Secangkir Kopi Hitam

Secangkir Kopi Hitam
Bab 90


__ADS_3

Eriska menangisi nasib sang anak yang kini tengah di rawat dan positif mengidap penyakit HIV.


Wanita paruh baya itu tak menyangka jika kehidupan putrinya sangatlah suram. Dia merasa bersalah, meski semuanya sudah sangat terlambat.


Dia memang tidak terlalu memperhatikan sang putri sebab dia pikir Sarah masih dalam perlindungan Tania.


Tak tahunya ternyata anak dan iparnya tak pernah lagi saling berkomunikasi sejak pertengkaran mereka dulu.


Komunikasi dirinya juga terbatas, sebab sinyal di daerah tempatnya tinggal memang sangat susah.


Mungkin terkesan hanya saat meminta uang saja Eriska menghubungi sang putri, meski pada kenyataannya memang demikian, sebab untuk sekedar menelepon Sarah saja, Eriska memerlukan tempat yang jauh dari kotanya dan juga uang yang cukup untuk ongkosnya.


Kehidupan Eriska sendiri sangat terasing, dia tak mempermasalahkannya asal bisa terus bersama suaminya, Tegar.


"Mah, bisa cari tau di mana tante Tania dan Farah tinggal? Aku benar-benar ingin bertemu dengan mereka," pinta Sarah lemah.


Waktu terakhir kalinya dia meminta datang ke rumah Tania. Sang tante sedang tidak ada di rumahnya. Para pekerja di rumah Tania pun kompak tutup mulut tak mau memberitahu keberadaan Tania padanya.


Dia menyerah karena kondisi tubuhnya dan suami mendadak menurun secara bersamaan.


Dirinya masih berada di fase HIV, sedangkan Azam sudah naik ke tahap HIV AIDS.


"Nanti mamah cari tantemu ya sayang. Ceritakan sama mamah kenapa kamu bisa mengidap penyakit mengerikan seperti ini?" cecar Eriska sambil berderai air mata.


Dia yang tahu sang putri sangatlah menjaga diri merasa heran dengan penyakit yang di derita putrinya. Dirinya menebak jika Sarah tertular dari Azam, sebab hanya sang menantu yang pernah kedapatan berselingkuh dari putrinya.


Tak menutup kemungkinan laki-laki itu juga suka dengan para wanita penjaja tuna susila, pikirnya.


"Semuanya dari Mas Azam mah," jawab Sarah lirih.


"Kurang ajar! Apa laki-laki itu suka berselingkuh darimu?" sela Tegar murka.


Dia ingin sekali menghajar menantunya yang telah menularkan penyakit laknat itu pada putri semata wayangnya.


"Mungkin ini juga karma buat Sarah yang selalu iri dengan kebahagiaan Farah, hingga tak pernah peduli dengan kehidupan rumah tangga kami sendiri."


"Apa maksud kamu sayang?" tanya Eriska tak mengerti.


Sarah tersenyum hambar, semua kekacauan hidupnya adalah ulah dari dirinya yang tak pernah bersyukur dengan kehidupan yang dia miliki.


Dalam hidupnya dia selalu sibuk bagaimana cara menjatuhkan mental Farah dan Tania.


Bagaimana bisa dia menghancurkan kebahagiaan Farah, hingga dia abai pada kondisi rumah tangganya yang mulai tak sehat.


Sarah wanita cerdas, dia jelas tahu berapa penghasilan sang suami yang hanya bekerja sebagai konsultan pajak.


Namun dia tutup mata saat sang suami bisa memberikannya uang yang banyak, sebab dia sudah memiliki rencana untuk menghancurkan Farah dengan uang simpanannya itu.

__ADS_1


Nyatanya takdir berkehendak lain. Dirinya bahkan di tumbangkan sebelum benar-benar bisa merealisasikan rencana jahatnya.


Mungkin inilah teguran dari Tuhan yang murka akan segala sifat buruknya.


"Tolong mah cari tante Tania, aku mau minta maaf sama mereka," mohonnya untuk terakhir kali sebelum dia kembali tertidur karena obat yang dia konsumsi.


.


.


Di ruangan lain, Rukayah juga tengah menangisi nasib putra sulungnya. Meski tak pernah hidup bersama, tapi mau bagaimana pun Azam tetaplah putranya, putra yang sudah di lahirkannya.


Dia begitu terkejut kala Afdhal tiba-tiba datang menemuinya di tempat tinggal barunya.


Sempat hampir terjadi baku hantam antara Afdhal dan Ibnu kala mereka bertemu untuk memintanya menemui Azam di rumah sakit.


Ibnu sempat menolak dan mengancamnya seperti biasa. Namun karena dia sudah tak tahan dan ingin bertemu dengan putranya yang tengah di rawat karena penyakit berbahaya itu, dia tak memedulikan ancaman sang suami.


Biarlah jika pada akhirnya dia di tinggalkan oleh Ibnu. Toh selama ini suaminya juga sudah tak memperlakukannya seperti seorang istri.


Dalam benak Rukayah, bisa apa suaminya kalau mereka berpisah? Selama ini dialah yang bekerja keras banting tulang demi memenuhi kebutuhan mereka.


