
Di kediaman Hulya, tengah terjadi kekacauan besar karena sepertinya semua masalah sedang mencapai tujuannya, yaitu menghancurkan kesombongan dan keserakahan mereka.
Huma hanya bisa duduk termenung menghadapi keluarga besarnya yang akhirnya tahu dan memilih segera turun tangan menghadapi kemelut masalah sekolah mereka.
"Saya enggak menyangka ternyata kamu selicik ini Afdhal. Sudah dari dulu saya mengatakan pada kakak saya kalau saya tidak yakin dengan kamu dan sekarang terbukti bukan?!" kecam salah satu paman Huma.
"Kenapa kamu diam saja Huma? Apa kamu mau mempermalukan kami Hah?! Kami membiarkan kamu memakai nama besar yayasan kami untuk membangun sekolah kalian sendiri tapi apa hasilnya? Gara-gara kesalahan kalian, nama yayasan menjadi buruk!" maki saudara ayah Huma yang lainnya.
Huma hanya bisa menunduk, sebagai seorang istri bohong rasanya dia tak tau kecurangan sang suami.
Namun apa yang bisa dia lakukan saat, Afdhal menjelaskan kalau para wali muridlah yang memberikan sumbangan sama seperti donatur lain.
Terlebih lagi dia masih menanggung hati seorang diri atas pengkhianatan suaminya yang telah terjalin cukup lama.
Ketegangan di rumah mereka terhenti kala suara seorang wanita yang membawa bayi menghampiri mereka.
"Abi," lirih Saeba sambil membawa anaknya yang baru berusia empat bulan.
Amarah Huma naik ke ubun-ubun karena merasa Saeba tak memiliki sopan-santun masuk ke rumahnya begitu saja saat keluarga besarnya tengah berkumpul.
"Tolongin Saeba Bi, Saeba takut, Saeba di usir dari kontrakan," ucap Saeba sambil menangis tergugu.
Afdhal yang bingung tetap menerima anak dan cucunya tersebut. Dia menepuk pundak Saeba yang terlihat sekali bergetar ketakutan.
Dia sendiri tidak tau permasalahan apa yang membuat anak hasil selingkuhannya itu tiba-tiba datang ke sana.
"Siapa lagi ini Afdhal?" tanya sang mertua dengan mata memicing tajam.
"Kamu,” tunjuk ibunda Huma pada Saeba. “ jelaskan siapa kamu? Kenapa kamu panggil menantu saya Abi?" tanya ibu Huma pada Saeba.
Saeba baru sadar jika keluarga ayahnya tengah menerima tamu yang dia sendiri tak mengenalnya.
"Maaf Umi, dia adalah anak didik saya. Sebaiknya saya bawa dia menenangkan diri dulu," sela Huma terpaksa membantu Saeba.
Dia tak mau jika rahasia keluarganya yang sekedar hanya rumor di luaran sana terjawab saat ini juga.
"Berhenti!" cegah Umi Huma. Dia ingat wajah Saeba yang pernah muncul di pemberitaan Online.
Awalnya mereka tak percaya sebab Huma dan Afdhal tak pernah menjelaskan, tapi kini semuanya terbuka. Dia tidak mungkin percaya begitu saja akan kebenaran di depannya.
"Siapa namamu?" tanya Khalilah, umi Huma.
Saeba melirik ibu tirinya takut-takut, dia juga semakin panik saat anaknya yang sudah sangat kehausan sejak tadi, menangis sangat kencang.
"Umi, tolong biarkan dia memberikan susu untuk anaknya," sela Huma yang masih berusaha mencegah maksud sang ibu.
__ADS_1
"Dia asi atau susu formula?" tanya Khalilah yang enggan melepas Saeba.
"Susu formula Umi," jawab Saeba gugup.
"Asih tolong buatkan susu untuk anak ini,” ucapnya kepada pekerja di rumah sang putri. “Kamu tetap di sini," pintanya tajam pada Saeba.
Afdhal dan Huma merasa gemetar, berakhir sudah kehidupan mereka kalau Khalilah tau kebenarannya.
"Kamu Saeba?" tanya Khalilah dengan suara lembut tapi terdengar mengintimidasi bagi Saeba.
"I-iya Umi," jawab Saeba takut-takut.
"Jadi benar kamu anak Afdhal dari selingkuhannya?" cecar Khalilah.
Saeba menunduk, hatinya merasa terhina kala wanita paruh baya di hadapannya ini menanyakan statusnya. Meski pun kata-kata Khalilah masih termasuk sopan.
Namun pertanyaan mengenai statusnya membuat dirinya merasa di rendahkan.
Saeba hanya berani mengangguk tanpa menjawab. Khalilah yang melihatnya menghela napas kasar.
Afdhal terduduk, runtuh sudah semuanya, batinnya menjerit. Anggukan Saeba menjawab semua kebenaran yang ia dan sang istri coba tutupi.
Jangan berpikir rumah tangga Afdhal dan Huma baik-baik saja selama ini. Beberapa kali Huma berpikir akan meninggalkan sang suami.
