
Hendi masih menunggu di depan dengan sibuk menatap layar ponselnya.
Dia mendongak saat mendengar pintu ruangan Hulya terbuka.
"Udah? Aku balik aja deh," ucapnya sungkan.
"Balik barenglah," jawabku sambil terkekeh.
Dia menaikkan sebelah alisnya bingung, "istri kamu lagi sakit Gil! Ya kali kamu mau tinggalin gitu aja?" tanyanya tak percaya.
"Udah ada keluarganya," jawabku datar.
Dia lalu menghadang langkahku dengan berdiri di depanku.
"Serius, kamu harus kasih tau ada apa Gil! Jangan sampai aku anggap kamu pecundang yang tega meninggalkan istrinya yang sedang sakit!" pintanya memaksa.
Mungkin dia tak terima aku memperlakukan Hulya seperti ini, aku tau maksud Hendi buka ikut campur urusanku, dia hanya tak mengerti dengan situasi kami saat ini.
"Hulya hamil bukan anakku Hen," jawabku padanya.
Matanya membelalak sempurna, "serius?"
"Kamu pikir kaya gini lucu gitu buat becandaan?" cibirku.
"Gila!" pekiknya.
Aku setuju dengannya.
Kami lalu kembali melanjutkan langkah menuju parkiran.
"Aku ngga nyangka kamu sesantai ini Gil! Serius, apa kamu ngga papa?" tanyanya khawatir.
"Aku baik-baik aja," jawabku datar.
Dia menghela napas, kami berjalan dalam diam, mungkin dia sedang mengolah berbagai pertanyaan yang mungkin ingin ia ajukan.
"Anak Azam kah?" ucapnya setelah kami tiba di parkiran.
Aku mengedikan bahu, wajar jika nama dia lah yang menjadi kecurigaan kami. Namun aku tak memilik bukti apa pun, sedangkan Hulya memilih bungkam, dia seperti melindungi laki-laki itu.
"Apa yang bakal kamu lakuin Gil?" tanyanya sambil menyetir.
Hendi meminta agar dia saja yang mengemudikan mobilku, sebab takut aku tak bisa konsentrasi dalam menyetir.
"Aku mau ke pengadilan agama, mengurus gugatan perceraian secara negara," jelasku.
"Kamu mau bercerai?" pertanyaan bodoh yang keluar dari mulut Hendi.
"Lalu, kamu berharap apa?" jawabku sinis.
Dia terkekeh mendengar gerutuanku.
"Kukira kamu akan mengalah lagi. Serius Gil, dari kemarin aku udah anggap kamu bodoh saat masih mau mempertahankan Hulya, setelah istrimu itu memperlakukanmu dengan sangat keterlaluan," ujarnya jujur.
"Aku ngga berani jujur waktu itu, takut kamu marah. Karena aku pikir kamu itu bucin banget sama istrimu itu," kelakarnya.
Aku mendengus mendengar ucapannya. Tentu saja aku sudah mengira banyak yang mengatakan kalau aku ini pria bodoh dan bucin.
Mereka tidak tau aja, aku hanya berusaha memperbaiki keadaan dan memberikan kesempatan pada Hulya.
"Terus mau ke pengadilan agama ini?" tanyanya.
"Iya," jawabku malas.
"Kaya ragu-ragu Bro! Masih cinta?" ejeknya.
"Kalau kamu ngga bisa diam aku turunin kamu di sini Hen!" ancamku. Meski kenyataannya dia yang mengemudikan mobilku.
Suasana kembali hening, tapi hanya sesaat, Hendi lalu menanyakan hal lain lagi padaku.
"Kamu tau anak siapa di rahim istrimu?"
__ADS_1
"Enggak," aku memang penasaran anak siapa di rahim Hulya.
Namun mau bagaimana lagi, dia selalu bergeming saat di tanya seperti itu.
"Engga? Engga tanya apa engga tau?" beonya.
"Dua-duanya!"
"Astaga, kamu ini Gil ... Gil. Harusnya kamu tanya anak siapa itu, apa mungkin itu anak Azam? Secara istrimu itu kan cinta mati banget sama lelaki itu," ujarnya.
"Entah, aku ngga tau Hen, tapi aku pernah ketemu sama Azam dan Sarah, sepertinya rumah tangga mereka baik-baik aja," ucapku.
"Ya kan kamu ngga tau, siapa tau aja mereka mainnya rapi hingga enggak terendus oleh kalian, Hulya aja yang apes karena ketahuan hamil kan?" cecarnya.
Benar, siapa lagi laki-laki yang bisa kami curigai kalau bukan Azam. Secara Hulya memang terobsesi sekali dengan lelaki itu.
Namun aku tak memiliki bukti akan kedekatan ke duanya.
Kami sampai di pengadilan agama. Saat aku bertanya kebagian pendaftaran, mereka menjelaskan apa saja syarat yang harus kupersiapkan.
Buku nikah, kartu keluarga, kartu tanda penduduk dan alasan perceraian.
Di bagian akhir aku sedikit bingung, apa harus aku jujur mengatakan alasan kami bercerai? Yang pada akhirnya harus membuka aib Hulya.
"Kenapa Pak?" tanya lelaki yang sejak tadi menjelaskan segalanya padaku.
Akhirnya aku terpaksa jujur pada beliau, agar aku bisa tau persiapan apa lain lagi selain surat-surat penting tadi.
"Istri saya hamil anak orang lain pak," ucapku akhirnya.
Beliau tampak biasa saja, mungkin karena sering menerima pendaftaran perceraian dengan berbagai alasan, beliau tampak tak terkejut.
"Silakan isi ya pak, sesuai permasalahannya," jawab beliau datar.
"Tapi pak, kalau istri saya menolak alasan saya bagaimana?" tanyaku ragu.
