
Bak simalakama, saat aku dan mas Ragil tengah berdebat mengenai permasalahan tadi, tiba-tiba Abi dan Umi muncul.
Aku gugup tentu saja, Umi menghampiriku, karena khawatir melihat keadaanku yang kacau.
Terlihat oleh pandanganku, mereka seperti tengah menuduh Mas Ragil.
Ah aku senang, paling tidak, mereka pasti akan selalu berada di pihakku.
Sayangnya, sikap kami langsung ketahuan saat akan masuk ke kamar masing-masing.
Abi meminta penjelasan, susah payah aku menelan salivaku memikirkan segala alasan yang harus kukatakan nanti.
Tanpa pikir panjang, segera kutelepon Mas Ragil agar kami bisa kompak saat ini. Sayangnya dia sama sekali tak mau mengangkat teleponku.
Sialan!
Sepertinya dia mau bermain-main denganku, saat keluar, aku menatap tajam matanya, tapi dia tetap cuek padaku.
Sikap pemberontaknya kembali dia tunjukkan pada Abi dan Umi kala dia menolak makanan pesananku.
Dia benar-benar membuatku mati kutu. Usai makan Abi benar-benar menyidang kami.
Umi terlihat membelaku, yang aku salutkan dari sikap Mas Ragil, dia bahkan tak memojokkanku. Ke tidak cocokkanlah yang menjadi alasan kami ingin berpisah.
Namun sayangnya alasan itu tak di terima oleh Abi, hingga membuat kami harus kembali satu kamar.
Di dalam kamar aku kembali berdebat, rasa frustrasi membuatku menangis, Mas Ragil bahkan menolak berbicara denganku dan memilih tidur di bawah.
Tak hilang akal, aku ingin dia membantuku, dia mengatakan semua perasaannya. Tentu saja semua yang dia katakan memojokkanku.
Ada satu rencana yang mungkin bisa dia lakukan, sudah berada di ujung lidahku tapi entah kenapa tak bisa kuutarakan.
Aku yakin dia akan menolak, maka dari itu aku menekannya lagi lewat adiknya, Saeba. Perempuan boros itu sangat bucin dengan sepupuku.
Aku yakin dengan iming-iming uang pada Faisal, saat aku meminta dia menceraikan Saeba dia pasti akan menurutinya.
Tapi aku tak yakin kalau Mas Ragil setuju dengan ideku. Aku berencana ingin membuat Mas Ragil yang terlihat selingkuh dengan wanita lain, aku yakin Abi akan murka dan akhirnya bisa menyingkirkan dia sekaligus keluarga parasitnya.
Sayangnya, sedikit pun dia tak pernah menemui wanita, ide ini juga terlintas saat tadi Mas Ragil berkata kalau dia juga menemui Sarah.
Entah kenapa ada yang aneh saat Mas Ragil mengatakan dia menemui Sarah. Apa lagi saat melihat tatapan Farah pada Mas Ragil, aku yakin wanita itu juga terpesona pada suamiku.
Kenapa dia terlihat di inginkan banyak wanita? Apa sih spesialnya dia!
Ancamanku sangat tak mempan, dia bahkan balik mengancamku menggunakan Sarah dan Farah.
Sial sekali! Dia sudah tak mau bersikap lembut dan mengalah lagi padaku.
Bahkan ucapan maaf dan kata sedihku sudah tak mempan untuknya.
Selama ini aku berusaha bertahan dengannya hanya agar tak jadi pihak yang bersalah, tapi membuat lelaki itu jadi penyebab kandasnya rumah tangga kami pun sangat sulit.
__ADS_1
Dia memang suami yang cukup sempurna, tak ada celah darinya yang bisa aku rusak di mata Abi dan Umi.
Menjelang pernikahannya yang tinggal dua hari lagi, Mas Azam masih sibuk bekerja.
"Kamu belum cuti Mas?" ucapku kala kami duduk di kantin berdua.
"Belum Ya, semuanya di urus oleh Sarah, jadi Mas rasa Mas bisa tetap bekerja," jawabnya dengan senyum terpaksa.
Kulihat wajahnya sangat sayu tak seceria biasanya. Pasti ada hal yang mengganjal perasannya.
"Kamu kenapa Mas? Ceritalah, siapa tau aku bisa membantumu," tawarku.
Meski aku sudah di tolak olehnya, entah kenapa aku tak bisa membenci mas Azam. Bahkan aku tak bisa bersikap cuek dan dingin padanya.
Dia menghela napas kasar, "Aku ... Bingung Ya," ujarnya dengan tatapan menerawang.
"Kenapa Mas? Ada masalah dengan Sarah?" harapku begitu.
Dia lalu menunduk, "Masalahku cukup rumit Ya," ujarnya.
"Ceritalah Mas, siapa tau aku bisa memberikan solusi," tawarku dengan senyum terpaksa.
Meskipun harus menyiapkan hati kalau saja Mas Azam menceritakan Sarah, aku akan mencoba menahannya sebisa mungkin.
"Biaya pernikahan kami cukup besar Ya. Semua itu atas keinginan keluarga Sarah," jelasnya.
