
Faisal memilih masuk ke kamarnya. Enggan berlarut-larut aku memilih tak mencari tahu masalah mereka saat ini.
Sikap Faisal seperti cerminan diriku saat ini. Di mana aku merasa tertekan dengan kehidupan rumah tangga yang terasa semakin hambar dan tak tentu arah.
"Abang sendiri?" tanya Saeba setelah tenang.
"Iya. Ba, cobalah untuk mengerti keadaan suamimu, kalau memang dia belum mampu menuruti keinginanmu sekarang, tetap hargai dan hormati dia," nasihatku.
Dia hanya menunduk lalu kembali mengusap air matanya.
"Kamu jangan hanya menyalahkan Saeba Gil! Kamu ngga tau apa-apa!" sentak ibu tak terima.
Astaga, aku hanya ingin menasihati adikku agar selalu menghormati suaminya. Aku takut jika mereka seperti ini terus, Faisal bisa khilaf suatu saat.
Karena mereka tak tau kalau lelaki itu bahkan pernah mengeluh pada keluarganya jika dia ingin menyerah.
Tak mungkin aku mengatakan itu pada Saeba dan ibu, karena aku tak ingin terjadi pertengkaran hebat di rumah tangga adikku sendiri.
"Sebagai seorang suami memang sudah sepantasnya membahagiakan istri!" sambung ibu.
Aku jadi segan menanyakan sikap ibu tentang Bu Hamidah tadi, karena terlihat saat ini dia lebih memilih menangkan dan membela Saeba.
"Abang hanya menasihatinya Bu, bukankah itu wajar?" belaku.
"Adikmu itu Saeba bukan Faisal! Tapi kelihatannya kamu lebih membela iparmu itu!" sarkas ibu.
"Ya Allah Bu, mana ada dari tadi aku membela Faisal. Ragil menengahi keduanya Bu," jawabku yang tak mengerti lagi dengan pikiran ibu.
"Sudahlah, kalian lelaki sama saja!" ketus ibu.
Karena merasa sudah cukup lama di rumah ibu dan ayah juga belum kembali hingga sore tiba, aku memilih pulang dari pada harus ikut-ikutan di salahkan oleh ibu.
Kuketuk kamar Saeba di mana ada Faisal di sana. Aku ingin berpamitan dan memberikan dukungan untuk iparku.
"Sal, Abang pulang ya?" ucapku setelah mengetuk pintu.
Pintu kamar Saeba terbuka, Faisal lalu menyalamiku, "hati-hati Bang," ucapnya.
"Kamu yang sabar ya Sal," ucapku menyemangatinya.
Dia hanya mengangguk sebagai jawaban. Aku lalu menyalami ibu dan Saeba sebelum akhirnya undur diri dari sana.
.
.
Pulang ke rumah, aku di hadapkan pada wajah Hulya yang tampak pucat.
Pagi tadi saat aku berpamitan padanya memang dia sudah sedikit pucat, saat aku tanya, dia berkata tidak apa-apa hanya karena kelelahan dan kurang tidur.
Setelah ujian murid-muridnya dua bulan lalu, kini Hulya di sibukkan dengan persiapan ujian tengah semester menjelang liburan akhir tahun.
Dia juga kerap pulang malam, meski masih dalam tahap wajar, dia menjelaskan jika dirinya sibuk di sekolah mencari materi.
Alibinya di perkuat dengan ucapan Mas Zhafran yang mengatakan jika aku harus memaklumi keadaan Hulya karena akan sering pulang terlambat.
Aku pun tak mempermasalahkannya, meski hubungan kami hambar, dia masih istriku, tanggung jawabku, setidaknya aku perlu tau tentang dirinya.
__ADS_1
"Kamu udah makan Ya?" tanyaku karena kulihat tak ada apa pun di meja makan.
"Belum Mas," jawabnya lemah.
"Ya udah aku mandi dulu, nanti kita pesan makanan," ujarku lalu meninggalkannya.
Dia pun memilih kembali masuk dalam kamarnya. Usai membersihkan diri, kuketuk kamarnya untuk menanyakan makanan apa yang dia inginkan.
"Aku mau soto ayam aja mas, kayaknya seger," ujarnya semangat.
Kami lantas duduk di ruang tamu sambil menunggu pesanan kami datang.
Tak lama makanan yang kami lesan datang dan kini kami menuju meja makan.
"Gimana kabar ibu dan yang lainnya mas?" tanya Hulya memecahkan keheningan di antara kami.
"Alhamdulillah baik, mereka menanyakanmu, kangen katanya," jawabku.
Belum sempat dia menjawab lagi, tiba-tiba Hulya bangkit dan membekap mulutnya.
Dia berlari menuju wastafel dapur lalu memuntahkan isi perutnya.
Aku yang panik pun segera bangkit dan mendekat ke arahnya. Kupijat tengkuknya, agar dia bisa mengeluarkan semuanya. Tak ada rasa jijik saat melihat Hulya memuntahkan makanannya lagi, aku hanya cemas dengan keadaannya.
"Kamu masuk angin mungkin Ya," ucapku setelah dia selesai.
"Mungkin Mas, badanku emang enggak enak banget, pusing," jelasnya.