Pengkhianatan yang di lakukan oleh sang suami melukainya sangat dalam. Dia merasa terhina bukan hanya merasa di bohongi.
Egonya juga merasa tersentil kala memikirkan harus bercerai dengan sang suami.
Berbagai pikirkan 'Bagaimana nanti' memenuhi otaknya dulu. Yang pasti dia tak mau wanita lain menikmati segala kemewahan dari jerih payah yang sudah dia bangun dari nol bersama sang suami.
"Baik, terima kasih atas kejujuran kamu. Meskipun kamu anak Afdhal, kamu bukanlah bagian dari keluarga besar kami. Jadi silakan menyingkir dahulu," usir Khalilah.
Huma kembali mengajak Saeba untuk bangkit dari duduknya. Dia mengajak anak suaminya itu ke kamar tamu.
Tak ada pembicaraan apa pun selama perjalanan mereka. Hati Saeba merasa minder sebab ibu tirinya itu tak pernah sekali pun berlaku atau berkata kasar padanya.
"Umi," panggilnya dengan suara tercekat kala melihat Huma hendak meninggalkannya.
Beruntung anaknya sudah terlelap sejak tadi jadi dia bisa berbicara dengan ibu tirinya saat ini.
"Maafkan Saeba dan Ibu. Kami tau kami sudah menghancurkan kebahagiaan Umi. Tapi ..." Saeba terisak, dia tau mungkin dalam hati Huma sangat membenci dirinya terlebih lagi pada sang ibu.
Namun dia merasa harus tetap meminta maaf. Hidup sebatang kara membuatnya sangat sedih.
Andai Ibnu mau menerimanya, dia lebih memilih tinggal bersama keluarga ibunya yang sejak dulu menyayanginya.
__ADS_1
Sayangnya semua tak bisa selalu dia dapatkan, Ibnu yang notabenenya seorang pemalas tentu saja tidak akan melepaskan ibunya.
Pasti lelaki yang selama dua puluh tiga tahun dia panggil ayah itu akan memeras tenaga sang ibu untuk mencukupi kebutuhannya.
Bukan hanya itu, Saeba juga tak tahu di mana keberadaan ibu dan ayahnya saat ini.
Huma menggenggam erat gagang pintu. Bohong, kalau dia tidak sakit hati saat melihat wajah Saeba dan Azam.
Namun dia tahu bukan salah kedua anak itu yang bisa memilih di rahim mana mereka di lahirkan.
Menilik sikap dua anak suaminya, dia mengakui jika Saeba yang tidak begitu banyak bertingkah. Tidak seperti Azam yang sudah menghancurkan rumah tangga putrinya, lelaki itu juga selalu menyusahkan keluarganya.
"Kamu harus bersiap. Mulai saat ini, Abi kamu mungkin akan kesulitan mencukupi kebutuhanmu. Kamu harus bersiap dengan kakimu sendiri." Hanya itu balasan yang di berikan oleh Huma.
Dia tak mau berbasa-basi dengan ucapan maaf dan sebagainya. Tentu saja dari lubuk hatinya dia belum mampu memaafkan kelakuan ibu dari wanita yang masih terisak di depannya.
Mungkin mulut bisa berkata dusta tapi tidak dengan hatinya. Jadi dia memilih pergi berlalu.
Benar saja apa yang Huma dan Afdhal takutkan. Mereka di beri pilihan untuk melepas nama besar yayasan keluarga Huma dan mencari nama sendiri.
Atau melepaskan kepengurusan yayasan pada keluarga besar mereka dan tetap menerima bagi hasil nantinya.
Afdhal tidak mau menyerah begitu saja, dia tidak sudi hanya menerima bagi hasil dari sekolah yang sudah susah payah dia bangun.
Dia memilih melepaskan diri dari nama besar keluarga istrinya.
Dalam pikiran Afdhal dia yakin kalau dirinya mampu mengembangkan sekolah itu lebih besar dari nama besar yayasan keluarga mertuanya.
"Baiklah kalau itu keputusanmu. Umi beri kamu waktu tiga bulan untuk segera mengganti nama yayasanmu. Kalau tidak, maka kami akan menjerat kamu ke jalur hukum," ancam Khalilah.
Afdhal mengangguk dengan sombong. Setelah itu keluarga besar sang istri meninggalkan kediaman mereka.
Huma bernapas lega karena keluarga besarnya tidak mempertanyakan lagi tentang anak-anak suaminya.
Jujur saja mereka juga bahkan belum tahu tentang nasib pernikahan putri bungsunya serta kemelut yang menyertainya.
Afdhal tak akan menyangka jika keluarga besar istrinya kini sedang mencari tahu kebobrokan keluarganya yang lain untuk menghancurkan kesombongannya.
Mereka sangat tidak suka dengan sikap Afdhal yang kentara sekali merasa hebat sejak berdebatan tadi.
.
.
.
__ADS_1
Tbc