
Hari pernikahan Ragil dan Farah akhirnya di gelar.
Tiga hari sebelum kepergian Farah menuju kota tempat mereka akan melangsungkan pernikahan sempat terjadi drama yang pelakunya tak lain dan tak bukan adalah Sarah.
Sarah yang sedang terpuruk sebab masalah rumah tangganya di rasa rumit merengek minta ikut dengan Farah.
Wanita itu bahkan menginap di kediaman Farah untuk memastikan jika dirinya tak di tinggal jika tiba-tiba Farah akan pergi.
Farah tentu frustrasi menghadapi tingkah Sarah yang semakin hari semakin memuakkan.
Makanya saat Sarah pergi entah karena masalah apa, dia dan sang ibu bergegas pergi.
Beruntung sudah jauh-jauh hari perlengkapan mereka sudah rapi di dalam koper, makanya saat ada kesempatan seperti ini keduanya bisa langsung pergi.
Farah juga berpesan pada para pekerja di rumahnya untuk tak memberitahukan apa pun pada Sarah.
.
.
Lima jam menggunakan kendaraan udara, kini Farah sudah sampai di tempatnya akan melangsungkan pernikahan.
Akad nikah serta resepsi pernikahan Ragil dan Farah menang di lakukan di sebuah Vila milik keluarga Ragil.
Semua sudah di pikirkan karena tak mungkin Sarah akan mencurigai pernikahan ini.
Farah sedang beristirahat di kamar pengantin sambil berkirim pesan dengan Ragil.
Keduanya seperti remaja yang sedang di mabuk asmara. Padahal jarak mereka hanya beberapa kamar, karena Ragil harus tinggal di kamar tamu sebelum keduanya sah menjadi suami istri.
Kini waktunya Farah di rias karena sudah menjelang waktu akad nikahnya.
"Ya ampun sayang, kamu cantik sekali," ujar Tania dan Maya saat melihat riasan calon pengantin.
Kedua ibu paruh baya itu mengenakan kebaya yang senada yaitu warna cokelat.
Sedangkan kebaya milik Farah sedikit di beri sentuhan warna merah muda agar sedikit berbeda dengan pakaian keluarga besarnya.
"Makasih mah, tante," jawab Farah malu.
"Kok tante sih! Panggil mamah juga dong," keluh Maya.
Farah tersenyum lalu mengangguk menuruti permintaan calon mertuanya.
"Yuk keluar, Ragil udah nunggu di depan paman kamu," ujar Maya.
Kedua besan itu mengapit tangan Farah. Jantung Farah sendiri rasanya sudah berdebar sangat keras hingga membuat telapak tangannya terasa dingin.
"Jangan tegang. Masa depan kalian masih panjang, Mamah berharap kalian akan selalu bersama selamanya," ucap Tania di sela-sela perjalanan mereka.
Maya dan Farah mengamini doa Tania dalam hati masing-masing.
Kini, kedua calon mempelai sudah duduk di hadapan penghulu. Paman dari keluarga ayah Farahlah yang menjadi walinya.
__ADS_1
Semua berjalan lancar, binar kebahagiaan terpancar dari pasangan pengantin baru itu.
Farah mencium tangan Ragil dengan khidmat, sebagai lambang jika dirinya kini sudah resmi menyandang sebagai istri Ragil Saputra.
Keduanya tetap sepakat menjalankan usaha masing-masing asalkan tak melalaikan kewajiban.
Ragil juga telah membeli rumah baru untuk dia dan istrinya tinggal.
Tamu yang hadir juga hannyalah keluarga inti keduanya. Jadi tak banyak yang menyaksikan pernikahan ini.
Mereka sengaja melakukan hal ini karena menghindari Sarah dan motivasinya yang selalu mengurusi kehidupan Farah.
Namun karena keduanya berasal dari keluarga pengusaha, jelas mereka tetap harus melakukan resepsi pernikahan untuk mengundang para koleganya.
.
.
Di kediaman Sarah, wanita itu tengah uring-uringan karena di tinggalkan begitu saja oleh tante dan sepupunya.
Semua pekerja Farah memilih bungkam seperti perintah Farah. Tentu saja, hal itu membuat Sarah semakin marah.
"Ini semua gara-gara kamu Mas! Kalau kamu enggak buat masalah ngga mungkin Farah dan tante Tania kabur gitu aja!" keluhnya.
Azam yang sedang memandang foto Hulya dan anak mereka mengernyit heran.
"Lagian kamu aneh, kenapa harus ikut-ikutan terus ke mana pun Farah pergi? Kamu ini udah punya suami, apa kamu mau melalaikan kewajiban kamu?" jawab Azam santai.
Ayah anak satu itu tak memedulikan omelan istrinya. Baginya sudah biasa Sarah meributkan sesuatu yang tidak jelas.