Wajahnya terlihat semakin pucat, kusentuh keningnya ternyata memang agak sedikit hangat.
Dia mengangguk dan berlalu meninggalkanku. Bagaimana pun dia masih istriku, tentu aku tetap harus memperhatikannya.
Ini juga sebagai bentuk kemanusiaan, tak mungkin aku tutup mata melihat Hulya sakit seperti ini.
Setelah selesai membuat teh, aku segera masuk ke kamarnya. Kamar yang selama dua bulan ini tak pernah aku injak.
Aku cukup terkejut melihat kamar Hulya tampak berantakan, banyak kertas-kertas berserakan di lantai.
Ada juga laptop di dekatnya, mungkin dia memang sesibuk itu menyiapkan ujian anak didiknya.
"Harusnya kamu tetap memikirkan kesehatanmu Ya, kalau udah sakit begini, nanti kamu sendiri yang repot," ujarku.
"Kalau Mas merasa di repotkan, Mas ngga perlu susah-susah melakukan ini. Toh aku ngga minta," balasnya.
Astaga, aku bukannya merasa di repotkan, justru aku merasa kasihan padanya. Namun begitulah Hulya yang kukenal sekarang, apa pun yang kulakukan tak ada baik-baiknya di matanya.
Enggan berdebat aku memilih segera berlalu dari kamarnya. Aku pun lelah ingin istirahat.
"Ya sudah kamu istirahat aja Ya, Aku mau ke kamar juga," ucapku lalu bangkit berdiri.
Dia hanya mengangguk sambil memangku teh dan bersandar pada kepala ranjang.
.
.
Esoknya, wajahnya makin terlihat pucat. Namun dia seperti tetap memaksa ingin terus mengajar, terlihat dari seragam yang sudah melekat pada tubuhnya.
__ADS_1
"Kamu mau ngajar Ya? Yakin? Wajah kamu tambah pucat loh Ya," jelasku.
Aku duduk di meja makan sambil mengunyah roti dan secangkir kopi. Kini aku sering sarapan seorang diri, terlebih lagi akhir-akhir ini Hulya sangat sibuk hingga harus berangkat pagi-pagi.
"Mending kamu izin aja Ya, dari pada nanti makin parah," saranku.
"Ngga bisa Mas, ada rapat sama Diknas hari ini," jawabnya.
Namun baru saja ia berbalik hendak berlalu menuju pintu depan dengan sempoyongan, tiba-tiba dia jatuh tak sadarkan diri.
Aku terkejut bukan main melihat keadaan Hulya. Tanpa pikir panjang aku mengangkat tubuhnya ke atas sofa dan mencoba membangunkannya.
Dia tak bereaksi, akhirnya aku menyiapkan mobil untuk membawa Hulya ke klinik terdekat.
Sialnya, klinik dekat perumahan kami belum buka, jadi terpaksa aku membawa Hulya ke rumah sakit.
Setelah sampai di ruang unit gawat darurat, aku menjelaskan kronologi yang terjadi pada seorang Dokter jaga di sana.
"Mungkin dia kelelahan Dok," ujarku.
"Kita periksa dulu ya Pak, silakan bapak tunggu di sana, kami akan mulai pemeriksaan," jelas sang Dokter.
Kulihat beberapa orang masuk ke tempat Hulya, aku semakin panik karena Dokter tadi menelepon lalu kembali lagi ke tempat Hulya.
Ruang gawat darurat yang hanya di batasi oleh tira-tirai panjang membuatku mudah melihat kondisi Hulya dari sini.
Karena saat seseorang keluar pasti akan tersibak sedikit dan terlihat Hulya masih dalam pingsannya.
Dokter tadi lalu memanggil namaku, aku lantas mendekat.
"Istri Bapak dehidrasi berat, jadi kita terpaksa menyarankan untuk rawat inap," jelasnya.
"Lakukan yang terbaik Dok," jawabku.
Lalu beliau memanggil seorang perawat dan memintaku untuk melakukan administrasi rawat inap.
Tak lupa Dokter juga meminta tanda tanganku untuk persetujuan pengambilan darah untuk di lakukan tes laboratorium.
Beberapa perawat datang untuk memasangkan infusan pada Hulya. Setelahnya aku kembali duduk di sebelahnya.
Dua jam menunggu, seorang perawat mendekat ke arahku sambil membawa kertas di tangannya.
Untungnya Hulya sudah siuman, tapi dia tetap memejamkan mata karena masih merasa pusing, mungkin kini dia sedang tertidur, terlihat dari tarikan napasnya yang teratur.
"Ini hasil labnya Bu Hulya ya Pak, jadi karena Bu Hulya di nyatakan hamil, maka Bapak bisa mengisi kolom ini untuk memilih Dokter kandungan mana yang akan merawat Bu Hulya lebih lanjut," jelasnya.
Tanah yang kupijak seakan bergoyang kala perawat tadi mengatakan kalau istriku hamil. Bagaimana bisa? Kami sudah tidak berhubungan lebih dari dua bulan.
Tapi mungkin saja, karena aku pernah melihat bungkusan pil kontrasepsi Hulya terjatuh, apa mungkin dia tidak meminumnya saat terakhir kali kami melakukannya?
.
.
.
Next
__ADS_1