Secangkir Kopi Hitam

Secangkir Kopi Hitam
Bab 22


__ADS_3

Paginya, Mbak Zahra selalu menggodaku, karena melihat jalanku yang kesusahan.


Sungguh aneh, meski semalam aku menikmatinya, tapi entah kenapa tiba-tiba timbul perasaan bersalah pada mas Azam.


"Semoga cepat isi ya Ya!" ledek mbak Zahra.


Aku mencebik, tak mungkin aku hamil, sebab aku sudah mengantisipasinya dengan meminum pil kontrasepsi.


Aku belum siap menjadi seorang ibu di usiaku yang masih muda, lagi pula aku ingin menikmati masa mudaku, jadi terpaksa aku menundanya tanpa memberi tahu Mas Ragil.


"Gimana ya?" cerca Mbak Zahra meledek.


"Kamu ini Ra! jangan menggoda adikmu terus!" sela Umi.


Kami menikmati sarapan pagi dengan ceria. Abi pun senang mendengar kabar tentang malam pertama kami. Dia juga menepati janjinya agar aku bisa mengajar di yayasan keluarga.


Sama seperti Umi, Abi pun berharap aku bisa segera memberinya seorang cucu.


Hanya Mas Ragil yang mengamini ucapan mereka dengan yakin, sedangkan aku berharap sebaliknya.


.


.


Sikapku pada Mas Ragil tak berubah, aku masih menjaga jarak dengannya. Bahkan setelah malam pertama yang kupikir akan bisa membuat hatiku terbuka nyatanya sia-sia.


Aku tetap tak bisa mencintainya. Bahkan hubungan badan kami selanjutnya kulalukan karena terpaksa, aku tak pernah lagi menikmatinya.


Untungnya Mas Ragil tak pernah memaksa dan menuntut lagi kalau aku bilang tak enak badan atau alasan lainnya.


Pagi ini aku semangat sekali menyiapkan diri, hijab panjang yang membungkus diri ini serta seragam pengajar yang gunakan menambah kesan elegan diriku.


"Kamu yakin mau ngajar Dek?" tanya suamiku tampak ragu.


Hatiku menggeram kesal, apa dia juga ingin melarangku? Tidak akan bisa!


Aku tersenyum manis sebelum menjawabnya, "iya mas, aku akan merasa bosan sendirian di rumah. Kamu jangan khawatir aku ngga akan melalaikan kewajibanku," jelasku sebelum dia bicara panjang lebar.


Dia mengusap kepalaku, "bukan itu yang Mas takutkan, hanya saja Mas penasaran apa uang bulanan yang bisa Mas berikan ngga cukup? Hingga kamu memutuskan untuk bekerja?" tanyanya ragu.


Mata yang sayup itu tak mampu menggoyahkan keteguhan hatiku.


"Mas salah paham, aku hanya ingin menyalurkan ilmuku, apa Mas keberatan?" tanyaku sambil menunduk. Aku terisak, biasanya dengan cara seperti ini dia akan luluh padaku.


Kulihat dia bergerak gelisah, aku suka sekali melihatnya merasa bersalah seperti ini.


"Maafkan Mas Dek, sungguh Mas ngga bermaksud seperti itu. Ya sudah kalau kamu mau mengajar, Mas ngga masalah. Mas hanya terkejut karena kamu belum bicara dengan mas akan hal ini," jelasnya.

__ADS_1


Astaga aku lupa memberitahunya, dari pada di salahkan, aku lebih baik diam menunduk.


"Maaf Mas, aku kira Abi udah ngasih tau," elakku.


Dia kembali mengusap kepalaku, membuatku menengadahkan kepala menatapnya.


Lagi-lagi dia hanya bisa tersenyum, "ya sudah, semoga ilmu kamu bermanfaat di sana ya. Dan semoga cepat hadir malaikat di sini, agar menjadi pelengkap rumah tangga kita," ucapnya penuh harap.


Itulah penutup perbincangan kami pagi ini.


.


.


Ternyata kehadiran Mas Azam di sekolah itu mengundang banyak perhatian dari para guru wanita muda di sana.


Dasar genit! Makiku dalam hati. Saat melihat sikap mereka.


Di sini bahkan banyak yang terang-terangan memberi perhatian pada Mas Azam, tapi sayangnya lelaki itu bersikap biasa pada semuanya, jadi kurasa tak ada yang bisa menaklukkan hatinya.


Hatiku panas mendapati Mas Azam menjadi incaran para guru wanita di sana, meski pada kenyataannya dia memang tak memiliki tambatan hati.


Namun aku tak boleh lengah, bisa saja salah satu dari mereka bisa mencuri perhatian mas Azam.


Tidak, aku tidak rela, dia milikku hanya milikku.


"Hulya? Kamu ngajar di sini juga?" tanya Mas Azam tak percaya, saat akhirnya dia melihatku.


