Secangkir Kopi Hitam

Secangkir Kopi Hitam
Bab 41


__ADS_3

Aku menuju ke tempat janjian dengan Faisal. Letak kafe itu tak begitu jauh dari rumah, hingga tak membutuhkan waktu lama.


Awalnya Saeba merengek minta ikut, tapi aku menolak, kuberi adiku pengertian jika bisa saja Faisal kabur begitu dia melihat keberadaan Saeba.


Ternyata Faisal sudah menungguku di sana, segera kudekati lelaki yang masih menyandang sebagai adik iparku itu.


"Sal?" sapaku. Dia lalu bangkit menyambutku dengan mengulurkan tangannya menyalamiku.


"Udah lama?" tanyaku.


"Baru Bang," jawabnya, lalu kami duduk berhadap-hadapan.


"Abang yakin kamu udah tau tujuan pertemuan ini," ucapku terus terang.


Dia lalu mengangguk. "Kenapa tiba-tiba kamu meninggalkan Saeba?"


"Aku terpaksa Bang. Apa Abang memiliki masalah dengan Ka Hulya?" tanyanya.


Tiba-tiba pikiran burukku menyeruak, jangan-jangan dia pun di bawah tekanan keluarga Hulya.


"Apa kamu di ancam Ommu?" tanyaku geram.


Dia mengangguk, "benar Bang, beliau memintaku meninggalkan Saeba, kalau tidak, maka beliau akan menarik lagi uang yang sudah mereka berikan pada usaha keluargaku," jelasnya.


Kukepalkan kedua tanganku, ini sudah sangat keterlaluan, kenapa mereka bertindak di luar batas seperti ini.


Di mana otak mereka sebenarnya, tak adakah rasa iba sebagai sesama manusia? Kenapa mereka memainkan perasaan dan hidup orang lain dengan kekuasaan yang mereka miliki?


"Kenapa kamu ngga melawan Sal? Kalau kamu mau kembali sama Saeba, maka Abang akan mendukungmu, ayo sama-sama kita hadapi mertua Abang!" ajakku.


Namun respons Faisal justru mengejutkanku, dia malah tersenyum.


"Maaf Bang, aku memang di paksa berpisah oleh keluarga Om Afdhal, tapi yang perlu Abang tau, aku memang berniat meninggalkan Saeba," ucapnya.


Aku bangkit berdiri, ternyata dia justru senang dengan kesepakatan itu. Memang aku sudah tau kalau dia berniat berpisah dengan Saeba, hanya aku tak menyangka jika dia justru segembira ini.


"Kamu tau, Saeba sangat mencintaimu! Kenapa kamu begini Sal? Bahkan sejak kemarin dia menangis terus dan ngga mau makan! Apa kamu ngga kasihan sama dia?" ucapku penuh penekanan.


"Dia sudah biasa seperti itu Bang, semua keinginannya harus di penuhi, bukannya aku udah bilang sama Abang kalau aku tertekan dengan pernikahan ini? Aku menyerah, aku ngga mau terus menerus melakukan sesuatu yang ngga aku sukai."


"Dan yang perlu Abang tau, aku merasa Saeba ngga mencintaiku, dia hanya terobsesi padaku. Jadi maafkan aku Bang, aku harap Abang mengerti," ucapnya.


"Benarkah kamu ngga berharap mempertahankan rumah tanggamu Sal?" tanyaku untuk terakhir kalinya.


"Maafkan aku Bang. Aku harus pulang, sekali lagi maafkan atas keputusanku ini Bang," ucapnya lalu menyalamiku dan pergi berlalu.


Aku termenung sendirian di sini, sia-sia aku bertemu dengan Faisal. Nyatanya adik iparku itu memang tak berharap mempertahankan rumah tangganya.


Ponselku berdering, ibu kembali meneleponku.


"Ya Bu?" sambarku.


"Saeba, Gil! Saeba! Ahhhh ..." jeritnya. Suara ibu terdengar panik, aku bergegas bangkit dari dudukku.


"Ibu! Ibu kenapa? Saeba kenapa?" tanyaku tapi tak ada jawaban, hanya suara tangisan ibu yang memanggil-manggil nama Saeba.

__ADS_1


Kumatikan panggilan teleponnya agar bisa fokus menyetir.


Aku berharap Saeba baik-baik saja seperti saat tadi kutinggalkan.


Saat sampai, rumahku dalam keadaan ramai. Aku berlari menerobos kerumunan para tetangga.


"Ada apa ini Pak?" tanyaku pada lelaki yang berdiri di dekat kamar Saeba.


"Ya ampun Mas Ragil!" pekiknya terkejut.


"Saeba dan Ibu Rukaya saat ini ada di rumah sakit," ujarnya memberi tahu.


"Memang ada apa pak? Apa yang terjadi?" tuntutku.


"Saeba berusaha bunuh diri Mas Ragil," jawabnya.


