Secangkir Kopi Hitam

Secangkir Kopi Hitam
Bab 29


__ADS_3

"Pak!" tegur perawat tadi saat melihat aku terdiam.


Aku berjengit kaget, lalu tersenyum kaku padanya. "Maaf Sus," ujarku.


"Bapak senang ya, selamat ya Pak. Di sini ada tiga Dokter kandungan, Bapak bisa mengisinya di sini," pintanya padaku.


"Ada Dokter perempuannya Sus?" tanyaku.


Bukan mau membedakan gender, tapi aku ingin agar Hulya nyaman saja, takutnya nanti aku salah memilih, bisa panjang urusannya.


"Ada Pak, Dokter Setya," jawab sang perawat, aku lalu mengangguk mengiyakan Dokter bernama Setya itu saja.


"Kebetulan hari ini ada jadwal praktiknya Dokter Setya, kita bisa ke poli kandungan sekarang Pak," tawarnya lagi.


Aku mengangguk menyetujui, "baiklah, saya daftarkan dulu di poli ya Pak," setelah mengataka hal itu perawat tadi pun berlalu dari tempat Hulya di rawat.


Aku duduk termenung menatap tubuh Hulya. Benarkah kamu hamil Ya? Tak kuungkiri ada rasa bahagia, tapi juga rasa takut, entah karena apa.


Semoga saja itu hanya kecemasanku saja.


Saat dia bangun dari tidurnya, dia meminta air putih. Mungkin karena banyak muntah dan juga dehidrasi dia merasa kehausan.


Air mineral dalam botol enam ratus mili di tenggaknya hingga habis tak tersisa.


"Alhamdulillah," ucapnya setelah minuman itu habis.


"Kata Dokter aku kenapa Mas?" tanyanya penasaran.


Aku ragu-ragu ingin memberitahunya. Takut dia akan marah jika tau dirinya hamil dan mengamuk di sini.


"Mas!" tegurnya saat aku diam saja tak menjawabnya.


"Maaf Ya, nanti juga kamu tau, lagi pula harus bertemu dengan Dokter spesialis dulu," jelasku ambigu.


"Dokter spesialis? Apa aku memiliki penyakit serius Mas?" matanya sudah berkaca-kaca.


"Engga, hanya aku ngga tau ini berita baik atau buruk untuk kamu," jawabku yang lagi-lagi enggan menjelaskan lebih rinci.


"Ada apa Mas? Tolong jangan membuatku takut," lirihnya.


Saat aku akan membuka suara, tiba-tiba seorang perawat tadi mendekati kami dengan membawa kursi roda.


"Ayo Bu Hulya, sudah di tunggu Dokter Setya!" ucap sang perawat memberitahu.


"Aku kenapa suster?" tanya Hulya penasaran.


Perawat itu justru menatapku bingung, mungkin heran karena aku belum memberitahu kondisi istriku.


"Nanti ibu juga tau, sabar ya Bu," balasnya lembut.


"Mas ada apa sih, kalian membuatku takut tau!" dia tiba-tiba terisak, mungkin dia tertekan karena rasa penasaran.


"Kamu tenang aja Ya, kamu sehat, ngga kenapa-kenapa," jawabku lembut berusaha menenangkannya.


"Tapi sikap kalian berdua mencurigakan!" ucapnya tercekat.

__ADS_1


Kami lalu berhenti di sebuah ruangan yang terdapat papan nama poli kandungan di sertai juga dengan nama Dokter yang praktik di sana.


"Ke-kenapa kita ke sini Mas?" tanya Hulya gugup, dia menoleh ke arahku, tubuhnya sedikit bergetar.


"Ayo Bu!" ucap salah satu perawat yang membuka pintu untuk kami. Perawat yang sejak tadi bersama kami lalu kembali mendorong kursi roda Hulya hingga masuk ke dalam.


"Selamat siang, Ibu Hulya ya," sapa Dokter Setya sambil melihat berkas milik Hulya.


"Siang Dok," jawabku, karena Hulya tak mengeluarkan sepatah kata pun.


"Baiklah, kapan hari pertama haid terakhirnya?" tanya Dokter paruh baya dengan senyum hangatnya.


Hulya tak menjawab tapi justru malah terisak, ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Kenapa Bu Hulya?" tanya Dokter Setya yang ikut panik melihat keadaan Hulya.


Hulya lalu membuka wajahnya, masih dengan isakan dia berkata, "apa saya hamil Dok?" tanyanya.


Ini yang aku takutkan, dia tak akan menerima janin itu dan entah apa yang akan terjadi selanjutnya.


Ya Allah, kuatkan hamba, semoga Hulya tak meminta menggugurkan janin tak berdosa ini.