Oleh sebab itu Rukayah memilih mengabaikan sang suami demi putra yang selama ini tak pernah memperoleh kasih sayangnya.


"Kenapa harus anak-anakku Mas? Kita yang berdosa, mengapa mereka yang harus menuai karmanya?" ucap Rukayah dengan air mata berderai.


Huma bahkan beberapa kali menghela napas panjang. Hatinya kembali perih saat membayangkan keduanya memadu kasih di belakangnya dulu.


Hulya yang tahu perasaan ibunya lantas mengusap lengan sang ibu menguatkan.


Usai lelah menangis dan merutuki nasib anak-anaknya, dia lantas menatap bengis lelaki yang telah memberinya dua orang anak itu.


Tanpa terduga, Rukayah menarik kemeja Afdhal dan menatap sengit ayah dari anak-anaknya.


"Kenapa hanya anakku! Kenapa bukan anakmu saja! Toh kamu yang sudah bejat melakukan hal buruk di kehidupanku, kenapa mas! Kenapa!" makinya sambil memukul dada Afdhal dengan kencang.


"Sudah Bu, sabar, kasihan mas Azam," sergah Saeba yang iba dengan ayah kandungnya.


Kehidupan Saeba pun tak kala memprihatinkan. Meskipun Afdhal kaya, tapi dia hadir saat keadaan keuangan Afdhal tengah carut marut.


Dia yang biasa dihidupi, kini harus berjuang keras demi dirinya dan sang putra.


Faisal memang masih memberikan nafkah padanya, tapi hanya sekedarnya saja, sebab mantan suaminya juga telah memiliki keluarga baru.


Penghasilan Faisal juga kecil, jadi mau tak mau Saeba harus menerima kenyataan itu.


"Kamu tau Rukayah, semua berawal darimu. Andai kamu tidak menukar anak kita, mungkin kita tidak akan mengalami musibah seperti ini," jelas Afdhal.

__ADS_1


"Memang awalnya kita yang salah, tapi kamu melakukan kesalahan yang lain dengan menukar putra kita. Lihatlah hukumannya, semua terkena dampaknya," sambungnya.


Rukayah menatap Afdhal dengan tajam, tentu saja dia tak terima di salahkan seperti itu. Ini semua salah mereka berdua, hingga semuanya kacau seperti ini.


"Jangan hanya menyalahkanku! Menangnya kau pikir kau sudah jadi orang tua yang baik? Nyatanya kehidupan kedua anakmu saja gagal bukan? Jadi jangan banyak bicara!" balas Rukayah kesal.


Azam hanya bisa menangis pilu mendengar perdebatan orang tua kandungnya. Dia yang selama ini tak pernah mendapatkan kasih sayang orang tuanya, harus menyaksikan pertengkaran keduanya di sisa hidupnya dengan saling menyalahkan.


Ada keinginan dalam hati bahwa kedua orang tuanya merasa bersyukur telah melahirkannya ke dunia ini.


Namun semua hanya sebatas angan, Azam tahu semua kejadian buruk ini adalah ulahnya sendiri dan dia hanya berharap kedua orang tuanya menemaninya di sisa hidupnya.


Entah bisa atau tidak.


Dia lantas menatap Hulya sendu, gadis yang tak seharusnya dia cintai nyatanya perasaan itu masihlah melekat kuat pada dirinya.


Azam lantas memanggil Hulya dengan anggukan. Hulya yang kebetulan tengah menatap ayah dari putrinya itu lantas mendekat.


"Hulya ... Maafkan mas. Tolong ambil tabungan dan ATM di dalam tas mas," pinta Azam lemah.


Hulya menuruti permintaan Azam tanpa banyak bertanya.


Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, Azam lantas menyerahkan tabungan serta ATM ke tangan Hulya.


"Ini sedikit peninggalan mas untuk Syifa. Maafkan kesalahan mas ya, mas mohon jaga Syifa dengan baik," ucap Azam dengan napas tersengal.


Dia sudah membuat surat kuasa saat tahu dirinya mengidap penyakit mematikan itu. Azam ingin setidaknya segala jerih payahnya selama ini bisa dia berikan pada putrinya.


"Maafkan kesalahan Hulya mas. Hulya janji akan menjaga Syifa dengan baik," ucap Hulya dengan air mata berderai.


Mereka semua hanya bisa diam menyaksikan ucapan perpisahan keduanya. Azam menyerah, dalam hati dia hanya bisa meminta maaf pada istrinya yang ikut terseret karena perbuatan buruknya.


Maafkan mas sayang, kalau kita memang di takdirkan untuk meninggalkan dunia ini bersama. Maka mas akan menunggumu di sana.


Kalau kamu masih di beri kesempatan hidup. Jagalah dirimu, maaf mas tidak bisa menemuimu di sisa hidup ini.


Napas Azam tersengal, tak lama matanya melotot lalu tiba-tiba tubuhnya terkulai lemah. Azam pergi meninggalkan dunia ini dengan menggenggam luka pada batinnya.


Luka hati seorang anak yang tak di inginkan kehadirannya. Luka hati seorang suami yang tak pernah benar-benar mendapatkan cinta istrinya.


Luka hati seorang lelaki yang tak seharusnya mencintai adiknya sendiri.


.


.


.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2