Secangkir Kopi Hitam

Secangkir Kopi Hitam
Bab 27


__ADS_3

Sekarang aku tenang karena wanita ini ternyata temannya Ibu.


Meski bingung karena dia bisa mengenaliku dan aku bahkan tak tau tentangnya.


"Kamu kelihatan bingung," tanya Bu Hamidah lembut.


Dunia terasa sempit, ternyata ibuku dan ibu dari lelaki idaman istriku berteman.


"Sebaiknya kita bicara di taman aja, mau?" ajaknya.


"Saya susul istri saya dulu ya Bu," elakku. Karena aku takut Hulya mencariku, atau bisa yang lebih parah, dia membuat keributan di pesta Azam dan Sarah.


Untungnya dia masih berada di meja itu. "Ya, ayo ikut!" ajakku.


"Ke mana?" tanyanya malas.


"Ada yang ingin bicara denganku, sepertinya dia ibunya Azam," jelasku.


"Ibunya Azam? Ngapain ibunya Mas Azam ngajak Mas ngobrol? Mau kasih peringatan sama Mas agar menjauhi menantunya?" cibirnya.


Aku menghela napas, "beliau ternyata teman ibu," jelasku.


"Oh," hanya itu tanggapannya.


Lalu dia bangkit dan berjalan beriringan bersamaku menuju taman yang masih berada di dalam hotel ini.


"Ini istrimu?" tanya Bu Hamidah begitu melihat kami.


"Seharusnya ibu duduk menemani Mas Azam menyambut tamu, kenapa malah di sini?" sindir Hulya.


Ya Ampun, kenapa Hulya menjadi tak sopan seperti ini pada orang yang lebih tua, bahkan pada seseorang yang tak di kenalnya.


"Hulya," ucapku pelan tapi penuh penekanan. Dia hanya melengos.


"Maafkan istri saya Bu Hamidah," ucapku tak enak hati.


"Enggak papa Mas Ragil," ucapnya.


Aku terkejut bahkan dia tahu namaku. Ingin bertanya, tapi aku ingat jika dia adalah teman ibuku.


"Kamu pasti bingung kenapa Ibu bisa mengenalimu?" tanyanya seolah bisa membaca pikiranku.


"Sebenarnya ibu pernah melihat kamu dan ibumu, tapi sepertinya kalian tak mendengar panggilan ibu," jelasnya.


Aku hanya bisa tersenyum menanggapi.


"Ibu main lah ke rumah, siapa tau ibuku merindukan ibu juga," tawarku.


Bu Hamidah tersenyum lalu menggenggam tanganku. "Maafkan Ibu ya Nak Ragil," ucapnya lalu setetes air mata mengalir dari matanya.


"Ibu kenapa?" tanyaku bingung.


"Bu!" panggil seseorang yang membuat Bu Hamidah menghapus air matanya sesegera mungkin.


"Ibu di cari malah di sini, ayo kembali ke pelaminan!" ucap lelaki yang aku pikir itu suaminya Bu Hamidah.


"Iya Pak," lelaki itu tak berkata banyak, bahkan dia tak menatapku atau pun menanyakan sedang apa kami di sana.


Bu Hamidah pun tak mengenalkanku pada lelaki itu dan berlalu begitu saja.


"Kamu kenal ibunya Mas Azam Mas?" tanya Hulya yang tiba-tiba ada di sebelahku.


"Aku baru saja mengenalnya. Ayo kita pulang!" ajakku.


.

__ADS_1


.


Hubungan kami semakin membaik, dua bulan setelah kami menghadiri pernikahan Azam dan Sarah, Hulya kini telah banyak berubah.


Meski kami masih memutuskan untuk pisah ranjang, tapi kini kami tak banyak bertengkar.


Seperti pagi ini, dia kembali menyiapkan makanan, sekarang dia mau bertanya padaku makanan apa yang kusukai.


Baguslah jika Hulya mau berubah menjadi lebih baik. Namun rumah tangga kami, terasa aneh jika harus terus seperti ini.


Penampilannya juga berubah, dia tak lagi mengenakan pakaian syar'i dengan jilbab lebarnya.


Kini pakaiannya agak sedikit membentuk tubuhnya meski tidak bisa di katakan ketat juga.


Seragam yang ia kenakan pun sudah seperti seragam para pengajar di yayasannya, jilbab lebar itu kini sudah berubah dengan pashmina dan juga hijab segi empat dengan model yang lebih kekinian.


Perubahan itu membuatku sedikit waswas, jangan-jangan semua itu dia lakukan demi bisa seperti Sarah.


Meski cara berpakaian keduanya masih agak berbeda, tapi bisa kurasakan kalau Hulya sedikit mengikuti gaya berbusana Sarah.


.


.


Hari ini aku memutuskan ke rumah ayah dan ibu seperti kebiasaanku tiap bulannya.


Ya, memberi jatah bulanan serta menjenguk mereka. Aku baru sempat ke sini lagi karena memang beberapa waktu ini di sibukkan dengan berbagai pesanan konsumen.


"Ibu kira kamu udah ngga mau jenguk kami lagi Bang," sambar Ibu begitu aku turun dari mobil.


Memang bulan kemarin aku tak sempat menjenguk beliau karena memang pekerjaan dan cuaca ibu kota yang sedang tak menentu.


Hujan membuat jalanan sering terendam banjir di beberapa tempat dan jalan yang kulalui untuk pulang ke rumah ini sering terendam banjir.


"Maafkan Abang Bu," ujarku mengalah.


"Bapak sedang ke rumah temannya," jawab ibu enggan.