"Prediksinya seperti itu, lebih jelasnya lagi maka kita akan melakukan USG ya," jawab sang Dokter dengan sabar.


"Ini kehamilan anak pertama?" Dokter lalu menatapku.


"Iya Dok," jawabku kaku. Dokter Setya sibuk mencatat setiap jawaban yang aku berikan.


"Pernah mengalami keguguran?" sambungnya.


"Emmm ... Baiklah, maaf Pak, tolong bantu istrinya naik ke ranjang ya," pinta Dokter Hulya.


Aku pun membopong tubuh Hulya, inilah kali pertama aku menyentuh tubuhnya lagi setelah kami memutuskan pisah ranjang.


Dia meringkuk dalam gendonganku. Masih sambil terisak.


Setelah kurebahkan, perawat sigap menyelimutinya dan menaikkan pakaian seragam Hulya ke atas.


Karena aku tak pernah lagi melihat tubuhnya, refleks aku menundukkan pandanganku.


"Nah itu kantung kehamilannya ya pak," ucapan Dokter Setya membuatku mendongak menatap layar yang berada di atas kepala.


Sedangkan Dokter Setya menatap layar di atas mejanya sendiri.


Ada sebuah lingkaran kecil berwarna hitam, mungkin itu yang di maksud oleh Dokter. Jika aku menghitung rentang waktu kami berhubungan, aku kira Hulya sudah hamil sekitar tiga bulan.


Namun ternyata bentuknya masih lingkaran kecil seperti itu. Apa mungkin janin tiga bulan memang sebesar itu, batinku.


"Usia kandungannya sekitar lima minggu —"


Duniaku seakan runtuh saat Dokter mengatakan usia kandungan Hulya.


Telingaku lalu berdenging, bahkan aku sampai harus memegang meja di depanku karena syok.


Aku tak mendengar lagi yang Dokter Setya katakan selanjutnya.

__ADS_1


Dengan pikiran yang linglung, aku bangkit berdiri. Aku hendak melarikan diri dari sana.


Ini sangat menyakitkan, hatiku terlalu sakit. Aku tak menyangka Hulya akan menyakitiku sekejam ini.


"Pak! Pak!" seorang perawat memanggilku, saat tersadar aku sudah berada di ambang pintu.


"Bapak mau ke mana? Dokter belum selesai menjelaskan," sambungnya.


Aku menoleh menatap mereka semua, terutama Hulya yang hanya bisa menutup wajahnya lagi. Aku tau dia pasti menangis lagi.


Saat ini aku ingin berteriak kencang di wajahnya, menanyakan siapa ayah dari bayi yang di kandungnya.


Kepada siapa dia memberikan tubuhnya untuk di jamah.


"Saya permisi dulu Dok," ucapku akhirnya.


Aku tak peduli jika mereka mengatakan aku adalah suami yang kejam dan tega, aku tak peduli.


Tanpa terasa aku berlari, berlari keluar dari rumah sakit, berlari tanpa tujuan, air mata meleleh sangking sakitnya hati yang kurasakan.


Kenapa? Kenapa aku sekacau ini? Apa karena aku mencintai Hulya? Apa karena harga diriku di injak-injak olehnya?


Aku tak tau, tapi rasa sakit ini melebihi apa pun rasa sakit yang pernah aku alami. Ingin berteriak tapi aku tak mampu.


Tak lama langkahku semakin memelan dan aku ambruk di trotoar jalan.


Napasku terengah-engah, aku bahkan tak tau ada di mana.


Semuanya kutinggalkan, Hulya, mobil hanya ingatan menyakitkan yang tak mau entah dari pikiranku.


Tanah lapang di depanku membuatku melanjutkan langkah lagi mendekatinya.


Sesampainya di tengah, aku menjerit sekeras mungkin, mengeluarkan segala rasa sesak di hati.


"KENAPA HULYA! KENAPA!" makiku.


Aku lalu jatuh terduduk, tak ada air mata, aku hanya mengeluarkan sedikit air mata saat berlari tadi karena benar-benar tak bisa menahan rasa sakitnya.


Ponselku berdering, sengaja kuabaikan, aku sedang tak ingin berbicara pada siapa pun.


Deringnya hanya berhenti sejenak lalu bersambung lagi, seolah berteriak agar aku mengangkatnya.


Dengan enggan kuambil ponsel dari saku jasku. Tertera nama Mas Zhafran di sana.


Kucengkeram erat ponsel ini sambil memejamkan mata.


Bimbang akan risalah hati. Haruskah kuberitahukan keadaan adiknya saat ini juga?


Lalu bagaimana tanggapan mereka nantinya?


.


.


.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2