Secangkir Kopi Hitam

Secangkir Kopi Hitam
Bab 32


__ADS_3

Aku hanya bisa menghela napas. "Ibu tau dari siapa?" tanyaku tak menuntut jawaban sebenarnya. Aku tak begitu peduli jika Ibu tau tentang kehamilan Hulya.


"Hulya tadi mengabari Ibu, katanya sekarang lagi di rumah sakit. Kamu tolong jemput ibu ya Gil, ibu mau lihat menantu ibu," pinta ibu seketika.


Kupijat pangkal hidungku, pening, bagaimana harus mengakhir drama ini.


"Aku sibuk Bu, maaf, sebaiknya ibu nanti saja ke sininya," tolakku.


"Kamu kenapa Ragil? Kayaknya kamu ngga suka Hulya hamil?" tebak ibu.


"Bukan begitu Bu, tapi beneran, aku lagi sibuk banget sekarang, nantilah akhir pekan ya," tawarku.


"Terserah kamu lah Bang!" balas ibuku ketus, lalu mematikan panggilan kami secara sepihak.


Kulanjutkan laju mobil, sebelum pulang aku hendak mampir ke sebuah tempat makan untuk mengisi perutku.


Mumpung Hulya belum pulang, aku memilih mengemasi barangku dan pindah ke toko.


Pandanganku teralih kan kala melihat pasangan pengantin baru yang terlihat romantis di hadapanku.


Mereka baru saja memasuki restoran ini. Jantungku berdebar sangat kencang, lalu berpikir jika bukan Azam lalu siapa lelaki yang menghamili Hulya.


"Pak Ragil?" panggil seseorang memecahkan lamunanku.


Aku terkejut karena tak menyadari kehadiran mereka, "Pak Azam, Mbak Sarah," sapaku balik lalu menyalami keduanya.


"Mana Bu Hulya?" tanya Sarah sambil menyisir ke penjuru restoran.


"Ke toilet kah?" sambungnya.


Aku menggeleng, "saya sendiri Mbak, baru pulang dari toko juga," jawabku jujur.


"Hari ini Bu Hulya ngga berangkat ngajar ada apa Pak?" tanya Azam membuat Sarah membuang muka kesal.


Mungkin dia cemburu.


Aku bingung harus menjawab apa. Kalau aku bilang hamil, aku yakin mereka pasti akan mengucapkan selamat padaku, yang justru akan membuatku semakin merasa sakit.


"Ada urusan Pak Azam," jawabku akhirnya. Kudengar dia hanya ber'oh' saja.


Hubungan keduanya tampak harmonis, mungkin karena masih pengantin baru.


"Ngga papa nih kita gabung di sini?" tanya Sarah padaku.


"Santai aja, udah lama juga kita ngga bertemu," jawabku dengan senyum terpaksa.


Kami mengobrol santai, pembahasan yang sangat jauh dari nama Hulya. Mungkin karena aku dan Sarah enggan membicarakan wanita itu jadinya pembicaraan ini tak sekali pun membawa-bawa nama Hulya.


Setelahnya kami berpisah, aku langsung melajukan mobilku untuk kembali ke rumah.


Baru juga sampai, ponselku kembali berdering, tertera nama Mbak Zahra di sana.


Terpaksa aku mengangkatnya, sebab lima bulan menjadi kakak iparku, baru kali ini dia menghubungiku. Pasti ada hal penting yang akan dia katakan.


"Assalamualaikum Mbak, ada apa?" tanyaku datar.

__ADS_1


Meski aku tak punya masalah dengannya, tapi entah kenapa dia jadi terkena imbas kekesalanku terhadap sikap suaminya.


"Wa ‘alaikumsalam Gil. Maaf, bisa kah kamu bawakan Hulya pakaian ganti?" pintanya.


"Iya Mbak," jawabku cepat.


Ternyata hanya pakaian, aku akan mengirimkannya lewat ojek Online saja. Aku tak ingin kembali ke sana saat ini.


"Kamu ke sini kan?" tanya Mbak Zahra ragu-ragu.


"Maaf Mbak, aku ngga bisa," tolakku.


"Hulya ... Ingin bicara denganmu," ucapnya lagi.


"Maaf Mbak, aku ingin sendiri dulu saat ini, lagi pula tak ada yang ingin aku bicarakan lagi," jelasku.


"Tapi Gil ..."


"Maaf Mbak, udah mau Maghrib," putusku langsung mematikan panggilan kami.


Kulangkahkan kaki menuju kamar Hulya, berhenti cukup lama di sana.


Setelah meyakinkan diri, akhirnya aku masuk ke kamar yang dulu menjadi tempat peraduanku.


Wangi kamar ini khas sekali dengan aroma parfum Hulya.


Tak ada yang berubah, hanya saja sekarang terdapat bingkai foto Hulya tanpa diriku. Kamar ini menang tak pernah terdapat bingkai foto apa pun, jadi aku tak merasa sakit kala melihat sedikit perubahan itu.


Tujuanku ke sini adalah lemari. Jadi aku bergegas ke arah lemari empat pintu yang kini semuanya bersisi pakaian Hulya.