Pandanganku terasa kabur, tak menyangka jika adikku akan berbuat nekat seperti ini.


Tubuhku limbung, untung ada sofa di belakangku yang bisa kujadikan tumpuan.


"Mas Ragil! Astagfirullah, yang sabar Mas," ucap salah satu warga yang mendekatiku.


Lalu ibu-ibu yang berada di sana menyodorkan air putih padaku.


"Yang sabar Mas Ragil, sebaiknya Mas Ragil segera susul Bu Rukayah, beliau pasti membutuhkan Mas Ragil saat ini," ucap ibu-ibu itu.


"Terima kasih Bu, Pak, saya pamit dulu, maaf saya titip rumah," ucapku pamit pada mereka.


"Mas Ragil tenang aja, saya Rt di sini, saya pastikan rumah ini aman," jawab bapak-bapak yang sedari awal menjawab pertanyaanku.


Aku sampai di rumah sakit yang di beritahu oleh ketua Rt tadi.


Gegas kulangkahkan kaki menuju ruang instalasi gawat darurat, karena aku yakin Saeba pasti masih di sana.


Benar saja, ada ibu yang sedang berdiri di depan pintu ruang operasi.


"Bu!" panggilku sambil berlari mendekatinya.


Beliau langsung memelukku dan tangisannya kembali pecah.


"Saeba, Gil, Saeba!" isaknya.


"Ibu yang tenang, sabar, kita doakan agar Saeba baik-baik aja," pintaku lalu mengajak ibu duduk di depan ruang operasi.


Kami tak berbicara sepatah kata pun, aku sibuk berdoa dan menenangkan ibu, sedangkan Ibu masih saja menangis.


Tak lama seorang Dokter keluar dari sana sambil melepaskan sarung tangannya.


"Keluarga Ibu Saeba?" tanya beliau pada kami.


"Iya Pak, saya ibunya, bagaimana keadaan anak saya?" sambar Ibu.


Dokter di depan kami, tersenyum, aku mengartikannya jika Saeba baik-baik saja.


"Operasi berjalan lancar, untungnya pendarahan Bu Saeba tidak terlalu dalam dan membahayakan janinnya," jelas sang Dokter.

__ADS_1


Aku dan ibu terpaku, jelas jika kehamilan Saeba merupakan kabar baru bagi kami.


"Ja-janin?" ucap ibu tergagap.


"Betul, beliau sedang hamil sekitar empat minggu," jelas sang Dokter bingung.


"Sepertinya tak ada yang mengetahui kehamilan Bu Saeba ya, kalau begitu selamat ya. Saya harap jaga mental beliau agar tak menyakiti dirinya lagi," sambung sang Dokter dan berlalu dari hadapan kami.


"Ibu mau punya cucu Gil," sekarang mata ibu tampak berbinar, sungguh ini sebuah berita menggembirakan.


Aku berharap setelah mendengar kabar kehamilan Saeba, Faisal mau mengurungkan niatnya untuk berpisah dari Saeba.


"Bang, coba kamu hubungi Faisal, beritahu kabar bahagia ini, Ibu yakin dia pasti akan kembali sama Saeba," pinta Ibu.


Aku lalu mengangguk dan mencoba menghubungi Faisal.


Dering ke dua barulah panggilanku mendapat jawaban.


"Iya Bang, ada apa?" tanyanya.


"Sal, bisa kamu ke rumah sakit Mulya Husada?" pintaku.


"Siapa yang sakit Bang?"


"Saeba, Sal dia ... Hamil," ucapku penuh harap.


Dia diam saja, aku tak tau kabar ini membuatnya bahagia atau tidak.


"Maaf Bang, aku ngga bisa menemui Saeba saat ini. Terima kasih atas kabar baik ini," ucapnya yang membuatku mengepalkan tangan seketika.


"Kamu ngga mau menjenguk istrimu? Saat ini dia sedang mengandung anakmu Sal!" bentakku yang tak bisa menahan emosi.


"Maaf Bang, aku pasti akan bertanggung jawab dengan anak itu, tanpa harus terikat pernikahan lagi dengan Saeba," jawabnya yang terdengar sangat kejam bagiku.


"Baiklah, kalau itu keputusanmu, jangan menyesal suatu saat Sal," kecamku.


"Tidak akan Bang, sekali lagi maafkan aku."


Merasa muak dengan sikap abainya, kuputuskan untuk mengakhir panggilan kami tanpa salam.


Ibu lalu mendekatiku, pancaran matanya penuh harap.


Maafkan aku Bu, sepertinya Saeba harus menerima keputusan Faisal, batinku.


"Gimana Gil? Faisal langsung datang ke sini kan?" tanya ibu penuh harap.


Aku menarik napas panjang dan memeluknya. Berusaha menguatkan dirinya yang pasti tengah kacau.


"Faisal sedang sibuk Bu. Fokus saja pada kesehatan Saeba saat ini ya," pintaku.


.


.


.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2