Secangkir Kopi Hitam

Secangkir Kopi Hitam
Bab 48


__ADS_3

Hamidah segera menghubungi Maya terkait permasalahan Azam.


Dia tak tau jika Azam akan terlibat dengan Ragil, sebab saat kepulangannya, lelaki yang sudah dia anggap putranya itu memintanya untuk datang menemui seseorang.


Azam mengelak mengatakan permasalahannya, dia hanya berkata agar dirinya datang karena dia sedang terdesak.


Hamidah pun mengiyakan permintaan Azam tanpa banyak bertanya.


Dia juga lantas meminta sang kakak ipar turut serta mumpung keduanya sedang berada di negara ini.


Hamidah sudah menceritakan semua yang dia ketahui. Saat itu tamparan keras dan makian harus di terimanya.


Dia menerimanya, bahkan Maya yang berkata akan memenjarakannya pun Hamidah sanggupi, asalkan dia mendapatkan maaf dari kakak iparnya itu.


"Kamu memang iblis! Teganya kamu memisahkan aku dan putraku!" maki Maya.


"Lalu bagaimana keadaan anakku?!" Maya terisak, dia jatuh terduduk mendengar kebenaran dari nasib putranya.


"Dia baik-baik saja Mbak, tumbuh dengan wajah yang sangat rupawan, mungkin kehidupannya juga baik," jawab Hamidah lirih.


"Aku akan melaporkanmu ke kantor polisi saat ini juga!" ancam Maya.


"Tunggu Mbak, mbak boleh melaporkan saya, tapi tunggu sampai aku mempertemukan mbak dengan mereka. Saya mohon mbak," pinta Hamidah.


Maya mengalah meski dia sangat kesal dengan Hamidah. Dua puluh lima tahun dia di pisahkan dengan anak kandungnya hanya karena rasa cemburu tak masuk akal Hamidah.


Hamidah lantas memberikan foto terakhir Ragil saat di pesta pernikahan Azam.


"Dia sangat mirip dengan Mas Tyo," ucap Maya haru.


Hamidah pun menceritakan masalah yang tengah di hadapi Azam. Dia meminta waktu pada Maya untuk menunggu satu persatu masalah yang akan dia selesaikan.


Hamidah sengaja tidak memberitahu keberadaan Maya pada Azam, sebab selama ini Azam selalu menuntut penjelasan mengapa orang tuanya tak pernah peduli dengannya.


Kebohongan demi kebohongan selalu Hamidah katakan demi membungkam Azam.


Sebenarnya dia merasa tak tega, tapi dia tak bisa berbuat apa-apa. Dengan Maya masih mau membiayai Azam baginya sudah cukup.


Kini dia di hadapkan lagi dengan kenyataan jika putra yang selama ini dia rawat bisa berlaku menjijikkan dengan berani selingkuh.


Dia juga tak menyangka jika dari hubungan terlarang itu juga sudah tumbuh benih di rahim wanita yang sayangnya adalah istri Ragil.


Dirinya benar-benar malu pada sang kakak. Dulu dia sudah memberikan kehidupan buruk pada keponakannya dengan menukar mereka.


Kini lelaki yang dia rawat menghancurkan pernikahan keponakannya. Entah mau di taruh di mana lagi mukanya pada Maya.


.


.


Ruangan itu hening seketika kala mendengar penjelasan Hamidah.


Ragil seakan tak percaya jika orang tua yang dia pikir adalah orang tuanya ternyata bukan, meski dia pernah sempat ingin mempertanyakannya setelah mendengar ucapan Faisal kala itu.

__ADS_1


Rukayah menangis tergugu, "Ja-jadi Azam ini putraku?" lirihnya.


Hamidah mengangguk, "Maafkan aku yang tak bisa mendidiknya menjadi lelaki baik," jawab Hamidah dengan sendu.


Maya memilih kembali memeluk Ragil, kini dia hanya memiliki satu orang putra dan dia bersyukur karena anaknya tumbuh dengan baik.


Kakak Ragil tak bisa selamat dalam melawan penyakitnya. Bahkan putra pertamanya itu telah meninggal sejak masih kecil.


"Maafkan mamah nak," lirih Maya pada Ragil.


"Ya sudah kita kembali ke pembahasan awal," sela Rizal yang ikut terenyuh dengan kisah hidup mereka yang sangat rumit menurutnya.


Tak menyangka jika dia bisa mengalami kejadian ini di dunia nyata, batin Rizal.


"Jadi apa keputusan kalian? Setelah pasangan kalian memilih mundur? Mau tak mau kalian harus menikah sebab ada anak yang harus di beri kejelasan," jelas Rizal.


Saat itulah Rukayah dan Afdhal tercekat, bahkan Afdhal seketika ambruk karena tak bisa menerima kenyataan pahit hidupnya.


"Abi!" pekik istri dan anak-anak Afdhal bersamaan.


"Mereka tidak bisa menikah," lirih Rukayah pada akhirnya.


Dia tak tau jika dosa yang telah dia perbuat dulu akan di balas sedemikian kejam.


"Kenapa Bu? Tolong restui kami!" pinta Hulya pada Rukayah.


Dia tak peduli kalau pun ternyata Azam adalah anak Rukayah, bukankah ini lebih baik? Dia tetap bisa memenuhi janji sang ayah dengan sahabatnya, yang menginginkan mereka berbesanan.


