
Aku mengabaikan panggilan Mas Zhafran, tetap kulangkahkan kaki menuju ke parkiran.
Aku mau pulang. Pergi dari tempat mengerikan ini.
"Tunggu Gil!" dia berhasil menyusulku dan menghentikan langkahku.
"Ada apa lagi Mas?"
"Kita harus bicara dulu Gil!" ucapnya.
Di sinilah kami memilih berbicara. Di dalam mobilku, karena sejujurnya aku malas pergi lagi bersama dengannya.
"Maafkan atas ulah Hulya Gil," ucap Mas Zhafran.
"Mas Zhafran tak perlu meminta maaf atas ulah Hulya. Aku tak menyalahkan sepenuhnya kesalahan dia, ini juga ada andil diriku Mas," jawabku.
Setelah tenang dan berpikir, aku yakin semua ini juga karena kesalahanku yang tak pernah bisa tegas dengan sikap Hulya, membuat istriku jadi bebas melakukan apa pun semaunya sendiri.
"Mas malu sebenarnya sama kamu Gil, tapi mau gimana lagi, tolong jangan tinggalkan Hulya," pinta Mas Zhafran tak masuk akal.
"Mas, anak itu butuh ayah kandungnya, kenapa ngga minta mereka saja untuk menikah?" tanyaku tak mengerti.
Harusnya Mas Zhafran sudah mengetahui siapa laki-laki yang menghamili Hulya bukan?
"Hulya enggak mau bilang siapa laki-laki itu. Lagi pula kesehatan Abi sedang menurun, Mas minta kamu mau bersabar dulu," pinta Mas Zhafran lagi.
Aku menghela napas kasar, pembicaraan ini tak akan ada habisnya, mereka selalu meminta aku untuk mengalah.
Dulu aku pasti akan mudah menerima meski menyakitkan, tapi tidak sekarang. Aku akan selalu menanggung segala dosa dari perbuatan Hulya dan aku tak mau lagi.
"Aku selalu mengalah dan memaklumi segala tingkah laku Hulya, karena aku paham kami menikah karena di jodohkan ..."
"Mas sadar bukan apa yang di lakukan Hulya ini adalah sebuah dosa besar? Bahkan rajam sampai mati hukumannya," Mas Zhafran terlihat mengepalkan tangannya.
"Aku ngga sanggup menanggung dosa ini Mas, oleh sebab itu aku akan menceraikan Hulya dan mengembalikan dia secara baik-baik pada kalian," ucapku datar.
"Baiklah, Mas tau Mas sudah kelewatan, tapi Mas mohon tolong pertimbangkan lagi. Lagi pula ... Hulya meminta Mas untuk membujukmu agar jangan menceraikannya," jawab Mas Zhafran.
Aku tertawa sumbang, tak habis pikir dengan pemikiran kakak beradik ini. Dia laki-laki yang harusnya sedikit paham bagaimana perasaanku.
Untuk Hulya, aku tak tau apa yang dia pikirkan, mengapa dia memintaku untuk bertahan lagi. Apa dia ingin menyakitiku lebih lagi?
Aku rasa lama-lama aku bisa gila jika masih harus bertahan di keluarga ini.
"Tidak Mas, maaf, sebaiknya sebelum kandungan Hulya membesar, nikahkan saja mereka, agar tak malu," saranku.
"Kamu pikir masalah akan selesai setelah mereka menikah?" sambar Mas Zhafran terlihat kesal.
"Orang-orang pasti akan terus mencibir Hulya! Karena seorang wanita bercerai ada masa idahnya Ragil, tapi Hulya apa?"
Ah, ternyata dia lagi-lagi ingin menyelamatkan nama baik Hulya maupun keluarganya.
__ADS_1
"Lalu merendahkan harga diriku?" jawabku muak.
"Mengertilah, kali ini saja aku mohon. Anggaplah sebagai balas budimu pada keluarga kami," pintanya tanpa tau malu.
Aku memejamkan mata menahan kesal, kenapa mereka berdua selalu menekanku akan kebaikan yang pernah mereka lakukan pada keluargaku, yang aku sendiri tak tau apa itu.
"Sekarang begini Mas, andai posisi Mas ada padaku, apa yang akan Mas lakukan? Menerima lagi Mbak Zahra yang sudah berani menjajakan tubuhnya pada lelaki lain? Bahkan sampai mengandung?" tanyaku meremehkan.
Dia terkesiap lalu menatapku dengan tatapan tajam.
"Jangan sama kan istriku dengan perempuan seperti itu!" jawabnya tak terima.
"Nah, Mas tau sendiri wanita seperti apa yang berlaku seperti itu bukan?"
Ya, adikmu lah wanita rendahan itu, sambungku dalam hati.
