
Farah hanya mendengus mendengar keluhan Sarah. Baginya hal seperti ini sudah biasa, Sarah akan berkata menyerah sesaat lalu akan kembali luluh kala Azam mendatanginya.
Enggan melanjutkan pembicaraan, Farah memilih berlalu dari hadapan Sarah, dia ingin istirahat karena esok ada pekerjaan besar sudah menantinya.
"Kamu mau ke mana Far?" keluh Sarah karena merasa di abaikan.
"Mandi terus tidur, mending kamu pulang juga, besok kita harus nyiapin tenaga buat proyek kita!" pinta Farah tanpa menoleh.
"Ishh, aku kan lagi curhat Far?" gerutu Sarah sambil terus mengikuti Farah.
Karena kesal, Farah lantas berbalik dan menatap tajam sepupunya itu.
Dia melipat kedua tangannya di dada. "Mau aku teleponin Azam? Aku yakin nanti juga kamu luluh lagi. Sory Sar, bosen tau ngga, denger cerita kamu yang itu-itu aja! Kalau kamu lelah sama suami kamu kan dari dulu aku udah bilang cuma dua pilihannya—"
"Iya, pisah atau bersabar!" potong Sarah jengah.
"Nah itu kamu tau, kamu sendiri juga bosen kan denger jawaban yang kaya gitu terus? Tapi mau gimana lagi? Kamu pikir aku harus ngasih solusi apa hah?" bentak Farah lalu berbalik dan meninggalkan Sarah lagi.
Sarah diam bergeming, dia merasa kini semakin di abaikan oleh sepupunya semenjak memutuskan kembali pada Azam.
Batin wanita itu tetap merasa tak bersalah, dia hanya ingin cerita dan di dengarkan, dia merasa Farah berubah karena sesuatu.
"Tante!" panggil Farah pada Tania saat melihat wanita paruh baya itu tengah berjalan menuju dapur.
"Ada apa Sar?" tanya Tania bingung.
"Farah lagi deket sama seseorang ya? Apa sama cowok tadi si Ragil?" ucapnya ingin tahu.
Tania berusaha tenang menghadapi keponakannya. Sudah sejak dulu, dia merass kalau halangan terbesar Farah untuk bisa bangkit dari ke terpurukkannya adalah Sarah.
Dia merasa kalau Sarah terlalu mengintimidasi para lelaki yang ingin mendekati putrinya, membuat Farah tak pernah bisa membuka hati pada lelaki lain, entah apa tujuannya.
Kini dia bersyukur karena sepertinya Farah mau mendengarkannya untuk tak terlalu terbuka pada Sarah dan mencoba mengenal Ragil.
Bahkan Tania sudah menebak jika putrinya itu sudah memiliki perasaan pada Ragil saat mereka mempertemukan keduanya.
"Tante kok bengong sih!" keluh Sarah yang tak sabar.
"Kamu ini ada-ada aja Sar! Bukannya kamu yang paling dekat dengan Farah? Sebaiknya kamu pulang, jujur tante mulai jengah kalau kamu sama suami kamu bertengkar di sini terus!" usir Tania.
Dia tak peduli meski nanti sang kakak akan menegurnya karena Sarah pasti akan mengadu pada kakak dan iparnya tentang ucapannya barusan.
"Tante ngusir aku?" nah kan mata Sarah udah mulai berkaca-kaca.
__ADS_1
Tania mendesah, "kamu udah dewasa dan juga seorang istri, harusnya kamu udah bisa menyelesaikan masalah rumah tangga kamu sendiri. Jangan bergantung pada kami terus Sar, karena ngga selamanya, tante dan Farah akan selalu ada untukmu."
"Bisa jadi, suatu saat Farah menikah dan ikut suaminya kamu bisa apa? Kalau terus-terusan bergantung sama kami?" saran Tania yang justru di anggap buruk oleh Farah.
Dia merasa kalau adik dari ayahnya ini pasti juga sudah bosan mendengar keluhan-keluhannya.
Sarah tetap merasa benar karena dia merasa butuh perlindungan di sana karena hanya mereka keluarga yang di milikinya.
Lagi pula meski sering bertengkar dan berbaikan dengan Azam di kediaman orang tua Farah, dia merasa wajar, sebab dia hanya takut kalau terjadi sesuatu dengannya.
Jadi dia merasa kesal karena ternyata perbuatannya membuat sang tante dan sepupunya tak nyaman.
"Tante tau kan, kalau aku takut mas Azam melakukan kekerasan kala kita bertengkar, makanya aku memilih menyelesaikan masalah kami di sini!" terang Sarah.
