Secangkir Kopi Hitam

Secangkir Kopi Hitam
Bab 61


__ADS_3

Ragil enggan menelan mentah-mentah apa yang di katakan oleh Sarah. Dia harus bertanya langsung pada kekasihnya itu.


Mereka telah sepakat akan terbuka dalam hal apa pun, maka di sinilah Ragil, menunggu Farah, sang kekasih saat jam makan siang mereka.


"Hai, maaf udah nunggu lama ya?" sapa Farah tak enak hati.


Ragil yang sedari tadi sibuk dengan gawainya lantas menoleh dan membalas senyum Farah.


"Sory, aku harus cari cara menghindari Sarah yang lagi super kepo," keluh gadis itu sambil sesekali menghela napas.


"Kenapa kamu ngga jujur aja sama Sarah tentang hubungan kita?" pancing Ragil.


"Ada yang mau kamu bahas?" jawab Farah dengan pandangan menelaah.


"Sebaiknya kita makan dulu," elak Ragil karena dia sendiri tak tau bagaimana reaksi Farah ketika dia menceritakan tentang sepupunya.


"Ok," jawab Farah datar.


Keduanya makan dan terlibat pembicaraan ringan. Ragil justru lebih sering mendengarkan keluhan-keluhan gadis itu tentang pekerjaannya.


Sungguh dia tak menyangka, kalau Farah yang dia kenal diam dan dingin ternyata bisa sangat terbuka padanya sekarang.


Setelah mereka selesai makan, Ragil memberanikan diri mengatakan kegundahan hatinya.


"Kita udah janji akan saling terbuka kan? Aku bukannya ingin tau masa lalu kamu. Hanya dulu kamu pernah bilang kalau kamu penasaran kenapa mantan tunangan kamu itu pergi darimu kan?" ungkap Ragil jujur.


"Kamu tau sesuatu yang aku ngga tau?" tuduh Farah.


"Aku percaya sama kamu, hanya aku ngga mengerti aja," ujar Ragil.


"Bisa di perjelas? Kamu buat aku bingung dengan menerka-nerka maksud kamu!" balas Farah dingin.


Sungguh dia tak ingin situasi seperti ini, canggung dan terasa asing. Farah merasa kalau Ragil tau sesuatu tentang masa lalunya, hanya itu yang ada di benaknya saat ini.


"Aku harap kamu bisa mendengarkan pertanyaanku terlebih dahulu. Farah, aku ngga akan menuduh kamu, hanya sekedar bertanya aja, kalau kamu ngga nyaman, kamu ngga perlu jawab pun aku ngga masalah," jelas Ragil.


Farah enggan menjawab lagi karena dia menunggu Ragil mengatakan sesuatu yang membuatnya penasaran.


Ragil lantas memberikan ponselnya yang berisi gambar Farah di sana dengan seorang laki-laki.


Farah awalnya tak mengerti mengapa Ragil memberikan ponsel padanya.


Namun saat melihat gambar di sana matanya seketika membulat sempurna.

__ADS_1


Di sana terdapat gambar Farah yang tengah berselimut dengan bahu yang terekspos indah.


Orang pasti akan berpikir jika Farah pasti tengah tanpa busana di balik selimut itu.


Terlebih lagi ada seorang laki-laki di sebelahnya dengan tubuh bagian atasnya yang juga terbuka.


Air mata Farah luruh seketika. Dia tak menyangka jika Ragil memiliki foto palsu itu.


Foto yang memang tak bisa di lihat keasliannya dengan mata telanjang.


Dia tak tau orang yang dulu menerornya mungkin tahu hubungannya dengan Ragil.


"Kamu dapat ini dari siapa?" tanyanya.


"Sarah," jawab Ragil cepat.


Mata Farah membulat seketika mendengar nama sepupunya.


Sarah memang tau tentang foto itu darinya, hanya dia tak mengerti mengapa Sarah justru memberitahukannya pada Ragil.


Dan yang lebih mengherankannya lagi, kapan mereka bertemu.


Dia juga penasaran untuk apa Sarah menyimpan foto palsu miliknya.


"Sarah bilang tunanganmu kabur karena foto itu. Apa kamu benar-benar ngga tau?"