"Kita berbeda Ragil! Itu semua juga ulahmu, karena kamu yang tidak becus jadi suami. Kamu tidak bisa menaklukkan hati adikku, makanya dia melampiaskan ke orang lain. Bahkan mungkin ..." dia tersenyum sinis ke arahku.
"Kamu tak bisa memuaskannya di ranjang!" hinanya yang sudah sangat keterlaluan bagiku.
Aku tak paham dengan mereka, katanya keluarga berpendidikan tapi otaknya sangat dangkal dan aku tak akan terpancing olehnya.
Dari gerak-geriknya, aku merasa jika Mas Zhafran seakan memancing amarahku. Entah dengan tujuan apa.
"Terserah apa katamu Mas, sepertinya pembicaraan kita harus berakhir di sini," usirku secara halus.
"Kamu mengusirku Gil?" jawabnya tak terima.
"Baiklah, akan kupastikan kalian tak akan berpisah! Camkan itu," ancamnya.
Dia keluar dan membanting pintu mobilku dengan kencang.
Dalam perjalanan, aku memikirkan siapa laki-laki yang sudah menghamili Hulya, hanya satu nama yang menjadi incaranku selama ini, meski aku tak yakin.
Ingin bertanya juga aku bingung mengawalinya. Namun satu hal yang pasti, kalau anak itu anaknya Azam, sudah pasti Sarah akan mencariku.
Ponselku tiba-tiba berdering, tertera nama Hendi di sana. Dia pasti mencariku karena hingga jam segini aku belum juga datang ke toko.
"Iya Hen?" tanyaku dengan mengeraskan suara ponselku.
Karena sedang menyetir, aku tak bisa mengangkat teleponnya, aku juga tak ingin berhenti untuk sekedar menjawab pertanyaan Hendi yang aku sudah tau jawabannya.
"Kamu di mana? Ngga ke toko?" tanyanya.
"Ini lagi di jalan, sory telat," jawabku santai.
"Ada masalah apa Bro?" sambarnya.
Aku tertawa mengalihkan kegugupanku, "ngga ada apa-apa nantilah aku cerita. Lagi nyetir ini!" jelasku.
"Okelah," dia lalu mematikan panggilan kami.
__ADS_1
Aku tengah berpikir, apa ia aku harus menceritakan aib rumah tanggaku pada Hendi, sekali pun Hendi adalah sahabatku.
Bukan tanpa alasan aku tak ingin bercerita, satu yang pasti, aku malu akan nasib rumah tanggaku.
Dia sudah menungguku di depan toko. Sepertinya dia sangat penasaran dengan apa yang terjadi denganku hari ini.
"Lah baru dateng kenapa penampilanmu lecek gini Gil?" tanyanya.
Kuabaikan pertanyaannya hingga kami sama-sama masuk ke dalam toko.
Dispenser air menjadi tujuanku, karena aku sangat kehausan.
Dua kali aku minum dengan cepat untuk melegakan tenggorokanku.
"Abis lari maraton kamu Gil?" tanyanya mengejek.
Dia tak salah menebak, hanya aku malas saja memberitahu, kalau sahabatnya ini sempat gila sesaat tadi.
"Ada apa? Kamu terlihat kusut sekali Gil. Kalau ada sesuatu, lebih baik istirahat aja dulu," pintanya.
Benar kata dia, aku harus mengistirahatkan tubuhku, aku lelah sekali. Lelah hati dan fisik juga.
Aku menuju ke ruangan kecil yang berada di belakang toko dekat dengan dapur. Tempat yang biasa kugunakan bersama para karyawan untuk beristirahat sejenak.
Ada kasur kecil untuk tempatku merebahkan diri. Mungkin aku akan tidur di sini saja mulai sekarang, aku tak ingin kembali ke rumah itu.
Tidurku sangat pulas, energiku terasa kembali lagi. Hendi membangunkanku karena sudah waktunya toko tutup.
"Sory ganggu istirahat kamu Gil. Sumpah kamu tidur tenang banget, aku sampe khawatir kamu lewat," sarkasnya.
"Sembarangan!" pekikku tak terima.
"Kamu kaya ngga tidur semalaman, ada masalah?" tanyanya lagi.
"Maaf Hen, aku ngga bisa cerita sekarang, mungkin nanti," tolakku.
Hendi mengangguk mengerti, begitulah dia, tak suka memaksa, kalau memang aku keberatan menceritakan masalahku.
Tiba-tiba ponselku berdering, tertera nama ibu di sana. Segera aku angkat panggilannya, sebab tak ingin ibu menunggu terlalu lama.
"Ragil benarkah Hulya hamil?" pekiknya.
Kujauhkan ponselku karena suara nyaring ibu yang terdengar sangat bahagia.
Siapa yang memberitahu ibu? Hulya kah? Apa tujuannya?
.
.
.
__ADS_1
Tbc