
Azam bingung melihat kondisi rumahnya yang seperti kapal pecah. Ruang tamu berantakan di mana bantal sofa dan meja bergeser tak beraturan.
Terlebih lagi dia mendengar suara teriakan sang istri dari arah kamarnya.
Takut sesuatu terjadi pada istrinya, dia segera melangkahkan kaki menuju kamarnya.
Betapa terkejutnya Azam saat melihat penampakan kamarnya yang lebih parah dari pada ruang tamunya.
Bukan itu saja yang membuat dirinya terbelalak. Namun kondisi sang istri yang terlihat sangat mengerikan.
Penampilannya sangat acak-acakan, dengan rambut yang semrawut tak karuan. Riasannya yang luntur membuat wajah Sarah terlihat sangat mengerikan.
Sarah duduk di lantai dengan pandangan kosong, tapi kadang wanita itu tersenyum lalu tak lama terlihat sedih hingga terisak.
Azam mendekati sosoknya dengan perlahan sebab banyak sekali pecahan kaca rias berserakan di sana.
"Sayang kamu kenapa?" tanyanya khawatir.
Dia yang baru saja bertemu dengan Hulya, berpikir mungkin sang istri mengetahui kelakuannya hari ini.
Meski kemungkinannya sangat kecil, karena dia yakin sang istri tadi berangkat kerja.
"Kenapa harus dia?" lirih Sarah.
Deg
Jantung Azam berdebar sangat kencang, 'dia' siapa yang Sarah maksud? Hulyakah? Benaknya bertanya-tanya.
"Hei, kenapa? Ayo bangun!" ajaknya berusaha membangunkan tubuh Sarah dengan hati-hati.
Sarah mengikuti apa yang suaminya minta, tanpa memberontak. Azam lantas membereskan tempat tidur mereka ala kadarnya, yang penting bisa mendudukkan Sarah dengan nyaman dulu.
"Ada apa sebenarnya?" ulang Azam berusaha menutupi kegugupannya.
"Farah hamil," jawab Sarah dengan pandangan kosong.
"Lalu?" heran Azam. Dia kembali bernapas lega karena semua tak sesuai prasangkanya.
Sarah menoleh sekilas lalu kembali menatap ke arah depan.
"Kenapa selalu dia yang beruntung Mas? Kenapa seolah dunia tak suka aku bahagia?"
"Kenapa aku enggak hamil-hamil! Aku sehat," tiba-tiba Sarah terisak.
__ADS_1
Dia yang menikah terlebih dahulu tapi belum juga di beri kepercayaan oleh Tuhan untuk memiliki momongan.
Jika di tanya rahimnya sehat atau tidak, jelas Sarah merasa bahwa dirinya normal-normal saja, sebab dia perempuan yang lancar datang bulannya dan selalu menjaga pola makan, tanpa harus memeriksakan kandungannya.
Namun kini dia sedikit merasa sangsi, kalau menilik kesuburan sang suami, jelas suaminya subur, nyatanya dia bisa memiliki anak dari Hulya.
"Gimana kalau kita periksa?" tawar Azam.
Sarah yang sedang menangis sambil menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya menoleh menatap sang suami.
"Maksud mas aku mandul gitu?!" pekiknya kesal.
"Bukan gitu, apa salahnya di coba Sar? Toh nyatanya kamu ngamuk-ngamuk enggak jelas gini hanya karena dengar Farah hamil kan?" jawab Azam.
"Aku yakin aku subur. Aku cuma enggak senang karena Farah selalu lebih beruntung dari pada aku. Itu sangat ngga adil mas," jelas Sarah.
Azam mengernyit heran, yang dia tahu sang istri dan sepupunya selalu terlihat kompak. Namun akhir-akhir ini sikap keduanya berubah, seakan Sarah berusaha ingin menghancurkan rumah tangga Farah, jelas dirinya penasaran.
Terlebih lagi waktu itu Sarah bertengkar hebat dengan Hulya karena ternyata keduanya menemui Farah dan Ragil di rumah mereka.