Beberapa jenis warna lingeri berderet di sana, aku bahkan sedikit malu melihat pakaian transparan itu.


Pikiranku menerawang jauh, sejak kapan Hulya memakai pakaian seperti ini. Seingatku dulu pakaian tidurnya pasti berbentuk satin celana dan baju lengan panjang.


Meski lumrah, tapi aku tak pernah sekalipun melihat Hulya mengenakan pakaian seperti ini.


Tiba-tiba hatiku merasa sedikit sakit saat membayangkan mungkin Hulya mengenakan ini dengan lelaki yang menggaulinya.


Namun kapan? Hulya selalu berada di rumah malam hari. Lalu muncul pikiran burukku, apa jika malam hari Hulya mengendap keluar rumah?


Teringat jika kami memasang CCTV di rumah ini membuatku segera membuka laptop untuk memastikan kecurigaanku.


Setelah kutelisik lebih jelas lagi, ternyata ada tiga waktu di mana tak ada rekaman di layar. Ini sangat mustahil, jika tidak di hapus oleh aku atau pun Hulya.


Kecurigaanku makin terasa karena jelas sekali Hulya ingin menghilangkan jejak.


Sial!


Ternyata wanita itu memang tukang selingkuh!


Dengan muak, aku kembali lagi ke kamar Hulya dan memasukkan beberapa potong pakaiannya, karena tak tau berapa lama dia akan berada di sana.


Saat akan memasukkan pakaian dalamnya, aku merasa gugup, tak sekalipun aku pernah memegang benda privasi milik Hulya itu.


Namun dengan terpaksa aku harus melakukannya. Ngga lucu kalau aku mengirimkan pakaian Hulya tanpa pakaian dalamnya.

__ADS_1


Bahkan pakaian dalam dengan bentuk aneh-aneh pun membuat aku geleng-geleng kepala, apa fantasi selingkuhan Hulya itu aneh-aneh? Hingga membuat Hulya harus mengenakan pakaian dalam yang hanya berbentuk tali tipis seperti ini?


Kukembalikan pakaian dalam aneh itu dan mencari sesuatu yang normal, untungnya masih ada pakaian dalam Hulya yang kurasa pantas untuk di pakainya saat ini.


Setelah selesai, aku memilih segera kembali ke kamar untuk membersihkan diri.


Setelahnya, kulangkah kan kaki ke dapur membuat secangkir kopi sambil mengetik pesanan ojek Online untuk mengantar pakaian Hulya.


Baru saja mendudukkan diri di sofa ruang tamu, ketukan di pintu depan membuatku segera menegakkan diri lagi.


Saat kubuka, aku terkejut karena ada Mbak Zahra yang tiba-tiba sudah berada di rumah.


"Loh Mbak Zahra? Hulya sama siapa?" bukan khawatir aku hanya bertanya saja.


Lalu kulonggokkan kepala ke depan mencari keberadaan Mas Zhafran.


"Kamu cari siapa? Mas Zhafran?" tanya Mbak Hulya yang mengikuti arah pandangku.


Aku mengangguk membenarkan, "iya Mbak, mana Mas Zhafran?" tanyaku.


Dia menghela napas, "boleh Mbak masuk Gil?" pintanya.


Aku pun mempersilakannya masuk dengan membuka lebar pintu rumahku.


Jangan sampai ada fitnah di antara kami. Kami ini hannyalah ipar dan ipar adalah maut, meskipun tak ada terbesit pikiran buruk padanya, tapi siapa yang bisa menyangka ke depannya akan terjadi apa. Makanya aku tak akan memberi celah pada setan untuk mempengaruhi.


"Silakan Mbak," jawabku.


"Mbak mau minum apa? Biar aku buatkan dulu," tawarku.


"Ngga usah Gil, Mbak ada perlu sama kamu karena Mbak yakin kamu ngga akan ke rumah sakit buat antar pakaian Hulya," tebak Mbak Zahra.


"Bukannya aku udah bilang tadi Mbak? Aku ingin menenangkan diri, tolong jangan paksa aku," pintaku dingin.


"Apa kamu benar-benar akan menceraikan Hulya Gil?" tanyanya tiba-tiba.


"Iya Mbak, anak Hulya butuh tanggung jawab bapak kandungnya," jawabku datar.


Dia membuang napas kasar mendengar jawabanku.


"Kalau Mbak bilang, agar kamu mau mengurungkan niatmu apa kamu bersedia?" ucapnya memohon.


Sungguh dari semua keluarga besar Hulya mungkin hanya Mbak Zahralah yang tidak menjadi sasaran kebencianku.


Namun saat aku merasa dia tak ada bedanya dengan suami dan keluarga mertuanya, aku tarik kembali kata-kataku, dia sama saja dengan mereka, memuakkan.


"Mbak yakin saat ini kamu pasti bingung, marah dan kesal. Tapi Mbak ngga asal bicara, kamu ngga tau sekejam apa keluarga mertua kita," jelasnya membuatku seketika memaku.


.


.


.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2