
Farah dan Tania terkejut bukan main saat sang paman yang tak lain kakak dari Tania akhirnya bisa menemui mereka.
Mereka tentu tak menyangka jika Sarah tengah berjuang melawan penyakit berbahaya saat ini.
Farah dengan perut besarnya datang bersama suami serta ibunya ke rumah sakit tempat Sarah di rawat.
Di sana ada Eriska dan Tegar yang duduk memandangi putri semata wayang mereka.
Banyak alat bantu yang terpasang di tubuh Sarah. Bahkan bernapas pun Sarah harus di bantu menggunakan oksigen.
"Mas, Mbak," sapa Tania begitu masuk ke dalam ruangan Sarah.
Eriska memicing melihat adik iparnya. Dengan segenap kemarahan dia bangkit dan hendak menyusul Tania dan juga Farah yang dia anggap sebagai penyebab sakitnya Sarah.
"Mah sabar! Ingat, ini kemauan Sarah. Papah sudah bersusah payah mencari mereka," sergah Tegar yang tak ingin sang istri mematik pertengkaran dengan adiknya.
Tania tahu tatapan kemarahan dan kebencian Eriska padanya dan putrinya. Namun dia berusaha mengesampingkan hal itu, terlebih ada sang menantu yang pasti akan menjaga putrinya.
"Bagaimana kabar Sarah Mas?" tanya Tania saat kedatangan mereka seperti tak di sambut.
"Apa kamu perlu bertanya? Lihatlah bagaimana keadaan anak kami!" keluh Eriska yang sudah tak dapat menahan lagi kekesalannya.
Tania menarik napas panjang, perangai kakak iparnya tak pernah berubah, dia yakin Eriska pasti menyalahkan dia dan Farah mengenai sakitnya Sarah.
Sarah yang mendengar suara lain di ruangannya lantas membuka mata secara perlahan.
"Tante ... Farah ..." panggilnya lemah.
"Sar," Farah menyahut sambil mendekati sang sepupu. Air mata menetes begitu saja melihat kondisi Sarah yang sangat berubah drastis.
Tak ada lagi Sarah si wajah bulat dan berbadan proporsional. Yang tersisa dari Sarah kini tubuh kurus kering dengan pipi cekung yang menonjolkan tulang pipinya.
Tegar menarik sang istri agar memberi ruang pada putrinya berbicara dengan keponakannya.
"Farah, maafkan aku," lirihnya.
"Udah Sar, kami udah memaafkan kamu sejak lama. Bangkitlah, ayo sehat kembali!" pinta Farah.
Sarah tersenyum tipis, bagaimana mungkin sang sepupu yang sempat dia jahati masih memiliki hati yang lapang untuk memaafkannya.
Sarah merasa malu, dia yang bahkan sudah hampir berencana menghancurkan hidup Farah merasa malu pada sepupunya itu.
__ADS_1
"Berbahagialah Far. Maafkan semua kesalahan yang sudah aku perbuat. Tuhan kini telah menghukumku," ucap Sarah.
"Enggak Sar, jangan ngomong kaya gitu. Maafkan aku yang mengabaikanmu. Kamu harus sehat Sar, apa kamu enggak mau melihat anakku?" tanya Farah kalut.
Sarah tersenyum lagi, hatinya sangat sakit, Farah memang orang baik. Oleh sebab itu sang sepupu selalu mendapatkan kebaikan dalam hidupnya.
Tak seperti dirinya yang terjebak dalam dendam yang sang ibu tancapkan di hatinya.
Ibunya selalu mencekoki dirinya bahwa Farah dan Tania adalah sumber kemalatakaan mereka. Oleh sebab itu selama ini dia selalu hidup dalam kepura-puraan dalam menyayangi mereka.
Meski pada kenyataannya dia juga nyaman hidup bersama dengan Farah dan Tania. Namun sifat iri dan dendamnya selalu membuatnya tutup mata atas semua kebaikan sepupu dan juga tantenya.
"Boleh aku pegang perut kamu Far?" pinta Sarah.
Tanpa banyak kata Farah menarik tangan Sarah agar mendekati perut buncitnya. Di belakang, sang suami mer*emas pundak sang istri.
Janin dalam kandungan Farah menendang, membuat Sarah tersenyum senang.
Ah, dia merespons diriku. Andai aku bisa merasakan hamil.
Tuhan, mengapa tak sekali pun aku di beri kesempatan bahagia?
Lagi-lagi hati Sarah belumlah ikhlas menerima segala takdir perbuatannya. Dalam benak masih menyalahkan takdir. Begitulah manusia, kadang ingat akan segala dosa dan kesalahan, tapi terkadang setan berbisik dan kembali membuat rasa iri datang kembali.
