
Tubuh ibu gemetar saat melihat kedatangan Azam dan keluarganya.
Bahkan yang tak aku sangka, Sarah juga hadir bersama dengan Farah.
Farah dan seorang wanita paruh baya yang kutahu bernama Bu Hamidah melempar senyum padaku.
Wajah Sarah masih sangat pucat. Aku memang berkirim pesan dengan Farah semalam, membicarakan tentang masalah penggerebekan Hulya dan Azam.
Namun aku tak meminta Sarah untuk hadir, karena jujur aku tau keadaannya yang sedang tak sehat.
Farah berkata jika dia ingin menunggu Azam yang mengatakannya pada mereka, kalau ternyata dia tak berani jujur, maka Farah akan tetap meminta Sarah untuk tetap hadir hari ini.
Sebenarnya ada rasa tak tega dengan wanita itu, aku yakin mentalnya akan kembali sakit saat mengetahui pembahasan hari ini.
"Lama ngga bertemu Bu Rukayah," sapa Bu Hamidah pada ibuku.
Ibu memilih membuang muka, enggan menerima uluran tangan Bu Hamidah.
Entah kenapa ibu semakin terlihat gelisah setelah di sapa oleh Bu Hamidah.
"Baiklah, karena semua sudah berkumpul, maka saya akan mulai menjelaskan permasalahan kami," ucap Pak Rizal memulai pembicaraan.
Semua menunggu dalam diam, hanya dua orang tersangka yang menunduk dalam saat ini.
Sarah duduk di apit oleh Farah dan ibu Hamidah. Beruntung aku sudah memindahkan sofa dan memilih duduk dengan lesehan, sebab pasti tidak akan muat melihat jumlah orang yang hadir hari ini.
"Kemarin Mas Ragil mendatangi kediaman saya untuk meminta tolong menemaninya datang ke rumah, sebab beliau mendengar ada suara orang lelaki di rumahnya," jelas Pak Rizal tenang.
Kulirik Mas Zhafran yang sudah mulai gelisah, Mbak Zahra sendiri berusaha menenangkan suaminya.
Umi masih mendengarkan sambil memegang tangan Hulya.
"Lalu kami mendapati Mbak Hulya tengah bersama dengan Mas Azam di kamar," sambungnya.
Setelah menjelaskan masalah kami, tampak nada terkejut keluar dari mulut mereka.
Ada yang beristigfar, ada pula yang hanya bisa menutup mulut.
Kulirik Sarah yang mulai menangis. Farah memeluknya dari samping untuk menenangkan sepupunya.
"Apa bapak ada bukti? Mungkin saja kan Mas Azam kemari sedang bertamu?" sela Mas Zhafran bodoh.
Pak Rizal lalu membuka ponselnya dan di hadapkan kepada mereka.
Aku yang duduk berdekatan dengannya tak tau video apa yang sedang di putar pada layar lima inci itu.
Namun ada suaraku dan Hulya yang memekik saat mendapati kedatanganku.
Tangis Umi pecah, dia menutup wajahnya, mbah Zahra kulihat kembali mengusap bahu suaminya.
Abi memegang dadanya, semua tampak tak percaya dengan kelakuan dua orang yang mungkin mereka sayangi.
__ADS_1
Hanya orang tua Azam yang terlihat tenang, meski sekilas kulihat Bu Hamida memejamkan mata.
Tangis Sarah semakin kencang setelah melihat bukti menyakitkan dari perselingkuhan suaminya.
"Kau!" tunjuk Abi pada Azam.
"Kenapa kamu lakukan ini pada putriku! Kamu pasti memaksanya kan?" tuduhnya.
Astaga, jelas-jelas di sana mereka melihat Hulya sedang mengenakan pakaian transparan, sudah pasti dia melakukan itu dengan suka rela.
Aku bahkan terkejut karena Pak Rizal merekam semuanya semalam, padahal yang kutahu beliau tidak menyalakan kameranya.
Apa mungkin beliau memiliki kamera tersembunyi? Entahlah.
"Hulya sangat mencintaiku Pak, Anda pasti tau kalau putri Andalah yang selalu mengejar-ngejar saya, dari mana saya memaksanya!" elak Azam.
"Tidak! Kamu bohong, kamu sendiri sudah menikah, tidak mungkin putriku mengejarmu lagi. Saya yakin kamulah yang telah merayunya!"
Abi sangat murka, beliau menunjuk-nunjuk wajah Azam dengan kesal. Namun Azam diam bergeming tak sedikit pun takut dengan makian Abi.