Di buang orang tua angkat dan tak di anggap oleh orang tua kandungnya jelas membuatnya bertanya-tanya.
Apa semua yang terjadi pada dirinya adalah sebuah karma? Dia masih mengelak merasa seperti itu.
Azam sama seperti Afdhal, merasa kalau semua yang terjadi di kehidupan mereka adalah akibat kesalahan orang lain. Bukan karena kesalahannya sendiri.
Dulu saat bersama Hulya, dia mana tau kalau gadis itu adalah saudara seayahnya. Lagi pula Hulya yang menyerahkan dirinya sendiri.
Jadi dia merasa bahwa apa yang terjadi pada anak mereka bukan karena kesalahannya tapi karena Hulya yang keganjenan.
Kini saat dia berusaha meminta haknya pada sang ayah, justru yayasan milik ayahnya itu berada di ambang kehancuran.
Dia menghela napas, mengabaikan omelan tiada henti Sarah yang dia tak tau apa yang sebenarnya sang istri ributkan.
"Mas! Kamu dengerin aku enggak sih!" makinya membuyarkan lamunan Azam.
Azam lalu mengantongi ponselnya dan menatap jengah sang istri.
"Memang apa salahnya kalau mereka pergi? Biarin aja sih, aku bingung loh sama kamu," keluh Azam yang mulai terpancing karena menjadi sasaran kekesalan sang istri.
"Kamu jadi suami berguna sedikit ngapa Mas! Udah enggak bisa menghasilkan, engga bisa bantu istrimu juga!"
Ucapan Sarah memancing kembali amarah Azam yang sudah sempat mereda beberapa waktu lalu.
__ADS_1
Selalu itu yang di katakan sang istri. Menjatuhkan harga dirinya.
"Sekarang aku tanya, apa yang mau kamu aku lakukan Hah! Setiap kali aku nanya, jawaban kamu kalau belum waktunya aku tahu. Tapi selalu itu itu aja yang kamu ributkan, sebenarnya ada apa!" jawabnya murka.
Mendengar nada suara sang suami yang meninggi membuat nyali Sarah sedikit menciut. Memang wanita itu terkadang tidak jelas. Di satu sisi ingin sang suami dapat membantunya menjalankan misinya.
Namun di sisi lain dia belum sepenuhnya percaya. Dia takut rencananya akan gagal kalau Azam memilih mengkhianatinya.
Sarah mendudukkan dirinya frustrasi, permintaan ibunya semakin sulit dia lakukan. Terlebih lagi gerak-geriknya kini di curigai oleh Tania dan juga Farah.
"Kamu enggak bisa jawab kan? Tapi kamu selalu melampiaskan kekesalan kamu sama aku. Sebenarnya apa mau kamu!" cecar Azam.
Sarah memegang kepalanya yang berdenyut nyeri, akhir-akhir ini emosinya memang sedang tak stabil.
Tekanan dari sang ibu, juga karena sang suami yang menjadi pengangguran membuatnya semakin tertekan.
Ibunya juga selalu menyalahkannya karena memilih lelaki seperti Azam untuk menjadi suaminya.
Sarah bangkit berdiri, dia memilih menyudahi perdebatan dengan sang suami, karena memang dia belum siap untuk jujur.
Dia menuju balkon kamarnya hendak menghubungi seseorang.
[Bagaimana? Apa kalian bisa melacak keberadaan Farah?] tanyanya langsung.
[Kami kehilangan jejaknya Bu, yang pasti Farah dan Bu Tania pergi ke bandara] balas orang suruhan Sarah.
[Bandara?] beonya. Dia memikirkan ke mana sepupunya itu sebenarnya pergi.
[Kenapa kalian enggak mengikuti mereka!] serunya kesal.
[Maaf Bu, Farah dan Bu Tania menggunakan jet pribadi]
Penjelasan dari orang suruhannya membuat dia terkejut bukan main. Orang seperti apa sebenarnya Farah hingga dia bisa kecolongan tak tau apa pun tentang sepupunya itu.
[Kamu tau milik siapa?]
Sarah yakin jika Farah tak mungkin memiliki jet pribadi. Namun mengapa sepupunya itu harus pergi menggunakan kendaraan mewah tersebut. Sebegitu tak ingin dirinya tahu kah hingga dia bersedia menyewanya?
[Milik perusahaan Falencia Group Bu. Kami juga memiliki berita penting untuk Ibu] jelas orang suruhan Sarah.
[Apa itu?]
[Katanya pesawat itu di sewa untuk menjemput calon mempelai wanita. Mungkin kah Farah akan menikah?]
Sarah terkejut bukan main, saking terkejutnya dia sampai menjatuhkan ponselnya.
Benarkah yang dia dengar?
"Enggak mungkin ...."
.
.
__ADS_1
.
Tbc