Sarah tak mau menjelaskan apa pun, jadilah Azam bertanya pada Hulya.
Hulya merasa kalau Sarah mempermalukannya di hadapan Ragil dan Farah.
Terlebih lagi Hulya mengaku patah hati dan kecewa karena tahu kalau mantan suaminya sudah menikah lagi.
Saat itu Azam merasa kesal, meski dia menyadari Hulya adalah adiknya, tapi perasaan suka pada gadis itu masihlah ada.
Hulya juga sedang di timpa masalah karena ternyata yayasan milik keluarganya terancam di sita pemerintah atau di jalankan oleh keluarga besar sang ibu.
Pertemuan mereka tadi juga membahas masalah pelik yang menimpa Hulya, karena wanita itu di paksa sang ayah menikah dengan lelaki tua untuk menyelamatkan yayasan mereka.
Flasback.
Hulya menangis di sebuah kafe tempat dia dan Azam janjian bertemu.
Azam merasa heran karena tiba-tiba adik sekaligus mantan selingkuhannya itu mengajaknya bertemu.
"Ada apa Ya? Apa Syifa baik-baik aja?" tanya Azam khawatir mengenai keadaan anak mereka.
"Syifa baik mas, tapi aku yang sedang kurang baik," adu Hulya.
"Kamu kenapa?"
__ADS_1
"Abi mas, Abi sama mas Zhafran tega mau menikahkan aku sama Pak Fathur," ungkap Hulya.
"Pak Fathur siapa?" tanya Azam bingung.
Hulya mengusap air mata dan cairan di hidungnya terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan Azam.
"Beliau seorang pengusaha tambang batu bara Mas," jelas Hulya.
"Berapa usianya?"
"Lima tahun lebih muda dari ayah, mungkin sekitar empat sembilan atau lima puluhan."
Azam menarik napas panjang. Dia tahu maksud Afdhal dan Zhafran pasti demi menyokong yayasan milik mereka agar tetap bisa berada di bawah kepemimpinan mereka.
Azam tahu banyak tentang kabar yayasan tempatnya dulu bekerja dari Hulya dan dari beberapa rekan guru yang masih mengajar di sana.
Sangat di sayangkan memang kalau sampai yayasan itu berpindah tangan. Namun apa mau di kata, Afdhal dan Zhafran terlalu angkuh mengakui kegagalan mereka.
Jadi mungkin inilah cara terakhir mereka demi menyelamatkan yayasan, yaitu dengan mengorbankan Hulya untuk menjadi istri seorang pengusaha kaya raya.
Dirinya merasa bingung, satu sisi merasa kasihan pada nasib Hulya.
Namun sisi lain dia bisa memanfaatkan situasi ini untuk bisa kembali bekerja di sana dengan bantuan Hulya.
Rencananya dia akan menemui sang ayah dan berkata kalau dia akan berusaha membujuk Hulya untuk mau memenuhi permintaan mereka dengan beberapa syarat yang akan dia berikan.
Tak peduli dengan nasib Hulya, yang pasti dirinya ingin di akui anak Afdhal dan di perlakukan sama dengan Zhafran.
Jadi kalau mereka setuju, tentu sebuah posisi harus mereka siapkan untuknya. Dia tak mau jadi pengajar lagi, dia juga ingin merasakan rasa hormat dari para bawahan.
"Kamu yang tenang. Kalau memang bisa menyelamatkan sekolah kita kenapa enggak? Coba kamu pikir baik-baik, apa kamu enggak kasihan sama Abi yang udah berjuang keras membangun sekolah itu?" bujuk Azam.
"Mas enggak tau kan, kalau Pak Fathur udah punya dua istri dan aku akan di jadikan istri ketiga. Aku enggak mau Mas!" seru Hulya kesal.
Dia merasa jika Azam sama saja seperti ayah dan kakaknya yang hanya mementingkan sekolah itu tanpa memikirkan perasaannya.
.
.
.
Tbc
__ADS_1