Secangkir Kopi Hitam

Secangkir Kopi Hitam
Bab 76


__ADS_3

Ragil mengajak istrinya segera masuk ke kamar untuk beristirahat setelah Sarah pergi dari rumah mereka.


"Apa karena itu dia selalu membuatmu tak dapat menemukan kebahagiaan? Kukira dia ingin mendekati semua lelaki yang menyukaimu," ucap Ragil sambil terkekeh.


"Dia ingin mengusir para lelaki itu agar aku merasa frustrasi dengan kehidupanku dan akhirnya tak bisa konsentrasi dengan perusahaan, akhirnya dia bisa merebutnya tanpa perlu bersusah payah melakukan kejahatan," jawab Farah malas.


"Tebakanku sih kaya gitu dari ritme kejahatannya. Aku aja yang terlalu bodoh mengabaikan semuanya," sambungnya.


Ragil terkekeh lalu memeluk erat tubuh sang istri yang berada dalam selimut yang sama dengannya.


"Haruskah aku berterima kasih padanya?" ucap Ragil.


Farah mengernyit dan mendongak menatap sang suami tak mengerti.


Mengapa justru Ragil ingin berterima kasih pada Sarah yang hampir saja menghancurkan hidupnya.


"Dia membantuku menyingkirkan para lelaki itu. Bisa jadi aku tidak bisa memelukmu seperti ini kan kalau kamu berjodoh dengan salah satu dari mereka?" jelasnya buru-buru.


Farah menepuk dada bidang sang suami. Ternyata begitu maksud ucapan suaminya.


"Gimana kamu akan menghadapi dia besok? Aku yakin dia akan semakin menggila," ucap Ragil sebelum keduanya menutup mata karena lelah yang menerpa jiwa dan raga.


"Kita liat saja nanti."


.


.


Keesokan paginya, benar saja apa yang sudah di prediksi oleh Ragil dan juga Farah, Sarah pasti akan melakukan hal lebih gila lagi untuk mengusik kehidupan mereka.


Kini dia membawa Hulya ke kediaman Farah pagi-pagi buta seperti ini, entah apa tujuannya.


Farah dan Tania yang sudah lebih dulu bangun untuk menyiapkan sarapan memicingkan mata saat melihat pemandangan pagi ini di rumah mereka.

__ADS_1


"Ada apa ini Sar? Kenapa kamu membawa adik iparmu ke sini?" sindir Farah yang akhirnya mau tak mau menemui mereka.


"Yang tenang dong sayang, jangan sewot gitu. Aku cuma mau kasih tau adik iparku aja kalau mantan suaminya udah menikah lagi," ucapnya dengan senyuman manis.


Farah lalu menatap Hulya yang juga bingung seperti dirinya.


Sejujurnya Hulya sendiri terkejut dengan kabar pernikahan Ragil. Meski dalam hati dia menyadari tak mungkin dia kembali bersama dengan lelaki itu.


Namun dia tak tau mengapa dengan bodohnya dia mau saja di ajak oleh istri Azam ke rumah Farah pagi-pagi seperti ini.


"Lalu tujuan kalian apa datang ke sini?" tanya Farah sambil melipat kedua tangannya di dada.


Dia benar-benar habis kesabaran dalam menghadapi tingkah absurd dari sepupunya.


Sungguh dia tak mengerti jalan pikiran Sarah saat ini. Apa yang sebenarnya sepupunya itu inginkan darinya.


"Kita lihat bagaimana tanggapan Ragil kala melihat mantan istrinya. Aku cuma kasihan sama kamu yang di jadikan pelarian aja Far. Aku yakin Ragil masih mencintai Hulya, kamu bisa pegang ucapanku," ucapnya penuh percaya diri.


Farah hanya tersenyum miring mendengar ucapan aneh sepupunya. Dia tak tahu di mana Sarah meletakan otaknya itu. Mengapa hanya karena ingin menghancurkan kebahagiaannya saja dia harus rela melakukan hal konyol seperti ini.


Ketiga wanita itu menatap Ragil yang justru bingung menatap ketiganya.


Hulya bahkan sampai tak berkedip melihat mantan suaminya yang sangat jauh berbeda sekali saat ini.


"Ada apa ini sayang?" tanya Ragil begitu mendekati istrinya.


Tak lupa ia bubuhkan ciuman di kening sebagai sapaan pagi bagi sang istri.


Hulya menunduk, hatinya merasa cemburu. Dulu dia yang selalu menolak segala sentuhan cinta yang selalu ingin Ragil berikan.


Kini saat dia melihat Ragil melakukan hal romantis pada orang lain, hatinya yang merasa tak terima.


"Entah, aku tak tau apa maksud mereka bertamu pagi-pagi seperti ini, mengganggu aja!" gerutunya.

__ADS_1


Sarah lantas menyela keduanya, dia ingin memperlihatkan pada Farah jika Ragil masih memiliki perasaan pada mantan istrinya. Semua dia lakukan demi bisa mengompori Farah meski dia sendiri sempat cemburu kala melihat perhatian Azam pada adik iparnya itu.


"Apa kamu enggak merasakan sesuatu pada Hulya Gil? Kalian belum lama berpisah loh? Masa sih secepat itu kamu lupa sama Hulya?"


Ragil terkekeh melihat tingkah sepupu istrinya ini. Dia menebak jalan pikiran Sarah yang sangat dangkal dengan membawa Hulya dalam kehidupan rumah tangga barunya.


"Kami berpisah sudah setahun lebih, kalau pun aku berniat kembali padanya, bukan kah seharusnya sudah sejak lama? Kamu salah membawa Hulya ke sini," jawab Ragil.


"Kamu sudah menyiapkan sarapan? Aku ada rapat pagi ini." Ragil memilih mengalihkan perhatiannya kembali pada sang istri dan mengabaikan dua wanita yang memandang mereka dengan pemikiran yang berbeda.


"Tunggu Mas!" panggil Hulya kala Ragil hendak meninggalkannya bersama dengan Farah.


"Maaf kalau pagi-pagi sudah mengacaukan harimu. Aku sungguh enggak tau kenapa Sarah membawaku ke sini ..." lirihnya.


"Selamat untuk pernikahanmu, semoga kebahagiaan selalu menyertaimu. Maafkan aku yang dulu tak pandai bersyukur bisa bersuami kan lelaki baik sepertimu," ucapnya.


Perkataan Hulya justru seperti mengemis di pendengaran Farah. Istri Ragil itu hendak menjawab tapi di hentikan oleh Ragil.


"Terima kasih, aku pasti akan bahagia, karena telah menemukan perempuan yang aku cari selama ini," jawab Ragil dan keduanya saling memandang penuh cinta.


Mereka lantas meninggalkan Sarah dan Hulya yang merasa geram karena di acuhkan.


"Kalian pulanglah," usir Tania yang sejak tadi memilih diam melihat kelakuan ponakannya.


Dulu dia sangat menyayangi Sarah meski dia sendiri membenci Eriska. Namun kini dia merasa jika buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.


Melihat bagaimana sifat Sarah yang selalu merasa iri dengan kehidupan putrinya membuat rasa sayang itu menguar begitu saja.


.


.


.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2