Sepertinya dia tertekan dengan tuntutan keluarga Sarah. Di sinilah aku akan masuk menyingkirkan kamu Sarah.
Aku memilih diam dan mendengarkan saja.
"Maaf Mas, Hulya juga katanya teman-teman kita dulu. Bukankah Mas Azam dari keluarga berada?" tanyaku penasaran.
Niat ingin jadi pendengar, kuurungkan sebab sepertinya ada hal yang membuatku penasaran.
Ya, aku penasaran akan kehidupan lelaki itu, dia begitu tertutup tentang kehidupan pribadinya.
"Mas dari keluarga biasa Ya, yang sebenarnya terjadi, Mas di buang oleh keluarga Mas, entah karena apa. Selama ini mas tinggal dengan om dan tante aja," jelasnya.
"Lalu masalahnya apa Mas?" sambungku makin penasaran.
"Kamu tau kan, jika sesuatu di mulai dengan kebohongan, maka akan ada kebohongan-kebohongan lain yang akan di lakukan," ucapnya penuh teka-teki.
Meski gemas, aku tetap menunggu dengan sabar.
"Mas tak tau apa yang sudah di ceritakan oleh Sarah tentang orang tua Mas. Saat kami memutuskan menikah, tiba-tiba orang tua Sarah menanyakan keberadaan orang tua Mas," lanjut Mas Azam lemah.
"Maaf Mas Azam, memang orang tua mas Azam ke mana? Apa Sarah tau akan keadaan Mas?"
"Orang tua mas ada di luar kota, mereka memilih memutuskan hubungan dengan Mas, meski tetap memenuhi kebutuhan materi Mas," jelasnya.
"Tega sekali orang tua Mas itu!" sungutku kesal.
__ADS_1
Entah apa yang ada di otak kedua orang tua Mas Azam, mengapa mereka menelantarkan Mas Azam.
Memangnya seorang anak hanya butuh biaya saja, anak juga butuh perhatian orang tua. Omelku dalam hati.
"Lalu ada masalah apa Mas?" tanyaku ingin tau inti masalahnya.
"Dari awal Mas melamar Mas selalu sendiri dan kini orang tua Sarah meminta Mas membawa orang tua Mas turut hadir di acara pernikahan kami," jelasnya sendu.
"Apa Mas sudah menghubungi mereka?"
Dia menggeleng, "Sudah, mereka menolak dan hanya memberi Mas sejumlah uang."
Aku menepuk bahu Mas Azam menguatkan, ternyata kehidupannya sangat rumit. Ingin sekali aku menjadi tempatnya bersandar.
Lelaki ini harusnya berjodoh denganku karena aku bisa memahaminya, bukan Sarah yang justru hanya bisa menekannya.
"Terima kasih Ya. Maaf kalau selama ini Mas kasar sama kamu, karena Mas tak ingin merusak rumah tanggamu," ucapnya yang membuatku terperangah.
"Ma-maksudnya?" tanyaku gugup. Dia seperti memberi harapan padaku.
"Bohong jika Mas tidak tertarik denganmu. Tapi Mas tau dan sadar, Mas tak layak untukmu," ucapnya di sertai senyum menawan.
Hatiku berdetak kencang, tak terkira rasa bahagianya.
"Itu dulu Ya, sekarang aku senang akhirnya kita bisa berdamai dan saling menerima," sambungnya yang membuat aku jatuh seketika.
Apa maksud ucapannya? Tadi dia berkata jika pernah menyukaiku lalu bilang sudah melupakannya. Plin-plan sekali, gerutuku.
Kusiapkan penampilan sebaik mungkin, aku akan membuat Mas Azam menyesal karena pernah mengubur cintanya untukku.
Sengaja aku datang dengan pakaian hitam karena ingin merasa berbeda saja. Pasti Sarah akan geram saat melihatku.
Benar saja, Sarah menatap nyalang diriku, dia bahkan memperingatkan Mas Ragil agar mengawasiku, dia benar-benar takut padaku.
Satu hal yang membuatku heran, seorang wanita paruh baya yang duduk di kursi orang tua mempelai, selalu menatap ke arah kami, membuatku risi.
Saat bertanya ke Mas Ragil, suamiku justru menjawab dengan cibiran. Kesal sekali aku di buatnya.
Wanita paruh baya itu ikut bangkit kala melihat Mas Ragil juga pergi ke toilet.
Karena penasaran aku mengikuti keduanya.
"Kamu anaknya Rukayah?" tanya wanita itu pada suamiku.
Apa dia ibunya mas Azam? Mengapa kenal dengan Mertuaku?
"Iya Bu, ibu kenal ibu saya?" jawab Mas Ragil canggung.
"Syukurlah," jawab wanita paruh baya itu lalu menyeka matanya.
"Kamu tampan sekali, Aku Hamidah, teman ibumu, berikan salamku untuknya ya," pinta wanita bernama Hamidah itu pada suamiku.
__ADS_1
Ternyata teman ibu mertuaku? Dunia sempit sekali. Kalau benar itu ibunya Mas Azam, berarti ibunya Mas Azam dan Ibunya Mas Ragil itu berteman, mungkin aku bisa berbicara dengan ibu mertuaku tentang sikap temannya itu nanti.