
Bukan itu maksud Hulya. Bukan ingin menjadi istri satu-satunya dari Fathur, tapi dia berkata keberatan tentang keberadaannya yang menjadi istri ketiga.
Hulya merutuk dalam hati dengan pemikiran Mala. Walau kelihatan cerdas tapi menurut Hulya pemikiran wanita itu terlihat dangkal.
"Bukan begitu Bu, saya bukan ingin jadi istri Pak Fathur satu-satunya. Namun saya keberatan jadi istri ke tiga. Saya bingung bagaimana menjelaskannya, hanya sebatas itu kemampuan saya. Jadi terserah bagaimana tanggapan ibu," putus Hulya.
Kalau pun terjadi salah paham dia juga tak peduli, justru bagus menurutnya, jadi mereka tak perlu lagi membujuk dirinya menjadi istri dari Fathur.
Sedangkan Mala, wanita itu bukannya tak mengerti maksud ucapan Hulya. Hanya ingin mencari tahu isi hati dan pikiran gadis itu.
Satu kata yang dia ambil tentang Hulya yaitu 'menarik’ Hulya tak seperti madunya yang langsung bersedia menjadi istri kedua suaminya karena memang memandang hartanya.
Namun Hulya, terlihat sekali gadis itu tak terpengaruh akan kekayaan dan kuasa suaminya. Semakin membuat Mala ingin menjadikannya saudari.
"Kami paham." Putus Mala mengalah.
"Namun apa kamu enggak ingin menyelamatkan yayasan milik keluargamu?" pancing Mala kembali.
Hulya tersentak, lagi-lagi dia di hadapkan pada pilihan untuk menyelamatkan satu-satunya penghasilan keluarganya.
Apa yang bisa dia lakukan? Menyelamatkan yayasan milik keluarganya, tapi harus melepaskan kebahagiaannya sendiri? Tentu saja Hulya tak mau.
"Kalau kamu bersedia, maka kepemimpinan yayasan akan ada di kendalimu. Selama ini kami yakin bahwa kamu cukup mampu untuk mengemban tugas itu. Kenapa aku memintamu untuk menjadi istri mas Fathur, kami rasa kamu bisa menyimpulkannya sendiri," ucap Mala tenang.
"Mak-maksud kalian apa? Bukankah ini pernikahan bisnis? Kalau aku bersedia menikah maka kalian akan menjadi donatur di yayasan? Lalu kenapa jadi begini?"
Mala tersenyum tak merasa heran dengan keterkejutan Hulya atas pernyataannya.
"Kamu tau betul kami ini seorang pebisnis. Tentu saja kami enggak akan semudah itu mau menggelontorkan uang jika tak ada timbal baliknya. Bukan hanya menikahi kamu menjadi salah satu syaratnya—"
"Tapi kami berharap kalau kamulah yang akan meneruskan yayasan itu. Terus terang kami tidak terlalu percaya dengan ayah atau kakakmu. Bukannya sama aja kalau Hulya yang pegang? Bahkan mungkin Hulya lah yang lebih kompeten dari pada Mas Zhafran," jelas Mala.
Hulya menunduk sedih, baru kali ini ada seseorang yang mau mengakui kemampuannya. Bagi sang ayah, menjadi seorang wanita hanya untuk merawat keluarganya.
Oleh sebab itu sang ayah tak terlalu berharap dirinya meneruskan yayasan milik keluarganya.
Beliau lebih memilih menyerahkan kepengurusannya pada sang kakak hanya karena dia laki-laki.
__ADS_1
Namun yang terjadi, kehancuran sekolah milik mereka bukan hanya karena kesombongan sang ayah, melainkan juga ada andil sang kakak yang tak memperhitungkan dengan cermat keuangan mereka.
Semua harus serba wah dan Hulya memang sering memprotes hal itu meski selalu di acuhkan sang ayah.
Belum lagi Zhafran selalu menggunakan uang untuk keperluan pribadinya.
"Kami memintamu bukan semata-mata karena nafsu sesaat. Saya berharap sekolah itu kembali berkembang. Sayang sekali kalau hanya mengandalkan uang, sampai kapan pun tak akan pernah cukup. Kami yakin kamu tau hal itu."
Hulya mengakui apa yang di katakan Mala ada benarnya. Ayah dan kakaknya selalu sibuk mencari donatur, padahal beberapa donatur tetap merek selalu menggelontorkan uang yang lumayan besar.
