya karena targetnya adalah Farah.
Namun karena usahanya tak membuahkan hasil, akhirnya dia memutuskan beralih pada Sarah yang tentu saja akan menerima dirinya dengan senang hati.
Sesampainya di kediaman Farah, Azam segera mengetuk pintu rumah bergaya minimalis modern itu.
Kebetulan Farah sendirilah yang membukanya. Karena dia juga baru saja kembali dari rumah sakit setelah mengantar Sarah kembali untuk di rawat.
"Mau apa kamu?" tanya Farah ketus sambil melipat kedua tangannya di dada.
Dia benar-benar muak dengan lelaki mokondo seperti Azam ini. Jangan kira dirinya bodoh dan tak tau seperti apa perangai suami sepupunya itu.
Dia bahkan sudah paham sifat Azam sejak pertama kali lelaki itu mendekatinya dulu.
"Di mana Sarah? Aku mau ketemu sama dia," jawab Azam tenang.
Farah mendengus lalu membuang wajahnya sebelum akhirnya menatap Azam lagi. "Urus aja selingkuhan sekaligus adikmu itu," cibirnya.
"Tolong Far, aku harus menjelaskan semuanya sama Sarah," mohon Azam.
"Kamu tau dia lagi sakit kan? Jadi kamu tunggu dia baik kan dulu baru menemuinya," jawab Farah malas.
Saat dia hendak menutup pintu Azam mencegahnya, "dia di mana sekarang? Biar aku yang merawatnya," paksa Azam.
"Ke mana aja kamu dulu saat tau Sarah sakit? Oh iya lupa, kamu lagi bermesraan sama selingkuhan kamu sampai di gerebek warga kan ya!" ejek Farah.
Ucapan Farah benar-benar melukai harga diri Azam. Namun Azam masih berusaha berpikir rasional untuk tak terpancing amarahnya saat itu juga.
"Baiklah kamu menang sekarang Far, tapi ingat Sarah sangat mencintaiku, aku yakin dia akan kembali luluh denganku," kecam Azam.
__ADS_1
Lelaki itu kemudian meninggalkan kediaman Farah dengan kesal. Farah tak peduli justru malah mengumpat lelaki yang dulu sempat dekat dengannya.
Setelah membersihkan diri, Farah kemudian bergegas kembali ke rumah sakit. Om dan tantenya yang merupakan orang tua Sarah baru bisa datang esok hari.
Tadinya mereka menyembunyikan masalah sakitnya Sarah pada orang tuanya. Namun karena masalah rumah tangga Sarah yang semakin runyam, membuat Farah meminta Sarah untuk mengabari orang tuanya.
Lagi-lagi dia bertemu dengan Ragil. Pesona calon duda itu sedikit menggelitik hati Farah yang beku.
Farah mencoba menyadarkan diri jika lelaki di depannya ini masih berstatus suami orang.
"Bu Farah?" sapa Ragil.
"Mas Ragil, adiknya masih di rawat?" tanya Farah serius.
Ragil mengangguk membenarkan, dia ke sana hanya sekedar ingin berpamitan pada Saeba.
Meski di awal perpisahan Rukayah masih enggan melepas Ragil, tapi dia tetap pada keputusannya.
Mereka bukan keluarga dan Ragil ingin kembali pada keluarga yang sebenarnya.
"Saya boleh jenguk Sarah Bu?" pinta Ragil.
Dia berencana meminta maaf pada Sarah, meski bukan kesalahannya, tapi dia merasa mempunyai andil dari kesalahan fatal Hulya.
Kalau saja dulu dia tak membiarkan Hulya mengutarakan perasaannya, mungkin Azam tak akan berani mendekati Hulya.
"Ayo silakan!" ajak Farah.
Keduanya lantas ke ruangan Sarah. Wanita itu sedang duduk sambil menonton televisi. Dia sudah tak sepucat tadi saat mereka berada di rumahnya.
"Gimana Mbak Sarah? Mendingan?" tanya Ragil.
"Alhamdulillah," jawab Sarah sekenanya.
"Saya mau minta maaf sama Mbak Sarah, karena bagaimana pun saya turut andil dalam tindakan Hulya dan Azam. Kalau saja dulu Azam tak tau perasaan Hulya padanya, mungkin saat ini rumah tangga kalian masih baik-baik saja," ucap Ragil dengan tulus.
