Secangkir Kopi Hitam

Secangkir Kopi Hitam
Bab 94


__ADS_3

Zhafran menunggu dengan cemas jawaban orang tuanya. Dia tahu pasti kedua orang tuanya merasa heran dengan permintaannya saat ini.


Sedangkan Aryani, hanya diam saja mendengarkan ucapan sang suami. Dalam hati dia bersorak senang karena setidaknya dia bisa tinggal di rumah besar milik mertuanya.


Bahkan dalam hati dia yakin sepeninggal mertuanya kelak, rumah itu pasti akan menjadi milik suaminya.


"Memang ada apa dengan rumahmu Bang?" tanya Huma penasaran.


Zhafran tertunduk dia malu mengatakan yang sejujurnya dengan sang ibu. Bagaimana pun kelakuan Aryani, wanita itu adalah istrinya, tentu dia berusaha untuk menjaga nama baik sang istri di depan kedua orang tuanya.


"Rumah kami di sita Umi," jawab Zhafran pelan.


"Loh, bukannya kamu udah mendapatkan uang dari harta gono gini yang di berikan Zahra?" sela Afdhal yang merasa bingung.


Afdhal dan Huma menang tahu saat sang putra memilih mengambil keputusan bercerai dengan Zahra.


Tak lain dan tak bukan putra mereka tengah terlilit hutang yang cukup besar.


Sebagai orang tua mereka memang menyayangkan keputusan keduanya. Namun tetap mereka tak bisa berbuat apa-apa, sebab keputusan telah mereka ambil.


Afdhal dan Huma juga tahu sang putra mengambil keputusan itu dengan terpaksa karena harus membayar hutangnya.


Andaikan kehidupan mereka seperti dulu tentu Afdhal dan Huma tak akan pikir panjang untuk membantu sang putra. Sayang kejayaan mereka telah berakhir. Untuk mempertahankan yayasan milik mereka pun, mereka sudah tak sanggup, apalagi harus membantu Zhafran.


Aryani hanya bisa menunduk, dia malu, tentu saja. Dia berharap semoga sang suami tak membawa-bawa namanya.


"Katakanlah Bang, jelaskan sama kami. Keputusan kami tergantung bagaimana jawaban kamu," cecar Huma.


"Lagi pula kamu tau bukan jika rumah ini sudah Umi dan Abi hibahkan pada adikmu. Kamu sendiri sudah kami berikan tanah waktu itu," sambung Huma.


Sial. Ternyata rumah ini milik Hulya. Pupus dong harapan aku buat bisa memiliki rumah ini.


"Sebenarnya ada apa dengan kehidupan kalian? Kamu juga katanya mau bekerja di luar, apa sudah dapat?" tanya Afdhal.


Aryani yang mendengar sang suami akan bekerja di luar yayasan, tentu saja tersentak kaget. Dia tak mengerti mengapa sang mertua berkata seperti itu.


"Maaf Abi, apa maksudnya? Apa yayasan benar-benar udah bangkrut?" sergah Aryani tiba-tiba.


Yang dia tahu suami baru adik iparnya bersedia membantu masalah keuangan yayasan. Lalu kenapa suaminya tidak lagi menduduki kepemimpinan? Tanyanya dalam hati.


Afdhal justru mengernyit heran dengan kebingungan sang menantu.


"Apa Zhafran enggak cerita apa-apa sama kamu?"


Aryani menggeleng mendengar pertanyaan sang ayah mertua.

__ADS_1


Afdhal menghela napas lalu menatap putra pertamanya.


"Sebenarnya itu bukan wewenang abi untuk menjelaskan. Tapi sepertinya hubungan kalian tengah bermasalah, jadi abi akan menjelaskan agar tak terjadi kesalah pahaman kelak."


"Suami kamu, Zhafran, sudah enggak lagi menjabat sebagai pemimpin di yayasan kami. Kini kepemimpinan akan di emban oleh Hulya—"


"A-apa?" sela Aryani tak percaya.


Kini laki-laki yang dulu di idam-idamkannya nyatanya tak memiliki apa pun yang bisa dia banggakan. Harta tak ada jabatan pun tak ada.


Lalu apa yang bisa dia harapkan dari sang suami kini? Aryani merasa setelah menjadi istri satu-satunya Zhafran mengapa justru hidupnya semakin sulit.


"Lalu papah akan menghidupi kami dengan apa?" cicit Aryani.


"Kenapa papa enggak pernah cerita? Sebenarnya papah anggap aku apa?" keluh Aryani lalu tak lama menantu kedua Afdhal dan Huma itu terisak.


“Tenangkan dirimu Aryani. Kenapa kamu kelihatan kacau?” tanya Huma tak mengerti.


