
Hulya dan yang lainnya pulang dalam keadaan tangan kosong, sebab Ragil dengan tegas menolak memberi bantuan pada yayasan milik Afdhal yang hampir kolaps.
Hulya sendiri lebih banyak memikirkan perkataan terakhir mantan suaminya.
Benarkah mas Ragil akan segera menikah? Wanita mana yang beruntung bisa memiliki lelaki penyabar seperti mantan suaminya itu?
Tentu saja hatinya terluka, di saat sudah tak memiliki hubungan dengan Ragil, hatinya justru menginginkan pria itu.
"Kamu emang ngga ada gunanya Ya!" sentak Zhafran tiba-tiba.
Temperamen Zhafran memang banyak berubah, mungkin karena banyaknya tekanan yang dia hadapi. Kini bahkan dia dengan tega membentak adiknya sendiri.
Padahal dulu dia sama sekali tak pernah meninggikan nada suaranya apa lagi menyalahkan Hulya.
Hulya yang salah dalam pernikahannya bersama Ragil pun dia bela mati-matian dan tetap menyalahkan Ragil.
Kini tanpa alasan yang jelas lelaki yang memiliki dua istri itu justru mengkambing hitamkan adiknya karena keinginan mereka tak terwujud.
"Kamu kami ajak supaya bisa kembali meluluhkan hati Ragil! Sudah susah payah kami membeli pakaian mahal dan meriasmu dengan sangat cantik! Nyatanya kamu cuma bisa diam tanpa berbuat apa-apa!" sentak Zhafran lagi.
Air mata Hulya luruh seketika, kini dia tau alasan mengapa sang kakak dan ayahnya memaksa sekali dia ikut.
Bahkan di tengah perekonomian mereka yang tengah terpuruk dia bahkan bisa mengenakan sebuah abaya yang cukup mewah dengan harga fantastis.
Memang apa yang bisa dia lakukan? Merayu Ragil? Membujuk Ragil? Tentu saja hanya dengan sekali bertemu tak mungkin lelaki itu tiba-tiba tunduk padanya.
Terkadang Hulya sendiri tak mengerti dengan jalan pikiran ayah dan kakaknya yang menginginkan sesuatu dengan cepat.
Rasa, tidak mungkin bisa hadir secepat itu. Batin Hulya menjerit memaki mereka, karena merasa ayah dan sang kakak terlalu gegabah dalam bersikap.
Hulya memilih diam dan menggendong anaknya yang tengah menyusu.
"Berikan sertifikat rumahmu!" pinta Zhafran tiba-tiba.
Hulya yang sejak tadi menunduk memperhatikan anaknya menengadah mendengar ucapan sang kakak.
Dia terkejut dengan ucapan sang kakak yang dengan tega akan mengambil satu-satunya harta yang dia miliki dari mantan suaminya.
"kenapa harus rumahku? Mas kan punya rumah sendiri! Bahkan lebih mewah dari punyaku!" balas Hulya sengit.
Zhafran yang memang sedang dalam keadaan frustrasi dan marah hendak melayangkan tamparan pada adik kandungnya sendiri.
__ADS_1
"HENTIKAN ZHAFRAN!" cegah Huma dengan memekik.
Sedari tadi dia hanya diam mendengarkan obrolan mereka tanpa menyela sedikit pun. Namun saat putranya itu hendak melakukan kekerasan pada sang putri tentu saja tidak bisa dia biarkan.
"Kalian yang membuat masalah, kenapa justru kami yang jadi korban Hah!" makinya, lalu menatap suami dan putranya.
"Kamu!" tunjuk Huma kepada sang putra.
"Kamu yang menghabiskan hartamu untuk istri keduamu, kenapa harta milik adikmu yang harus terjual? Kalau ingin membantu urusan yayasan, korbankan sendiri hartamu!" pekik Huma.
"Dan Abi, berhenti melakukan sesuatu yang justru akan membuat yayasan semakin terpuruk. Kini aku bicara sebagai keturunan pemilik yayasan yang memiliki nama besar."
"Apa pun pembelaan yang di lakukan Abi percuma dan justru akan semakin membuat nama Abi tercoreng. Tak perlu membesarkan nama sekolah kita untuk mengalahkan yayasan milik keluargaku."
"Kerjakan saja seperti biasa, urus sekolah seperti biasa, tak perlu berambisi menjadi besar! Kalian justru akan semakin hancur kalau terus memaksa!" ucap Huma dengan suara memekik.
Afdhal memang merasa terhina dengan tuntutan keluarga besar sang istri yang memintanya melepaskan nama besar yayasan milik mereka.
Namun dia lupa, yayasan keluarga Huma di rintis berpuluh-puluh tahun dari zaman kakek Huma. Tentu saja ambisi Afdhal sanggatlah terlalu muluk untuk saat ini.
