
Hubungan Farah dan Sarah semakin berjarak saat Sarah terbukti dengan sangat jelas menguntit Farah.
Beruntungnya waktu itu Sarah harus segera pulang ke rumahnya saat Farah belum selesai dengan acara lamarannya karena Azam tiba-tiba sakit.
Kini menjelang detik-detik pernikahan Farah dan Ragil, gadis itu memilih semakin menghindari Sarah.
Dia masih tidak mengerti mengapa Sarah melakukan hal ini padanya. Jika memang Sarah menyukai semua lelaki yang dekat dengannya rasanya tidak mungkin.
Ya, hanya Azam yang memang berakhir dengannya. Namun yang lainnya hanya seperti di usir menjauh dari kehidupan Farah.
"Kamu masih marah Far? Ini udah berlalu lama loh? Aku ngerasa asing sama kamu!" keluh Sarah tiba-tiba duduk di hadapan Farah.
"Justru aku yang bingung, perasaan aku biasa aja, kan kamu tau sendiri kerjaan kita banyak banget, kenapa kamu malah mikirin masalah yang ngga penting kaya gitu?" elak Farah yang masih sibuk dengan kertas-kertas di tangannya.
Sarah menghela napas, dia sangat membutuhkan Farah saat ini. Sudah beberapa kali Farah seperti enggan mendengar ceritanya.
"Aku mau curhat Far," rengek Sarah seperti biasa.
Farah meletakan dokumennya dengan kasar. Kentara sekali gadis yang akan segera melepaskan masa lajangnya itu sudah mulai jengah dengan rengek kan sepupunya.
"Masalah kamu hanya itu-itu aja Sar! Aku banyak kerjaan. Kamu lihat kan?" tolak Farah tegas.
Sarah yang benar-benar sedang kalut menghadapi permasalahan rumah tangganya semakin sedih saat mendengar penolakan sahabatnya.
"Aku bener-bener butuh kamu Sar, aku bingung."
Sarah terisak, membuat Farah memutar bola matanya malas.
Belum juga menjawab, tangisan Sarah malah semakin kencang.
"Mas Azam sekarang jadi pengangguran Far. Dia enggak mau kerja, maunya Cuma di yayasan milik keluarganya. Aku bingung harus kasih masukan apa lagi."
"Sekarang justru aku yang mencukupi semua kebutuhan kami. Salah enggak kalau aku mulai jengah?" jelasnya.
Sarah tanpa persetujuan segera menceritakan permasalahannya. Farah yang mendengarkan masalah sepupunya yang berputar di situ saja hanya mendengarkan sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Udah? Aku udah dengerin kan tadi? Jadi tolong kamu keluar dulu, aku mau kerja lagi," jawab Farah berupa usiran.
"Aku harus apa Farah? Apa kamu ngga punya masukan buat masalahku?" rengeknya.
"Dia pemalas! Sudah tau punya kewajiban tapi dia melalaikannya!" jawab Farah datar.
Sarah terkejut mendengar jawaban sepupunya. Dia memang wanita yang membingungkan, meski sudah tau sikap apa yang harus dia ambil mengenai sikap suaminya, tapi tetap saja meminta pendapat orang lain.
__ADS_1
Namun saat mendengar suaminya di hina dia merasa kesal.
"Kamu kok kasar gitu sih Far? Mas Azam bukan malas Farah ... Dia cuma minta haknya," jelasnya kesal.
"Lah kalau kamu udah tau jawabannya kaya gitu kenapa ngeluh? Aneh kamu!" gerutu Farah yang menyesal memberi pendapat.
"Kamu banyak berubah Far, aku ngga suka!" keluh Sarah lagi.
Farah mengabaikannya dan kembali sibuk dengan berkas-berkasnya.
Semua kerjaannya harus segera selesai, sebab minggu depan dia akan melangsungkan pernikahan.
Perasaannya mendadak diliputi kecemasan. Bagaimana kelak dia menghadapi Sarah dan keluarganya.
Kalau tau dia menikah dan tak di undang ia yakin akan terjadi masalah nantinya.
Farah menggelengkan kepala guna mengenyahkan kecemasannya. Dia berkata dalam hati, bahwa fokusnya adalah menatap masa depannya bersama dengan Ragil.
.
.
Di kantor Ragil, dia kembali menemui tamu yang lagi-lagi adalah mantan mertuanya.
"Apa kami masih tidak bisa menemui Pak Tyo secara langsung? Sebenarnya apa yang kamu katakan hingga Pak Tyo enggan menemui kami?" cecar Afdhal.