"Saeba lagi pergi dengan suaminya," sambungnya lagi.


Ini hari minggu sudah pasti mereka mungkin sedang menghabiskan waktu bersama, batinku.


"Kenapa Hulya ngga di ajak? Ibu heran sama istri kamu, selama jadi menantu kok jarang sekali mau ke sini. Boro-boro ke sini telepon ibu aja ngga pernah sama sekali!" gerutu ibu.


Hubungan keduanya memang tak dekat, aku juga bingung cara menyatukan keduanya. Mungkin karena aku dan Hulya juga sedang renggang, jadi aku tak berharap banyak hubungan dia dan keluargaku baik-baik saja.


Lalu aku teringat sesuatu, "oh iya Bu, Ibu dapat salam dari teman Ibu namanya Bu Hamidah," ujarku menyampaikan pesan teman ibuku.


Namun aku terkejut dengan respons ibu, dia terlihat syok bahkan hingga menjatuhkan gelas yang berisi teh hangat untukku.


"Astaga Bu!" pekikku lalu melihat ke arah kaki ibu.


Di sana ada luka goresan akibat pecahan kaca yang mengenainya.


"Ibu sini duduk, Abang ambil obat dulu!" pintaku sambil mendudukkan ibu yang terlihat masih terkejut.


Saat tengah membersihkan luka ibu, tiba-tiba ibu tersadar dari keterkejutannya, entah kenapa mendengar nama Bu Hamidah justru membuat ibu seperti itu.


"Ka-kamu bertemu Hamidah di mana Bang? Dia bilang apa aja sama kamu?" cecar ibu.


Ada kepanikan dalam suara dan sorot matanya. Aku tak tau mengapa justru yang kulihat ibu seperti ketakutan dengan Bu Hamidah.


"Di nikahan temanku Bu, dia ibunya temanku ternyata," jelasku apa adanya.


"APA?!" pekik ibu.

__ADS_1


"Berapa kali kamu ketemu dia Bang?" suara ibu semakin panik.


"Baru satu kali aja Bu, dia juga cuma titip salam untuk Ibu dan berjanji akan datang menemui Ibu kelak," jawabku lugas.


"Enggak ... Enggak mungkin," racaunya tak jelas.


Tiba-tiba ibu bangkit lalu berjalan ke kamarnya meninggalkan aku seorang diri di dapur.


Tak lama aku mendengar suara keributan dari luar rumah. Ternyata Saeba dan Faisal tengah bertengkar.


"Abang malu-maluin aku! Pokoknya aku ngga mau tau, aku mau tas itu Bang titik!" suara Saeba memekik.


Aku bergegas menghampiri keduanya. "Ada apa Ba? Sal?" tegurku.


Saeba tampak syok melihatku, wajahnya pias. Berbeda dengan Faisal yang justru terlihat menyeringai.


"Ba-Bang Ragil kapan datang? Kenapa mobilnya ngga ada?" tanyanya gugup.


"Tuh mobil Abang," tunjukku pada mobil yang terparkir di depan rumah tetangga kami.


Akses jalan masuk ke gang ini hanya cukup untuk satu mobil, oleh sebab itu aku tak bisa masuk jika ada yang sedang parkir di luar seperti ini, jadilah terpaksa aku menepikan mobilku pada lahan kosong di rumah tetangga ibuku.


"kenapa kamu berteriak Ba? Ada apa? Tak bisakah kalian bicara baik-baik?" tegurku lagi.


Saeba hanya menunduk, "maaf Bang, kami memang terlibat pertengkaran kecil," jawabnya.


"Masuklah," ajakku pada keduanya.


"kecil kamu bilang? Sepanjang jalan kamu nyerocos tanpa henti Ba! Hanya karena aku tak bisa membelikanmu tas yang kamu mau!" sambar Faisal yang terlihat murka.


Saeba memang akan merajuk jika keinginannya tidak di turuti, aku tau itu. Namun aku pikir dia sudah berubah semenjak menikah.


Apa yang di katakan Faisal dulu benar adanya? Jika Saeba selalu merongrongnya?


"Itu memang salah kamu Sal! Harusnya sebagai seorang suami kamu memenuhi kebutuhan Saeba!" sambar ibu yang keluar dari kamarnya.


Faisal mendengus, "apa aku tak mencukupi kebutuhan Saeba Bu? Berani ibu bicara di sini?" tantang Faisal.


Saeba melotot sempurna, lalu setelahnya dia menangis. "Bu sudah, memang salah Saeba, maafkan Saeba Bang. Tolong hentikan perdebatan ini," ujarnya sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.


Ibu mendekati Saeba dan memeluknya, hanya Faisal yang tertawa sinis melihat keduanya.


"Munafik!" cibirnya pelan yang masih bisa kudengar.


Ibu berusaha menenangkan Saeba dan sesekali menatap geram ke arah Faisal.


"Memang berapa harga tas yang di inginkan Saeba Sal?" tanyaku penasaran.


Kalau hanya ratusan ribu aku rasa tak masalah. Bahkan kalau Faisal keberatan maka aku akan memberikannya untuk Saeba agar mereka tak perlu bertengkar seperti ini.


"Du—"


"Cuma lima ratus ribuan aja kok Bang. Sudah Bang, ngga papa," potong Hulya cepat.


Padahal tadi dia masih menangis, mendengar pertanyaanku pada Faisal dia bisa langsung berhenti dan menjawabku.


Tatapan matanya seakan memohon pada suaminya. Aku yakin ada yang di sembunyikannya.


"Terserahlah aku muak dengan kalian!" keluh Faisal lalu meninggalkan kami begitu saja.


.


.


.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2