Secangkir Kopi Hitam

Secangkir Kopi Hitam
Bab 54


__ADS_3

Setelah merasa sedikit tenang, Huma, menatap kosong pemandangan di depannya.


Suaminya— Afdhal sudah kembali dari rumah sakit dan seperti yang sudah bisa ia tebak, lelaki yang sudah menemaninya selama dua puluh delapan tahun itu meminta maaf padanya.


Namun apa yang di rasakan Huma tak akan mampu lelaki itu rasakan. Sakit, kecewa, marah semuanya bercampur jadi satu saat itu.


Dia menertawakan dirinya saat teringat pernah menertawakan sebuah berita di mana seorang istri tega menghabisi suami dan memotong kejantanannya.


Dulu, dia menganggap wanita itu tak berpendidikan dan bodoh dengan melakukan hal itu. Tak ada yang salah, kalau saja dia berpikiran pendek dia juga akan melakukan hal itu pada suaminya saat ini.


Suara ketukan di pintu membuyarkan lamunannya. Seorang sopir yang di tunggunya sudah tiba di bawah hotel tempatnya menginap.


"Sopirnya udah datang Bu," ucap petugas Hotel karena tak ada respons dari panggilan mereka lewat sambungan telepon hotel.


"Makasih," jawab Huma datar.


Perempuan anggun itu melangkah mendekati mobil pesanannya.


Mereka membelah jalanan menuju ke penjara tempat Ibnu di tahan.


Tujuannya hanya satu, dia tidak mau terluka sendirian. Setidaknya dia berharap Rukayah juga merasakan hal yang sama dengannya.


Ibnu sudah banyak berubah meski baru beberapa hari di dalam sana.


Saat mengetahui siapa tamunya dia cukup terkejut karena tak biasanya istri dari sahabatnya menemuinya, sendirian pula.


"Huma?" panggilnya dengan suara tercekat.


Mendengar namanya di panggil Huma membalasnya dengan senyuman miris. Lelaki itu di sana karena ulah suaminya.


Afdhal berharap Ragil akan menurutinya lagi dengan menekan keluarga itu.


Nyatanya semua sia-sia karena keserakahan dan ketamakan, kini mereka harus mengalami kehancuran yang lebih menyakitkan.


"Mas Ibnu, apa kabar?" tanyanya basa-basi.


Ibnu tersenyum hambar, harusnya tak perlu di tanyakan, wanita itu tau dirinya tak baik-baik saja.


"Ada apa?" tanya Ibnu datar.


Wanita itu sangat tahu mengapa dirinya berada di sini. Namun tetap saja dia tak terima dengan tindakan sahabatnya tanpa memberitahunya terlebih dahulu.


"Aku akan membebaskan kamu Mas dari sini," jelas Huma.


Ibnu mengangkat sebelah alisnya dan tersenyum meremehkan.


"Apa keinginan suamimu sudah tercapai?" sinisnya.


Huma tergelak sebentar sebelum menjawab pertanyaan Ibnu.


"Dia bukan sepertimu yang mau begitu saja menerima anak orang lain."


Ibnu tersentak tak mengerti maksud ucapan istri sahabatnya sekaligus besannya ini.


"Apa maksudmu?"


"Kamu, apa ngga pernah sekali pun bingung mengapa Afdhal tak mau menjodohkan Zhafran dengan Saeba? Justru lebih ingin menjodohkan Hulya dengan Ragil?"


Ibnu benar-benar tak mengerti ucapan Huma.

__ADS_1


"Jangan berbelit-belit, bukan kah udah jelas kalau Afdhal tidak ingin putrinya salah memilih suami?"


Lagi-lagi Huma tergelak, merasa kasihan pada lelaki di hadapannya ini.


"Salah, karena mereka adik kakak dari benih yang sama," jelas Huma membuat mata Ibnu terbelalak sempurna.


"A-apa maksud kamu?"


Huma menarik napasnya panjang sebelum mengatakan semua kebenarannya pada Ibnu.


Lelaki itu harus tau karena istri yang sangat di cintainya telah mencuranginya.


"Saeba anak suamiku," jawab Huma tenang.


"Kau jangan bercanda Huma!" bentaknya.


Huma tersenyum sinis, "begitulah kenyataannya, tanyakan saja pada istrimu. Dan satu hal lagi. Ragil bukan putramu juga, kalian memiliki putra bernama Azam, yang sayangnya dia juga bukan putramu," jelas Huma singkat lalu berdiri dari sana meninggalkan Ibnu dengan segala tanda tanya.


"Apa maksudmu Huma?" lirihnya menghentikan langkah Huma.


"Kamu harus mengetahuinya dari mulut istrimu sendiri."


"Lagi pula kamu bisa pulang besok. Anggaplah ini sebagai kebaikan terakhirku untuk kalian."