Semua mata menatap ke arah pintu di mana Hulya yang datang dengan wajah sembab.
"Mas Azam udah berpulang mbak. Dia meminta maaf di penghujung hidupnya karena tak bisa berpamitan sama mbak Sarah," ucap Hulya datar.
Meski begitu hatinya tengah bergemuruh hebat. Dia datang dengan hati merancu saat memutuskan menemui kakak iparnya. Menyampaikan pesan terakhir dari lelaki yang telah memberinya satu orang anak itu.
Bagaimanapun lelaki itu pernah merengkuh cintanya. Bohong jika dia sudah tak mencintai Azam. Hulya hanya berusaha menahan cinta itu karena memang tak boleh ada rasa cinta pada hubungan mereka yang merupakan saudara seayah.
Sarah menitikkan air mata. Lelaki yang dia cintai akhirnya menyerah pada penyakitnya.
Selamat tinggal mas, kini kamu sudah tidak merasakan sakit lagi. Maafkan aku yang tak bisa merawatmu di sisa hidupmu.
"Syukurlah kalau lelaki pembawa sial itu udah mati!" sergah Eriska yang membuat semua pasang mata menatap ke arahnya.
"Ini juga salah kamu Far. Gara-gara kamu mengenal lelaki itu, Sarah harus menanggung derita seperti ini!" sambungnya sambil menatap keponakan suaminya.
Farah dan Tania tak mengerti dengan pikiran Eriska. Pantas saja Sarah selalu menyalahkan orang lain dengan apa yang terjadi dalam hidupnya. Karena sikap seperti itu di turunkan oleh ibunya.
__ADS_1
"Sebelum menikah dengan Azam. Siapa yang dengan penuh keyakinan agar kami tak boleh ikut campur?" tantang Tania yang harus mengingatkan kesalahan Eriska sendiri.
"Aku dan Farah bahkan sudah berulang kali mengingatkan kamu dan Sarah! Jadi jangan memutar balikan fakta Eriska!" bentak Tania.
"Sarah, maafkan tante yang tak tahu tentang sakitmu. Sabar, hanya itu yang bisa kami ucapkan saat ini. Tante juga turut berduka cita atas perginya Azam," ucap Tania yang sudah mulai jengah dengan keluarga kakaknya.
"Ayo Far, kamu juga harus pulang. Kita harus melayat ke kediaman Azam," ajak Tania.
Eriska bergeming, perempuan yang seumuran dengan Tania itu mengepalkan tangannya kesal. Sama seperti Sarah, dia merasa kehidupan Tania dan Farah selalu di liputi kebahagiaan.
Dia merasa sangat tak adil. Dia memang berdosa, tapi kenapa harus kehidupan anaknya yang ikut hancur.
"Di mana ruangan Azam Ya?" tanya Ragil saat akan keluar dari ruangan Sarah.
"Mari kita bersama aja Mas," ajak Hulya yang ikut pamit undur diri.
Mereka sampai di ruang jenazah. Ragil, Farah dan Tania mengucapkan bela sungkawa kepada Rukayah.
Rukayah yang sudah sangat lama tak melihat putra yang sejak bayi di asuhnya memeluk Ragil sangat erat.
"Ragil!" panggilnya lalu memeluk sang putra.
"Maafkan ibu Nak, maafkan ibu," ucap Rukayah berulang kali.
"Sudah bu, Ragil sudah memaafkan ibu. Ragil dan istri Ragil mengucapkan bela sungkawa Bu, semoga Pak Azam di terima di sisi Allah. Ibu sama keluarga yang sabar ya," ujar Ragil.
Rukayah menggeleng, "kami harus bagaimana Gil? Hancur sudah semuanya," keluh Rukayah.
"Bu, perbaikilah kehidupan ibu. Ingat ada Saeba yang membutuhkan sosok ibu," jawab Ragil menenangkan.
"Enggak nak, kamu enggak tau, kami telah menerima karma kami nak. Kehidupan kami kini sangat sulit," jelas Rukayah yang meminta belas kasihan Ragil.
Ragil dan Farah bingung bagaimana harus menanggapi ucapan Rukayah.
Melihat sang putra yang di asuhnya sejak kecil itu bergeming, Rukayah kembali memperlihatkan kesedihannya, berharap Ragil luruh akan keadaannya saat ini.
"Tak bisakah kita bersama lagi seperti dulu? Hanya kamu putra ibu. Kembalilah bersama ibu nak," pinta Rukayah tiba-tiba.
.
.
__ADS_1
.
Tbc