"Apa kamu ngga bisa menyelidiki siapa yang kirim foto ini?" meski Ragil belum bisa membuktikan kebenaran foto itu, akan tetapi saat ini dia merasa iba pada permasalahan Farah.


Baginya mudah saja saat ini melakukan apa pun. Dia punya seorang ahli IT di perusahaannya yang bisa membantunya mencari tahu tentang keaslian foto itu.


Hanya saja, dia ingin menemui Farah dulu dan mendengarkan kejujuran kekasihnya.


Untuk seseorang yang sudah berkecimpung di dunia bisnis sejak lama, Ragil hanya menebak tak mungkin Farah tak segera melakukan tindakan apa pun terkait masalahnya.


"Udah, tapi ngga ke lacak. Aku juga ngga tau apa tujuan dia ngirim foto kaya gitu. Kalau memang mau menghancurkan hubunganku dengan Alan, apa mungkin dia seseorang yang menyukai Alan?"


"Aku selalu bertanya-tanya seperti itu sepanjang waktu. Alasan apa yang membuat Alan pergi," lirihnya.


"Kamu sudah melacaknya?"


Farah mendesah, "sudah, dia seperti hilang di telan bumi dan aku udah menyerah, kalau aja suatu saat nanti aku bertemu, aku tetap ingin penjelasan darinya, cuma itu aja."


"Mau kubantu?" tawar Ragil sambil menggenggam tangan kekasihnya.

__ADS_1


Farah menggeleng, baginya cukup Ragil percaya saja padanya semua akan dia lalui dengan baik-baik saja.


"Kapan Sarah menemui kamu? Tadi?"


Ragil mengangguk, "sejujurnya aku bingung dengan tujuannya mengatakan segala masa lalu kamu. Cuma, dia bilang kalau dia khawatir sama kamu gitu aja sih."


Ragil enggan mengatakan tentang pikirannya saat ini karena dia belum menebak pasti apa tujuan Sarah ikut campur dengan hubungannya dan Farah.


"Kamu ngasih tau dia kalau kita punya hubungan?"


"Enggak, kamu tenang aja. Tapi, jujur aku kurang nyaman sama sikap dia yang berlebihan seperti ini. Maaf, bukan mau membicarakan saudarimu, hanya aja dia terlalu aneh," jujur Ragil.


"Aku tau, dia memang mengerikan. Kadang aku merasa dia tak ingin aku bahagia," jawab Farah sambil menerawang masa lalu.


"Kamu tau, sebelum akhirnya menikah dengan Sarah, dulu Azam sempat mendekatiku dulu. Karena dia memang pernah magang di kantorku. Saat itu masih mamah yang mimpin."


"Aku yang saat itu masih merasa trauma emang ngga menggubris segala perhatiannya. Dan juga aku bisa menebak sifat buruk laki-laki itu."


Mendengar ucapan Farah membuat Ragil terbesit pikiran buruk tentang Sarah.


"Apa jangan-jangan yang kirim foto itu Sarah? Agar pernikahan kamu hancur?" tanya Ragil tiba-tiba.


"Aku rasa bukan, Sarah baru aku kasih tau lama setelah masa itu," jelas Farah.


"Kenapa kamu tanya kaya gitu?" Sambungnya.


"Enggak, denger cerita kamu aja, kalau Azam yang dulu mendekati kamu berubah mendekati Sarah kan siapa tau begitu juga," sambar Ragil.


Namun hati kecilnya jadi terus berpikiran buruk tentang Sarah.


"Azam setelah gagal mendekatiku, emang berbalik mendekati Sarah, sepengetahuanku sih gitu, tapi kalau menyukai semua lelaki yang coba mendekatiku kaya enggak."


"Kadang aku bersyukur, kadang kesel juga kalau dia seperti menghalau orang-orang yang ingin dekat denganku."


Ragil mengernyitkan dahi. Dia merasa itu bukan perhatian biasa, tidak mungkin Sarah harus seposesif itu, jika tidak memiliki tujuan lain.


Terlihat jelas olehnya, bagaimana wanita itu seperti menyudutkannya lewat foto-foto Farah.


Ragil tau Sarah tak menyukainya. Namun dia bingung kenapa Sarah harus menghalangi Farah mencapai kebahagiaannya?


.


.

__ADS_1


.


Tbc


__ADS_2