Sarah tersenyum, dia tak tau mengapa Hulya seakan buta tak bisa melihat kelebihan Ragil. Suaminya itu selain tampan juga merupakan pribadi yang baik.
Tak sekali pun dirinya melihat Ragil bertindak kasar pada Hulya meski kelakuan istrinya sudah sangat keterlaluan.
"Bukan salah Mas, ini memang takdir kita. Oh iya, apa Mas benar sudah menggugat cerai Hulya?" tanya Sarah penasaran.
Sekelebat ingatannya seperti mendengar ucapan cerai dari Ragil kemarin, tapi dia tak begitu jelas hanya sekedar samar-samar karena fokusnya saat itu pada keterangan Hulya dan suaminya.
"Iya tinggal tunggu sidang ke dua," jawabnya.
"Oh iya mbak Farah, boleh kan saya berikan foto dan video Azam dan Hulya untuk bukti di pengadilan?" sambung Ragil pada Farah yang sejak tadi memilih diam.
"Silakan, kalau perlu saya jadi saksi juga ngga papa," kelakarnya.
Keduanya lantas terlibat obrolan ringan dan melupakan keberadaan Sarah.
Entah kenapa melihat Farah yang dekat dengan Ragil membuat hatinya tak rela. Entah perasaan apa itu.
__ADS_1
"Ya sudah Bu Farah eh Farah dan Mbak Sarah saya pamit dulu ya, semoga lekas sehat," ucapnya sebelum pamit undur diri.
.
.
Ragil kini menapaki takdirnya menjadi bagian dari keluarga besar Nugraha.
Saat sampai di rumahnya, ternyata sang ibu sedang menerima tamu yang dia tau siapa lelaki itu.
Amar, suami dari Hamidah adik kandung Tyo mengunjungi kediaman kakaknya.
"Assalamualaikum Mah, Om," sapanya pada Amar.
"Minta Bi Warsi untuk membantumu membereskan barang-barang ya Gil," ucap Maya pada putranya.
Maya lantas meminta Ragil untuk duduk bersamanya menemui Amar yang sedang membujuk dirinya.
Bukan tanpa sebab Amar mendatangi kediaman Maya. Dia sedang membujuk Maya agar mau mencabut laporannya terkait pelaporannya pada sang istri.
"Ada apa Mah?" tanya Ragil bingung.
"Bukankah mamah udah bilang kalau Mamah, akan membalas semua orang yang pernah menyakiti kita?" jelas Maya.
Ragil mengangguk, "lalu?" beonya.
"Mamah udah melaporkan Hamidah dan dia sudah mendapat surat panggilan dari pihak kepolisian," jawab Maya.
Ragil hanya bisa menghela napas, tak tau kalau ibu kandungnya sudah bergerak secepat ini.
"Tolong Mbak, maafkan Hamidah. Dia sedang sakit keras dan butuh penanganan serius dari Dokter," iba Amar meminta belas kasihan Maya.
Maya menatapnya tajam, lelaki itu tak tau betapa hancurnya kehidupannya dulu.
Kehilangan anak dan putra pertama mereka karena perasaan mereka yang tak pernah membaik usai mengetahui jika anak yang selama ini mereka rawat bukanlah anak kandung mereka.
"Mungkin itu balasan dari Tuhan atas semua perbuatan buruknya!" jawab Maya ketus.
Amar bingung bagaimana lagi harus menjelaskannya pada sang kakak ipar mengenai kondisi istrinya yang sedang sakit keras.
Ia tahu kesalahan istrinya sangat fatal, andaikan Maya tau bahkan mungkin Tuhan sudah menghukum Hamidah berkali-kali, hingga membuat dirinya harus turun tangan kali ini.
"Bukan hanya mbak yang kehilangan anak, tapi kami juga Mbak! Kami bahkan tak pernah sekali pun bisa melihat mereka di dunia ini!"
"Memang itu salahku? Seandainya dia tidak melakukan hal keji itu pada kami, mungkin kalian sudah memiliki anak yang kalian harapkan itu!"
Amar merasa tak ada gunanya lagi memohon pada Maya, sebab dia tau seberapa sakit hatinya Maya karena kejujuran istrinya.
"Saya hanya memohon kali ini Mbak, setidaknya, sekarang kamu sudah bisa berkumpul dengan putramu. Namun Hamidah ..." lirihnya tak sanggup melanjutkan kalimatnya.
.
.
__ADS_1
.
Tbc