Ragil bersikap tenang dalam menghadapi keluarga mantan istrinya. Dia sendiri merasa heran mengapa manta mertuanya mengotot sekali ingin bertemu sang ayah, padahal jelas-jelas semua pekerjaan dan tanggung jawab perusahaan kini di limpahkan padanya.
"Kami sudah lama bekerja sama, tak mungkin tiba-tiba pak Tyo berubah seperti ini!" lanjut Afdhal.
"Semua keputusan dan wewenang memang sekarang saya yang pegang, meski tetap dalam pengawasan orang tua saya, karena beliau yang lebih paham dalam dunia perbisnisan seperti ini pak."
"Sudah berkali-kali utusan kami menjelaskan kalau kami tidak tertarik menambah sumbangan kami ke lembaga milik bapak. Lantas mengapa bapak masih memaksa?" balas Ragil datar.
Hulya yang ikut serta dengan sang ayah sebenarnya bingung dengan tujuan sang ayah.
Kalau sang ayah berpikir mungkin dengan membawa dirinya maka Ragil akan goyah dan kembali padanya, Hulya merasa mustahil.
Bahkan sejak kedatangan mereka tadi, tatapan lelaki itu sangat datar pada mereka.
Justru dirinyalah yang terpesona dengan perubahan Ragil yang terlihat semakin berkarisma.
Dia tak menyangka kalau dulu begitu bodoh lebih memilih melepaskan batu permata demi sebuah kerikil di pinggir jalan.
__ADS_1
Hatinya merana. Jujur saat melihat perubahan Ragil saat ini ada yang berdesir di hatinya.
Tak mungkin dia tak jatuh hati pada lelaki itu. Dia justru merutuki Tuhan karena baru di berikan perasaan cinta kepada Ragil setelah dia kehilangannya.
Hulya juga merasa malu atas sikap ayah dan kakaknya yang terlihat sekali masih bersikap angkuh, padahal mereka tengah butuh bantuan dari perusahaan Ragil.
"Maaf saya ada rapat yang harus di hadiri. Keputusan kami sudah mutlak. Kami harap kalian mengerti, jangan sampai kami pun ikut mundur seperti donatur lainnya."
Tiba-tiba Ragil mengatakan sesuatu yang membuat mereka semua tersentak tak terkecuali Hulya yang tak fokus mendengarkan perdebatan mereka. Memang sejak tadi hanya Afdhal dan Zhafran yang lebih banyak bersuara.
Parahnya lagi sejak tadi mereka seperti mengecilkan Ragil dan menyombongkan diri.
"Kamu tidak berhak memutuskan!" elak Afdhal sembari bangkit dan menunjuk-nunjuk wajah Ragil.
Ragil tersenyum getir, dia sangat tahu keadaan mertuanya yang sudah berada di ambang kehancuran.
Banyak donatur menarik diri setelah yayasan milik lelaki itu melepaskan nama besar milik keluarga mantan ibu mertuanya.
Ragil tentu tahu semua itu, bukan untuk memata-matai keluarga mantan istrinya. Yang dia lakukan karena mereka masih harus berhubungan karena urusan donasi ini.
Dia bangkit dari duduknya. Sudah cukup dia mendengarkan omong kosong mereka.
Ada pekerjaan yang lebih penting yang harus dia lakukan saat ini di banding berdebar dengan para idiot, pikir Ragil.
"Silakan bapak-bapak dan ibu keluar dari ruangan pak Ragil," usir salah satu orang kepercayaan Ragil yang juga ikut gerah mendengar ucapan-ucapan Afdhal dan Zhafran yang merendahkan atasannya.
"Kurang ajar! Kamu memang sombong Ragil! Kalau kamu marah dan kecewa karena masa lalu kamu dan Hulya. Kenapa kamu enggak jujur saja? Kami akan dengan senang hati menerimamu. Hulya sudah melahirkan, dia masih cantik jadi dia masih layak menjadi istrimu."
Ragil terkekeh mendengar ucapan percaya diri mertuanya. Ternyata tujuan mereka membawa Hulya adalah seperti ini. Mereka berharap Ragil akan kembal pada Hulya.
Sungguh pemikiran yang sangat dangkal. Jika Ragil tak punya otak mungkin lelaki itu akan dengan senang hati kembali pada Hulya.
Namun mereka lupa, dulu saja Ragil sudah enggan kembali dan mengingat Hulya, apa lagi sekarang, saat dirinya sudah menemukan tambatan hati yang sangat mengerti dirinya.
“Sayangnya saya sendiri akan menikah,” jawab Ragil membuat ketiganya tersentak.
.
.
.
Tbc
__ADS_1