Setelah mengatakan kebenaran yang masih membuat Ibnu bingung, Huma meninggalkan rumah tahanan untuk kembali ke hotel.


Tiba di sana, dia ingin segera beristirahat, sayangnya kehadiran seseorang yang sedang di hindarinya justru tak terelakkan.


"Umi," panggil Afdhal lembut.


Huma hanya bisa mendengus, dia tentu saja tau percuma bersembunyi dari suaminya. Dia pasti akan mudah di ketahui olehnya.


"Maafkan Abi Umi—"


"Berulang kali kamu meminta maaf juga percuma kalau kamu ngga memberikan aku kesempatan untuk berpikir!"


Afdhal tersentak mendengar nada tinggi istrinya. Mungkin sudah di batas kesabaran sang istri dalam menghadapinya, tapi Afdhal bisa apa? Rasa takut akan kehilangan Hun membuat pikirannya buntu.


"Kami butuh Umi. Hulya butuh Umi, dia—" Afdhal tak bisa melanjutkan ucapannya.


Huma tentu saja khawatir dengan nasib putri bungsunya.


Terlebih lagi usai sidang putusan cerai itu membuat putrinya seakan tak bergairah dalam menjalani hidup.


"Kenapa dengan Hulya?"


Afdhal menatap mata sang istri dan mengikis jarak dengannya. Kelakuan Afdhal justru membuat dirinya melangkah mundur selangkah.


"Umi takut dengan abi?" ucapnya tak terima.


"Tolong berhenti! Katakan apa yang mau kamu katakan!" pinta Huma datar.


"Hulya mengurung diri di kamar terus Umi, dia depresi. Terlebih lagi kondisi anaknya," lagi-lagi Afdhal tercekat.


"Ada apa?!" pekik Huma jengah.


"Anaknya cacat Mi."


Huma mendudukkan diri di ranjang, tangisannya pecah.

__ADS_1


Memang apa yang bisa mereka harapkan, sudah pasti hubungan sedarah akan berdampak buruk pada gen cucunya.


"Pulanglah Mi, tenangkan Hulya, dia membutuhkan Umi," pinta Afdhal.


.


.


Esoknya seperti perkataan Huma, Ibnu benar-benar di bebaskan dari tuntutan.


Dia bertemu dengan Heri mantan rekan kerjanya yang telah melaporkannya.


"Aku tidak akan bisa melaporkan kamu lagi. Semoga setelah ini hidup kamu damai," ucap Heri.


Tak ada sahutan dari Ibnu, lelaki itu ingin segera pulang dan bertemu istrinya. Dia ingin tau kebenaran yang sejak kemarin membuatnya sesak.


Rukayah tersentak kaget saat melihat keberadaan suaminya.


Dia yang tengah menyiapkan makanan untuk di bawa ke penjara, diam mematung seakan tak percaya dengan pandangan matanya.


"Ayah?" lirihnya lalu menghambur memeluk suaminya.


Dia merasa bersalah karena beberapa waktu ini dia mengabaikan suaminya. Hari ini niatnya ingin menemui sang suami dengan membawa makanan kesukaannya.


Namun hal yang tak terduga terjadi, Rukayah di sentak dengan kasar oleh Ibnu hingga jatuh tersungkur.


"Ada apa ini Yah?" tanya Rukayah tak mengerti.


"Katakan, Saeba dan Ragil anak siapa!" bentak Ibnu.


Mendengar suara keributan di luar kamarnya, Saeba pun bergegas keluar kamar.


"Ayah!" pekiknya saat melihat pemandangan menyesakkan di depan sana.


Ayahnya yang marah dan ibunya yang terjatuh dengan air mata mengucur deras membasahi pipinya.


"Katakan Rukayah, mereka anak siapa!" tuntut Ibnu tak memedulikan keberadaan Saeba.


"Ayah ada apa ini?" sela Saeba lantas mendekati sang ibu.


"Tanya pada ibumu, sebenarnya kamu itu anak siapa?" sinis Ibnu pada dua wanita yang dulu sangat ia sayangi.


"Apa maksud ayah?" gagap Saeba tak mengerti.


Rukayah memang belum memberitahu kebenaran tentang status mereka, terlebih lagi dia tak tau bagaimana mengatakannya.


Setelah lama merasa semuanya baik-baik saja, Rukayah memutuskan untuk menutup rapat tentang kebenaran itu, dia akan mengatakannya suatu saat nanti, begitu pikirnya.


Sayangnya itu seperti menunggu bom waktu yang meledak dan bisa menghancurkan segalanya.


Kini kerusakan yang lebih parah telah menantinya.


"Kamu ... Bukan anakku, ayahmu adalah Afdhal!" jawab Ibnu dingin.


.


.


.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2