Namun karena ambisi mereka, selalu saja mereka merasa tidak cukup. Jadilah seperti ini, yayasan berada di ambang kehancuran.
"Jadi bagaimana, kamu bersedia kan?" ulang Mala yakin.
Hulya menunduk, tawaran Mala dan Fathur sangat menggiurkan baginya.
Namun satu hal yang pasti, apa ayah dan kakaknya setuju dengan rencana pasangan suami istri itu?
Hulya merasa sangsi.
"Saya enggak yakin kalau Abi atau Bang Zhafran setuju dengan saran Ibu," ucap Hulya lirih.
"Kita lihat jawaban mereka dulu ya Bu. Kalau Abi setuju, maka saya bersedia," putusnya.
.
.
Tak ingin berlarut-larut, karena di pikiran Mala dan Fathur adalah bagaimana sesegera mungkin mereka ingin menyelamatkan yayasan milik Afdhal dengan segera ingin menemui mereka.
Bukan maksud kejam dengan meminta persyaratan seperti ini.
Bisa saja Fathur menggelontorkan uangnya saja tanpa minta hal lainnya. Namun seperti yang sudah banyak di ketahui, uang saja tidak akan pernah cukup jika Afdhal dan Zhafran yang masih memimpin yayasan itu.
Prospek sekolahan itu juga bagus, makanya Sayang jika harus tutup begitu saja.
Sedangkan dia dan istrinya tak mungkin tiba-tiba turun andil meminta hak untuk menjalankan yayasan itu.
__ADS_1
Mereka yakin Afdhal akan menolak untuk saat ini. Mungkin nanti kalau memang benar-benar sudah hancur baru mereka pikirkan untuk menjual padanya.
Lantas, kalau sudah tumbang untuk apa? Percuma juga, pikir Fathur dan Mala.
Oleh sebab itu sebelum benar-benar tumbang, begitulah cara pasangan suami istri itu membantu yayasan milik Afdhal yang memang bagus. Bukan serta merta nafsu untuk menikahi Hulya.
Alasan itu pula mengapa mereka tak bisa menerima Saeba, karena Saeba sama sekali tidak pernah melibatkan diri dalam pengelolaan sekolah milik ayah kandungnya.
Kali ini giliran Mala dan Fathur yang menyambangi kediaman Afdhal dan Huma.
Terkejut tentu saja, tapi mereka berusaha bersikap biasa saja meski jantung bertalu sangat kencang.
Takut, khawatir, pesimis, adalah perasaan Afdhal yang campur aduk. Terlebih lagi tak ada sang putra yang berada di sisinya, untuk membantunya bicara.
"Pak Fathur, Bu Mala, ini kehormatan besar bagi kami menerima tamu seperti kalian," sapa Afdhal gugup.
"Pak Afdhal ini. Saya memang sengaja kemari untuk membicarakan masalah tempo hari. Biar lebih jelasnya, sekalian saya bawa istri saya. Karena keputusan itu mutlak atas kemauan istri saya," jelas Fathur.
Huma memperhatikan wanita cantik yang sangat berwibawa di depannya. Merasa heran karena wanita itu terlihat sama sekali tak keberatan dengan niat suaminya mencari istri baru lagi.
Dia menarik napas panjang. Merasa pening, banyak hal yang dia pikirkan, bahkan dengan tujuan di balik permintaan mereka meminang putrinya.
"Bisa tunggu Zhafran datang? Dia juga perlu tau dengan masalah ini," pinta Afdhal yang tak bisa lagi menutupi keresahan hatinya meski tidak enak hati.
Fathur terkekeh melihat kegugupan tuan rumahnya. Seperti seorang pengutang yang takut pada penagih hutangnya.
"Silakan pak, sekalian saja bawa Hulya kemari agar semua jelas dan menerima keputusan ini secara langsung tanpa nanti saling menyalahkan," sela Mala.
"Kalau begitu saya permisi dulu pak, bu, saya hubungi Zhafran dulu." Afdhal bergegas meninggalkan ruang tamu untuk mengabari putra sulungnya.
Sedangkan Huma juga berencana memanggil Hulya untuk menemui tamu mereka.
"Saya akan panggilkan Hulya dulu ya Pak, Bu. Silakan di nikmati dulu," pamit Huma yang juga akan memanggil Hulya seperti permintaan tamunya.
.
.
__ADS_1
.
Tbc