
Ragil tengah berkutat dengan berkas-berkas yang ada di depannya.
Semua terasa baru baginya, untung Maya dan Tyo tak meninggalkannya begitu saja dengan perusahaan milik mereka.
"Pak, pihak dari perusahaan CTX udah hadir," ucap Meilia pada atasan barunya.
Ragil menengadah dan bangkit untuk menyambut tamunya.
Saat dua orang wanita itu masuk ke dalam ruangannya, Ragil membelalak tak percaya.
"Bu Farah? Mbak Sarah?" sapanya.
"Pak Ragil? Jadi ... Bapak kerja di sini?" jawab Farah.
Ragil hanya tersenyum, karena sepertinya Farah tidak tau dengan status barunya.
"Maaf Bu Farah, beliau pimpinan baru di sini anak dari bapak Tyo Nugraha," jelas Meilia.
"Mei, tolong bawakan tamu kita minum," sela Ragil yang malu dengan penjelasan sekretarisnya.
Sarah sendiri tak percaya lelaki di hadapannya ini adalah anak dari pengusaha sukses yang sering bekerja sama dengan perusahaan Farah.
Entah kenapa tiba-tiba dirinya ingin tersenyum.
"Kenapa Sar?" tegur Farah heran.
Sarah gelagapan karena ketahuan tengah memikirkan lelaki di depannya ini.
"Ngga papa," jawab Sarah sambil kembali menyibukkan diri.
Penampilan Ragil yang tengah mengenakan kemeja biru muda dengan lengan di gulung hingga ke siku menambah kesan macho pada lelaki itu.
"Jadi bagaimana mengenai pengiklanannya Bu Farah?"
Ragil tetap memanggilnya Ibu karena demi sebuah profesionalitas kerja.
Farah yang memang sudah lama bekerja sama dengan perusahaan Nugraha itu begitu cekatan dalam menjelaskan.
Hanya Sarah yang sepertinya kurang fokus karena selalu melirik Ragil.
Kenapa aku deg-degan ya liat Ragil?
"Iya kan Sar?" tanya Farah.
Sarah kembali melihat keduanya dan mengernyit bingung. Saat pandangannya bertemu dengan Farah sepupu sekaligus atasannya itu mendesah kesal.
"Kamu ngga fokus lagi Sar?" bisik Farah gemas.
"Maaf, Maaf," balasnya.
"Maaf ya Pak Ragil," ucap Sarah tak enak hati.
"Berhubung ini udah waktunya makan siang, bagaimana kalau kita makan siang dulu? Baru lanjut lagi pembahasannya," ajak Ragil.
Farah mengangguk setuju, dia merasa tidak enak hati karena ke tidak fokusan Sarah. Sepupu sekaligus bawahannya itu sangat tidak profesional menurutnya.
Ketiganya lalu turun ke parkiran bersama. Ragil lalu menawari keduanya agar pergi bersama saja, tapi di tolak oleh Farah.
Bukan tanpa sebab Farah menolak, karena dirinya ingin menegur Sarah di dalam mobil.
"Kenapa nolak sih Far!" gerutnya.
__ADS_1
"Hei apa maksudmu? Aku ini ngga ngerti loh Sar sama kamu! Kita ini meski pun kenal dengan Ragil, tetap harus profesional dong, kamu kenapa ngelamun sambil senyum-senyum sendiri!" gerutu Farah.
"Kamu lagi mikirin suami kamu itu?" tebak Farah asal.
Farah merasa geram dengan keputusan Sarah yang memilih memberi kesempatan kedua untuk suaminya.
Bukan ingin ikut campur, tapi menurut Farah selingkuh adalah sebuah penyakit, tak begitu saja bisa sembuh.
Mungkin sekarang hubungan keduanya telah berakhir, tapi tidak menutup kemungkinan akan ada perempuan lain kelak.
"Apaan sih Far, udah deh jangan mulai. Mas Azam udah berusaha bersikap baik loh selama ini," bela Sarah.
"Serah kamu aja Sar!" putus Sarah.
Keduanya sampai di restoran, tepat saat ketiganya hendak duduk di sebuah kursi, tak sengaja pandangan Farah tertuju pada lelaki yang tak asing baginya.
"Bukannya itu kakaknya si Hulya ya? Sama siapa? Ah ngga bener banget keluarga itu!"
Ragil dan Sarah lalu menatap seseorang yang di tunjuk Farah dengan dagunya.
Ragil tak terkejut sebab Zahra pernah memberitahunya dulu. Hanya saja dia baru kali ini dia melihat istri kedua mantan kakak iparnya itu.
"Bukannya itu selebgram yang lagi naik daun ya?" jawab Sarah.
Farah mengedikkan bahu tak peduli, begitu juga dengan Ragil.
"Ngga nyangka ternyata mereka juga selingkuh!" tukas Sarah.
"Udahlah ngga usah di lihatin! Bukan urusan kita tau," sambar Farah.
