
Saeba sudah di pindahkan ke ruang perawatan. Aku terpaksa memesan kamar kelas dua yang dihuni oleh tiga orang pasien.
Ibu menggerutu karena aku tak memberikan Saeba pelayanan terbaik di rumah sakit.
"Bu, maaf, aku benar-benar tak memiliki banyak simpanan, di sini pun cukup nyaman," jelasku mencoba memberi pengertian pada ibu.
"Ngga ada sofa di sini Gil, gimana ibu mau jaga Saeba!" omelnya kesal.
Aku melirik para penjaga pasien yang rata-rata membawa karpet untuk alas duduk mereka di lantai, bahkan ada yang tiduran di bawah ranjang pasien.
Aku memang tidak tega membiarkan ibu seperti itu, tapi aku bisa apa. Uang yang ada sekarang akan aku gunakan untuk membayar hutang-hutang mereka pada mertuaku.
Pusing sekali rasanya tak ada yang mau mengerti diriku saat ini.
"Maafkan Ragil Bu, kita berdoa saja supaya Saeba tak terlalu lama di rawat di sini," ucapku.
Tak lama Saeba terbangun, ibu segera memberikan air mineral botol padanya.
"Minum dulu Sa," ucap ibu lembut.
"Mana Mas Faisal Bu?" tanyanya saat baru membuka mata.
"Faisal lagi kerja, dia sibuk, nanti juga kemari kok," dusta ibu.
Saeba kembali terisak, lalu dia menatapku, sorot matanya berubah tajam.
"Ibu bohong kan Bang? Mas Faisal justru bilang ke abang mau menceraikan Saeba!" pekiknya.
Aku dan ibu berusaha menenangkannya, sebab tak mau Saeba mengganggu pasien lainnya.
"Tenang Sa, kamu lagi sakit, ada anak yang sedang kamu kandung," jawabku agar setidaknya dia mau berhenti berteriak.
"A-anak? Maksudnya aku hamil Bu, Bang?" tanyanya gagap.
"Iya sayang kamu hamil, selamat ya," ucap ibu senang.
Dia kembali menangis, kupikir itu tangis bahagia, sampai akhirnya dia kembali memberontak.
"Aku ngga mau hamil! Aku ngga mau jelek! Aku ngga mau gemuk, aku ngga mau Bu! Tolong keluarin dia, aku ngga mau, huuu ..." tangisnya histeris.
Karena merasa malu pada pasien lainnya aku akhirnya memanggil perawat untuk menenangkan Saeba.
"Tolong pegangi ya Mas," pinta perawat saat Saeba memberontak semakin keras.
Setelah memberikan suntikan penenang, tak lama tubuh Saeba melemah dan kembali terlelap.
Aku menatap ibu dengan bingung, kenapa Saeba menolak anaknya sendiri? Jangan bilang kalau dia juga hamil anak orang lain.
"Bu kenapa Saeba bilang begitu?" tanyaku penasaran.
Wajah ibu tampak lelah, dia lalu menyelimuti Saeba dan kembali duduk.
__ADS_1
Hanya tersedia satu kursi di sana membuatku harus duduk di tepi ranjang Saeba.
"Dari awal mereka menikah, memang Saeba bilang tidak mau punya anak, seperti yang dia bilang, dia takut tubuhnya tak terawat, lagi pula dia tak suka dengan anak kecil. Dia bilang ngga mau repot ngurus bayi," jawab ibu.
Astaga pantas saja dia frustrasi mendengar kabar kehamilannya.
"Ibu memaklumi ucapannya kala itu karena dia masih sangat muda. Ibu pikir lambat laun dia pasti akan berubah pikiran dan pasti akan mau memiliki anak," sambung ibu.
"Ternyata sama saja, dia masih belum mau hamil, ternyata."
"Apa Faisal tau rencana Saeba yang tidak mau memiliki anak Bu?"
"Tau, dia juga tak mempermasalahkannya. Lalu, pertemuan kamu sama dia tadi berakhir bagaimana Bang? Jujurlah sama ibu," pinta Ibu.
Aku menarik napas panjang dan menatap iba pada Saeba. Kenapa hidup kami jadi serumit ini.
Entah kesalahan apa yang kami lakukan dulu hingga sekarang semua masalah seakan datang bertubi-tubi seperti ini.
Saeba, adik yang kujaga sejak kecil harus menerima nasib buruk seperti ini.
Misteri apa yang sedang Tuhan berikan pada kami sebenarnya.
"Kenapa Saeba bisa bilang begitu Bu? Apa dia mengikutiku?" sambarku menanyakan sikap Saeba tadi.
