Secangkir Kopi Hitam

Secangkir Kopi Hitam
Bab 25


__ADS_3

Pagi ini aku di kejutkan dengan kemarahan Mas Azam.


"Hulya!" panggilnya dengan suara cukup keras.


Dia menungguku di parkiran sekolah. Lalu tanpa menunggu aku menjawab, dia segera menarik tanganku ke belakang kantor.


"Ada apa Mas?" tanyaku bingung.


"Apa maksud kamu menemui Sarah! Aku sudah bilang tidak ada apa pun di antara kita, kenapa kamu berubah seperti ini Hulya!" protesnya.


Aku mendengus, ternyata Sarah mengadu padanya. Meski kesal, tapi tak urung aku juga senang, karena pasti ancamanku kemarin membuat hubungan mereka akan di liputi perasaan curiga.


"Aku mencintaimu, hanya itu yang aku katakan padanya. Setidaknya dia harus tau ada wanita yang lebih pantas denganmu," jawabku yakin.


Mas Azam menggeram, dia lalu memegang kepalanya, "Astaga Hulya! Kamu sudah punya suami, kenapa kamu ngga memikirkan perasaan suamimu!" bentaknya.


Aku terkejut karena selama ini tak pernah di bentak atau di perlakukan kasar oleh seorang lelaki, terlebih lagi Mas Azam, lelaki yang sangat aku cintai.


"Mas membentakku?" jawabku sendu.


"Ya Allah Hulya! Ini salah, kamu harus sadar perasaan kamu hanya akan menyakiti semua orang, kalau kamu memang mencintaiku, harusnya kamu katakan dari sebelum kamu menikah, bukan seperti ini!" jelasnya.


"Aku sudah berusaha membuat Mas sadar akan perasaanku, tapi nyatanya Mas yang ngga peka!" balasku menyalahkannya.


"Sudahlah Hulya. Kita sudah memiliki pasangan masing-masing, aku harap kamu tak lagi menemui Sarah. Terus terang, gara-gara kamu, kami bertengkar hebat!" jelasnya.


Aku bersorak dalam hati inilah yang aku harapkan, mereka akan sering cekcok karena keraguan di hati keduanya.


Dalam hati Sarah pasti benar-benar memikirkan ucapanku, kalau memang dia percaya pada Mas Azam, tentu dia tak akan terpengaruh dengan ancamanku.


"Kenapa Mas kejam begini sama aku? Kalau Mas bersedia, aku rela melepaskan Mas Ragil demi Mas Azam," ucapku akhirnya.


"Jangan bicara yang aneh-aneh Ya! Aku sudah bilang, aku tak ada perasaan apa pun denganmu!" Kecamnya.


Lalu dia pergi meninggalkanku. Mungkin Tuhan sedang berpihak padaku. Hari ini dia seperti tidak konsen dalam bekerja.


Bahkan beberapa kali kulihat dia mendapat teguran baik oleh kepala staf maupun oleh Mas Zhafran.


Sepertinya menekan dia lewat pekerjaan ini akan membuatnya memilihku. Nyatanya dia bisa bekerja di sini pun berkatku bukan.


Saat aku kan ke kelas untuk mengajar, tak sengaja aku mendengar suara seseorang yang cukup keras, suaranya sangat familier.


Ternyata itu Mas Azam yang sedang menelepon seseorang. Sengaja aku bersembunyi di balik tembok agar bisa mendengar pembicaraannya.


"Tolonglah Sarah! Aku sudah menuruti kemauanmu, mengertilah aku sedikit!" ucapnya kesal.


Ternyata dia sedang menerima telepon dari Sarah. Ada apa dengan wanita itu, mengapa dia suka sekali menekan Mas Azam. Geram sekali aku.


"Tidak bisa! Kamu harus tau, aku sudah mencoba melamar ke mana-mana, tapi nyatanya tak di terima. Hanya di sekolah ini aku mendapatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan kita nanti, jadi aku mohon jangan egois!" tandasnya.


Lalu dia mematikan teleponnya dan berlalu dari taman di belakang sekolah.


"Ternyata Sarah memintamu untuk berhenti ya Mas?" desisku.


Akan kubuat perhitungan dengan Sarah. Terpaksa aku meminta izin pada Mas Zhafran karena aku akan mendatangi Sarah.


Sedikit berdusta padanya, karena tak mungkin aku berkata yang sejujurnya pada mas Zhafran.

__ADS_1


"Memang kamu mau ke mana Ya?" tanya Mas Zhafran menginterogasi.


"Aku mau pulang Mas, ada yang tertinggal," jawabku tenang.


"Kenapa harus di gantikan guru lain? Paling juga cuma butuh waktu dua puluh menit bolak balik perjalanan kamu," jawab mas Zhafran seakan menolak keinginanku.


"Bu Alya ngga keberatan kok Mas, tolonglah, kali ini aja, Hulya juga ngga pernah izin kan?" rajukku.


Mas Zhafran menghela napas, lalu akhirnya mengizinkan aku untuk pulang cepat.


Segera kulajukan mobil menuju kantor tempat Sarah bekerja.


Sempat bingung karena takut Sarah tak mau menemuiku. Untungnya tak lama dia datang entah dari mana.


Segera aku menghampirinya, dia terkejut dengan kedatanganku. "Kau? Mau apa kemari?" tanyanya tajam.