"Kamu hanya mikirin diri kamu sendiri, bagaimana dengan kami yang merasa risi Sar? Tiap kali harus mendengar keributan kalian, lalu tak lama kalian udah kembali bermesraan? Apa kamu ngga punya rasa malu?" balas Tania sengit.
"Tante udah ngga sayang aku lagi?"
Tania menghela napas lalu memegang kedua bahu keponakannya.
"Tante sayang sama kamu makanya tante nasihati kamu kan? Pulanglah, bener kata Farah, pilihan kamu cuma dua, pisah atau bersabar."
Setelah mengatakan hal itu Tania meninggalkan Sarah seorang diri.
Padahal semuanya karena kelakuannya sendiri tapi Sarah justru menyalahkan orang lain.
Dia memutuskan pulang karena tak ada yang mau mendengar ceritanya. Di akan menelepon ayah dan ibunya agar mau menegur sang tante dan sepupunya nanti.
Sesampainya di rumah, lagi-lagi dia melihat pemandangan yang sama, di mana Azam tengah duduk bersantai sambil memainkan ponselnya.
Suaminya itu bahkan terlihat tak mengkhawatirkannya saat dia pergi begitu saja usai mereka bertengkar.
"Mas!" pekik Sarah saat melihat Azam yang masih saja sibuk dengan ponselnya.
Azam lalu mendongak dan menatap istrinya bingung.
"Kenapa?" tanyanya heran.
"Kamu mau kaya gini terus? Kamu tau kita baru aja bertengkar, kenapa kamu ngga cari aku?" keluhnya.
Azam meletakan ponselnya di meja lalu bangkit menghadap sang istri.
"Kamu ngga malu kalau kita harus terus menerus bertengkar di rumah tante kamu itu?" sanggahnya.
__ADS_1
Sarah mencebik kesal karena di ingatkan lagi dengan keluhan sang tante tadi.
"Aku kan cuma jaga-jaga takut kamu pukul aku," elaknya.
Azam menghela napas, kalau saja dia tak bergantung pada harta Sarah, sungguh dia ingin melepaskan wanita itu saja.
Sayangnya, dia belum menemukan target baru yang bisa menopang segala kebutuhan hidupnya, jadi dia memutuskan untuk bersabar menghadapi Sarah dengan segala kemanjaannya.
"Apa pernah selama ini aku melakukan kekerasan Sar?" tuduhnya.
"Memang enggak, tapi siapa tau kan? Nyatanya selingkuh aja kamu bisa!" jawab Sarah.
"Itu masa lalu Sar, aku khilaf, bukannya aku udah bilang berkali-kali kalau aku akan berubah?"
"Itu karena Hulya adik kamu, aku yakin kalau dia bukan siapa-siapa kamu, kamu pasti lebih memilih dia dan meninggalkan aku kan?" tuduh Sarah.
Azam tak menampik saat berhubungan dengan Hulya dia merasa seperti suami yang sesungguhnya.
Hulya selalu melayaninya dengan baik, entah di dapur atau pun di kasur, Hulya bisa merawatnya, berbeda dengan Sarah yang lebih mengandalkan asisten rumah tangga dengan alasan sibuk dengan pekerjaannya.
Ah, mengingat masa lalu, membuat Azam merindukan selingkuhan sekaligus adiknya itu.
Namun segera dia tepis, sebab mereka tak mungkin bersama dan bayangannya itu hanya akan menyakiti hatinya saja.
"Mau bagaimana pun kamu ngeluh, kenyataannya kami emang ngga bisa bersama, Sarah. Bisa kan kamu ngga usah meributkan itu lagi?" pinta Azam sambil mendekati sang istri.
Dia lelah bertengkar dengan Sarah, segala tujuannya belum terpenuhi dan bertengkar dengan Sarah hanya membuatnya berbagai rencana yang sudah di susun di otaknya buyar.
Azam lantas memeluk Sarah dan benar saja, istrinya itu pasti akan langsung menangis.
"Kamu tau kan aku ngga suka kalau kamu berkomunikasi lagi dengan Hulya, kenapa kamu ngga mau dengerin aku sih!" gerutunya sambil memukul-mukul dada sang suami.
"Aku minta maaf, mau bagaimana lagi, dia hamil anak aku Sar," jelas Azam.
Keduanya bertengkar gara-gara Sarah melihat pesan Hulya yang meminta sang suami untuk ikut menemaninya memeriksakan kandungan.
Meski tau mereka tak mungkin bersama, tapi rasa cemburu itu tetap saja ada. Sarah ingin keduanya benar-benar terputus komunikasinya seperti kesepakatan mereka dulu, tapi sepertinya sangat sulit.
.
.
.
__ADS_1
Tbc