Semua perlu proses dan perjuangan, bagi Huma, kalau sekarang yayasan sekolah milik mereka masih di anggap kecil tidak papa.
Dia hanya berharap sang suami dan putranya mengembangkan sekolah milik mereka dengan jalan yang jujur, sebab dia yakin segala kerja keras pasti akan membuahkan hasil.
"Umi tidak tau bagaimana perasaan Abi! Abi malu! Di pertemuan para pemilik yayasan, mereka memandang remeh Abi Mi!" balas Afdhal tak terima.
Huma menatap sinis sang suami, lagi-lagi lelaki paruh baya yang telah menemaninya hampir tiga puluh tahun itu tak sadar diri dan kembali menyalahkan orang lain.
"Mereka menghina Abi, atau hanya perasaan Abi saja? Bukankah sejak dulu sudah Umi nasihatkan Abi untuk tak menyombongkan diri? Tapi apa? Setiap ada pertemuan selalu Abi yang merasa ingin di unggulkan."
"Jadi ngga perlu menyalahkan orang lain. Umi yakin karena kini Abi sedang dalam ke terpuruk kan makanya Abi merasa kepercayaan diri Abi di rendahkan," jelas Huma yang memukul telak perkataan Afdhal.
"Sekarang Umi tanya, memang seburuk apa keadaan yayasan? Yang Umi lihat, kita masih dalam keadaan baik-baik saja. Kalau memang beberapa donatur pergi biarkan saja, lakukan tugas kita seperti biasa, apa susahnya?" tanyanya heran.
Zhafran yang tadi di bentak oleh sang ibu memilih diam dan memikirkan nasib yayasannya.
Sang ibu sama sekali tidak tau seberapa buruk keadaan sekolah milik mereka kini.
Afdhal dan Zhafran tak lagi bisa menggaji para tenaga pengajar yang besar.
Bahkan sebagian pengajar memilih mundur dari sana karena Afdhal sering melalaikan kewajibannya.
__ADS_1
"Kita bahkan kehilangan banyak tenaga pengajar ahli Mi! Mereka memilih pergi dan melamar ke sekolah lain yang sesuai dengan bayaran mereka," jelas Afdhal.
Huma menarik napas, ternyata pikirannya salah, sekolah yang mereka bangun dengan banyak perjuangan memang sedang berada di ambang kehancuran.
Sekolah mereka memang di pandang istimewa karena memang Afdhal memilih para tenaga pengajar yang berkualitas dengan bayaran yang cukup mahal.
Jika mereka pergi, Huma yakin sekolah mereka lambat laun akan kehilangan taringnya dan mungkin akan di anggap seperti sekolah biasa pada umumnya.
"Lalu bagaimana?" tanyanya lembut.
Kini pikiran mereka sama, bagaimana menyelamatkan sekolah mereka agar tak sampai di ambil alih oleh pemerintah.
"Kita memerlukan modal besar untuk menarik para pengajar itu lagi Mi, begitulah pikiran Abi."
"Apa tidak bisa cari pengajar lain saja? Engga apa mereka lulusan dalam negeri yang penting kualitas mereka bagus," saran Huma.
"Enggak semudah itu Mi, yayasan kita kan terkenal dengan para tenaga pengajar ahli dari luar negeri. Kalau tiba-tiba berubah, apa bedanya dengan sekolah biasa," keluh Afdhal.
"Terus mau bagaimana lagi? Apa demi gengsi kita tetap membayar upah mereka yang besar dengan menjual aset-aset milik kita terus? Bunuh diri namanya!" ketus Huma.
Perbincangan di keluarga itu masih terasa panas, tiba-tiba ponsel Zhafran berdering. Tertera nama istri keduanya yang memanggil.
"Mas, tolong aku, di depan ada depkolektor yang sedang menagih cicilan. Aku takut," rengeknya.
"Depkolektor? Memangnya kamu berhutang?" suara Zhafran kembali meninggi karena kelakuan istri keduanya.
"Ada apa Zhaf?" tanya Afdhal penasaran.
"Ada masalah di rumah Aryani Bi, sebaiknya aku pulang," jawab Zhafran lemah.
"Istri kedua kamu itu tak habis-habisnya membuat masalah Zhaf ... Zhaf. Pusing Umi mendengarkan masalah kalian," sela Huma.
Enggan menjawab karena takut rumah tangga keduanya di cecar sang ibu, Zhafran memilih segera berlalu dari hadapan orang tuanya.
Dia ingin segera menemui istri keduanya yang tengah hamil besar.
Entah masalah apa lagi yang di perbuat oleh Aryani hingga membuat kepalanya hampir pecah.
.
.
__ADS_1
.
Tbc