"Ayo bicara di luar," ajakku.


"Enggak, aku sibuk!" tolaknya dan akan berlalu meninggalkanku.


Tak akan kubiarkan dia begitu saja, lalu aku mencekal tangannya dan menariknya menjauh dari kantor.


Dia memberontak saat aku memaksanya, tapi tak kuhiraukan. Setelahnya aku menyentak tangannya kasar.


"Kamu apa-apa sih!" makinya sambil mengusap pergelangan tangannya yang merah.


Aku memang sengaja mencengkeram tangannya dengan kencang, bahkan aku merasa kuku-kukuku menancap ke kulitnya.


"Kamu meminta Mas Azam keluar dari sekolah?" tanyaku.


Aku tertawa sinis, "kenapa? Kamu takut kan?" tantangku.


Matanya melotot tak terima, "aku harus menyelamatkan calon suamiku dari ular sepertimu!" ejeknya.


Aku tertawa sumbang, dia benar-benar ketakutan dengan keberadaanku di sekitar kekasihnya, ternyata.


Aku mendekat ke arahnya, membuatnya mundur selangkah.


"Kau tidak percaya dengan calon suamimu kan?" cibirku.


"Aku yakin, di hatimu pasti ada keraguan padanya. Dan itu benar, bagaimana pun kamu, pasti ada aku di sisi hatinya," ucapku memprovokasi.


"Kurang ajar!" makinya lalu tiba-tiba dia menamparku.


"Murahan! Tak malukah kamu dengan statusmu sebagai istri orang dengan merayu laki-laki lain Hah!" makinya.


"Dasar ja*la*ng!" sambungnya.


Ucapannya yang menyebutku sebagai perempuan murahan sungguh tak bisa kuterima, enak saja dia menghinaku seperti itu.


Lalu aku membalas dengan menamparnya. Tamparanku sangat kuat hingga membuat dia terjatuh.


Dia berteriak histeris, lalu segera bangkit dan menarik hijabku hingga robek, tak mau kalah aku pun menarik pashminanya.


Kami berguling seperti seseorang yang tengah bergulat di sebuah ring tinju, hingga suara peluit menghentikan kami.


"Kalian apa-apaan!" maki seorang wanita berambut gelombang di depan kami.

__ADS_1


Terlihat berwibawa, cara berpakaiannya juga terlihat berkelas.


"Bu Farah?" ucap Sarah gugup.


"Jelaskan ada apa ini Bu Sarah! Mengapa kalian ribut seperti seorang petarung?" tanya wanita bernama Farah itu pada Sarah.


"Maafkan saya Bu, orang ini mencari gara-gara dengan saya!" adu Sarah sambil menunjuk ke arahku.


Wajahnya merah penuh tamparan tanganku, bahkan hidungnya mengeluarkan darah.


Aku yakin penampilanku pun tak kalah buruknya dengan dia.


"Apa tidak bisa kalian bicara baik-baik?" cecarnya.


"Dia dulu yang menggunakan kekerasan padaku! Jangan salahkan aku, aku hanya membela diri," jawabku menyalahkan Sarah.


"Benar begitu Bu Sarah?"


Wanita bernama Farah itu melipat tangannya di dada menunggu jawaban Sarah.


Di lihat dari sikapnya, sepertinya dia adalah atasan Sarah.


Sarah menangis, lalu menceritakan permasalahan kami. Kulihat Farah hanya mendengarkan tanpa menyela.


"Benar begitu?" kini Farah menatap ke arahku.


"Aku memperingatinya, sebagai sesama perempuan agar dia tidak sakit hati! Harusnya Anda menegur karyawan Anda karena bersikap bar-bar," kecamku.


Farah menarik napas dan membuangnya secara perlahan, "kembali ke kantor Bu Sarah, biar saya yang urus perempuan ini!" ujarnya.


"Tak perlu, saya sudah selesai dengan Sarah. Saya akan pulang!" elakku berbicara dengan Farah.


"Anda mengacau di kantorku dan melukai karyawanku, tentu saja aku tidak akan melepaskan Anda begitu saja. Maka saya akan mengantar Anda pulang!" ucapnya.


Tidak bisa, aku tidak mau pulang dengannya. Aku tak ingin di mas Ragil mencibirku kalau tahu keadaanku sekarang.


Sayangnya aku tak bisa menolak, karena dia memiliki rekaman di mana akulah yang memprovokasi Sarah di kantornya hingga kami berakhir seperti ini.


“Ke kantor polisi atau kembali denganku?” ancamnya.


“Kamu tau bukan membuat keributan di tempat orang bisa di pidana kan?” lanjutnya.


“Lalu mau apa kamu ke rumahku?” tanyaku tenang, meski aku cukup takut karena ancamannya yang akan membawa kasus ini ke jalur hukum.


“Tentu saja memberi peringatan pada keluargamu agar mengawasi kelakuanmu,” jelasnya santai.


“Baiklah,” jawabku.


Dia lalu menghadang langkahku yang akan mendekati mobil.


“Bukankah aku bilang akan mengantarmu?” cecarnya.


Sial, sepertinya dia tau apa yang aku pikirkan. Aku memang berniat kabur saat ini.


“Lalu mobilku?”


__ADS_1


__ADS_2