
Ragil meremas pelan tangan Farah yang masih tertaut dengannya.
Dia merasa ada sesuatu antara Farah dengan lelaki di hadapannya ini.
"Farah?" panggil lelaki itu lagi.
Farah mencoba tenang di tengah jantungnya yang berdebar sangat kencang. Pria yang sudah menyakitinya terlalu dalam itu seperti menunggu jawabannya.
Farah mengatur napasnya dan melirik sang kekasih yang tersenyum kecil.
Ya, pria di depannya adalah Alan, mantan tunangannya yang memilih pergi menjelang hari pernikahan mereka.
"Maafin aku," lirih Alan yang panggilannya tak mendapatkan respons dari mantan tunangannya.
Farah menarik napas dalam dan menghembuskannya secara perlahan. Dia sepertinya butuh oksigen yang banyak untuk menenangkan diri.
"Apa sebaiknya kita bicara sejenak?" tawar Ragil pada keduanya.
Dia yakin ada hal yang harus mereka selesaikan saat ini juga.
Farah menatap tak percaya pada permintaan sang kekasih. Di lihatnya Ragil begitu tenang, seperti tak mempermasalahkan apa yang akan terjadi kalau dirinya berbicara dengan Alan.
Memang apa yang akan terjadi? Batin Farah merancu. Dia berpikir berbagai kemungkinan buruk saat ini.
Berteriak, memaki, menghajar bahkan ada terbesit sedikit keinginan untuk membunuh Alan, kalau saja dia tidak bisa mengontrol emosinya saat ini.
"Tenanglah, bukankah ini keinginan kamu? Selesaikan dengannya, tuntaskan urusan kalian. Apa pun keputusanmu aku akan terima," bisik Ragil lembut.
Sayangnya ucapan sang kekasih justru seperti belati yang menusuk jantungnya.
Farah tak paham apa maksud ucapan Ragil. Dia memang ingin bertemu dengan Alan dan bertanya tentang kegelisahannya selama ini.
Namun bukan berarti dirinya akan kembali pada pria itu, bukankah Ragil sangat tahu tentang hal itu? Lantas mengapa sekarang Ragil berbicara seolah-olah mereka akan berpisah?
Farah menolak tegas. Dia tak akan terjerat oleh ucapan Alan. Dia hanya butuh penjelasan agar batinnya tenang.
Sedangkan bersama Ragil adalah keputusan mutlak yang akan dia jalani di kehidupannya yang akan datang.
Ketiganya duduk berhadapan. Terlihat sekali Alan merasa canggung dan gugup kala menatap manik mata mantan tunangannya yang telah dia sakiti sedemikian rupa.
Alan paham betul apa yang di rasakan oleh Farah. Namun saat melihat mantan kekasihnya itu terlihat tenang berhadapan dengannya ada sedikit rasa kecewa.
Terlebih lagi saat dia tahu kalau Farah sepertinya sudah menemukan pengganti dirinya.
Alan tersenyum hambar menertawakan pikirannya sendiri.
__ADS_1
Dia berharap apa saat bertemu dengan Farah? Mengharapkan gadis itu memaafkannya dan menerimanya kembali? Itu sungguh mustahil, rancunya.
"Bagaimana kabar kamu Rah?" tanya Alan yang akhirnya membuka suara.
"Maaf. Perkenalkan saya Alan," ucap Alan sambil menyalurkan tangannya pada Ragil.
Bahkan lidahnya kelu saat ingin mengungkapkan siapa dirinya pada lelaki yang dia yakin adalah kekasih Farah.
"Ragil, calon suami Farah," jawab Ragil tenang.
Dia harus menerangkan hubungannya dengan Farah agar lelaki di hadapannya ini tak lagi berniat mendekati calon istrinya.
Mata Alan membulat seketika, lalu setelah itu dia berusaha mengontrol dirinya.
"Ah ya, selamat kalau begitu," jawabnya kaku.
"Aku tinggal sebentar ya," ucap Ragil pada Farah dan mengusap kepala gadis itu.
Farah menatap bingung pada kekasihnya. Di lain sisi dia butuh Ragil untuk menenangkan dirinya dalam menghadapi Alan.
Namun di sisi lain, dia memang membutuhkan ruang sendiri untuk menyelesaikan masalahnya dengan Alan.
Farah tau kalau Ragil berusaha memberinya waktu untuk bicara sejenak dengan mantan tunangannya ini.