Rukayah menatap Hulya sengit, "kamu tidak bisa menikahi kakakmu sendiri!" jelas Rukayah membuat suasana kembali hening seketika.


Dia memang pernah curiga jika suaminya bermain hati dengan istri sahabatnya. Namun saat itu Afdhal mampu membuktikan jika itu hanya sebatas ketakutannya saja.


Kini, saat mendengar ucapan Rukayah dengan mengatakan kalau Azam adalah saudara putrinya, secara tidak langsung membuka tabir misteri yang selama ini sudah mereka tutup dengan rapat.


"Seperti yang kamu pikirkan, Azam adalah putraku dengan suamimu," jelas Rukayah tanpa beban.


Umi menangis histeris, dia lalu memukul sang suami yang juga sedang dalam keadaan tak berdaya.


Afdhal hanya bisa meneteskan air mata saat mendengar ucapan Rukayah pada istrinya.


"Ya ampun ada apa dengan keluarga ini pak Rizal?" bisik Abu.


Rizal hanya bisa menggeleng dan bungkam, masalah mereka semakin bertambah rumit.


Farah dan Sarah yang mendengar kisah itu bahkan sampai lupa dengan kenyataan menyakitkan yang telah di alaminya.


"Enggak! Enggak mungkin! Aku bukan adik Mas Azam! Kakakku hanya Mas Zhafran,” ucapnya tak terima. Dia lantas hendak menerjang Rukayah untuk menghajar wanita paruh baya itu.


Zhafran bahkan seperti kehilangan taringnya saat mendengar kenyataan kelam kehidupan keluarganya.


Ayahnya berselingkuh dengan istri sahabatnya dan mereka menukar putranya agar bisa hidup enak dengan menjadi anak orang lain, membuat Azam hidup tak mengenal identitasnya.


Kini kedua bersaudara itu saling jatuh cinta dan berhubungan layaknya suami istri. Balasan yang sangat kejam telah mereka terima atas segala perbuatan buruk yang telah mereka lakukan.

__ADS_1


Bukan karena Tuhan murka, tapi karena kelakuan mereka sendiri. Mereka bahkan tak pernah membayangkan akibat perbuatannya yang menukar Azam dengan Ragil dulu.


Hingga akhirnya kedua saudara saling memiliki ketertarikan yang tak seharusnya terjadi.


Rumah Ragil dan Hulya di penuhi dengan tangisan dan teriakan oleh keluarga Afdhal.


Mereka tak menyangka jika hari ini mereka akan di telanja*ngi sedemikian rupa oleh kenyataan.


Tiba-tiba Afdhal tak sadarkan diri, Rizal, Abu dan juga Ragil bergegas mendekati lelaki paruh baya itu yang menjadi penyebab awal terjadinya permasalahan ini.


Bukan dari perselingkuhan Azam dan Hulya, melainkan perselingkuhannya dengan Rukayahlah yang membuat semua ini terjadi.


Zhafran memilih bergeming tak peduli. Bahkan dia tak tergerak saat orang lain justru sibuk menolong ayahnya.


"Ragil, ikut pulang dengan mamah ya?" ajak Maya.


Dia ingin menghabiskan waktu dengan putranya yang sudah terpisah selama dua puluh lima tahun.


"Tapi kita harus menolong Abi dulu Bu," jawab Ragil kikuk.


Sungguh dia belum terbiasa dengan kenyataan yang ada saat ini.


Farah sendiri memilih membawa Sarah pulang karena merasa tubuh sepupunya itu semakin lemah.


"Sebaiknya kami pulang Mas Ragil, saya harus kembali membawa Sarah untuk di rawat," jelas Farah.


"Iya Bu Farah, terima kasih, maaf saya tidak bisa mengantar," jawab Ragil tak enak hati.


Maya memperhatikan sikap Ragil, sungguh dia sangat bersyukur ternyata putranya tumbuh dengan sifat yang baik.


Bahkan dia yang di khianati oleh istrinya masih bisa bersikap tenang. Padahal hati Maya terasa sakit saat tau jika anaknya di sakiti oleh anak yang dulu pernah dia rawat.


Ingin sekali dia menghajar Azam saat ini, tapi dia memilih tetap diam, sebab dia sudah mempunyai rencana sendiri untuk menghancurkan mereka semua.


"Mamah ikut kamu. Kamu tau kan mereka bukan tanggung jawab kamu. Harusnya kamu menemui papah kamu Gil," keluh Maya.


"Iya Mah, setelah ini ya,” jawab Ragil singkat.


Azam yang melihat kekacauan ini lantas menatap penuh murka kepada Hamidah dan Maya. Dia merasa menjadi korban atas kelakuan mereka.


"Mamah!" panggil Azam keras.


Maya berhenti tapi tak menoleh, dia masih memegang lengan sang putra dan tak mau melepaskannya.


Azam yang merasa di acuhkan lantas mendekati keduanya.


"Mamah ngga bisa buang aku begitu aja! Aku ini anak mamah!" pekiknya tak terima.


"Aku sudah memberikanmu pada Hamidah sejak dulu. Dialah yang harusnya kamu panggil Mamah dan kamu mintai pertanggung jawaban, balas Maya dingin.


.


.

__ADS_1


.


Tbc


__ADS_2