Perempuan yang melahirkan Zhafran itu memang tak begitu menyukai Aryani seperti menantu pertamanya. Namun dia tak pernah menunjukkannya, karena semua memang sudah terjadi dan dia berusaha menerimanya.


Entah sedang terlibat masalah apa sang putra dengan istrinya, yang pasti Huma tak bisa ikut masuk terlalu jauh.


"Aku mau pulang ke rumah mamah dulu pah," pinta Aryani.


Zhafran menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan.


"Baiklah Umi, Abi, Zhafran antar Aryani pulang dulu ke rumah mamah," ucap Zhafran pamit undur diri.


Huma dan Afdhal hanya mengangguk melepaskan keduanya pergi dari rumah mereka.


Sepeninggal keduanya, Huma mendadak khawatir dengan keadaan rumah tangga putranya.


"Sebenarnya ada apa sama Zhafran ya Bi? Dia kelihatan kacau sekali. Apa jangan-jangan uang hasil gono gini mereka udah abis? Tapi buat apa?"


"Sudah mi, biarkan abang menyelesaikan masalah mereka sendiri," tutup Afdhal lalu mengajak sang istri beristirahat.


.


.


Di dalam mobil, Aryani sudah tak dapat membendung kekesalannya. Wajahnya sangat masam, sedangkan Zhafran memilih diam tak menggubris wajah sang istri yang terlihat menahan kesal.


"Orang tua kamu keterlaluan!" ucap Aryani tiba-tiba.


Zhafran mengernyit heran, dia pikir sang istri akan marah padanya mengenai posisinya di yayasan yang sudah di gantikan oleh Hulya.

__ADS_1


"Apa maksud kamu?" jawab Zhafran datar.


"Rumah punya Hulya, lalu urusan yayasan pun di serahkan ke Hulya! Lalu kamu sebagai anak laki-laki dapat apa?!" cecarnya.


"Harusnya kamu protes dong! Kenapa diam aja terus ngalah gitu aja sama adik kamu itu!"


"Sekarang papah mau kasih makan kami pakai apa? Tadi apa kata abi kamu? Nyari kerja? Hah yang bener aja sih, umur kaya kamu memang mau kerja apa? Pengalaman juga enggak ada!" ejek Aryani yang membuat Zhafran mengepalkan tangan.


Suami Aryani itu lantas menepikan mobilnya tiba-tiba hingga membuat Aryani terkejut bukan main.


"Kamu apa-apaan sih pah! Kalau mau bunuh diri jangan ngajak-ngajak dong!" sungut Aryani sambil mengusap dadanya.


Teriakan wanita itu sampai membuat anak mereka bangun dari tidurnya dan menangis.


"Tuh kan papah sih, Davin jadi bangun kan!"


"Cukup! Jaga batasanmu Aryani. Apa maksud kamu mengatakan hal buruk tentang umi dan abi! Semua yang sudah abi dan umi kasih buat aku nyatanya kamu yang habiskan! Semuanya Aryani! Apa kamu enggak sadar hah!"


Aryani ketakutan, dia tak pernah melihat snag suami marah besar seperti itu. Zhafran benar-benar di batas ambang kesabarannya.


"Sekarang bahkan kamu sudah berani menghinaku. Kamu harus tau, dulu Zahra hidup bersamaku dari bawah, dari kami enggak punya apa-apa! Dia sabar mendampingiku, enggak ada sekali pun dia menghinaku atau mengecilkan usahaku. Meski anak dari orang berada dia tau adab memperlakukan suami!"


"Jangan sama kan aku sama mbak Zahra! Aku bukan dia!" balas Aryani berteriak.


Sungguh dia tak terima dirinya di banding-bandingkan dengan mantan kakak madunya itu.


Hatinya sangat sakit, dulu dia selalu tutup mata dan telinga kala banyak orang mencibirnya dan membandingkannya dengan Zahra.


Namun dulu sikap sang suami selalu menenangkannya dan mengatakan bahwa dia juga memiliki kelebihan sendiri.


Kini sang suami sama seperti orang-orang di luaran sana yang hanya memandangnya sebelah mata.


"Kamu memang bukan dia. Kalian jauh berbeda. Andai waktu dapat di putar ulang, aku juga enggak akan melepaskan wanita sebaik Zahra," ucap Zhafran datar.


Tangisan putra mereka semakin kencang. Aryani juga semakin terisak saat sang suami menyesali keputusannya melepaskan istri pertamanya.


Dalam hati Aryani bertanya apa menikah dengannya juga sebuah penyesalan bagi Zhafran?


Dia merasa tak di inginkan, bahkan perlakuan Zhafran pada putranya dan anak-anak dari Zahra di rasa Aryani sangat berbeda.


.


.


.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2