"Berhubung rumah tangga Mas Ragil dan Mbak Hulya sedang dalam proses perceraian, jadi kini saya ingin menanyakan keputusan Mbak Sarah selaku istri dari Mas Azam," sela Pak Rizal.
"Saya memilih mundur Pak," ucap Sarah lirih.
"Sayang, maafkan aku, sungguh kamu tau kan kalau Hulya tergila-gila padaku sejak dulu? Dia yang terus merayuku sayang, tolong jangan begini, aku ngga mau pisah sama kamu," pinta Azam tak tau malu.
"Sialan kamu Mas! Kamu yang mendekatiku dan membuatku hamil anakmu, kini kamu seolah menuduhku yang merayumu!" sela Hulya tak terima.
Sarah menangis semakin histeris mendengar kenyataan pahit dari hubungan gelap mereka.
Jujur hatiku juga sebagian lega dan sebagian merasa sakit juga. Namun aku bersyukur akhirnya rahasia ini terbongkar oleh mulut Hulya sendiri.
"Jadi, Mbak Hulya ini hamil anak Mas Azam?" ujar Pak Rizal tak percaya.
Tak ada reaksi apa pun dari ibu dan juga Mas Zhafran, hanya Umi, Abi dan juga keluarga Azam yang tampak mengusap dada.
"Ya Allah Bu Rukayah, maafkan aku yang tak bisa mendidik anakmu ini," ujar Bu Hamidah tiba-tiba.
Semua orang kembali terperangah mendengar kejutan baru dari orang yang kukira adalah orang tua Azam.
"A-apa maksudmu Hamidah?" lirih Ibu.
Tak lama, suara seseorang mengucap salam membuat kami menoleh.
Azam tiba-tiba bangkit berdiri, "mamah?" panggilnya tercekat.
Orang yang dia panggil Mamah itu seperti tengah menatap kami satu persatu, hingga tatapan mata itu tertuju padaku.
"Ragil?" panggil wanita paruh baya berpenampilan anggun itu padaku.
Sungguh aku terkejut bukan main, karena beliau mengenalku.
__ADS_1
Ada apa ini? Siapa wanita ini.
Wanita itu tiba-tiba berjalan ke arahku dan memelukku.
Tangisnya pecah, aku yang bingung hanya bisa terpaku dengan kulakukannya.
"Anakku, Ragil ..." panggilnya berulang-ulang.
"Mamah! Ada apa ini Mah!" pekik Azam tak terima.
Wanita ini tak sekali pun menghiraukan ucapan Azam, dia menangkup wajahku.
"Kamu memang anakku, maafkan mamah, maafkan papah ya Nak," ucapnya.
Azam lalu menghampiri kami dan menarik tangan wanita paruh baya itu agar berdiri.
"Mamah apa-apaan sih!" makinya tak terima.
"Kau bukan anakku!" balas wanita itu sambil menunjuk wajah Azam.
"Mah, apa maksudnya? Mamah jangan mengada-ngada! Aku sudah mengalah selama ini, kenapa mamah begini sama aku mah!" balas Azam tak terima.
Wanita itu lantas berbalik dan menatap ke arah Bu Hamidah yang menunduk.
"Kau jelaskan padanya!" tunjuk wanita itu pada Bu Hamidah.
Kuperhatikan wajah ibu sudah memucat, entah apa yang sebenarnya terjadi di sini.
Niat hati ingin meluruskan masalah pernikahan kami, tapi jadi melebar ke mana-mana.
Lalu mengapa wanita ini bersikukuh menganggap aku putranya?
"Semuanya maaf, mungkin ini akan sedikit keluar dari permasalahan kita di awal. Namun saya harus meluruskan sesuatu dulu sebelum ini, tidak apa-apa kan?" pinta Bu Hamidah.
"Silakan," balas Pak Rizal.
"Perkenalkan dia Bu Maya, kakak ipar saya. Ibu kandung dari Mas Ragil," ucapnya menjelaskan.
Apa? Ibu kandungku? Hal gila apa lagi ini, Tuhan
"Enggak! Kamu jangan bohong Hamidah! Hentikan!" sela ibu murka.
"Saya lelah hidup dalam kebohongan ini Rukayah, dosa yang saya emban terlalu berat, hingga Tuhan menghukumku dengan sangat berat," jelasnya.
Wajah ibu semakin memucat, semua yang berada di sana terlihat bingung dengan pembahasan ini, sama sepertiku.
.
.
.
__ADS_1
Tbc