"Ibu ngga tau apa dia mengikutimu apa enggak, sebab dia ngga pamit saat pergi, tiba-tiba pulang dengan keadaan kacau dan mengamuk di kamarnya. Dia membanting apa pun yang berada di kamar, ibu yang panik mencoba menghentikannya. Tak lama dia menyayat nadinya, semua terjadi begitu cepat Gil, ibu sampai syok ngga tau harus bagaimana," jelas ibu.
Sepertinya memang Saeba mengikuti tanpa pamit pada ibu.
"Beneran kalau Faisal ingin menceraikan Saeba Gil?" ulang beliau.
"Ragil sendiri tak tau sebenarnya ada apa dengan rumah tangga mereka. Ragil pikir kehidupan mereka baik-baik aja," sambungku.
Kulihat ibu bergerak gelisah, di meremas ujung hijabnya, aku yakin beliau gugup.
"Bu?" tanyaku menuntut jawaban.
Dia tampak terkejut, "Eh, dia pasti hanya di tekan sama keluarga mertuamu. Makanya kamu mengalah kali ini Gil, selamatkanlah rumah tangga adikmu!" pinta ibu tak masuk akal.
"Faisal justru senang bisa berpisah dari Saeba Bu, dia bertahan karena ancaman Abi agar mau tetap berada di sisi Saeba. Ibu pikir dia mau kembali lagi? Nyatanya mendengar Saeba hamil pun dia tak peduli," jawabku tajam.
"Ya sudah kamu bilang lagi sama mertuamu agar memaksa Faisal kembali, gampang kan?" pinta ibu kekeh.
"Aku ngga mengerti dengan pikiran ibu, kenapa ibu selalu membela Saeba, menantu ibu itu tertekan dengan sikap Saeba. Ibu tau, dia lelah karena rong-rongan ibu dan Saeba yang permintaannya selalu ingin di penuhi!" ucapku akhirnya.
Aku ingin dia sadar bahwa semua ini salah mereka berdua. Agar mereka tak kembali memaksaku untuk mengalah pada ancaman Hulya dan keluarganya.
Ibu menatapku tak percaya, dia mungkin terkejut aku tau sifat buruk mereka yang terlewat boros.
Tak ingin menambah keributan, aku memilih keluar menenangkan diri.
"Kamu mau ke mana Bang?" tanya ibu mencegah kepergianku.
__ADS_1
"Cari kopi Bu, aku penat sekali," jawabku jujur.
"Jangan lupa belikan ibu makanan ya buat menghilangkan bosan," pinta ibu dan hanya kubalas anggukan saja.
.
.
Saat sedang berjalan di persimpangan, aku bertemu dengan Farah dari arah sebelah kiri.
Kami sama-sama terkejut karena pertemuan tak terduga ini.
"Mas Ragil?" ucapnya.
"Bu Farah?" balasku.
"Ada yang sakit kah?" tanyanya.
"Iya adik saya Bu. Ibu sendiri?" tanyaku balik.
Dia membuang napasnya kasar, "Sarah yang sakit," jawabnya datar.
"Mas mau ke mana?" sambungnya.
"Ke kantin Bu," jawabku jujur. Sebenarnya aku ingin menjenguk Sarah karena bagaimana pun kami saling mengenal.
"Kita bicara di kantin yuk! Ada hal penting yang harus kita bahas," ajak Farah tegas.
Akhirnya aku mengurungkan niat menjenguk Sarah. Mungkin berbincang dengan Farah terlebih dahulu untuk mengetahui keadaan Sarah.
Kami duduk di sebuah kursi yang menghadap ke taman.
"Jawab saya dengan jujur Mas, bagaimana hubungan rumah tangga kalian?" tanyanya tajam.
"Memangnya ada apa Bu Farah?" elakku enggan memberi tahu kisruh rumah tanggaku pada orang asing.
"Aku pernah bilang kan kalau aku curiga dengan istrimu yang kembali membuat masalah di rumah tangga sepupuku?" sambungnya.
"Lihatlah, apa yang kutakutkan ternyata terjadi. Istri sialanmu itu memang wanita tak tau diri!" ejeknya.
Farah lantas memberikan ponselnya padaku. Di sana ada foto-foto kebersamaan Azam dan juga Hulya. Bahkan ada video mereka juga.
Kupejamkan mata menahan kegetiran hati. Memang masalah kami tak mungkin jauh-jauh dari kedua orang itu.
Aku hanya tak menyangka, jika dulu Azam yang terlihat menolak Hulya, lalu kenapa di gambar dan video ini mereka justru terlihat mesra.
Apa mereka tak punya hati dengan menyakiti kami? Pasangan halal mereka?
.
.
__ADS_1
.
Tbc