Mas Azam terkejut, dia terbelalak saat menatapku. "Benarkah? Ya ampun Hulya, kamu memang orang yang rendah hati, ngga mau nunjukin kalau kamu dari keluarga terhormat," ujar Mas Azam haru.


Aku semakin merona di nilai seperti itu olehnya.


"Betul itu Pak Azam, anak-anak dari Pak Afdhal memang rendah hati semua, bahkan Pak Zhafran juga selalu turun tangan kelapangan jika ada kegiatan bakti sosial," jelas Pak Sahrul yang semakin menambahkan nilai diriku dan keluargaku.


Sayangnya statusku yang sudah menikah juga harus terbongkar karena ucapan mas Azam pada rekan-rekan kerja kami.


Sebenarnya aku sedikit kesal karena itu artinya aku tak bisa leluasa memberikan perhatian padanya.


Aku takut ada yang memandang rendah diriku, karena tau statusku.


.


.


Hari berganti semakin cepat, dua bulan sudah aku berumah tangga dengan mas Ragil, tapi tak ada kemajuan yang berarti dalam hubungan kami.


Aku juga sering kesal saat Mas Ragil sering mengajakku ke rumah abi dan umi.

__ADS_1


Dia tidak tau, kalau aku ke sana abi dan umi pasti bertanya apa aku udah isi apa belum, seolah orang menikah harus langsung segera memiliki anak.


Untungnya aku memiliki ide lain, yaitu mengajak Mas Ragil ke rumah orang tuanya. Ingin tahu perkembangan usaha ayah mertuaku yang menghabiskan uang Abi cukup banyak.


Entah dia itu hutang atau tidak. Sebab setahu aku, Umi pernah berkata uang yang di berikan oleh Abi tak pernah sekalipun ayah mertuaku kembalikan.


Aku penasaran, sebenarnya suamiku tau atau tidak dengan kelakuan keluarganya.


"Bang Ragil? Ka Hulya?" pekik Saeba adik iparku dengan suara cemprengnya.


Tak bisa ku abaikan penampilannya. Aku sangat tahu berapa harga gamis yang ia pakai. Enak sekali hidupnya, menghamburkan uang kerja keras sepupuku Faisal.


"Mbak Hulya?" sapa Faisal.


Sebulan terakhir ini Faisal selalu mengirim pesan padaku. Dia menceritakan masalahnya dengan Saeba dan mertuaku yang boros.


Dia berharap aku menceritakan keluhannya pada suamiku dengan caraku, tapi tak pernah kulakukan, setidaknya dia harus menanggung akibat dari keputusannya sendiri.


Dulu aku kira setelah Faisal mau menikah dengan Saeba, perjanjian antara Abi dan ayah mertuaku akan berakhir.


Meski bukan dari anak kandung, setidaknya keluarga besar kami bisalah jadi pemersatu janji mereka.


Sayangnya semua percuma, setelah menikahkan Faisal dengan Saeba dengan iming-iming Abi mau memberikan pamanku modal untuk usaha mereka, Abi tetap melanjutkan perjodohan kami.


Jadi aku rasa Faisal harus merasakan harga yang harus dia bayar mahal untuk modal usaha orang tuanya.


"Gimana kabarnya Mbak?" sela Faisal yang aku tau dia pasti ingin bicara denganku.


"Baik, kamu gimana Sal?" tanyaku balik meski enggan.


"Baiklah Ka, lihat kan kami berdua makin romantis!" sela Saeba sambil menggandeng Faisal.


"Ya ampun kamu bawanya kaya gini aja Ya?" tanya ibu mertuaku saat aku meletakan buah tangan untuknya.


Ya Allah, bukannya mengucapkan terima kasih, ibu mertuaku justru terlihat cuek pada bawaanku.


Padahal aku merasa itu cukup layak, bahkan kue yang kubawa juga berharga cukup mahal.


"Maaf Bu, saya ngga tau apa kesukaan Ibu dan yang lainnya," putusku.


Tiba-tiba Mas Ragil mendatangi kami, "Ibu jangan begitu, itu kue juga terkenal enak Bu, coba deh pasti ibu ketagihan," selanya.


Kulihat ibu mertuaku hanya mendengus lalu mengambil piring kecil untuk menghidangkannya.


"Maafin ibu ya Dek," bisik mas Ragil ketika ibu mertuaku tengah sibuk di mengambil piring.


Aku mengangguk, dasar tak tau diri, apa dia lupa kalau aku adalah anak dari orang yang selalu membantu suaminya.

__ADS_1


Sejak saat itu Mas Ragil tak pernah lagi mengajakku ke rumah orang tuanya, jika tak ada keperluan darurat, itu pun seringnya hanya dia yang datang tanpa aku.



__ADS_2