Bukan tanpa alasan, bisa saja dia menolak masalah yang aku berikan untuk menjadi penyebab perceraian kami.
"Baiklah Pak, terima kasih sarannya," ucapku lalu pamit undur diri.
Karena jika mengandalkan saksi jelas aku tak memiliki saksi yang kuat, hanya Hendi yang menjadi pendengar sudah pasti tak bisa di jadikan saksi.
Meminta keluarga Hulya sudah pasti tidak mungkin karena mereka tak ingin kami bercerai.
Lalu mengenai bukti, aku sama sekali tak memiliki bukti untuk menguatkan tuntutanku.
Apa benar aku harus menggunakan jasa pengacara? Masalahnya aku agak khawatir dengan besarnya biaya yang harus di keluarkan untuk menyewanya.
"Kenapa?" tanya Hendi yang menungguku di depan.
"Bingung, pihak pengadilan menyarankan aku menggunakan pengacara sebab aku tak memiliki saksi dan bukti yang kuat untuk menguatkan tuntutanku," jelasku.
Hendi tampak berpikir, "susah juga ya Bro. Menyewa pengacara tentu membutuhkan biaya yang cukup besar. Terlebih lagi lawanmu ... Kau yang paling tau seberapa berkuasanya mereka."
Benar kata Hendi, tak mungkin mereka akan diam saja melihat aku melakukan perlawanan ini.
Namun aku tak gentar, sebaiknya aku tetap mendaftarkan gugatanku dari pada menundanya.
.
.
Esoknya, sesuai rencana aku mendaftarkan gugatan perceraianku ke pengadilan. Mereka menerima dan akan memberikan undangan sidang tiga hari mendatang.
Aku tak tau sama sekali bagaimana kabar Hulya. Untungnya aku sudah membereskan semua berkas saat memutuskan keluar dari rumah.
Biarlah rumah itu kuberikan pada Hulya. Sebagai seorang suami pantang bagiku mengusir perempuan dari istananya, meski kesalahan dari pihaknya.
Sedang menikmati makan siang bersama Hendi, teleponku kembali berdering, tertera nama ibu di sana.
Aku menghela napas kasar karena aku yakin ibu pasti menanyakan tentang Hulya lagi.
__ADS_1
"Iya Bu?" ucapku menyapanya.
"Ragil! Kenapa kamu menceraikan Hulya!" bentaknya.
Aku mendengus, cepat sekali mereka mengabari orang tuaku.
"Nanti Abang ceritakan Bu," jawabku datar.
"Ngga bisa, kamu harus ke sini sekarang juga!" paksanya.
Terpaksa aku mengiyakan permintaan ibuku. Aku yakin ibu belum tahu masalah kami makanya dia terdengar murka.
"Hen, aku mau pulang ya. Ibu memintaku pulang," jawabku.
"Sip. Hati-hati di jalan," balasnya.
Kulajukan mobil ke rumah orang tuaku. Perjalanan yang menempuh waktu dua jam membuatku sampai di sana sore hari.
Kulihat Ibu sudah menungguku di depan, mungkin selesai menyirami tanamannya, terlihat dari halaman yang terlihat basah.
Ibu bergegas bangkit saat melihat mobilku datang.
"Bu," sapaku. Tanpa aba-aba beliau lalu menamparku.
"Kembali pada Hulya!" pintanya seketika.
"Ibu harus dengarkan dulu penjelasanku!" ujarku membela diri.
Dia melengos lalu masuk kembali ke dalam rumah, aku mengikutinya. Kami duduk berhadapan di ruang tamu.
Lagi-lagi keadaan rumah masih sepi, entah ke mana penghuni lainnya.
"Jelaskan pada ibu ada apa memangnya sampai kalian bercerai? Kamu gila Gil? Hulya sedang hamil mengapa kamu ceraikan!" sentaknya.
Aku atur deru napasku yang meledak-ledak, tidak mertuaku tidak orang tuaku mereka semua sama, suka semaunya sendiri.
"Ibu tau, ngga mungkin Abang melakukan hal itu kalau tidak ada apa-apa!" balasku.
"Memangnya ada apa?" sinisnya.
"Hulya hamil anak orang lain Bu! Bagaimana mungkin aku mempertahankannya?" jawabku dingin.
Ibu terkesiap, tubuhnya sempat mematung, mungkin tak menyangka dengan kebenaran yang sedang kukatakan.
"A-apa? Hamil anak orang lain? Kamu jangan bercanda Ragil!" gumamnya.
"Apa mungkin Ragil bercanda Bu? Makanya Ragil meminta maaf pada ibu, kalau Ragil sudah mengajukan gugatan cerai ke pengadilan," jelasku.
"APA?!" pekiknya.
"Enggak, kalian enggak boleh bercerai Ragil, kamu ngga tau berapa banyak kita berhutang budi pada keluarga mertuamu," ucap ibuku.
Aku benar-benar tak mengerti dengan ucapan beliau, mengapa ibu sama sekali tak memikirkan perasaanku? Di sini aku yang di khianati, lalu aku harus menerima dengan lapang dada?
"Hutang budi apa maksud ibu? Tentang bantuan materi mereka pada Ayah?" jawabku.
"Iya! Kamu tau itu, dari mana kita bisa membayar hutang kita kalau mereka menuntut?" jelas ibu.
Mengapa kebahagiaan dan harga diriku harus tergadai oleh hutang budi yang bahkan aku sendiri tak tau.
"Maafkan Ragil Bu," ujarku putus asa.
"Makanya kamu harus kembali pada Hulya. Maafkanlah dia Bang, sekali ini aja. Ibu yakin setelah ini dia pasti berubah," pinta ibu yang salah mengartikan maafku.
.
.
.
Tbc
__ADS_1