"Aku yakin kamu pasti ingin menjelaskan sesuatu padaku bukan Lan? Bicaralah, aku tak mau berlama-lama, karena aku memiliki urusan yang lebih penting dengan calon suamiku," balas Farah dengan penekanan di akhir kalimat.
Alan tersenyum hambar, dia tau kalau Farah seolah tengah menyindirnya.
"Pertama-tama aku mau minta maaf sama kamu dan tante Tania. Aku memang lelaki brengseeek dan pengecut yang pergi begitu aja tanpa penjelasan," ucapnya terjeda karena Alan harus menarik napasnya yang terasa sangat sesak.
Dia sangat tahu apa yang dia lakukan salah. Namun saat akan mengatakan kebenaran itu pun ia tahu kalau Farah nantinya akan merasa kalau itu hanya pembelaan dirinya semata.
Alan sudah bertekad untuk berkata jujur dengan Farah, oleh sebab itu dia kembali ke kota ini.
Ia tak menyangka jika niatnya mencari Farah akan semudah ini terlaksana.
Sepertinya Tuhan ingin agar dirinya segera menyelesaikan permasalahan mereka.
Farah tak menjawab, dia hanya butuh diam dan mendengarkan setelah itu pergi, begitulah pikirnya.
"Aku minta maaf Rah," lagi-lagi hanya kata maaf yang mampu di ucapkan Alan.
"Dari tadi kamu hanya berkata maaf tanpa menjelaskan. Aku butuh penjelasan bukan ucapan maaf kamu!" ketus Farah.
"Maaf," Alan tau Farah menunggu penjelasan darinya.
__ADS_1
Farah yang merasa muak karena Alan terlalu bertele-tele memutuskan bangkit dan hendak pergi mencari keberadaan Ragil.
Dia merasa percuma berbicara dengan Alan yang sepertinya enggan menjelaskan permasalahan mereka.
"Kamu mau ke mana Rah?" cegah Alan panik saat melihat Farah hendak meninggalkannya.
Dia masih ingin berbincang dengan Farah. Bahkan dia dengan tak tahu malunya sempat berharap obrolan mereka akan kembali hangat seperti dulu meski itu sangat mustahil.
"Aku menunggu dan aku bosan mendengar ucapan maafmu. Mungkin kita memang tak perlu lagi bertemu, karena aku merasa kamu tetaplah seorang pecundang," ucap Farah menohok.
"Baiklah. Duduk dulu, maafkan aku. Aku janji akan menjelaskannya," pinta Alan.
"Cepatlah, kamu hanya membuang-buang waktuku," keluh Farah sambil melihat jam di pergelangan tangannya.
"Memang semua salah aku. Aku juga malu kalau harus mengakuinya saat ini. Yang perlu kamu tahu, kalau aku melakukannya karena terpaksa," lirihnya.
Alasan yang sangat klise menurut Farah. Harusnya lelaki itu bicara padanya. Tak ada yang tidak bisa di selesaikan jika mereka mau saling jujur dan terbuka.
Harusnya seperti itu, tapi kini terasa sangat terlambat untuk menjawab seperti itu.
"Ibuku sakit Rah dan aku memerlukan uang yang cukup besar untuk mengobatinya," jelas Alan.
Farah melihat kesenduan pada wajah lelaki di hadapannya ini. Dia yang telah lama mengenal Alan cukup tahu kalau lelaki itu tidak sedang berbohong.
Dalam benak Farah menggerutu kesal, mengapa Alan tak bercerita kepadanya dulu? Kenapa baru sekarang setelah semuanya berakhir? Dia tak ingin di buat iba. Farah merasa harus tegas dengan perasaannya.
Tak ada lagi nama Alan di hatinya, hanya ada Ragil saat ini. Dia tak akan terbuai hanya karena penjelasan Alan.
"Karena ibu sakit akhirnya aku mengambil keputusan yang salah Rah. Dan kamu tau hukumanku karena telah menyakitimu? Bahkan ibu telah pergi dan semuanya terasa percuma."
Farah sangat tahu bagaimana sayangnya Alan pada ibunya. Yang masih menjadi tanda tanya besar, apa hubungan antara sakitnya ibunya Alan dengan kepergian lelaki itu beserta keluarganya dulu.
Apa mereka harus berobat jauh?
"Yang perlu kamu tahu, kalau semua juga ada campur tangan Sarah di dalamnya," jelas Alan yang sukses membuat Farah membelalak tak percaya.
Bagaimana bisa Sarah? Bahkan sepupunya itu baru tahu hubungan mereka ketika dirinya yang batal menikah.
.
.
.
Tbc
__ADS_1