Usai, makan ketiganya kembali membahas masalah kerja sama mereka. Kali ini Sarah sudah fokus pada kerjanya.
Ragil merasa puas dengan kinerja Farah dan akhirnya dia menyetujui kerja sama itu.
.
.
Terdengar suara lelaki paruh baya itu tengah mengiba pada orang tuanya.
"Saya minta tolong Mbak, kali ini saja," ucapannya begitu menyayat hati, Ragil yang mendengar sampai tak tega.
"Mah, Pah ada apa?" panggilnya menghentikan obrolan keduanya.
"Kamu udah pulang sayang?" jawab Maya lembut sambil meminta putranya untuk duduk.
Ragil pun duduk di sebelah sang ibu mengapit wanita paruh baya itu dengan sang ayah.
"Ada apa Om?" tanya Ragil meski dia sudah tau jawabannya.
"Tantemu drop di penjara, di sana penyakitnya tidak bisa di tangani dengan baik. Om hanya berharap sedikit belas kasihan dari mamahmu," ucap Amar memberitahu.
Tyo sebenarnya tak tega melihat adiknya terpuruk seperti itu. Namun tak ada yang bisa ia lakukan, semuanya di atur oleh sang istri.
"Mah, gimana kalau kita lihat dulu kondisi tante Hamidah?" tawar Ragil sambil menggenggam tangan ibunya.
Maya mendesah, sebenarnya dia ingin menolak sebab tau keadaan Hamidah memburuk dan akan membuat putra dan suaminya tak tega.
"Ini masih jam besuk, kalau kalian mau aku bisa mengantar kalian," jawab Amar semangat.
Dirinya sangat berharap setelah keluarga kakaknya mengetahui kondisi sang istri, dia yakin mereka akan memberi pengampunan untuk istrinya.
__ADS_1
"Baiklah," jawab Tyo mengalah.
"Kamu baru pulang Nak, apa ngga cape?" tanya Maya berharap sang putra akan mengurungkan niatnya.
"Ngga papa Mah, Ragil masih kuat kok," jawabnya.
Akhirnya mereka berempat pergi menuju rumah sakit tempat Hamidah di rawat.
Terlihat ada satu petugas polisi yang tengah berjaga di depan.
Hamidah di rawat di rumah sakit umum dengan fasilitas yang tak begitu lengkap.
Dia seharusnya rutin menjalani kemoterapi untuk merekan penyakit kanker rahimnya.
Amar pun melapor pada petugas, jika keluarganya ingin menjenguk Hamidah.
"Baiklah Pak Amar, tapi hanya sepuluh menit aja ya, karena memang sudah waktunya tutup jam besuk," jawab sang petugas.
Amar pun mengangguk menyanggupi dan meminta keluarga kakaknya untuk masuk.
Ragil merasa tak tega saat melihat sesosok wanita yang dulu pernah bertemu dengannya.
Wanita itu sangat berbeda. Tubuhnya kurus dan pucat.
"Sayang," sapa Amar pada istrinya lembut.
"Mas, kamu datang lagi?" heran Hamidah karena suaminya kembali lagi.
"Aku bawa Mbak Maya dan keluarganya," terang Amar.
Hamidah menangis dan mencoba bangkit. Amar lantas mendekat untuk membantu istrinya duduk.
"Mbak Maya, Mas Tyo, maafkan aku," lirihnya.
"Ragil, maafkan tante ya," ucapnya pada Ragil.
"Iya tante Ragil udah memaafkan tante. Tante harus sembuh," balas Ragil pada perempuan paruh baya itu.
Maya hanya bergeming, bohong kalau dia tidak ikut sedih dengan keadaan adik iparnya.
Namun saat ingatannya kembali pada kenangan dulu, tentu saja Maya masih merasakan sakit hati akibat ulah Hamidah.
Saat ini dia merasa seolah-olah dirinya yang terlihat kejam, padahal dia hanya ingin membuat Hamidah jera.
Kesakitannya saat ini adalah buah dari kelakuannya, bukan karena dirinya yang kejam, begitu pikir Maya.
"Mah?" panggil Ragil saat mereka sudah kembali di dalam mobil.
"Iya?" jawab Maya lembut.
"Tolong maafkan tante. Ragil tau rasa sakit hati mamah. Tapi mamah liat kan Ragil baik-baik aja," pinta Ragil.
Maya menghela napas, "mungkin kalian tak ada yang tau betapa sakitnya hati mamah, tapi ya sudahlah, asal kalian ngga memikirkan Hamidah lagi. Mamah akan mengalah kali ini," jawab Maya pasrah.
Ragil yang sedang mengemudi tersenyum cerah, dia tau sang ibu pasti memiliki hati yang lembut, meski baru beberapa waktu mereka dekat. Namun Ragil bisa mengenali sifat ibunya yang penyayang.
.
.
.
__ADS_1
Tbc